"Pakai ini, habis ini temani aku ke opening Hotel milik Marcello Group" Kak Andika menyerahkan sebuah gaun panjang berbahan jatuh, lebar pada bagian bawahnya sehingga membuat leluasa pemakainya dalam melangkah, bagian pinggangnya terdapat pemanis renda motif bunga berwarna putih, lengkap dengan pasmina yang juga berwarna biru. Sedangkan Kak Dika sepertinya sudah siap untuk berangkat dengan balutan kemeja biru senada dengan gaunku yang dilapisi tuksedo biru gelap, dan Dasi biru dongker bermotif garis putih. sungguh tampan dia sekarang, pantas saja jika dulu Ayunda mau menunggu pagi-pagi di lobby kantor untuk melihatnya datang.
"Apa aku harus ikut?" kroscek ku setelah gaun dan pasmina tersebut berpindah ke tanganku.
"Menurutmu?, Aku tunggu 1 jam buat kamu mempersiapkan diri." ucapnya dengan nada dingin. kemudian kak Dika keluar dari kamar, meninggalkanku dengan gaun yang ia beri.
satu Jam waktu yang ia berikan, aku pergunakan dengan sebaiknya. Gaun tersebut terasa pas di tubuhnya yang menjuntai hingga mata kakiku, aku lilitkan pashmina biru tersebut yang mana sebelah kanannya aku biarkan polos, namun pada sisi kiri aku bentuk gelombang, namun pastinya panjang jilbab bagian depannya selalu sampai menutupi d**a. tak rela jika gaun secantik ini mengepel lantai yang aku lewati, aku menggunakan wedges 7cm yang berwarna biru senada dengan gaunku. dan kupoles wajahku dengan make tipis. kini kulihat pantulan tubuhku di cermin, Subhanallah cantik sekali diriku dalam balutan gaun ini, kesan simple, namun pas untuk di gunakan dalam acara opening hotel seperti acara yang kak Dika katakan tadi, bahkan kini penampilanku serasa menipu usiaku, aku yang sekarang umur 25tahun terlihat seperti masih ABG 19 tahun, cih mana ada aku yang sudah bergelar S2 seperti maba di S1?, tapi pantulan tubuhku di cermin realitasnya. dan aku harus memuji pilihan fashion yang dipilih kak Dika layak untuk mendapatkan 4 jempol dariku.

(Abaikan visual orang, Fokus fashion saja)
setelah puas bercermin kini aku melangkah keluar kamar untuk ke bawah menemui Kak Dika, kakiku terus melangkah hingga ruang keluarga dan benar saja kini Kak Dika sudah duduk di single kursi yang sedang bercengkrama dengan Papa, Mama, Keizia dan Tiara.
"Wah... tante Vira cantik sekali" teriak Tiara sambil turun dari pangkauan Keizia dan berlari kearahku yang saat ini sudah sampai di ruang keluarga namun belum sampai di kursi dimana semuanya berkumpul di ruang keluarga. dan akibat reaksi Tiara tersebut itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh dan tidak ada yang berkedip memandangku. melihat tatapan yang tidak biasa membuat aku berfikir apa ada yang salah dengan tampilan saat ini? tak peduli, toh tadi Tiara mengatakan aku cantik? biarlah aku PDOD (Percaya Diri Over Dosis) menganggap ekspresi mereka bahwa tampilanku saat ini memang cantik. Aku pun mensejajarkan tinggiku dengan Tiara dengan lututku menjadi tumpuan pada lantai. untung saja gaun ini tidak mempersulit posisi dan gerakanku mensejajarkan tinggi Tiara.
"Terima kasih sayang pujiannya, kamu juga cantik kok" sambil ku usap lembut pipi chubynya. setelah itu aku gandeng tangan mungil Tiara untuk berjalan kembali kearah kursi semula, Kursi yang di duduki Keizia.
"Kak Vira cantik banget, sumpah, kalau tampilan seperti ini bisa-bisa di sebut adiknya kak Dika, tidak akan ada yang bilang kakak punya suami" ucap Keizia menggebu.
"Tapi kenyataannya Vira ini sekarang miliknya Dika, iya gak Dika" timpal mama maya menggoda diamnya Kak Dika dengan memainkan kedua alisnya. Aku yang mendengarnya, kikuk hanya membuat senyum kaku tidak sampai 2 detik.
"Sudah ma, pa, kita pergi sekarang, dari pada malam disini" ucap kak Dika yang entah kapan beranjak dari kursi yang ia duduki dan sekarang sudah berdiri di sampingku.
itu kode keras, instruksi untuk segera meninggalkan ruang keluarga ini dan berangkat ke lokasi acara.
"Ya udah Ma, Vira sama kak Dika berangkat dulu ya" sambil mencium tangan mama dan cipika-cipiki, kemudian berlanjut mencium tangan Papa, mengacak rambut Tiara dan cipika cipiki sama Keizia.
setelah aku lihat Kak Dika mencium tangan Papa, Mama kini ia langsung saja pergi dan akupun mengekor di belakangnya kemudian naik Ferrary merah kak Dika, yang ternyata mobil paling di favorikan kak Dika. Selama perjalanan hening tak ada yang bicara hingga kami memasuki sebuah hotel dengan desain Eropa yang elegan
layakkah aku di sebut seorang istri? jika dari tadi aku hanya mengekor saja? Bukankah Seorang istri itu di ciptakan dari rusuk, dekat dengan hati untuk di cintai, Dekat dengan lengan untuk untuk di lindungi, berada disisi untuk saling mengimbangi? kalau sekarang apa bedanya aku dengan dayang yang sedang mengawal pangerannya?. batinku, melihat Kak Dika yang berjalan di depan tanpa mau menungguku ketika masuk dalam altar acara.
"Ma'af nona, undangan tamunya mana" seorang perempuan cantik menghentikanku ketika mau masuk, ditanya undangan? yang benar saja aku kesini karena diajak Kak Dika, dan sekarang dia dengan mudahnya masuk tanpa mengatakan aku pasangannya kesini?
"Saya kesini bersama Rafif Andika Herlambang, itu orangnya" Ucapku sambil menunjuk kak Dika yang sudah masuk ke dalam terus berjalan tanpa mempedulikanku. "mbak coba tanyakan ke dia apa benar saya kesini bersamanya" imbuhku lagi.
kulirik orang yang berpakaian seperti orang yang mencegahku masuk menghampiri Kak Dika, entah apa yang di bicarakan, namun lirikan mata mereka mengarah ke aku. sedangkan orang yang mencegahku tetap berdiri di tempatnya
Datang di pesta seperti ini bukan kegemaranku, dulu kalau bukan demi pertemananku dengan Radith, aku dulu tidak mau datang ke acara seperti ini menemani Radith, acara orang-orang yang hanya berpesta pora menghabiskan uang sedangkan di iuaran sana banyak yang kekurangan dan kelaparan. Tapi kali ini aku harus menemani Kak Dika, karena dia suamiku, dan kami sedang di rumah papa-mama, andai saja tadi hanya ada kami berdua aku pasti sudah menolak ikut, dan sekarang dengan keadaan seperti ini aku beratus kali menyesal karena mau ikut, jika akhirnya aku tidak di hiraukan, sudah tidak suka acara, bingung juga di acara mau melakukan apa. kalau saja benar aku tidak di perbolehkan masuk, tidak masalah jika aku harus pulang tanpa Dika. walaupun aku sedikit kecewa sudah siap-siap berias hanya untuk datang di gerbang acara.
"maaf karena saya kurang sopan, silahkan masuk menikmati pestanya nona" setelah orang yang berbicara dengan kak Dika membisikkan sesuatu ke orang yang mencegahku. hanya aku balas dengan senyum, akupun mulai melangkahkan kaki memasuki ballroom hotel tempat acara di mulai, sedangkan Kak Dika kulihat tadi sudah melangkah berada di tengah-tengah pesta.
Setelah berada di ballroom akupun memilih untuk berada di pinggiran ruangan yang tidak terlalu padat. hingga kulihat ada meja tempat hidangan yang membuatku semakin mempercepat langkah agar bisa membasahi tenggorokanku yang kering. ku ambil orange juice, karena aku tidak berani ambil sembarangan, meskipun disampingnya ada minuman bening namun aku tidak tau itu air putih? minuman bersoda? atau justru minuman beralkohol?. karena pesta-pesta seperti ini tidak jarang minuman beralkohol tersedia untuk mereka berpesta, mabuk-mabukkan semalaman. Hingga aku melihat orang juice, Aku lebih memilih minuman tersebut.
Huk.. huk..
Aku tersedak orange juice, kenapa aku harus saat minum sih aku melihat kak Dika berpelukan dan cipika-cipiki dengan wanita lain?, kalau seperti ini double sakit yang aku rasakan. pertama sakit karena bisa-bisanya aku menikah dengan orang yang tidak memikirkan perasaan pasangannya, meninggalkan di pesta sendirian dan sekarang harus melihatnya dengan perempuan lain, dan perempuan itu tidak tahu malu lagi berani memeluk lengan suami orang. bukan aku cemburu, tapi ini masalah harga diriku, diajak menjadi pasangan pesta kemudian di abaikan. sial, aku rasa aku bagaikan alien yang nyasar. belum lagi harus merasakan sakit tersedak minuman. aku yang sudah mulai hilang selera untuk minum akhirnya hanya melangkah menuju meja kosong. lumayan, bisa aku gunakan untuk duduk menunggu Tuan Rafif Andika Herlambang selesai bersenang-senang baru pulang.
"Hai.. Alvira, boleh gue duduk disini?" mendengar suara tersebut, membuatku menoleh ke sumber suara yang berada dikursi sebelahku. Tanpa izin seorang laki-laki sepertinya seusia kak Andika duduk tanpa permisi. Tak kunjung memoriku mengingat siapa lelaki tanpa sopan santun ini, responsku hanya menelisik tampilannya dengan hanya menyatukan kedua alis dan mata menyipit, menandakan aku berpikir keras 'siapa orang ini?, mengenalkah aku? kok dia bisa tahu namaku.
Dia terkekeh, "lo lupa ya sama gue?, walau tampilan lo dimake over, gue masih kenalin lo kali, tapi lo-nya jahat. btw mana Radith? jadi pasangannya Radithkan malam ini?" rentetan ucapannya karena aku tak kunjung terbuka dengan sapaannya . Namun melihat gayanya yang SKSD dan juga mengenal Radith, sepertinya dia memang sangat mengenal aku dan Radith.
"Sorry, siapa ya?" cicitku, namun tetap memicingkan mata, menganggap aneh orang ini yang sangat SKSD.
"Wuahahahahahah..., Lo beneran lupa sama gue Vira?, kenapa gue lebih ganteng ya dari zaman kita SMA?" dia tertawa, dan setelah itu menyisir rambutnya dengan ruas jari tangan kanannya kebelakang dan memainkan kedua alisnya.
sedangkan aku yang malas berhubungan dengan orang yang tidak jelas, membuat aku berdiri dari kursi hendak meninggalkannya.
"Vir ini gue, Steven Michael Orlando, masak lo lupa?, teman SMA lo" setelah laki-laki yang aku pandang aneh dan SKSD ini menyebutkan namanya kontras saja aku langsung menelisik dirinya. benarkah dia stev?
"God. Ini gue Vir. Gak seru ah lo" Ucapnya sambil mengacak kesal rambutnya semakin membuat dia kelihatan cool. Tapi semakin membuat aku tidak Yakin karena Stev teman SMAku. Karena Stev dulu itu anak yang selalu dengan rambut rapi, anak yang yang kutu buku karena dia ingin pintar dan bisa meneruskan bisnis orang tuanya, dan jangan lupa dia berkaca mata. Sungguh orang di hadapanku ini mempunyai sytle yang berbanding terbalik. Pria dengan tuksedo abu-abu yang di biarkan tidak terkancing, menampilkan kemeja abu-abu gelap dan Dasi bergaris, Tidak ada kaca mata, yang ada matanya terlihat hitam pekat dan rambut yang distyle. namun tunggu dulu senyumnya yang membuat matanya menyipit tidak akan menipu kalau dia ini..
"Stevenn?" Ucapku sedikit berteriak dengan mulut di tutup agar suaraku tidak terlalu keras agar tidak menjadi pusat perhatian. Dengan senyum lelaki yang menyebut namanya stev menganggukan kepala. Saat itu langsung ku hempaskan tubuhku duduk lagi di kursi lagi mengamati dirinya.
"Bagaimana Alvira Salsabila Faiz sudah ingat?" Tanya Steven. Menyebut secara lengkap namaku aku yakin dia Steven teman SMAku.
"Ya.. Allah Stev, Penampilan lo berubah seratus delapan puluh derajat". Ucapku. dan layaknya teman lama yang sudah lama tidak berjumpa, kami terlibat obrolan panjang.
"Wuih... segitu bertambah gantengnya gue, sampai lo tidak kenal gue?" Ucap stef dengan pedenya dengan ruas-ruas jari yang menyisir rambut bagian samping kanan ke belakang.
"Pede banget lo Stev, Eh btw kemana kaca mata lo"
"Eh Vir, gak usah ketinggalan zaman deh. kan ada lensa yang bisa bikin gue kece badai"
"hahaha... sumpah sekarang lo PDOD ya. Padahal SMA di bully gak pernah bisa melawan" tawa ku membuncah melihat perubahan kepribadian seorang Steven. Dia yang waktu SMA inferior, diam saja ketika di bully sekarang muncul kepercayaan diri yang begitu tinggi.
"Udah deh gak usah mengingat masa kelam itu. Gak jadi Kelam deh, Ada lo yang buat masa itu kelam jadi terang"
"Idih Stef, omongan lo itu receh tahu?"
"Enak aja lo, bilang receh. Ini udah kelas calon CEO Vir. Bentar lagi bokap kasih perusahaannya ke gue"
"Belum jadi CEO aja udah Cangsek (Cangkak sekali) lo Stev" mendengar kata-kataku Stev langsung menatap tajam padaku. "just kidding" Ucapku agar ia tidak menatap tajam padaku.
Steven menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. dan saat itu ada waiters yang berjalan membawa minuman berwarna bening. Ketika Stev meminum isi di gelas tersebut tangannya mengankat tangan kanannya yang bebas ke udara , seperti menyapa seseorang. Aku menoleh untuk melihat siapa yang disapa Stev. Disana berdiri satu orang laki-laki yang membalas sapaan jauh Steven berdiri disamping Kak Dika dan perempuan yang sama. pandangan mataku bertemu dengan mata Kak Dika yang menatapku dengan tatapan yang sulit di baca maksudnya.
"Vir, gue samperin yang punya acara dulu" Suara Steven membuatku memutuskan kontak mata dengan kak Dika. Aku hanya tersenyum dan mengangguk pernyataan Steven.
Steven verdiri setelah meletakkan gelasnya di meja. "lo Kesini menemani Radith Vir?" Tanya Steven sebelum pergi.
"Hah?" hanya itu responsku yang bingung mau menjawab apa. karena memeng kalau ada acara perusahaan biasanya aku hanya menjadi teman Radith untuk datang. " Udah sana di tunggu sama yang punya acara" Ucapku mengalihkan pertanyaan Steven dengan menunjuk kearah pria disamping kak Dika.
tanpa banyak bicara lagi akhirnya Steven pergi menghampiri orang yang punya acara sedang berdiri disamping kak Andika dan perempuan yang aku tak tahu siapa dia.