Ciuman Bryan yang awalnya lembut berubah menjadi penuh tuntutan. Lidahnya yang tadinya menari-nari menggoda kini menjelajahi rongga mulut Stella dengan paksa, mencari sesuatu yang lebih dari sekadar rasa manis. "Hmmpphh," desah Stella, suaranya tertahan, campuran antara rasa sakit dan gairah yang tak terkendali. Tangannya yang tadinya lembut mengusap pipi Stella kini meremas pahanya dengan kuat, menahan tubuh Stella agar tak bisa menghindar. Stella memberontak, mencoba mendorong d**a bidang Bryan, namun kekuatannya tak sebanding. "Lepaskan... Bry... sakit," rintihnya, suaranya nyaris tak terdengar di antara desahan dan isakan. Desahan Stella berubah menjadi isakan kecil yang tertahan. Ia meremas kemeja Bryan, jari-jarinya menancap kuat ke dalam kain, seperti berusaha mencengkram sesu

