II. Satu Kisah di Halaman Rumah

1509 Words
2009 Asap tipis menyebar di sekitar halaman rumah, terkadang pula ia menebal. Memberikan sensasi perih pada mata, lalu berakhir menangis. Terdengar konyol, tapi begitulah faktanya. Asap ini bersumber dari arang yang senantiasa di kipas oleh ayah, bertujuan agar ia tidak padam tidak pula nyala berkobar. Aroma ikan yang terkapar tak berdaya di atas pembakaran, menguar di ruang terbuka, mencari jalan, dan akhirnya terhirup oleh indera penciuman. Sungguh, aromanya begitu menggoda untuk segera disantap. Di saat ayah sibuk membakar ikan, mama sibuk di dapur seorang diri. Menyiapkan segala teman santapan ikan bakar. Sementara itu, kak Ayuna dan kak Hendra sibuk memanen mangga yang sebenarnya belumlah matang. Kata mereka, siang-siang begini enaknya makan rujak, tentunya sehabis makan siang. Lalu, aku? Apa yang kulakukan? Duduk manis? Oh, tentu tidak. Kalian jangan salah sangka. Aku memang sedang duduk di bale seorang diri, tapi aku juga sama sibuknya dengan mereka. Hanya saja, aku sibuk pada hal yang tidak bermanfaat, mungkin. "Astaga, Aya, lihatlah penampilanmu sudah sangat kacau. Kau seperti manusia warna-warni." Kak Ayuna terkekeh pelan di ujung kalimat. "Kakak akan mengadu ke Ayah kalau kau memboros cat,"lanjut kak Ayuna. Sejenak, aku melepas kuasku. Mengalihkan tatapan dari kanvas ke ayah, lalu berakhir pada kak Ayuna. "Apa Ayah akan marah?" "Tentu saja! Ayah tidak suka seseorang membuang-buang sesuatu, misalnya cat itu. Kau tau, cat dibeli menggunakan uang. Jadi, secara tidak langsung kau sudah membuang-buang uang ayah." Aku menatap kak Ayana dengan tatapan memohon agar dia tidak memberitahu ayah. Sayang, kakak perempuanku itu tidak menangkap maksudku ataukah mungkin dia pura-pura tidak mengerti. "Tidak ada toleransi. Yang salah harus di lapor pada Ayah," katanya mendramatisir. Perlahan, ia mengambil langkah mundur dengan ekspresi yang menakut-nakutiku. Entah dia hanya ingin menakut-nakutiku atau memang berniat melapor pada ayah. Semoga opsi pertama yang benar. Sedangkan aku tidak tinggal diam. Langsung saja ku bereskan semua peralatanku, seperti kanvas, kuas, dan palet yang penuh dengan cat. "Lihat, kak, aku sudah membereskan semuanya. Kakak tidak perlu memberi tahukan Ayah." "Tidak, kakak tidak peduli," ujar kakak lalu menjulurkan lidahnya padaku. Mengejek. Saat itu juga, rasanya aku ingin menangis keras karena dua alasan sekaligus. Pertama, karena takut ayah akan marah dan kedua, aku kesal pada kak Ayuna yang mengejekku. "Kau takut, dek?" tanyanya diakhiri gelegar tawa. Lihatlah, siapa yang tidak kesal dengan kakak perempuanku itu? Haruskan aku menangis agar ayah tau betapa kak Ayuna menggangguku dengan segala sikapnya yang menyebalkan? Tapi, jika itu ku lakukan, maka akan mengundang perhatian ayah, lalu selanjutnya yang terjadi ayah akan memarahiku habis-habisan, begitulah pikirku. Pada akhirnya, apa yang kuharapkan terjadi juga. Kak Ayuna menghampiri ayah. "Ayah, lihat apa yang dilakukan adek!" Saat itu juga, tangisku pecah diiringi suara yang memekakkan telinga. Memangnya, anak kecil mana yang tidak menangis ketika diaduhkan seperti itu. Pastinya, segala duga-dugaan buruk berputar dipikiran. Ayah pasti marah padaku, aku akan dipukul atau tidak diizinkan bermain selama seminggu atau bahkan lebih. Namun, pada nyatanya aku hanya takut pada ekspektasi yang tercipta dalam benakku karena realitanya ayah tidak marah sama sekali. Yang ada, beliau datang menghampiriku dengan seutas senyuman yang