Apa katanya? Menikah? Apa saat ini Bryan sedang bercanda kepadanya? Bagaimana bisa pria ini tiba-tiba saja mengajaknya untuk menikah? Sedangkan, mereka berdua sama sekali belum saling mengenal. Jangankan saling mengenal, mereka saja belum mengetahui nama masing-masing. Bertemu pun baru kemarin, bagaimana bisa tiba-tiba mengajak menikah?
"Apa Tuan sedang bercanda denganku? Ini sama sekali tidak lucu," tukas Stella dengan tawa kecil yang keluar dari bibirnya.
Namun, bukannya ikut tertawa, Bryan masih tetap dengan ekspresinya yang serius dan datar. Sehingga Stella pun berhenti tertawa karena suasana diantara mereka tiba-tiba menjadi tegang.
"Aku tidak sedang bercanda. Aku serius. Aku ingin menikah denganmu."
Stella terperangah dibuatnya. Bagi wanita itu, kata-kata Bryan sangatlah tidak masuk akal. Kembali, ia tertawa dan menganggap perkataan Bryan adalah sebuah candaan. Ketika mendengar Stella tertawa, Bryan menatapnya semakin tajam.
"Kita tidak bisa menikah, Tuan."
Mata Bryan menggelap usai mendengar perkataan Stella. "Kenapa? Apa kau punya pria lain?" tanya Bryan dengan dinginnya.
Dengan jujur, Stella menjawab pertanyaan Bryan. Karena ia merasa akan terjadi sesuatu yang buruk apabila ia tidak menjawabnya. "Aku tidak punya seseorang di hatiku untuk saat ini. Jadi tidak ada."
"Kalau begitu, biarkan aku menjadi seseorang yang ada dihatimu." Bryan mengatakannya dengan raut wajah yang sama. Hingga Stella tak bisa menebak apa yang ada dipikiran Bryan. Tadi masih mending, pria itu bisa tersenyum. Sekarang Bryan terlihat datar dan dingin. Tak bisa ditebak.
"Tuan, kau ini bicara apa? Jangan bicara soal pernikahan dengan begitu mudahnya. Pernikahan itu bukan main-main.
Tiba-tiba saja Bryan mendekat ke arahnya dan memegang lehernya. Sontak saja Stella terkejut saat merasakan tangan dingin pria itu memegang lehernya dan sekarang jarak mereka sangat dekat.
"A-apa yang tuan lakukan?" tanya Stella dengan gelagapan. Hatinya tidak karuan, ketika tangan besar Bryan mulai mengerat pada lehernya. "Tu-tuan ....," lirih Stella yang mulai ketakutan dengan Bryan.
"Kau menolakku? Kau tidak mau menikah denganku?" tanya Bryan dengan napasnya yang memburu dan atensinya yang tajam bak pedang, tertuju pada Stella.
"Sebenarnya Tuan kenapa? A-aku tidak mengerti apa yang—"
Wanita itu menjerit saat Bryan benar-benar mencekiknya, kedua tangannya pun refleks memegang tangan Bryan dan berusaha melepaskan tangan lelaki itu dari lehernya.
"Tu-tuan ....," kata wanita itu terbata-bata. Napasnya terengah, karena oksigennya mulai tercuri oleh tangan Bryan yang mencengkram lehernya. "Le-lepashh."
"Aku sudah menyelamatkanmu dari para babi hutan sialan itu. Tapi kau menolak untuk menikah denganku, hah?" ucap pria itu dengan mata penuh amarah. Tangannya tetap mencengkeram leher Stella.
Kedua mata amber Stella mulai mengembun, rasa sesak juga menyerang dadanya. Cengkraman itu semakin kuat pada lehernya. Stella benar-benar tidak mengerti kalau
"To-tolong, le-lepaskan aku." Tangan Stella semakin memberontak, berusaha sebisanya untuk melepaskan tangan Bryan. Namun, usahanya sia-sia saja karena tenaga Bryan jauh lebih kuat darinya.
"Selama ini aku selalu mendapatkan apa yang ku inginkan!"
Mata abu-abu milik Bryan berkilat penuh emosi pada Stella, seakan-akan ia kehilangan kendali atas dirinya. Tapi tiba-tiba saja Bryan melepaskan cengkraman tangannya dari leher Stella. Stella pun mencoba memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri. Namun, Bryan dengan cepat meraih tubuhnya.
"A-apa yang akan kau lakukan? Apa kau sudah gila? Lepaskan aku!" teriak Stella panik. Akan tetapi, Bryan tidak mempedulikannya dan malah mengangkat tubuh Stella di bahunya. "TOLONG! TOLONG! YANG DILUAR SANA, TOLONG AKU!"
Lucius dan dua orang pengawal yang berjaga di depan pintu kamar Bryan, terkejut mendengar suara teriakan Stella dari dalam kamar.
"Tuan Lucius, apa kita harus menolongnya?" tanya salah seorang anak buah Bryan pada Lucius yang merupakan atasannya juga.
"Tidak, biarkan saja. Mungkin kehadiran wanita itu bisa membantu tuan untuk sembuh," ucap Lucius dengan sorot mata yang penuh harap.
Ucapannya ini membuat dua orang pengawal itu merasa bingung. Lantas, salah satu dari dua orang pengawal itu bertanya kepadanya. Apakah tuan mereka sedang sakit?
"Sembuh? Memangnya tuan sakit apa? Lantas, apakah wanita itu adalah seorang dokter?"
Lucius tidak menjawab pertanyaan dari bawahannya itu, karena ia tidak boleh mengatakan apapun tentang tuannya. Ia adalah orang kepercayaan tuannya yang harus menjaga rahasia tuannya.
"TOLONG! SIAPAPUN TOLONG-HMPHH-"
"Tuan, bagaimana ini?" tanya salah seorang pengawal itu yang ngeri mendengar suara jeritan Stella.
"Berpura-puralah tidak mendengarnya dan jalankan tugas kalian seperti biasa," kata Lucius pada dua orang itu. Akhirnya, mereka berdua memilih diam dan tidak ikut campur, meskipun sebenarnya mereka penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana.
Pasalnya, selama ini Tuan mereka tidak pernah membawa seorang wanita pun ke mansionnya.
Di dalam sana, tubuh Stella sudah setengah polos. Cairan bening hangat terus meluncur dari kedua bola matanya. Ia berusaha untuk melarikan diri dari Bryan yang saat ini sedang mengukung tubuhnya. Pria itu menjamah tubuh Stella dengan bibirnya. Tak peduli dengan isak tangis wanita itu yang memohon padanya. Sama sekali tak membuat dirinya iba.
Stella pun mulai merasakan sesuatu yang aneh dari dalam dirinya, ketika sentuhan-sentuhan itu menciptakan sensasi seperti kesetrum ditubuhnya. Stella berusaha melawan kekuatan Bryan.
"Tuan ... Tolong, aku tak mau melakukan ini sebelum aku menikah."
Mendengar kata menikah, tiba-tiba saja membuat Bryan berhenti bergerak. Netranya menatap Stella seperti binatang buas yang haus akan mangsanya. Terpatri senyuman aneh dibibirnya yang membuat Stella merinding.
"Menikah? Tidak, aku tidak perlu menikah denganmu untuk memilikimu. Dengan membuatmu mengandung anakku, aku bisa mengikatmu," ucapnya bersungguh-sungguh. Kemudian ia merealisasikan ucapan itu dengan menarik semua pakaian yang tersisa dari tubuh Stella. Hingga kini tubuh Stella sudah tanpa sehelai benang satupun ditubuhnya.
Bryan tersenyum menyeringai dan melakukan penyatuan itu secara paksa kepada Stella. Ia bahkan tak peduli dengan Stella yang menjerit kesakitan, saat dirinya berhasil menerobos pintu yang tak pernah dijamah oleh siapapun juga. Lelaki itu beringas dan menyetubuhi Stella sepuas hatinya, tanpa memikirkan lawan mainnya sama sekali.
Seprai yang semula rapi itu, kini berantakan, seiring dengan kegiatan dua manusia diatasnya. Bahkan seprai yang semula berwarna putih itu, terlihat pekat oleh tetesan cairan merah diatasnya.
"Tolong, hentikan ... uuuh ... Tuan." Stella tergugu, kala ia merasakan tubuhnya terbelah hancur. Benda milik lelaki kejam itu yang membuatnya seperti ini. Lelaki yang tak ia kenal sama sekali.
Sakit rasanya, sama sekali ia tidak merasakan kenikmatan. Hanya Bryan yang merasakan kenikmatan itu, bibirnya tak henti tersenyum dan tubuhnya bergerak-gerak menghancurkan Stella.
"Kau sangat kejam tuan, kau gila ....," lirih Stella dengan wajah pucatnya yang berkeringat. Beberapa saat kemudian, seluruh pandangannya pun menggelap.
TBC