°08° Tak Sengaja

854 Words
(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ) Dia yang dekat di hati saja susah digapai. Apalagi yang jauh di hati? Jangankan digapai untuk berdekatan saja pun susah. (CS - Cinta Swara) : : : Di siang hari... Seseorang berjalan dengan tergesa-gesa di keramaian nya taman. Sudah berapa kali ia menabrak orang dan meminta maaf. Ia tidak peduli lagi dengan sekitarnya. Di pikirannya saat ini adalah ia harus bisa sampai di tujuan. "Hey, ini milik mu jatuh!" ucap seseorang berusaha menghentikan langkah cowok itu. "Ada apa dengan dirinya? Barangnya jatuh, tapi dia tidak peduli. Memang dia tidak merasakan ada sesuatu yang hilang di dirinya?" gumamnya seraya mengambil benda melingkar tersebut. Beberapa saat, ia tertegun dengan sebuah tepukan di bahu. "Bik Siti." gumamnya merasa lega saat melihat si pelaku adalah orang yang pergi bersamanya. Segera ia menyimpan gelang tersebut ke dalam tas sandang yang ia gunakan. "Nona, ayo pulang!" ajak Bik Siti kepada Sinta. "Ah iya, Bik. Ayo!" Sinta langsung menarik tangan Bik Siti. ┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻ Sanskar membuka pintu kamar mandi. Di ranjang, ia dapat melihat Swara masih membuka kedua matanya dengan layar lebar yang menyala. "Kenapa belum tidur?" ujar Sanskar seraya naik ke ranjang. Swara menoleh sebentar. "Aku menunggumu." ucap Swara, lalu mematikan TV. Sanskar membawa Swara ke dalam pelukannya. Sedangkan jemari Swara sudah bermain indah di d**a bidang Sanskar yang sedikit terlihat. "Tidurlah." ucap Sanskar sembari mengecup singkat rambut Swara. "Sanskar." panggil Swara. "Iya?" "Kau tidak marahkan aku yang mengambil keputusan." ucap Swara. "Tidak. Untuk apa aku marah? Kau juga berhak menentukan segala keputusan yang bersangkutan denganku. Salah satunya seperti yang tadi itu." "Benarkah?" Swara menatap dalam Sanskar. Ia berusaha mencari kebohongan di bola mata hitam pekat itu, namun hasilnya nihil. "Iya, sayang." "Aku mencintaimu." Swara mengeratkan pelukannya. "Aku juga." balas Sanskar. "Sekarang tidurlah." sambung Sanskar kembali. "Rambutnya dielus, ya?" pinta Swara. Sanskar tersenyum dan mengangguk, lalu tangannya bergerak mengelus pucuk rambut Swara. Tapi sebelum itu, Sanskar membetulkan posisinya begitu juga dengan Swara. Tak lama dunia alam yang lain menghampiri mereka berdua. ┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻ Di dalam kamar, Sinta sibuk memperhatikan gelang yang baru ia temukan tadi. Bahkan ketukan pintu yang berdentum berkali-kali tidak ia dengarkan. Si pelaku kesal dengan ini semua. Dengan sedikit keras ia membuka pintu Sinta. "Boleh Mama masuk?" ucap Ragini diambang pintu. Sinta yang mendengar suara Ragini langsung gelagapan. "Eh, Mama. Masuk, Ma." Ragini berjalan dengan tangan yang berada di belakang. "Sibuk benar. Lagi pikirin apa, sih? Sampai Mama mengetuk pintu berkali-kali tidak ada sahutan." ucap Ragini setelah duduk di sebelah Putrinya. "Tidak ada, Ma." jawabnya kikuk. "Kamu mau berbohong sama Mama, hn?" "Ti-tidak" "Lalu apa yang ada ditangan mu itu?" "Oh, i-ini gelang, Ma." jawab Sinta kikuk sambil menunjukkan kepada Ragini. "Gelang?" Ragini memperhatikan gelang tersebut. "Kamu beli gelang baru? Kemarin gelang kamu, kamu kasih ke Mama." "Bukan." jawabnya secepat kilat. "Lalu?" tanya Ragini kembali. "Tapi tunggu. Itu sepertinya bukan dari Jakarta." "Iya, Sinta tahu. Tadi ada seseorang yang tidak sengaja menjatuhkannya. Kata yang paling tepat adalah si pemilik gelang ini." "Kamu berusaha tidak membalikannya atau apa?" "Oh, ayolah... Mama ini sangat menyebalkan sekali. Untuk apa Sinta mengambil milik orang lain? Memang Sinta tidak bisa apa membeli barang seperti ini?" "Ya, terus...? Kenapa bisa ada di kamu?" "Ha, itu dia?! Tadi Sinta sudah teriak-teriak mengatakan Hey, barang mu jatuh! Tapi dia tidak mendengarkannya. Terus tadi Sinta juga sudah mengejarnya, tapi ditaman sangat ramai. Sinta kehilangan jejak kakinya." jelasnya panjang lebar. Ragini manggut-manggut. "Jadi kenapa wajahmu murung seperti itu, hn?" "Tidak. Sinta hanya merasa pernah melihat gelang ini. Tapi dimana, ya?" gumamnya pelan. "Udah, tidak usah dipikirin kali. Sekarang kamu mandi sana. Selesai sholat maghrib bersama kita akan pergi." Seketika mendengar perkataan sang Mama matanya langsung berbinar. "Pergi? Lagi? Wow! Kalau tentang itu Sinta langsung semangat." ucapnya langsung pergi ke kamar mandi. "Dasar anak itu." ucap Ragini langsung menggeleng kepala. Pandangannya turun kepada sebuah gelang yang dipegang Sinta tadi. Secepat kilat ia mengambil gelang itu dan memperhatikannya lamat-lamat. "Veeraj Alwi A. Nama yang bagus. Tapi A apa? Kan jadi penasaran seperti Sinta. Sudahlah!" Ragini menyimpan gelang itu ke nakas dan kakinya melangkah ke lemari milik Sinta yang bergambarkan boneka kesukaannya, hello kitty. Ragini kembali ke ranjang menaruh sepasang pakaian lengkap dengan yang lainnya. "Pakaiannya ada di ranjang, ya!" teriak Ragini dibalik pintu kamar mandi. "Iya! Terima kasih Mama cantik!" balasnya. "Ada maunya saja dia bicara begitu." ucap Ragini, lalu keluar dari kamar Sinta. Semua orang mengatakan Ragini dan Sinta itu bukan seperti Ibu dan Anak. Bahkan mereka berdua tepatnya seperti musuh bebuyutan. Tapi mereka berdua tidak peduli dengan itu. Karena nyatanya mereka berdua adalah Ibu dan Anak. ┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻ Beberapa menit kemudian, Sinta turun dari lantai dua. Terlihat di ruang makan semuanya sudah berkumpul untuk makan malam. "Ayah dan Ibu kok tidak ikut makan malam." ucap Sinta berusaha menghilangkan keheningan yang ada. "Sinta? Sini sayang sama Nenek." ucap Annapurna. Sinta berjalan ke arah Annapurna. "Nenek, Ayah dan Ibu ada dimana?" Annapurna mengangkat tubuh Sinta dan meletakkannya di sebelahnya. "Ayah dan Ibu lagi ada urusan." jawab Sujata. "Kok Sinta tidak diajak." ucap Sinta cemberut. "Kan Sinta mau pergi bersama Mama dan Papa." ucap Sujata kembali. "Hem, iya." jawab Sinta pelan. "Udah, sekarang Sinta makan dulu. Mau puaskan main-mainnya?" ucap Lakshya. Sinta mengangguk, lalu mulai menyantap makanannya yang sudah dibuatkan Bik Siti tadi. Setelah selesai sholat maghrib berjamaah, Lakshya langsung pamit sama yang lainnya untuk mengajak kedua Tuan putrinya pergi jalan-jalan. Malam ini adalah malam terindah bagi Sinta. Sudah lama ia tidak pergi jalan-jalan bersama kedua orang tua kandungnya. Bercanda dan tertawa bersama seperti dulu lagi. Pokoknya berasa malam ini hanya milik mereka bertiga. (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD