°03° Masa Lalu I (PART KHUSUS I)

1367 Words
(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ) Jangan pernah menyepelekan sesuatu. Karena hal sepele itu yang akan membuatmu jatuh kejurang sama. (ayamgoyeng29) : : : Kedua bola mata indah itu terpejam saat tangan Swara bermain di rambut hitam panjangnya. Saat ini, Swara sedang menunggu Kavita tertidur. Tadi Durga menyuruh Bik Ijum agar kamar ruang tamu di bersihkan. Swara hanya dapat melihat mata itu terpejam dengan indahnya. Saat mata itu terbuka begitu banyak luka yang dapat terlihat. Dulu keluarga Kavita dan keluarga Swara tetanggaan. Keluarga mereka berdua menyatukan kedua keluarga dengan sebuah tali persahabatan. Banyak orang yang iri dengan kedekatan kedua keluarga itu dan banyak juga yang menyukai keharmonisan kedua keluarga itu. Sebuah kecelakaan yang begitu na'asnya membuat mereka harus kehilangan satu keluarga. Namun, hanya sang putri yang dapat di selamatkan dalam kecelakaan tersebut. "Mama! Mama, lihat ini!" Putri kecil yang akan memasuki kelas 3 SD itu memutar-mutarkan tubuhnya yang dibaluti dengan dress putih abu-abu. "Cantikan!" ujarnya terkekeh. Kaveri yang sebagai Mama putri kecil tersebut membungkukkan dirinya. Ia berusaha menyeimbangkan tinggi dirinya dengan si putri kecil. "Putri Mama memang yang terbaik. Ia selalu bisa tampil cantik di depan semua orang, tak terkecuali di depan kedua orang tuanya." perkataan Kaveri membuat putrinya tersenyum lebar. "Mama juga selalu bisa tampil cantik." senyuman putri kecilnya seakan-akan menular kepada dirinya. "...di depan Papa." bisik Kavita kecil usil di telinga Kaveri. "Nakal kamu, ya." segera Kaveri mengejar putri nakalnya. Gelak tawa terdengar dengan kedatangan dua orang yang masih asik berlari saling kejar-mengejar. "Kavita, jangan lari! Nanti kamu bisa jatuh, sayang!" Kaveri cemas dengan putrinya. Sejak tadi Kavita tidak mau berhenti berlari sebelum ia menangkapnya. "Ayo, Mama! Kejar Kavita! Mama pasti bisa!" Kavita kecil masih asik berlari menuruni anak tangga yang hampir berbentuk bundar. Ia sama sekali tidak mendengarkan perkataan Kaveri yang cemas akan keadaan dirinya. Satu langkah lagi akan menuruni anak tangga, kakinya terseleo. Membuat Kavita kecil tidak dapat menyeimbangkan dirinya. "Aaa!!!" "Kavitaaa!!!" Hap! "UNTUNG SAJA! KAMU INI! BERAPA KALI SUDAH PAPA KATAKAN JANGAN LARI-LARIAN DI TANGGA! KAMU BISA JATUH! KALAU PAPA TIDAK DATANG TEPAT WAKTU, KAMU SUDAH JATUH TERBENTUR!" Bentak Heri, Papa Kavita kecil. Bagaimana perasaan seorang Papa saat melihat anaknya akan terjatuh? Sedangkan Kaveri yang masih berada di atas anak tangga langsung menghampiri mereka berdua dengan kecemasan. Ia baru saja mencemaskan putrinya yang akan terjatuh. Ditambah lagi dengan suaminya yang memarahi putri kecilnya. "Hahaha... Papa lucu...." jangan lupakan satu hal tentang Kavita. Sebuah bentakan tidak akan pernah terpengaruh kepadanya. "Papa tahu, tadi Kavita mengatakan ini kepada Mama. Sini-sini." Kavita kecil menyuruh sang papa membungkukkan dirinya. Ia membisikan yang tadi ia katakan kepada Mama. "...terus Mama mengejar Kavita. Jadi deh kita lari-larian." ucap Kavita kecil tanpa dosa. "Mas, lihatlah putri mu ini." adu Kaveri kepada suaminya... Heri Gunawan. "Pantas saja Mama mengejar kamu, kamunya yang nakal." ucap Heri menyentil dahi Kavita kecil, lalu membawa kedua kesayangannya ke ruang tamu. "Kavita nakal kan karena keturunan Papa." celetuk Kavita kecil dan tak mau kalah dengan penuturan Heri. "Anak pintar! Sekarang kau sudah pandai membalikkan semua perkataan Papa, hem?" ucap Heri gemas mencium pipi Kavita kecil yang berada di pangkuannya. Kavita kecil turun dari pangkuan Heri. Lalu meraih ponsel Heri di meja. "Ayo, Mama dan Papa mendekat. Kavita mau mengambil foto kalian berdua sebelum kita pergi." "Baiklah." ucap Kaveri tersenyum, lalu mulai mendekat pada Heri. Cepret! Satu foto sudah tersimpan di dalam memori ponsel. Dengan tangan Heri yang merangkul pinggang Kaveri mesra dan tak lupa senyuman yang terukir indah di kedua bibir itu. Setelah itu, Heri menyuruh Kavita kecil berada di tengah-tengah mereka. Sedangkan ponsel tadi sudah ditempatkan di atas meja dengan bersenderan vas bunga lily. Cepret!! Foto kedua terabdikan kembali. Dimana Heri dan Kaveri mencium kedua pipi Kavita kecil. Sedangkan Kavita kecil berlagak terkejut. "Sangat menggemaskan." gumam keduanya. "Kavita memang menggemaskan." celetuk Kavita membuat Heri dan Kaveri mencubit gemas pipi putihnya. Tak lama kemudian... Ting nong! Suara bel rumah berbunyi, segera Kaveri membuka pintunya. Cek lek! "Assalamu'alaikum, Kaveri...." sapa Sarmishta dan Shekhar mengucapkan salam. "Wa'alaikumsalam...." balas Kaveri dengan senyuman, lalu membalas pelukan Sarmishta. "Assalamu'alaikum, ibu cantik...." ucap Swara dan Ragini kecil menyalami Kaveri. Kaveri membungkuk. "Wa'alaikumsalam, juga cantik...." balas Kaveri, lalu menciumi wajah Swara dan Ragini. "Ayo, masuk dulu." ucap Kaveri berlalu. "Ayah...." itu teriakan Swara dan Ragini yang langsung loncat kepangkuan Heri. Dengan sigap, Heri menahan kedua tubuh putrinya. "Kalian mau kemana, hem? Kok pada cantik-cantik begini?" tanya Heri berlagak tak tahu. "Kita kan mau pergi. Iya, kan Pa?" ucap Ragini kecil pada Shekhar. "Iya, sayang." jawab Shekhar mengelus rambut Ragini. "Salam Ayah...." ucap Swara kecil mengulurkan tangan kanannya dan diikutin dengan Ragini kecil. "Anak pintar." ucap Heri tersenyum mengelus surai Swara dan Ragini. "Hey, ayo kesini! Jangan dipangkuan Papa terus, nanti aku iri lho...!" ucap suara chubby di belakang mereka. Mereka tahu itu suara siapa. Tapi rasanya ingin sekali sedikit bermain-main. Tanpa menoleh dan tanpa turun dari pangkuan Heri, Swara bertanya. "Ayah, boleh tidak Ara turun dari pangkuan Ayah?" ucap Swara kecil. "Hem... Bagaimana ya, sayang? Jangan, deh! Ayah kan rindu sama Ara." ucap Heri. "Sama Ragini juga kan, Ayah?" ucap Ragini tak mau kalah. "Iya, sayang. Kalian kan tahu kalau Ayah sayang banget sama kalian. Jauh sedetik saja rasanya sangat kesepian." ucap Heri sangat dramatis. "Papa...." rengek Kavita kecil. Lantas, mereka berempat langsung tertawa mendengar rengekan tersebut. Lalu tak lama kemudian, datanglah Sarmishta dan Kaveri dari dapur dengan membawa sebuah nampan yang berisi camilan dan minuman. "Ini jus untuk Nona kecil. Semoga dinikmati." ucap Sarmishta sedikit membungkuk layaknya seorang pelayan. Ketiga putri kecil itu lantas berterima kasih di iringi dengan cekikikan. "Eum... segar." seru Swara kecil setelah menyeruput jus jeruknya. "Kenapa tidak dari tadi Bibik membuatnya?" celetuk Kavita kecil, lalu meraih gelas jus strawberry milik dirinya. "Nakal, ya." ucap Sarmishta gemas dengan Kavita kecil. "Sudah, cepat habiskan jusnya. Setelah ini, kita akan langsung pergi." ucap Kaveri. "Yeey...! Kita akan pergi!" ucap Kavita kecil kegirangan. "Nanti Kavita di mobil Ayah dan Ibu ya, Ma?" sambungnya kembali. "Iya, sayang. Apa sih tidak untuk putri cantik Mama?" ┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻ Saat ini kedua mobil itu sudah melaju dengan rata-rata sedang. Tapi sebelum itu, mereka sempat berfoto dulu sebelum melakukan perjalanan jauh. Hari ini mereka akan pergi ke Italy untuk melakukan liburan panjang bersama keluarga. Sekaligus mengurus sedikit perusahaan yang ada di negara asing itu. Tak lama kemudian di dalam mobil Kaveri dan Heri... "Mas, sepertinya ada yang mengikuti mobil kita." ucap Kaveri panik ketika melihat kaca depan. "Di belakang mobil kita kan mobil Shekhar, Ma?" ucap Heri yang masih sibuk dengan kemudinya. "Tidak, Mas! Itu bukan mobil Shekhar!" ucap Kaveri mulai cemas. Melihat kecemasan dari istrinya, ia langsung melihat ke kaca dan benar saja! Mobil mereka sedang diikutin dengan mobil yang lain. Bahkan mereka tidak tahu itu mobil siapa. "Mas, aku takut." ucap Kaveri dengan bibir bergetar. Heri menoleh menatap Kaveri dengan sayu. Ia mengelus lembut tangan sang istri dengan penuh kehangatan. "Maaf, Ma. Kalau Papa membuat Mama ketakutan lagi. Papa janji, setelah ini tidak akan ada yang mengusik kita lagi." "MAS, AWAS!!!" TIN! TIN!!! BUGGGH!!! GLEDAK! GLEDUK! DUAR!!! ┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻ "Mama? Papa?" Kavita kecil mematung diambang pintu ruangan mayat. "Ayah...." bola mata kecil itu menoleh ke sang Ayah. "Ibu, itu siapa dan di mana Mama Papa?" "Nak, sinilah." ujar mereka berdua, sedangkan Swara dan Ragini sudah menangis disamping bankar kedua mayat tersebut. Tap! Tap! Dengan gontai, Kavita kecil berjalan menghampiri mereka. "Mereka siapa?" tanyanya dengan pandangan kosong. "Mereka, hiks! Me-mereka...." "Kedua orang tua Kavita." tak saggup Sarmishta mengatakannya, Shekhar lah penggantinya. "Mama? Papa? Kenapa mereka ada disini?" ┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻ "Hikshiks, hiks...!" tangisan Swara pecah ketika mengingat masa lalu kelam itu. Dimana seharusnya saat itu mereka mendapatkan kebahagiaan, tapi semuanya tak seperti yang diharapkan. Semua terjadi begitu cepat. Bahkan mereka belum menemukan pelaku yang menyabotase mobil almarhum kedua orang tua Kavita. Tidak lama kemudian, Sanskar datang dan langsung membawa Swara ke dalam pelukannya. "Kenapa harus Kavita yang mengalami ini semua, Sanskar...? Kenapa bukan orang lain saja...?" "Itu sudah takdirnya, Swara... dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." "Firasat ku benar. Dia mengatakan bahwa sahabatku ini dalam masalah. Kenapa aku tidak ada saat ia mengalami hal begini, hiks...?" "Sekarang kau ada bersamanya." "Hikshikshiks! A-aku takut ka...." "Sttt... tenanglah, Swara. Dia tidak apa-apa. Tidak akan ada yang dapat melukainya lagi. Karena kita sekarang bersamanya." Sanskar membawa Swara ke dalam pelukannya lagi. "Sekarang kita tidur. Aku tidak mau kau kesiangan bangun untuk nanti." ucap Sanskar seraya menutup pintu kamar Kavita dan kembali menuntun Swara menuju kamar mereka. "Sepertinya benar kalau nanti aku akan bangun kesiangan." Sebelum Sanskar bersuara lagi, ia menuntun Swara ketika pintu sudah telah dikunci. "Kau ini. Sekarang tidurlah." "Peluk." ucap Swara manja. Sanskar tersenyum kecil mendengar perkataan Swara. Segera ia merengkuh istrinya ke dalam pelukannya. Di malam itu, Swara berusaha memejamkan kedua matanya, walaupun rasanya berat. Sedangkan Sanskar, ia tampak sudah terlelap di alam mimpinya. "Jangan pernah tinggalkan aku, cup!" Setelah mencium pipi Sanskar, Swara mengeratkan lagi pelukannya. Seakan tidak rela kalau pelukan hangat itu lepas, walaupun hanya sebentar. (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD