Siang ini langit tampak kosong tak ada awan tebal bahkan awan tipis. Di atas sana, hanya nampak matahari dengan sinarnya yang seakan dapat menghanguskan seluruh isi bumi. Sebab itu, aku tidak sanggup untuk membuka mata secara normal. Keringat tercetak jelas di beberapa bagian tubuhku, termasuk titiknya di hidung. Topi yang sejak tadi aku gunakan untuk melindungi kepala, tampak mulai basah.
Namun, hal itu tak membuat aku untuk segera beranjak dari tempat dimana aku duduk. Meski otak ingin, tetapi hati menolak. Aku lebih memilih menikmatii sekotak s**u sembari melihat burung nuri dan kelinci bermain bersama.
Di lapangan kompleks tidak ada siapa-siapa selain aku dan kedua hewan tersebut. Lagian, orang bodoh mana yang rela di terpa matahari siang selaian aku?
Omong-omong, nuri dan kelinci adalah hewan peliharaanku---ralat, mungkin tepatnya hewan peliharaan yang dititipkan padaku. Nuri, si burung pintar yang kadang menyebalkan. Hewan jantan itu merupakan peliharaan bapak, ia berteman baik dengan kelinci milik kak Ayuna.
Aku tidak tahu persis bagaimana keduanya bisa berteman akrab. Padahal sebelumnya, nuri senang sekali mengganggu kelinci yang tampak malas diganggu. Ah, kurasa, nuri itu berubah menjadi menyebalkan ketika ayah memberinya 'anggur merah'. Aku rasa, tidak perlu menjelaskannya secara gamblang apa itu 'anggur merah' harusnya kalian cukup mengerti. Iya, kan?
Sekotak s**u yang sejak tadi kunikmati, telah habis. Tersisa bulir-bulir yang tak sempat terhisap sedotan. Segera, ku buang kotak s**u tak berisinya pada tong sampah, lalu kembali memperhatikan nuri dan kelinci.
Aku agak kesal melihat nuri yang curang. Ia selalu mengarahkan kaki kurusnya pada wajah kelinci dan ketika kelinci ingin membalas dengan kaki mungilnya, nuri malah terbang lebih tinggi.
Dasar nuri, menyebalkan.
Tinggalkan nuri dan Kelinci, kita beralih pada alasan mengapa aku memilih berpanas-panasan di lapangan kompleks daripada langsung pulang ke rumah yang notabenenya sudah dekat. Alasan basinya, aku sedang capek dan sedang beristirahat sebentar. Sedangkan, alasan sebenarnya aku malas pulang.
Bagiku, akhir-akhir ini hidup sangat membosankan. Tidak ada yang berarti atau tidak ada cerita menarik yang terpampang dalam keseharian hidupku. Semuanya berjalan biasa saja, tak ada rasa.
Mungkin, dahulu rumah adalah tempat yang selalu kudambakan. Tempatku mengistirahatkan diri dari penatnya dunia luar dan tempatku berlindung dari bencana. Namun, masih pantaskah kusebut sebagai tempat berlindung ketika kini ia telah menjadi sumber bencana? Semenjak kejadian beberapa tahun lalu, perspektifku tentang rumah telah berubah total. Tidak ada lagi rumah yang diharapkan. Tidak ada lagi rumah yang menjadi benteng perlindungan. Rumah hanya formalitas, sebagai tempat berteduh. Tidak ada kenyamanan.
Satu-satunya alasan aku bertahan adalah karena aku terlalu menyayangi kenangan yang ada di rumah ini. Namun, tak kupungkiri jika suatu saat aku benar-benar sudah lelah dan muak, maka dengan berat hati aku akan melangkah meninggalkan rumah ini. Sebelum masa itu terjadi, mulai sekarang aku harus mempersiapkan diri dan bekal yang cukup untuk memulai semuanya dari nol. Mengobati apa yang telah terluka.
Suara klakson berulang kali, memecahkan pikiranku yang melanglang buana pada masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Lantas, aku menoleh dengan raut yang agak kesal dan mendapati kak Baskara bersama motor butut milik ayah. Kadang, aku heran mengapa kak Baskara masih memakai motor itu padahal dia punya cukup uang untuk membeli motor baru atau setidaknya menyicil.
