Bab 10. Bukan Anak Kandung

1029 Words
Harry, putra tertua keluarga Lousier itu baru saja kembali setelah menyelesaikan pendidikan kedokterannya di luar negeri. Dibandingkan menjadi seorang pebisnis seperti ayahnya. Harry lebih memilih menjadi seorang dokter. Hanya Harry, satu-satunya orang yang baik pada Stella di rumah itu. Kini Harry sudah kembali dan ia tidak menemukan Stella di sana. Ia tahu, pasti selama ia tidak ada di rumah, keluarganya selalu menindas Stella. Dari Stella masih kecil, ibu dan adiknya selalu saja membuat Stella kesulitan dan Harry selalu mengganggunya. "Apa? Ayah menjualnya? Apa maksudmu Eve?" Sorot mata Harry tampan tajam tertuju pada Evelyn yang saat ini bersembunyi dibelakang tubuh ibunya. Evelyn terlihat ketakutan melihat kakaknya seperti itu. "Jawab aku Evelyn Lousier!" bentak sang kakak yang seketika membuat Evelyn gemetar. "Cukup Harry! Jangan seperti itu pada adikmu. Apa kau tidak lihat dia ketakutan hah?" Griselda, sang ibu angkat bicara untuk membela anak bungsunya itu. Menurutnya, Harry sangat keterlaluan pada Evelyn yang merupakan adik kandungnya sendiri. "Tidakkah kau terlalu membela anak pungut itu? Dia bahkan bukan adikmu, Harry. Tapi kenapa kau selalu mati-matian membela dirinya?" cecar Griselda dengan emosi pada Harry. Deg! Evelyn terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia baru tahu, kalau Stella ternyata bukanlah kakak kandungnya. "Apa? Jadi si jalang itu bukan Kakak kandungku? Tapi ... dia anak pungut dan kak Harry juga sudah mengetahuinya?" Evelyn membatin. "Oh my god," gumam Evelyn dengan mulut menganga. "Bagiku ... Stella itu sudah seperti adikku sendiri. Meskipun dia tidak lahir dari rahimmu, Bu. Dia sudah tinggal bersama dengan kita selama bertahun-tahun. Dia juga selalu baik pada kita, menurut pada ibu dan ayah." Harry mengingatkan pada ibu dan adiknya bahwa selama ini Stella selalu bersikap baik kepada mereka. Meskipun mereka tidak melakukan hal yang sebaliknya kepada Stella. "Kenapa ibu tidak bisa menyayanginya?" "Kau sudah tahu jawabannya, Harry. Dia bukan keluarga kita. Jika bukan karena ayahmu ... Ibu sudah sejak lama mengusir anak yang tidak jelas asal-usulnya itu! Ibu juga heran, kenapa ayahmu masih mengizinkannya tinggal di sini. Tapi untunglah, ibumu ini berhasil membujuk ayahmu untuk mengusirnya dari sini!" Griselda berkata tanpa merasa bersalah sedikitpun, bahwasanya ialah yang membujuk suaminya untuk menjual Stella ke tempat hiburan malam. Rahang Harry mengeras, tangannya terkepal kuat, gejolak amarah terlihat di dalam surat matanya yang kelam. "Ibu ... tega sekali ibu melakukan itu pada Stella!" seru Harry dengan emosi. "Apa Ibu tidak memikirkan bagaimana perasaan orang tua kandung Stella kalau dia tahu, kalau ibu menjual anaknya ke tempat hiburan malam? Atau ... Ibu bayangkan kalau ada yang menjual Eve ke tempat hiburan. Apa ibu mau hal seperti itu terjadi pada anak ibu?" Harry mencoba berbicara kepada ibunya, bahwa tindakannya salah pada Stella. Gadis lugu dan baik itu, tidak bisa menerima perlakuan seperti ini. "Ibu tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi pada anak kandung ibu. Tapi kan, Stella bukan anak kandung ibu. Jadi untuk apa Ibu peduli kepadanya?" ucap Griselda yang keras kepala tak terkira. Harry berdecak kesal mendengar kata-kata ibunya itu. "Baiklah. Kalau kalian berdua memang tidak bisa diajak bicara. Lebih baik, kalian katakan Stella ada di tempat hiburan mana?" tanya Harry pada ibu dan adiknya. Evelyn menjawab pertanyaan kakaknya. Setelah mendapatkan jawaban dari Evelyn. Harry langsung pergi ke tempat yang disebutkan itu. Ia mencari adiknya ke sana, tapi adiknya tidak ada di sana dan sudah dibawa oleh bos besar. Entah siapa yang disebut bos besar itu. "Siapa bos besar itu? Pasti ibu dan ayah tahu tentang ini!" *** Setelah melewati malam di mansion Bryan. Pagi itu, Stella akan kembali ke rumahnya. Bryan juga membiarkannya pergi, karena ia merasa tidak berhutang budi lagi pada Stella yang sudah menyelamatkan nyawanya. Di dalam sebuah ruangan, Stella berbicara pada Bryan yang sedang menyesap kopi hitam kesukaannya. "Kau yakin akan pergi? Kau tidak mau menerima tawaranku untuk menikah. Kebetulan aku butuh istri di atas kertas." Bryan kembali menanyakan pertanyaan yang sama, dengan pertanyaan semalam. Ia membutuhkan istri, karena desakan ibunya yang terus saja memintanya untuk menikah. Ibunya selalu menjodoh-jodohkannya. "Tidak, Tuan. Usia saya masih 21 tahun. Saya belum ada niatan menikah." Alibi Stella sambil tersenyum. "Mana mungkin aku menikah dengan pria yang memiliki dua kepribadian berbeda. Apa lagi kepribadian Maxime itu sangatlah ..." Pikir Stella dalam hatinya. "Kalau kau berubah pikiran, kau bisa datangi aku kesini." Pria itu menyerahkan kartu namanya pada Stella yang tertera nama Bryan, serta alamat kantor tempat Bryan bekerja. Stella melongo melihat jabatan Bryan dan perusahaan yang dipimpinnya itu. M Diamond, adalah perusahaan berlian terbesar, ternama didunia dan berkuasa. "Terimakasih sudah menyelamatkan ku." "Dan ... aku minta maaf atas nama Maxime. Dia sudah melecehkanmu." Tanpa diduga, kata maaf keluar dari bibir Bryan, meskipun pelan, tapi terdengar jelas. Wanita itu terdiam saat mendengar permintaan maaf dari Bryan. Ada rasa takut dalam hatinya, ketika memikirkan kemungkinan kalau ia akan hamil. "Belilah obat kontrasepsi dan rajinlah pergi ke dokter kandungan untuk mengecek kondisimu. Aku tidak mau kau sampai hamil, karena kesalahan sisi lain dari diriku yang b******k itu." "Ya, aku juga tidak mau hamil sekarang. Jangan khawatir, aku tidak akan hamil!" ujarnya sambil tersenyum tipis. Stella menolak uang yang diberikan oleh Bryan sebagai bentuk kompensasinya atas nama Maxime. Walaupun Bryan memaksanya menerima uang itu. Siang itu, Stella berpamitan pada semua orang yang ada di mansion, termasuk Garry si harimau dan Hannah, pelayan satu-satunya di mansion itu. "Saya yakin, nona akan kembali lagi kemari. Jadi tidak usah ucapkan salam perpisahan pada bibi ya?" kata Hannah, wanita paruh baya itu dengan sangat yakin. "Baiklah Bi." Stella memeluk Hannah, seraya berpamitan padanya. Ia pun diantar pergi oleh Lucius dan dua anak buah Bryan yang lain. Tapi aneh, Stella tidak terlalu senang bisa keluar dari mansion itu. Sesampainya di depan rumah, tepat saat Stella turun dari mobil. Ia melihat seorang pria yang juga baru turun dari mobilnya. Pria itu berlari menghampirinya dengan mata penuh kerinduan. "Stella!" Pria itu langsung memeluknya, ia terlihat lega melihat Stella ada dihadapannya. "Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" Tak jauh dari sana, Lucius melihat adegan pelukan itu. Tepat saat ia sedang menerima telpon dari Bryan. Hati Bryan tidak nyaman saat mendengar suara pria yang memanggil nama Stella dan terdengar mesra. "Siapa orang itu Lucius? Siapa pria yang bicara dengannya?" Tuannya yang tidak pernah peduli pada wanita manapun, kecuali ibunya. Kini mulai terlihat berbeda pada Stella. "JAWAB!" TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD