Bab 9. Diterkam Beruang?

1058 Words
Bryan gegas pergi dari mansionnya dengan berbekal senapan yang ia pegang. Ia menuju ke hutan dengan membawa motor seorang diri agar lebih cepat. Ditengah kegelapan itu, Bryan terlihat sangat berani. Para anak buahnya melihat itu semua dan merasa heran, karena tidak seperti biasanya, tuan mereka pergi sendiri. Ketika para anak buah Bryan yang ada di depan sana akan mengikuti Bryan. Lucius melarangnya. "Jangan kejar Tuan. Beliau tidak akan pergi jauh dan beliau akan baik-baik saja. Tuan hanya akan menangkap beruang," kata Lucius yang seketika membuat beberapa anak buah Bryan yang ada di sana, jadi terdiam. "Baiklah Tuan." "Tuan bukan menangkap beruang, tapi menangka wanita cantik di hutan, si tarzania," kekeh Jonas sambil terkikik geli dengan perkataannya sendiri. Ia mengatai Stella sebagai tarzania. *** Di hutan yang belum terjamah oleh manusia ini, memang banyak hewan buas. Tapi Bryan dan anak-anak buahnya berhasil menangkap beberapa dari mereka, dijadikan hewan buruan. Kendatipun demikian, hewan-hewan buas dan liar yang lainnya masih ada di dalam hutan. Salah satu hewan yang belum Bryan dan anak buahnya tangkap adalah beruang dan buaya. Beruang di dalam hutan ini adalah spesies beruang paling berbahaya adalah beruang coklat. Beberapa saat kemudian, Stella menyadari ada sesuatu yang besar sedang berjalan ke arahnya. Meski dalam kegelapan, ia bisa tahu kalau sesuatu yang besar dan tinggi itu adalah hewan. Sampai akhirnya Stella melihat seekor beruang yang tengah berjalan ke arahnya. "Astaga!" Stella terkejut melihat jelas beruang berwarna coklat itu tengah menatap ke arahnya. Namun, sekarang langkahnya terhenti di dekat pohon beri yang menarik perhatiannya. Jantung Stella berdegup kencang, ia menelan salivanya sendiri. "Aku belum pernah menghadapi beruang sebelumnya waktu bekerja di kebun binatang dulu," gumam Stella saat ia teringat, pernah bekerja di kebun binatang. Inilah yang membuatnya bisa menjinakkan si harimau ini. "Tapi ... aku memiliki sedikit pengetahuan, ketika berhadapan dengan beruang. Mungkin aku bisa menggunakan pengetahuan itu sekarang." "Langkah pertama ... tetap tenang dan mundur perlahan." Stella mundur perlahan ke belakang. "Dua ... jangan berlari, memanjat pohon, atau membuat gerakan tiba-tiba atau suara keras." Wanita itu mundur perlahan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara apapun juga. Sementara si harimau mengikutinya juga, seperti kucing yang sudah terlatih. "Jangan berisik ya pusyy," ucap Stella berbisik-bisik pada harimau itu. Namun, Stella yang tak melihat batu cukup besar yang dibelakangnya, tanpa sengaja tersandung batu tersebut dan tubuhnya oleh ke belakang. "Akhh!" Bibirnya tanpa sengaja mengeluarkan teriakan, saat tubuhnya jatuh dengan posisi terlentang di atas tanah tersebut. Sontak saja, si beruang itu mengatensikan kedua matanya pada Stella. Stella terperangah melihat beruang itu berjalan cepat ke arahnya. Sedangkan ia masih berada dalam posisi duduk di tanah. Tepat saat beruang itu akan menerkam Stella, harimau yang ada disampingnya berlari dan menghalangi beruang itu agar tidak menyerang Stella. Terjadilah pertarungan antara harimau itu dan si beruang. Saat pertarungan itu terjadi, Stella pun mencoba untuk berdiri. Ia bisa saja kabur menyelamatkan diri sendiri, tapi ia tak tega melihat harimau yang menolongnya itu sendirian menghadapi si beruang coklat. "p***y!" "Jangan mati." Mata Stella berkaca-kaca melihat harimau itu terluka oleh si beruang demi melindunginya. Ia tidak bisa diam saja seperti ini dan harus melakukan sesuatu. Akhirnya Stella mengambil sebuah batang kayu dan memukul si beruang itu agar melepaskan si harimau. Beruang itu memang melepaskan si harimau, tapi sekarang ia menuju ke arah Stella. Tinggal beberapa langkah lagi beruang itu menerkam Stella. Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang membuat beruang itu membeku. Brugh! Beruang itu lalu ambruk tepat didepan matanya. Kemudian Stella melihat seseorang yang berada dibelakang beruang itu. Tampak seorang pria tampan sedang memegang senapan. "Ka-kau?" Napas Stella masih belum beraturan, setelah ia berhasil lolos dari serangan beruang itu. Jantungnya masih berderu hebat. "Ini yang kau dapat setelah melarikan diri dari mansionku?" tanya pria itu dengan suara dinginnya. Stella memperhatikan bagaimana raut wajah pria itu dan gayanya dengan baik. Ia merasa lega, karena orang yang ada dihadapannya saat ini mungkin adalah Bryan. "Tuan Bryan?" "Memangnya siapa lagi?" Wanita itu tersenyum, rupanya dugaan Stella benar. Ia bisa membedakan Bryan dan Maxime. "Ayo, kita kembali ke mansion. Aku akan mengantarmu pulang, besok." Bryan mengajak Stella untuk pergi dari sana dan ia akan memulangkan Stella besok. "Terimakasih Tuan. Tapi harimaunya bagaimana? Dia terluka karena sudah menyelamatkanku. Kita tidak akan meninggalkannya di sini kan?" ucap Stella seraya melihat ke arah harimau yang satu kakinya dan wajahnya terluka karena serangan beruang. "Anak buahku akan mengurusnya." "Tapi aku ingin memastikan kalau p***y baik-baik saja," ucap Stella sambil menggelengkan kepalanya. Ia tetap khawatir pada harimau itu. "Namanya Garry." "Oh ... jadi namanya Garry?" Wanita itu tersenyum saat mengetahui nama si harimau itu. "Ayo pergi!" ajak Bryan yang mulai kesal, karena Stella membuang-buang waktunya dan bertele-tele. "Aku akan menunggu sama anak buah Tuan datang. Aku harus memastikan penyelamatku mendapatkan perawatan terbaik," tutur Stella yang membuat Bryan jengkel. Bryan mendengus lalu berkata, "Aku lah penyelamatmu!" "Kalian berdua penyelamatku," kata Stella sambil manggut-manggut. "Jangan banyak bicara. Ayo pergi, sebelum aku berubah pikiran." Bryan membawa Stella kembali ke mansionnya, mereka mengendarai motor yang dibawa Bryan. Sementara itu, beberapa anak buah Bryan dikerahkan ke hutan untuk mengurus beruang mati dan harimau yang terluka. Sesampainya di mansion, seorang wanita paruh baya yang bekerja di mansion itu, menyambut Stella dengan hangat. "Sudah saya duga, kalau Nona pasti akan kembali lagi kemari." "Bibi." "Ayo! Bibi akan obati lukanya dan menyiapkan coklat panas juga," kata wanita paruh baya itu pada Stella. Meski baru bertemu satu kali, tapi mereka sudah akrab. *** Di kediaman Lousier. Seorang pria terlihat sedang marah-marah di ruang tengah. Meja kaca, vas bunga, ia hancurkan untuk melampiaskan emosinya. "Harry! Tenangkan dirimu, jangan emosi seperti ini karena wanita jalang itu," ujar Griselda memperingatkan putranya untuk tidak marah-marah hanya karena Stella. "Kalau ibu tidak mau aku marah-marah seperti ini. Katakan padaku, di mana Stella? Di mana dia, Bu?" tanya Harry, pria muda dan tampan itu kepada ibunya. Griselda dan Evelyn terlihat ketakutan melihat Harry mengamuk, begitu ia pulang dari luar negeri dan tidak melihat ada Stella di rumah. Ia menduga kalau ibu dan adiknya menindas lagi Stella. "Ibu, bagaimana ini? Kenapa kakak sudah pulang? Ibu kan bilang kalau kak Harry akan pulang seminggu lagi," bisik Evelyn pada sang ibu. "Ibu juga tidak tahu kalau kakakmu akan pulang hari ini, Eve." "Kenapa kalian malah bisik-bisik seperti itu hah? Jawab aku! Di mana Stella dan kalian apakan lagi adikku itu?" teriak Harry murka yang seketika membuat ibu dan adik bungsunya ketakutan. "Ayah menjual dia ke tempat hiburan!" TBC..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD