Stella berlari sekuat tenaga. Nafasnya memburu, d**a sesak oleh ketakutan. Malam itu seharusnya menjadi malam yang tenang. Ia baru saja keluar dari klinik tempatnya melakukan terapi. Anthony menunggu di mobil, tapi dalam sekejap semua berubah kacau. Mobil pengawalnya dibakar. Anthony dikeroyok. Ia sempat menjerit minta tolong, tapi tidak ada yang mendengarnya. Kini ia terjebak di lorong sempit di antara bangunan tua. Bayangan pria-pria bertopeng mengejarnya dari belakang, suara langkah kaki mereka bergema di tembok beton. Stella menoleh sebentar dan melihat dua dari mereka bersenjata. Salah satunya bahkan mengangkat walkie-talkie, berbicara dalam bahasa yang tak dikenalnya. Tidak ada sinyal. Ponselnya sudah dirampas. Ia mencoba mengetuk pintu-pintu rumah di sekitarnya. Tak satu pun terbu