"Apa yang kamu lakukan disini? Kenapa tidak langsung pulang?" tanya kak Baskara sembari memarkirkan motornya di tempat teduh.
"Tidak melakukan apa-apa. Aku hanya berisitirahat sebentar," jawabku.
"Kakak tadi menjemputmu ke kampus, lumayan lama menunggu. Kakak pikir kamu belum pulang." Kak Baskara berjalan ke arahku, lalu duduk tepat di sampingku. Dari ujung mataku, aku dapat melihat kak Baskara memperhatikanku lekat-lekat.
"Maaf, kak, aku tidak memberi tahumu saat jam kuliahku telah selesai."
"Tidak masalah. Lagian, salah kakak yang menjemputmu tiba-tiba. Seharusnya, tadi pagi aku memberitahumu dulu," katanya.
Keheningan menyelimuti kami setelah kalimat terakhir kak Baskara. Aku yang memang tidak berniat menjawabnya dan kak Baskara tak tahu sedang apa dengan pikirannya.
Cukup lama jeda yang ada di antara kami. Hanya angin yang berlalu lalang menyapa telingaku. Sejujurnya, aku agak malas kak Baskara ada disini. Tidak, aku bukannya membenci kak Baskara, hanya saja saat ini tidak ingin diganggu apalagi diajak bicara.. Tepatnya, ingin sendiri.
"Sudah makan?" tanya kak Baskara memecahkan bisu yang sejenak menghalang. Namun, hanya kubalas dengan gelengan.
"Mau makan di luar atau di rumah?"
"Tidak keduanya, kak," jawabku sedikit kesal. Sayangnya, kak Baskara tidak mengerti bahwa aku tidak ingin diganggu. Lantas, ia kembali bersuara, "lalu?"
"Tidak ada." Setelah menjawab itu, aku memungut totebagku yang tergeletak di kaki bangku. Aku gerah disini karena matahari yang sangat terik semakin gerah ketika ada orang yang mengajakku mengobrol disaat aku tidak mood. Mari mencari tempat yang lebih nyaman, tentunya bukan rumah.
Kulihat, kak Baskara menaikkan alisnya dengan kening yang berkerut, tanda kebingungan. Matanya senantiasa memperhatikan gerak-gerikku tang kini beralih memperbaiki ikatan sepatuku.
"Aku pergi dulu," pamitku setalah berdiri.
"Kamu mau kemana?"
"Ketempat yang tidak ada orang bisa menggangguku." Aku tidak menunggu jawaban kak Baskara lagi. Segera, aku pergi dari sana meninggalkannya sendiri. Sebelumnya, aku dapat mendengar helaan napas berat kak Baskara.
Langkahku yang cepat, mendadak berhenti tepat di luar lapangan. Berbaliklah aku sepenuhnya menghadap kak Baskara. "Mungkin aku pulang agak larut, tolong jangan menerrorku dengan menelepon atau mengirim ratusan pesan." Kuakhiri dengan senyuman agar kak Baskara tidak salah paham akan sikapku.
"Jangan main jauh-jauh, Aya. Juga kakak tidak janji untuk tidak menerrormu, jadi, aktifkan ponselmu!"
Aku tak mengindahkan perkataan kak Baskara. Lebih baik memang membiarkannya berlalu bersama angin.
Namun, di balik semua itu, ada perasaan tidak enak yang muncul di hatiku setelah meninggalkan kak Baskara. Aku sepenuhnya sadar bahwa aku salah telah mengabaikan kebaikan hati kakakku dan tidak mempedulikan kekhawatirannya.
Aku tahu betul bagaimana kak Baskara selalu menghawatirkanku, tetapi di sisi lain dia juga tidak ingin mengekangku. Dia membebaskanku melakukan apapun yang Kusuka selama itu tidak melebihi batas. Kurasa, kakakku itu sedang berusaha menjadi yang terbaik untukku. Menjadi seseorang yang selalu ada bersamaku, menggantikan sosok ayah.