menawan. "Aya, sedang apa? Menggambarkah?" tanya ayah seraya duduk di sampingku. Kepalanya di tolehkan pada setumpuk alat melukis yang kugenggam erat-erat. Meski takut, tetapi tetap tegas, aku menggeleng. Jelas tidak membenarkan perkataan ayah. Dengan suara pelan aku berkata, "ini bukan gambar, Yah. Ini lukisan. Ayah harus tau, kalau menggambar dan melukis, berbeda." Entah mengapa aku begitu takut pada ayah. Padahal selama ini, setiap kali aku melakukan kesalahan ayah tidak pernah marah berlebihan padaku. Tepatnya, ayah hanya memberiku nasehat, tidak pernah menyalahkan. Seperti ketika aku memukul kucingku yang nakal, ayah tidak berkata, "sudah berapa kali Ayah katakan, Aya tidak boleh nakal, Ayah tidak suka Aya seperti itu" tetapi ayah berkata, "Aya tahu, kan kalau kucing itu makhluk hidup. Jadi, sesama makhluk hidup tidak boleh saling menyakiti, ya?" Aku terperanjat dari lamuananku ketika ayah bersuara. "Boleh Ayah lihat?" aku bergeming. Ragu memberikan lukisanku pada ayah. Tetapi, ayah tersenyum hangat padaku, lantas berkata, "Ayah tidak akan marah, kok ke adek. Kan adek tidak melakukan kesalahan." "Janji Ayah tidak akan marah?" "Iya, Ayah janji." Meski demikian, aku tidak menapik kalau masih takut dan juga ragu untuk memberikan lukisanku pada ayah. Namun, mau tak mau aku tetap melakukannya. Akhirnya, lukisanku sudah benar-benar berada di tangan ayah. Beliau memperhatikannya dengan seksama. Sementara, pandanganku tidak pernah berpaling dari wajah ayah yang senantiasa tersenyum. Mungkin suatu sihir, sehingga melihat ayah tersenyum membuatku ikut tersenyum. Aku pun merasakan detak jantungku yang perlahan kembali normal. Apakah senyuman ayah bertanda beliau benar tidak marah padaku? "Indah. Lukisan Aya indah, Ayah kagum," kata ayah sembari menoleh padaku. Mataku berbinar, senyumku merekah sempurna karena di puji ayah. "Benarkah, Yah?" Ayah mengangguk sembari memberikan lukisan itu padaku lagi, "sebaiknya, Aya lanjutkan lukisan ini. Sebentar lagi selesai, kan?" tanya ayah yang kubalas anggukan. "Saat sudah selesai, perlihatkan pada Ayah, ya? Ayah penasaran seindah apa lukisan Aya kalau sudah sempurna karena belum sempurna saja sudah sangat indah, bagaimana jika semuanya sudah sempurna." "Baik, Ayah." Tidak bisa kupungkiri betapa aku sangat bahagia, bahkan sangat sangat bahagia karena ayah telah memuji karya tanganku. Apalagi ketika ayah mengusap lembut ujung kepalaku, rasanya ayah benar-benar mendukungku melakukan hobiku. Air mata yang membasahi pipiku, lantas ku usap dengan kasar menggunakan punggung tanganku dan membiarkan jejaknya tertinggal di bulu mataku. Suara tangis yang tadi terdengar, kini terganti dengan senyuman merekah. Ayah terlalu baik, beliau tidak pernah berlaku kasar dalam mendidik. Sejak saat itu, aku sadar bahwa ayah tidak pernah marah padaku---pada kami, aku dan kakak-kakakku. Ayah tau bagaimana cara mendidik yang baik. Di tengah kesibukan ku; melanjutkan lukisan yang tadi tertunda sejenak, aku mendengar percakapan antara ayah dan kak Ayuna. Kakak perempuanku itu tampaknya agak kesal karena ayah tidak memarahiku, lalu dilanjutkan ayah menasehati kak Ayuna. "Biarkan adikmu melakukan apa yang dia suka. Mungkin itu salah satu hobinya, kakak juga punya hobikan?" "Iya, Ayah." "Kalau boleh tau, hobi kakak apa?" tanya Ayah sembari mengipasi arang. "Hobi kakak..." kak Ayuna berpikir untuk sejenak. "Apa belajar juga hobi, Yah?" "Tentu saja. Hobi yang sangat bermanfaat karena selain untuk kesenangan diri, hobi kamu juga bisa mengasah otak kamu. Tapi, belajar juga merupakan kewajiban. Jadi, kira-kira kakak suka apa selain belajar?" "Kakak suka menonton film Harry Potter," jawab kak Ayuna cepat. "Wah, hobi kakak tidak main-main, ya," kata ayah diakhiri kekehan. Percakapan antara ayah dan kak Ayuna menarik perhatianku. Aku yang tadinya sibuk melukis, lantas menoleh pada mereka berdua dan bertanya, "kalau Ayah hobinya apa?" "Ah, iya kakak tadi mau tanya itu, tapi lupa," tukas kak Ayuna. "Hobi Ayah, bermain sama kakak dan adek," kata ayah sembari mengusap kepala kak Ayuna dan melemparkan senyuman padaku. "Itu hobi, ya, Yah?" tanyaku. "Iya dong." Bersamaan dengan berakhirnya kalimat ayah, suara derum motor terdengar memasuki pekarangan rumah. Aku, kak Ayuna, dan ayah lantas menoleh pada sumber suara dan mendapati kak Baskara baru saja memarkirkan motor butut milik ayah. “Assalamualaikum," salamnya. “Waalaikumsalam." Kak Baskara akhirnya pulang dari pasar. Tadi, mama meminta tolong dibelikan beberapa bahan dapur. Kebetulan saat itu hanya kak Baskara yang tidak melakukan apa-apa dan juga karena hanya dia yang bisa mengendarai motor selain ayah, jadilah dia yang disuruh mama. "Butuh bantuan, kak?" tanya kak Ayuna sembari menghampiri kak Baskara. Aku yang notabenenya suka ikut-ikutan, lantas menghampiri kak Baskara juga dan menawarkan bantuan seperti yang dilakukan kak Ayuna. Namun, dengan lembut kak Baskara menolak. "Tidak perlu, sayang. Kakak sudah dibantu sama Ayuna. Sebaiknya kamu bantu kak Hendra yang lagi pungut mangga, tuh." "Baik, kak." Setalah itu, dengan semangat aku langsung menghampiri kak Hendra untuk memunguti mangga-mangga yang sudah ia petik dan lemparkan ke bawah. Awalnya, ia menolak, "Tidak usah. Kakak bisa sendiri." Namun, ayah langsung berceletuk, "tidak apa-apa, kak. Biarkan adik membantumu." Mau tak mau, kak Hendra menurut dan membiarkanku membantunya. Sedikit lagi kami selesai memungut mangga ketika kak Baskara dan kak Ayuna datang sembari membawa tikar, lalu menggelarnya di bale yang tadi kutempati duduk. "Dek, lanjutkan lukisanmu sebelum cat ini mengering," kata kak Baskara. Tanpa menolak, aku segera kembali ke tempatku semula dan menyelesaikan kegiatan yang tadi tertunda. Sementara, kak Ayuna beralih menggantikanku memunguti mangga dan kak Baskara yang menghampiri ayah. Dia menawarkan diri menggantikan ayah yang terlihat sangat lelah, bahkan titik-titik keringat sudah menghiasi keningnya. Sepanjang aku melukis, senyuman tak pudar di wajahku. Entah mengapa, aku merasa sangat bahagia melihat pemandangan di halaman rumah. Rasanya sangat sejuk dan nyaman ketikan melihat semua keluargaku berkumpul, walau tak ada mama disana. Sehingga, lukisan yang tadinya hanya diisi tiga orang, kini bertambah menjadi empat. Tentunya itu adalah kak Baskara. Sayang ibu tidak ada di halaman rumah, jadi aku tidak menyertakan beliau dalam lukisanku. Tentu, aku juga tidak ada di lukisan itu. Apa yang dilukis kuasku, akan menjadi salah satu momen indah yang kutuangkan di atas kanvas. Meskipun lukisan ini tidak seelok lukisan para seniman atau setidaknya lukisan orang dewasa yang bukan seniman, kiranya aku dapat memahami apa yang kulukis di atas kanvas berdiameter 20×30 cm. Tidak akan ada orang yang tahu bahkan akupun tidak akan tahu lukisan ini akan jadi seperti apa kedepannya. Mungkinkah menjadi barang bekas yang berakhir tersimpan di dalam gudang atau akan menjadi barang berharga yang akan selalu kukenang dalam pajangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD