Bab 8. Melarikan Diri

1153 Words
Melihat bagaimana Bryan saat ini, membuat Stella menyadari kalau perkataan Jonas memang benar. Bryan memiliki dua kepribadian dan semalam kepribadian pria itu yang lain, yang sudah menggagahinya. "Aku harus segera pergi dari sini." Stella bergumam, dengan cepat ia berusaha berdiri. Memanfaatkan kebingungan dan ke linglungan Bryan untuk melarikan diri. Sebelum Maxime, sisinya yang lain menguasai Bryan kembali. Wanita itu berhasil mencapai pintu, ia mencoba membukanya tapi tidak bisa. Pintunya terkunci dan harus dibuka oleh remote kontrol rumah pintar yang dimiliki oleh Bryan. Stella mengetahuinya, karena sebelumnya ia pernah melihat Bryan membuka jendela, menutup pintu dengan remot tersebut. "Astaga. Kenapa harus dikunci begini?" gerutunya yang panik, mencari jalan keluar dari sana. "Remote, aku harus cari remot itu." Di tengah perasaan yang terburu-buru. Stella berusaha untuk menenangkan dirinya dan berpikir cepat mencari remot pintar yang bisa membuka pintunya. Sementara Bryan, pria itu terlihat gusar sambil memegang kepalanya sendiri, seperti orang yang frustasi. "Pergi kau! Pergi!" "Tidak mau. Aku mau gadis itu," gumamnya sendiri dengan raut wajah yang berbeda-beda. Hati Stella takut, sekaligus kasihan melihat pria yang sudah menolongnya tampak tersiksa seperti itu. Ya, pasti sangat sulit untuk mengendalikan dua kepribadian di dalam dirinya sekaligus. "Ketemu!" Stella tersenyum senang saat ia menemukan remote control itu di atas meja. Ia mengambil remote tersebut dan menekan kata open yang ada di sana. Tapi pintunya tidak kunjung terbuka. "Tolong masukkan kata sandinya!" Suara dari remote kontrol itu, membuat Stella menyadari kalau remote ini bukan sembarang remote. Harus dimasukkan kata sandinya dulu. "Buka. Kata sandinya buka." Stella berbicara pada remotnya, tapi tak ada respon. "Buka. Buka pintu." "Salah. Anda bukan pemilik rumah," kata seorang wanita dari remot itu. Percuma saja Stella mencoba untuk membuka pintu tersebut, karena hanya Bryan yang bisa membuka pintunya. Stella pun mencari jalan lain, seperti jendela atau apa pun yang ada di sana. Wanita itu bergerak menuju ke kamar mandi, di sanalah ia melihat ada sebuah kaca yang mengarah keluar. Stella nekat memecahkan kaca tersebut dan membuka jalan untuknya. Ia naik ke atas toilet dengan susah payah, lalu keluar dari jendela itu dengan perjuangan berat. Pergelangan tangannya terluka oleh pecahan kaca, tapi luka itu tidak seberapa dibandingkan rasa senangnya karena berhasil keluar dari tempat ini. Bryan menyeramkan dan ia tidak mau tinggal lebih lama lagi di tempat ini. "Tapi ... di sini gelap sekali. Kenapa tidak ada penerangan sama sekali?" gumam Stella yang merasa merinding karena ia tidak melihat ada cahaya lampu sedikit pun di sana. Hanya ada sedikit cahaya bulan yang menerangi jalannya. "Benar, ini kan ditengah hutan. Mana ada lampu. Dasar Stella bodoh." Semua yang ada disekitarnya, hanya ada hutan, pepohonan dan suara hewan malam yang terdengar sesekali. Stella berusaha untuk menekan rasa takutnya dan berjalan tanpa alas kaki, melewati jalanan yang ada. Ia benar-benar masuk ke dalam hutan yang gelap itu. *** Sementara di sisi lain, Bryan sudah sadar dan kembali menjadi dirinya sendiri. Ia menyadari kalau Stella sudah tidak ada di sana. "Tuan. Apa saya perlu menyuruh orang-orang untuk mencari wanita itu?" tanya Lucius pada Bryan yang baru saja selesai meminum obatnya. "Tidak usah. Dia kan ingin melarikan diri dari sini, biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan." Bryan terlihat cuek, ia membiarkan Stella pergi dari sana. Namun, Bryan masih bisa melihat Stella dari kamera CCTV yang ia pasang di hutan, ia rasa akan ada tontonan menarik didepannya. Di mana harimau peliharannya sedang berjalan dari dalam hutan ke arah Stella yang tengah duduk di bebatuan. Ia bahkan menyesap nikotin kesukaannya sambil melihat layar CCTV tersebut. "Aakhh!" jerit Stella kaget saat melihat sosok harimau besar berjalan ke arahnya. Meskipun dalam gelap, tapi Stella bisa melihat tubuh harimau itu dengan jelas. Tangannya sudah bersiap membawa kayu pohon yang patah dan rapuh sebagai bentuk pertahanan diri. Rasa takut Stella perlahan menghilang saat si harimau itu berjalan pelan ke arahnya. Stella berusaha tenang dan melambaikan tangannya. "Meong meong ... sini pus ..." Harimau yang wajahnya tampak menyeramkan seolah akan menerkam mangsa itu, malah mendekati Stella lalu menjilati wajahnya. Stella tertawa geli karena tindakannya. "Haha ... geli ... astaga ternyata kau adalah kucing besar yang imut. Menggemaskan!" kata Stella sambil tersenyum dan mengusap-usap lembut badan si harimau itu. Sedangkan Bryan yang menontonnya, dibuat melongo karena si harimau buas peliharaannya yang biasanya akan menerkam orang asing. Tiba-tiba saja menjadi jinak saat berhadapan dengan seorang wanita bertubuh mungil dan tampak lemah itu. "Tidak! Tidak! Bukan begini seharusnya! Seharusnya dia menangis, berteriak, ketakutan dan meminta bantuan padaku!" gerutu Bryan heran sendiri, sekaligus tak percaya ada yang menjinakkan harimau nya selain dirinya. Jonas dan Lucius.yang berada dibelakang Bryan, juga melihat CCTV itu dan tidak percaya. "Padahal si Garry selalu mencakar atau menggigit saya ketika saya dekati. Tapi kenapa kepada nona itu dia bertingkah seperti seorang anak yang menurut kepada ibunya?" Jonas yang tadi diam saja, akhirnya bersuara. Ia menggeleng-gelengkan kepala, seolah tak percaya. Ia yang sudah bertahun-tahun mendekati si Garry, selalu dicakar atau digigit, tapi bertemu dengan Stella, lain ceritanya. "Sepertinya Garry tahu wanita cantik," sahut Lucius sambil tersenyum. "Saya rasa nona pernah hidup di hutan, hehe." Jonas terkekeh. Tapi lirikan tajam dari Bryan, membuat Jonas langsung terdiam. Sedangkan Stella, ia sedang mengelus-elus harimau itu sambil bersandar padanya tanpa rasa takut. "Kucing imut. Apa kau tau? Hari ini terasa berat untukku. Sebenarnya, setiap hari juga terasa berat. Aku dibenci semua keluargaku, bahkan aku dijual mereka ke tempat hiburan malam. Lebih parahnya lagi, aku bertemu dengan pria asing dan aku kehilangan kesucianku. Ini benar-benar buruk." Wanita itu tersenyum miris dengan keadaannya saat ini. Ia mengusap-usap lembut tubuh si harimau yang sekarang sedang duduk disampingnya. Ia bercerita kepada harimau itu seolah ia sedang bicara kepada manusia. "Aku tidak tahu mau pulang ke mana. Aku tidak mau pulang ke rumah, tapi aku juga tidak mau berada di sini." Kedua mata Stella berkaca-kaca, ia tidak punya tempat tujuan. Mau ke rumah pun, tidak bisa, karena pasti keluarganya akan menyiksanya lagi. Tapi, ia juga tidak mungkin berada di sini. Di depan layar CCTV itu, Bryan semakin kesal, melihat Stella masih baik-baik saja, wanita itu masih bisa tersenyum disaat dirinya sedang dikepung kegelapan dan berada didekat hewan buas. "Tuan, apakah mungkin nona adalah pawang harimau? Garry sangat menurut padanya!" celetuk Jonas yang sama sekali tidak mendapatkan tanggapan dari Bryan. Pria itu hanya melihat CCTV dengan fokus, kemudian ia memegang dadanya sendiri. "Mengapa jantungku berdebar seperti ini saat melihat wajahnya? Kenapa?" kata Bryan dalam hatinya. Ia merasa aneh, jantungnya berdebar kencang saat melihat Stella. "Tuan! Lihat itu! Ada mendekat ke arah nona!" tunjuk Pierre dengan mata melebar, saat melihat sesuatu yang tinggi dan besar, berjalan ke arah Stella. Sedangkan gadis itu belum menyadari kedatangannya. Sontak saja Bryan terkejut melihatnya, mendadak ia menjadi khawatir pada Stella yang kemungkinan besar akan diterkam hewan besar dan buas itu. Beruang yang selama ini bersembunyi di hutan dan merupakan hewan yang sudah lama ingin diburu oleh Bryan. "Tuan! Anda mau ke mana?" teriak Jonas saat melihat tuannya tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah pergi dari sana sambil membawa senapan ditangannya. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD