Jam di layar ponselku tepat menunjukkan pukul tujuh lewat empat belas menit. Artinya, kurang lebih delapan jam yang lalu semenjak aku meninggalkan kak Baskara di lapangan kompleks tadi. Ya, benar. Aku belum pulang ke rumah hingga saat ini. Selama itu pula perutku belum terisi nasi, hanya cemilan.
Jangan khawatir, aku sudah terbiasa seperti ini. Malahan, aku terkadang hanya makan satu kali sehari. Aku tidak sedang berdiet, tetapi kenyataannya aku memang malas makan. Selalunya seperti, 'aku harus makan siang hari ini, tidak boleh tidak'. Namun, disaat aku mulai berpikir apa yang harus kumakan siang ini, tiba-tiba mood makanku hilang dan berakhir tidak jadi makan.
Ya, itulah aku, yang anehnya badanku tidak kurus, tapi tidak berisi juga. Bisa dibilang, berada dilevel sedang.
Omong-omong, tidak banyak tempat yang telah kukunjungi selama delapan jam terakhir. Aku hanya mengunjungi minimarket, warnet, dan terakhir bukit sapi
Bukit sapi merupakan satu-satunya bukit di kompleks perumahan tempat tinggalku. Bukit ini masih asri, banyak pepohonan dan juga rumput. Oleh sebab itu, banyak penduduk yang sering mengambil makanan sapi disini. Mungkin karena bukit ini satu-satunya sumber makanan sapi, jadi di namakanlah bukit sapi.
Di puncak bukit sapi lah kini aku berada. Puncaknya tidak begitu tinggi karena jarak pandang masih jelas melihat kegiatan orang-orang di kaki bukti. Sembari selonjoran, aku menikmati setiap angin yang menyapu permukaan kulitku. Sejuk sekali hingga ia cukup mampu menghantarkan kantuk apalagi dengan gemericik air dan bunyi dedaunan yang saling bergesekan. Menciptakan melodi yang menenangkan. Kalau saja disini cukup aman, pasti aku sudah membiarkan tubuhku berbaring di atas rerumputan, lalu beristirahat menuju alam mimpi.
Lama kelamaan, aku mulai terkantuk dan kurasa sebentar lagi mataku terpejam total, lalu berakhir tertidur disini. Sayangnya, seseorang tiba-tiba datang menggangguku, menghilangkan kantuk yang menyerang.
Dia Arjuna, yang tiba-tiba datang entah darimana. Mengambil topiku tanpa izin, lantas memakainya.
"Aku mencarimu sejak tadi, ternyata disini," katanya sembari duduk di sampingku. Pandangku tidak pernah lepas dari gerak-geriknya yang mencari posisi ternyaman.
"Ada perlu apa mencari ku?"
Dia menoleh padaku, terdiam untuk beberapa detik, "Memangnya harus ada perlu untuk mencarimu?"
"Tentu saja."
"Ck," decaknya dan mengalihkan tatapan. Kami sama-sama menatap hamparan ilalang yang ada di depan mata. "Kau tahu ini sudah jam berapa? Tidak seharusnya kau ada disini, di tempat seperti ini yang bisa menimbulkan fitnah jika kau bersama laki-laki."
Aku menautkan kedua alis, "Kalau kau tau seperti itu, kenapa menyusulku kesini? Bagaimana jika besok, bangun-bangun aku digiring ke tengah lapangan atas tuduhan yang tidak-tidak karena bersamamu disini."
"Beda cerita jika kau bersamaku. Aku yakin tidak akan ada fitnah."
"Kenapa?" tanyaku bingung dan kembali menoleh padanya. Sejenak, ia terdiam. Membiarkan pertanyaanku menggantung di udara.
Ku perhatikan, Arjuna bergerak merubah posisinya. Dari dia yang duduk di sampingku, menjadi berbaring dengan lengannya sebagai tumpuan. Satu kakinya ditekuk dan satunya lagi dibiarkan lurus.
"Ya, jelas karena kau adalah kakakku. Tidak mungkin ada fitnah antara kakak dan adik, kan."
Ah, aku lupa menjelaskan siapa Arjuna. Singkat saja, dia teman masa kecilku, tetapi aku lebih tua dua tahun darinya. Dari kecil kami selalu bersama, bahkan mama pernah bercerita kalau kami sering makan di satu piring yang sama, minum gelas yang sama, dan kadang bertukar baju. Aku tertawa kecil mengingatnya.
Saat ini, Arjuna sudah berada di kelas tingkat akhir masa sekolah menengah atas, alias kelas dua belas. Sebentar lagi dia lulus. Aku menghela napas pelan mengingat masa lalu yang dulu begitu indah. Tak terasa kami bertumbuh begitu cepat. Aku masih ingat jelas ketika aku dan Arjuna bermain kelereng bersama-sama, bermain masak-masak bersama, dan juga ikut mencuri sirsak pak RT bersama kak Hendra, tentu saja kakakku itu dalangnya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Arjuna sembari menggoyang-goyangkan lenganku.
"Bukan apa-apa."
