Bab 7. Maxime Bryan

1162 Words
"Aku merindukan anak kita, Daddy. Seandainya dia masih hidup. Dia pasti bisa merayakan hari ulang tahun bersama dengan dua saudara kembarnya." Sang suami dapat merasakan kesedihan istrinya yang begitu dalam. Sudah 21 tahun mereka kehilangan anak mereka yang diberi nama Aletta. Namun, Tuhan sudah memanggilnya lebih dulu dibandingkan kedua saudaranya yang lahir bersamaan dengannya. "Aku bahkan belum sempat melihat, bahkan memeluknya. Tapi Tuhan sudah mengambilnya lebih dulu dari kita," ucap wanita itu sambil tersenyum getir. Ia kehilangan putrinya, sebelum sempat melihat atau pun memeluknya. "Ini sudah takdir Tuhan, Honey. Kita harus merelakannya." Pria itu memeluk istrinya dengan lembut, ia juga sama-sama merasakan kehilangan putri mereka satu-satunya. "Maafkan aku Honey, sebenarnya ada kemungkinan anak kita masih hidup. Akan tetapi, aku tidak bisa mengatakan itu kepadamu." Pria itu menyembunyikan sebuah rahasia besar tentang Putri mereka yang sudah tiada dari istrinya. *** Dokter wanita yang memakai kacamata itu akhirnya keluar dari kamar yang ditempati Stella. Ia melihat ada Bryan yang sedang berdiri di depan sana. Bryan yang saat ini sedang bersama dengan Lucius. "Bagaimana keadaannya?" tanya Bryan dengan wajah datar seperti biasanya. Namun, dari nada bicaranya, pria itu terdengar cemas. Dokter itu menghela napas berat sebelum menjawabnya. "Saya tahu ... pasti sulit menahan diri bagi pengantin baru untuk tidak melakukan hubungan intim. Tapi—" "Kami bukan seperti yang—" Wanita berkacamata itu langsung memotong perkataan Bryan yang belum selesai. "Jangan potong penjelasan saya. Saya belum selesai bicara!" ujarnya tegas. Sontak saja Bryan melotot marah, karena dokter ini berani menyelanya bicara. "Saya sudah menjahit luka di bagian privasinya, lukanya cukup dalam hingga terjadi pendarahan. Saya juga sudah menghentikan pendarahannya. Sekarang, istri anda sedang demam dan sepertinya dia mengalami trauma." Penjelasan dari dokter wanita itu membuat Bryan terdiam. Meski, ia tidak mengingat kejadian semalam, tapi tetap saja ia merasa bersalah. "Maka dari itu, sebelum lukanya benar-benar pulih. Saya harap anda mau bekerjasama dengan tidak membuatnya stress, apa melakukan aktivitas yang berlebihan. Dan kalau saya melihat nona sampai seperti ini lagi, saya akan melaporkan anda kepada pihak berwajib!" kata dokter wanita itu yang menjelaskan, sembari menegur Bryan seperti seorang kakak menegur adiknya. "Saya tahu istri anda sangat cantik, dan pasti anda sangat b*******h kepadanya. Tapi ... demi kesembuhannya, Tuan harus menahan diri. Apalagi tubuh nona sangat kecil dan tuan sangat besar," katanya lagi memberitahu. Dokter wanita itu sangat berbicara blak-blakan, sampai membuat Bryan kehilangan kata-katanya. Lebih tepatnya, Bryan sedang berusaha untuk menahan emosinya. Di sisi lain, Lucius terkejut, karena tuannya diamnya saja ditegur seperti ini oleh wanita yang sedikit lebih tua darinya itu. Jika tuannya saat ini adalah sisinya yang lain, si Maxime, mungkin dokter wanita ini akan habis ditangannya. "Lantas apa lagi yang harus aku lakukan agar dia cepat sembuh?" tanya Bryan dengan santai. "Oh iya. Ini resep obat untuk Nona," jawab dokter wanita itu mengambil sesuatu dari saku celana jeansnya. Kemudian menyerahkan secarik kertas pada Bryan yang diatasnya tertulis resep obat. "Bila demam Nona belum kunjung membaik sampai nanti malam. Silahkan hubungi saya lagi." Bryan hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala. "Lucius, antarkan dia pergi dan berikan dia bayaran yang sesuai." "Baik, Tuan." Lucius mengantar dokter itu keluar dari kediaman Bryan yang letaknya sangat terpencil dan jauh dari keramaian. Lucius menutup mata dokter itu, karena tidak boleh ada sembarang orang yang mengetahui tempat ini. Bahkan sebelum membawa dokter wanita itu, Lucius dan anak buah Bryan yang lain juga menyembunyikan tempat ini dari orang luar. *** Malam itu, Stella terbangun untuk kedua kalinya. Setelah ia sempat sadar tadi, ketika minum obat dan dijaga oleh Jonas serta wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga di sana. Sekarang kondisinya terasa lebih baik setelah tertidur cukup lama. Ia tidak merasa panas seperti tadi. Hal yang pertama kali dilihat Stella adalah sosok Bryan yang sedang duduk di atas sofa sambil mengetik sesuatu di laptopnya. "Kau sudah bangun?" "Apa kau buta? Kau tidak bisa melihatku sudah membuka mata?" sarkas wanita itu dengan d**a yang masih bergemuruh oleh lautan emosi. Apa susahnya tinggal menjawab saja, tapi Stella malah balik bertanya dan wajahnya tampak kesal. Bryan terlihat menahan diri untuk tidak emosi. Kemudian Bryan mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan menelpon seseorang. "Bawakan makanan kemari. Dia sudah sadar," katanya dengan singkat dan langsung menutup telponnya. "Aku ingin pulang." "Pulang ke mana?" tanya Bryan. "Aku punya rumah, tentu saja aku harus pulang ke rumahku," jawab Stella kesal. Bryan tersenyum sinis mendengar jawaban Stella yang menurutnya cukup lucu, cukup untuk dijadikan lelucon. "Kau anggap neraka itu ... sebagai rumah?" "Setidaknya lebih baik daripada disini." "Aku mencoba bersikap baik padamu, aku bahkan menyelamatkanmu dari orang-orang yang kau sebut sebagai keluargamu dan malah menjualmu ke tempat hiburan. Tapi kau selalu memancing emosiku!" desis Bryan seraya berjalan menuju ke arah Stella yang masih duduk di atas ranjang. Kedua mata Stella berkaca-kaca mendengarnya, ia juga tidak bisa membantah kata-kata Bryan karena pria itu berkata benar. Keluarganya memang sudah menjualnya. "Baiklah, anggap saja kalau aku sudah membalas hutang budiku padamu. Sekarang kau boleh pergi dan jangan pernah kembali!" seru Bryan yang tak tahan lagi, mendapatkan tatapan penuh kebencian dari orang yang sudah ditolongnya. "Jangan bicara seolah-olah kau tidak melakukan apapun kepadaku. Kau tidak ingat apa yang kau lakukan semalam? Kau melakukannya seperti binatang!" "Sudah kubilang,itu bukan aku." Sanggah Bryan dengan tegas. "Aku tahu kau tak punya kembaran, jadi jangan bohong padaku!" seru Stella sambil melempar bantal ke wajah Bryan. Tak lama kemudian setelah Bryan sempat diam sesaat, raut wajah Bryan tiba-tiba berubah. Matanya menyorot tajam, terlihat gelap dan kelam dari tatapannya barusan. Jantung Stella berdegup kencang saat melihatnya. Bryan yang sekarang, seperti Bryan yang semalam. "Ya, memang aku yang melakukannya padamu. Kenapa Baby? Apa kau mau kita mengulanginya sekali lagi?" Bibir pria itu menyeringai dan ia mendorong Stella ke atas ranjang. "Aakhh!" jerit Stella kaget. Wanita itu pun panik, ia bergegas turun dari ranjang dan melarikan diri dari kamar. Stella berlari ke arah pintu, tapi dengan cepat Bryan menangkap tubuhnya. "Tidak. Lepaskan aku! Jangan!" teriak Stella sambil memukul-mukul punggung lebar Bryan dengan sekuat tenaganya. "Ayo kita bersenang-senang Baby. Kau mau berapa ronde hah? Sayang sekali semalam kita hanya bermain 6 ronde, karena si Bryan sialan itu malah menganggu, ck." Ditengah ketakutan itu, tiba-tiba saja Stella teringat kata-kata Jonas padanya tadi yang bisa menjadi petunjuk. "Tuan itu suka berubah-ubah. Dia bisa jadi Maxime dan Bryan. Tuan yang saat ini sedang nona hadapi adalah Bryan, dia memiliki sikap yang dingin ,tapi tidak kejam. Sedangkan sosok Maxime ...berhati-hatilah saat nona berhadapan dengannya." Tadinya, Stella tidak percaya dengan perkataan Jonas tentang Bryan yang memiliki dua kepribadian. Sekarang, setelah melihat perubahannya dari dekat secara langsung. Stella langsung menyadarinya. "Bryan ... aku ingin bicara dengan Bryan, bukan denganmu, Maxime." Pria itu tiba-tiba saja terdiam, ia menjatuhkan Stella diatas lantai. Kemudian memegang kepalanya sendiri. "Pergilah Maxime." Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya seperti orang linglung. "Pergi, sialan!" "Tidak mau, aku tidak mau pergi. Aku ingin menikmati wanita yang kau bawa dan menghamilinya, haha." "Astaga! Jadi dia benar-benar memiliki dua kepribadian yang berbeda." Stella terkejut, mendengar ocehan Bryan yang tidak jelas dan sikapnya yang berbeda dari yang tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD