Selain bercak darah dilantai tidak ada lagi tanda tanda keberadaan Aristia, dia seakan menghilang.
Siapa yang cukup gila dalam waktu sesingkat itu dapat menyelamatkan Aristia? Bahkan sang kaisar yang agungpun hanya dapat membeku ditempatnya.
"Berpencar dan temukan tuan putri sekarang!!" Teriakan gila Kenzo mengejutkan semua yang hadir saat itu
Disisi lain Aristia sedang bersama beberapa orang bertopeng yang lari menuju arah yang berlawanan dengan istana.
'Uhh.. sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku tidak dapat membuka mata ku?' Batin Aristia sudah sadar tapi saat dia mencoba membuka matanya sepertinya sangat sulit
'Ini penculikan! nyali orang yang menculik ku sangat besar bahkan dia berani beraninya menculik ku tepat didepan kaisar' karena profesi Aristia dikehidupan sebelumnya, dia bisa dengan akurat menentukan keadaan saat ini tapi tetap saja walaupun secara mental dia sadar tapi sepertinya tubuhnya masih tertidur jadi untuk pertama kalinya Aristia hanya berharap bahwa akan ada yang cukup peduli padanya dan segera mencari keberadaannya
'Ah.. Ayah bisa menyadari aura ku tapi masalahnya aku butuh untuk mengendalikan tubuh ku jika aku tetap tertidur bisa bisa akan membutuhkan waktu yang agak lama untuk menemukan ku'
Aristia terus berusaha untuk bangun walupun rasanya sangat sulit.
"Uuhk.." Setelah berusah berkali kali walaupun gagal, Aristia tidak menyerah dan akhirnya dia cukup sadar dan bisa membuka matanya kembali
"Uh... Uaaaa ...waaa... Waaaa"
"Si*l anak ini kenapa bisa terbangun." Salah seorang pria bertopeng langsung mengumpat setelah mendengar tangisan keras Aristia
Tapi setelah itu orang orang bertopeng itu berhenti sebentar untuk memeriksa kondisi
'Hei paman ini reaksi tubuh ku karena merasakan sakit, bukan keinginan ku juga untuk menangis?'
"Sepertinya luka dikepalanya cukup serius yang menyebankan anak ini kehilangan cukup banyak darah jadi tidak mungkin dia akan bangun secepat ini" Pria bertopeng lainnya menanggapi
'apa benar aku terluka? Pantas saja kepalaku rasanya sakit bahkan pandangan ku juga jadi buram. Harusnya sebentar lagi aku akan kembali tidur, kuharap ayah dan yang lainnya dapat menemukan aura ku.' Setelah tau apa yang terjadi, Aristia tidak membuang waktu lagi dan segera melepaskan auranya yang menyebabkan warna mata dan rambutnya berubah merah kemudian Aristia menutup matanya lagi
"Anak ini lebih kuat dari ayahnya, bahkan sebelum berusia satu tahun dia sudah bisa melepaskan aura yang hanya dimiliki keluarga kaisar"
Sebelum benar benar tidur, Aristia dapat mendengar kepanikan dari pria bertopeng yang menggendongnya
'ayah.. aku sudah bekerja keras..'
Aristia tersenyum pasrah dalam hatinya lalu kegelapan yang sunyi senyap menyambutnya
["Ungg.. Eh.. ini dimana?" 'ini... Ini kamar ku di markas apa semua mengenai putri dan kekaisaran itu adalah mimpi? Tapi jika itu mimpi bukankah terasa terlalu nyata?'
"Vreya, kamu tertidur lagi yaa? Dasar kamu !" Erika satu satunya agen wanita selain Vreya langsung muncul dan mengejutkan Vreya yang masih dalam kebingungan
"Erika?! Sedang apa kamu disini?" Vreya sangat terkejut sekaligus bingung
"Kamu ini belum bangun ya?! Tentu saja aku disini untuk membangunkan kamu dasar Vreya si putri tidur" Erika dengan kesal mengembulkan pipinya dan menjawab pertanyaan Vreya
"Tapi... Bukannya aku sudah.." Vreya tampak sangat bingung untuk menanggapi Erika 'Sebenarnya apa yang terjadi saat ini? Apa benar semua yang aku alami sebelumnya hanya mimpi?'
"Vreya berhentilah melamun!" Erika lagi lagi meneriaki Vreya yang pikirannya kembali menjelajah entah kemana
"Erika, tolong cubit aku" Vreya tiba tiba menatap Erika dengan serius tapi setelah membuka mulutnya malah permintaan konyol yang dia minta
grep
"Aduh.. aduh .. baiklah aku sudah sadar" Vreya meringis karena cubitan Erika dikedua pipinya sangatlah menyakitkan
"Erika, apa apaan kamu ini?" Seorang pria tampan yang memiliki wajah yang sama dengan Erika bertanya dengan khawatir
"Kak Erik?" Vreya bertanya lagi untuk memastikan siapa pria yang berbicara tadi
"Ada apa? Kenapa sepertinya kamu sudah melupakan aku?" Erik menanggapi Vreya dengan sedikit candaan yang dibalas tatapan horor dari Erika
"Sudah bangun? Merepotkan sekali dasar b*bi" seorang pria manis yang memiliki wajah seimut bayi tapi kata katanya penuh dengan umpatan. Pria manis itu bernama Moru, salah satu dari lima agen elite dan merupakan peretas terbaik diseluruh dunia tapi penampilannya sangat nyentrik dengan kalung anjing dan headphone telinga anjing ya walaupun itu malah menambah kesan imutnya tapi tetap saja kan seorang pria berusia 19 tahun berpakaian seperti itu gimana bayanginnya coba?
"Moru?kamu juga disini?" Vreya melihat kearah pintu masuk tempat Moru berada
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Vreya? Jangan katakan bahwa hanya dalam semalam kamu melupakan kami?" Erika langsung memalingkan wajah Vreya menghadap kearahnya dan dengan suara panik dia kembali bertanya
" Uh.. tidak, tidak apa. Aku hanya merasa bahwa aku tertidur cukup lama jadi hanya terkejut saja" Vreya mencoba mencari alasan yang cukup masuk akal
"Jadi begitu, tapi benar kamu tidak apa apa bukan?" Tapi Erika masih tidak percaya karena itu dia bertanya untuk memastikannya sekali lagi
"Tentu aku baik saja. Tapi.. umm, bisakah kalian memberikan aku waktu sendiri?" Vreya tersenyum dan memberi jawaban yang dia sendiri juga masih sedikit bingung
"Baiklah." Erik langsung mengangguk mengiyakan permintaan Vreya dan akan berjalan keluar tapi...
"Vreya kamu yakin bukan kalau kamu baik baik saja?" Erika menggenggam kedua tangan Vreya dan menatapnya dengan cemas
"Erika cepat pergi, Vreya butuh waktu sendiri" Erik langsung menarik Erika dengan paksa untuk pergi sambil tersenyum kearah Vreya
"Moru kamu juga keluar" Erika tidak terima karena diseret oleh kakaknya karena itu dia memelototi Moru dan melampiaskan emosinya.
''Baiklah nona cerewet" Moru memutar bola matanya dan berjalan keluar mengikuti Erik dan Erika
Kini hanya tersisa Vreya sendiri didalam kamarnya itu
'Apa semuanya hanya mimpi? Aku yang lahir kembali menjadi anak bernama Aristia itu hanya mimpi? Ayahku yang seorang kaisar itu juga berarti hanya mimpi? Bibi luna dan Eva juga hanya mimpi? Uuh tapi semuanya terlihat nyata, setiap peristiwa yang terjadi itu sangat nyata bagiku tapi Erika dan yang lainnya juga tampak sangat nyata. Sebenarnya yang mana yang benar benar hanya mimpi ini?'
''Uhk... Kepala ku sangat sakit"
Ceklek
Pintu kamar Vreya terbuka dan yang masuk adalah Shadow,
Shadow adalah yang paling misterius diantara semua anggota elite bahkan tidak ada yang tau namanya dan Shadow hanyalah julukannya karena dia membunuh tanpa meninggalkan jejak sedikitpun seperti bayangan.
"Shadow, ada apa? Apa ada hal penting?" Vreya mencoba bersikap senormal mungkin tapi kata kata yang diucapkan Shadow membuat Vreya menjadi semakin bingung
"Vreya... Semua ini hanya ilusi. bangunlah" Shadow mencium kening Vreya
"Ilusi? Apa maksudmu?" Vreya tidak paham maksud Shadow dan ingin bertanya tapi Shadow sudah berbalik dan berjalan pergi
"Shadow!! Hei.. Shadow!!" Vreya berusaha berteriak keras tapi Shadow hanya melambaikan tangannya dan berjalan terus
Seiring menghilangnya Shadow, ruangan disekitar Vreya juga mulai luntur dan pada akhirnya sekali lagi hanya ada kegelapan yang dingin dan sepi yang menemani Vreya]