"Apa kau tidak berpikir kalau kita adik kakak? Apa kau menganggapnya lebih dari itu? Kau menyukaiku, ya? Pasti begitu, kan? Ayo mengakulah, aku tidak mempermasalahkan jika itu benar."
Aku berdecak kesal mendengar pertanyaan yang tampak dipaksa menjadi sebuah pernyataan. Laki-laki ini terlalu percaya diri. "Jangan berharap aku akan menyukaimu sebagai seorang laki-laki. Kau masih kecil dan bukan tipeku sekali."
"Cih. Kau juga bukan tipeku."
"Baguslah."
Detik demi detik berlalu, malam semakin larut, dan angin pun semakin berhembus kencang. Namun, aku belum berniat sama sekali untuk pulang apalagi sekarang Arjun ada bersamaku. Ku rasa kak Baskara tidak akan khawatir jika dia tahu aku bersama bocah ini. Walaupun Arjuna lebih muda dariku, tidak menapik fakta bawah ia jauh lebih kuat dari ku dan jauh lebih diandalkan secara dia kan laki-laki.
Aku juga yakin dia tidak akan macam-macam. Aku sudah mengenal luar dalam Arjuna. Dia bukan laki-laki yang seperti itu. Tampangnya memang seperti Fang di serial kartun Boboiboy, tapi hatinya sebaik Adit di serial Sopo Jarwo. Haha.
"Aya.." panggilnya tiba-tiba. Lantas, aku menoleh padanya. Namun, bukannya menjawab maksud dari panggilannya, dia malah menatapku dalam diam. Cukup lama. Setelah itu, tanpa izin bocah ini langsung menarik lenganku membuat kepalaku terbentur dengan tanah yang keras.
"Aiss, Arjuna apa-apaan sih!"
"Astaga, maaf-maaf, aku tidak sengaja," katanya sembari mengusap kepala bagian kananku yang sakit karena ulahnya.
"Menyebalkan."
"Iya, maafkan aku?"
Aku menatapnya tidak suka. Tapi, anak itu bukannya merasa bersalah, dia malah tertawa. Jadi, percuma saja aku marah padanya, dia tetap tidak merasa bersalah. Aku tahu Arjuna.
Sakitnya sudah tidak terasa, tapi tangan Arjuna masih mengelus lembut kepalaku. Sambil berbaring aku bertanya padanya, "oh iya, kenapa kau tahu kalau aku ada disini?"
"Kak Baskara bilang kau pergi setelah kalian berbincang singkat di lapangan. Jadi, aku langsung mencarimu ke seluruh tempat dimana kau biasa menghabiskan waktu. Eh, ternyata aku menemukanmu disini."
"Sebelum kesini, kau mencariku dimana?"
"Mm," dia tidak langsung menjawab, tampak berpikir dahulu. "Setelah bertemu kak Baskara, aku pulang dulu, lapar soalnya. Habis---" ucapannya terpotong setelah aku memukul kepalanya. Tidak ada yang salah, hanya saja aku merasa anak itu tidak mengkhawatirkan ku. Seharusnya, setelah kak Baskara mengatakan aku pergi entah kemana, dia langsung mencariku karena siapa tahu aku kesasar atau bahkan dicuri, tapi Arjuna malah mementingkan perutnya. Oh, dasar anak ini.
"Kenapa memukulku?"
Aku menatapnya nyalang, tepat di kedua matanya, "bisa-bisanya kau lebih mementingkan perutmu itu," ku cubit perutnya yang agak berisi. "Bagaimana jika seandainya aku tersesat atau dicuri?"
Arjuna tertawa membuatku kesal dan juga bingung di waktu yang sama. "Kau tersesat? Yang benar saja! Kau bahkan lebih tau kompleks ini dari ujung sampai ke ujung daripada aku. Lalu apa tadi? Di culik? Memangnya siapa yang berminat mencurimu?"
"Ah, Arjuna benar-benar menyebalkan."
Baiklah aku marah padanya. Tidak lagi kuanggap dia sebagai adikku. Kalau perlu tidak lagi kukenal dia. "Tidak usah marah seperti itu. Lebih baik lihat dirimu disana," katanya.
Aku menolah pada objek yang menjadi titik berhenti jari telunjuk Arjuna. Sontak, aku tersenyum lebar dengan mata berbinar. Secara tiba-tiba, rasa bahagia memenuhi relung hatiku hanya dengan melihat bulan separuh. Aku tidak bohong, bulan itu tampak sangat indah dan aku tidak menyadarinya sejak tadi.
Aku sangat menyukai bulan.
Seandainya bulan adalah diriku. Aku selalu berharap seperti itu. Atau setidaknya adalah seandainya bulan adalah temanku yang siap membagikan putaran memori tentang kejadian yang pernah aku lewatkan ketika aku tak ada.
Bagiku, bulan merupakan satu-satunya saksi pada malam seseorang. Dia yang senantiasa menyinari jalan seseorang di malam hari. Ia tidak pernah tertidur karena tujuannya menjaga yang terlelap. Banyak hal tentang bulan yang aku suka yang mungkin tak dapat ku jabarkan satu persatu.
"Dia cantik."