Sungguh kepalaku pening, rasanya sudah mau pecah saja. Berkas menumpuk, minta di cek. Belum lagi beberapa meeting yang harus di hadiri. sekarang kembali ke rumah harus berkutat lagi dengan berkas. Ini tidak akan terjadi kalau saja pengadaan pernikahan tidak semendadak kemarin. membuatku harus cuti 3 hari dari kerja hingga sekarang semuanya harus ditata ulang agar teratur kembali.
Hufft... Ku bersadar pada kursi kerjaku, sambil memejamkan mata aku pijit pangkal hidung dan kemudian beralih ke tengkuk belakang untuk menghilangkan sakit kepala dan juga pegal karena menunduk saat mengecek berkas.
Ceklek.. pintu terbuka bersamaan sosok adikku tersayang yang mulai kemarin sudah melakukan penyesuaian agenda untukku masuk membawa setelan tuksedo dan juga gaun perempuan dengan warna senada. untuk apa Keizia membawa pakaian-pakain itu kemari?.
"Kak, jangan sering menautkan alis, kalau tidak mau cepat tua" kata Keizia, sambil meletakkan stell pakaian tadi di sofa, Kemudian Ia menghampiri meja kerjaku.
"Eh, Kei.Ngapain kamu bawa stell pakaian itu kemari?"
"Kei, udah kasih tahu kemarin. hari ini itu kakak harus datang ke grand opening hotel milik Marcello. Itu aku bawa untuk kak Dika dan Kak Alvira pakai nanti"
Deg. Aku lupa kalau hari ini harus menghadiri undangan pesta pembukaan hotel milik perusahaan Angga. Masalahnya hari ini aku harus datang bersama Alvira. Akan aku kenalkan Alvira sebagai siapa? Istri? tapi masalahya tidak ada kolegaku yang mengenalnya. Pasti tidak akan ada yang percaya. Apalagi ini pesta yang dibuat Angga. Omnya Tiaranya. Mana mungkin aku menikah tidak mengundangnya.
"Yaudah kak, gaunnya aku tinggal disofa. Kakak kasih sendiri ke kak Alvira ya" Lanjut Keizia, aku jawab anggukan sekali. setelah itu ia meninggalkan ruangan kerjaku.
Setelah Keizia pergi akupun langsung bergegas untuk mempersiapkan diri menggunakan kamar mandi ruangan ini. Karena kalau di kamar, pasti di gunakan oleh Alvira. Ini jam biasanya ia membersihkan diri.
Setelah selesai mengganti pakaianku dengan yang di bawa Keizia. Aku membuka pintu penghubung ruang kerjaku dengan kamar. Disana aku lihat Alvira sedang duduk bersandar diatas tempat tidur memainkan ponselnya.
"Pakai ini, habis ini temani aku ke opening Hotel milik Marcello Group" Ucapku sambil menyerahkan gaun yang mana ketika diamati ternyata serasi dengan yang aku pakai.
"Apa aku harus ikut?" Pertanyaannya membuat dahiku mengkerut. Untuk apa aku menyerahkannya gaun ini kalau secara tidak langsung menyurunya ikut.
"Menurutmu?, Aku tunggu 1 jam buat kamu mempersiapkan diri." Setelah mengatakan kalimat sarkasme dan diikuti perintah, aku meninggalkan dia dikamar sebelum akhirnya membantah.
Diruang keluarga aku lihat Papa, mama, Keizia dan juga Tiara yang ada ada dipangkuan Keizia sedang bercengkrama. seperti biasanya Tiara akan bercerita tentang apa yang dilalui hari ini. Dan aku memilih untuk bergabung dengan dengan mereka.
"Wah Om Dika, ganteng banget.". Teriak Tiara saat aku sudah duduk di sofa single.
"Makasih. Princesnya om Dika juga selalu cantik" Balasku.
"Mau kemana Dika" Tanya papa.
"Opening new Hotel Marcello Group" Sengaja aku menyebut hotel Marcello group, biar Tiara tidak peka kalau aku akan menghadiri pesta adik dari papanya. Bisa repot kalau Tiara minta ikut. Disana bukan pesta untuk anak kecil.
"Alviranya mana?" Tanya mama gantian.
"Lagi siap-siap ma."
Tiara asyik berceloteh dengan Keizia. sesekali mama papa bergabung dengan apa yang dibicarakan putri bungsu dan cucu satu-satunya. Sedangkan aku, selalu memanfaat waktu sibuk dengan ponselku. Memeriksa pekerjaan yang sudah aku pindah. Kalau tidak begini tidak akan selesai pekerjaan yang terbengkalai beberapa hari ini. Setelah selesai aku memasukkan ponsel ke saku celana. Kulihat jam tangan, sudah lebih dari 30 menit Alvira menghabiskan waktu untuk mempersiapkan dirinya.
"Wah... tante Vira cantik sekali" teriak Tiara. membuatku mengangkat kepala. Aku terpukau melihat Alvira begitu cantik dengan balutan dress biru yang begitu pas. polesan make-up yang natural membuat dirinya nampak elegan dan satu lagi dirinya terlihat lebih muda. Sial, bisa dikira p*******a kalau seperti ini.
Aku terus mengamati pergerakan Alvira, mulai dia berlutut mensejajarkan tingginya dengan Tiara. Aku menghafalnya karena selalu seperti itu jika ia berkomunikasi dengan keponakan kecilku itu.
"Terima kasih sayang pujiannya, kamu juga cantik kok" balas Alvira dengan mengusap lembut pipi chuby Tiara. Kemudian Ia bangun dan menggandeng Tiara mendekat ke area sofa kami berkumpul.
"Kak Vira cantik banget, sumpah, kalau tampilan seperti ini bisa-bisa di sebut adiknya kak Dika, tidak akan ada yang bilang kakak punya suami" Puji Keizia secara tersirat mengatakan pasanganku seorang bocah cocok yang maknanya kalau tidak suka daun muda ya p*******a lagi bukan?.
Alvira belum meberikan tanggapan dari Keizia, Mama terlebih dahulu bersuara dengan nada menggodanya "Tapi kenyataannya Vira ini sekarang miliknya Dika, iya gak Dika" dan aku rasa Alvira kikuk dengan mimic wajahnya yang memaksakan tersenyum sebantar.
"Sudah ma, pa, kita pergi sekarang, dari pada malam disini" Ucapku memotong aksi memuji dan menggoda yang sungguh tak menguntungkan ini. Bisa jadikan nantinya aku akan jadi bahan godaan mereka dan membuat kami disini semakin lama dan telat datang nantinya.
"Ya udah Ma, Vira sama kak Dika berangkat dulu ya" Respons yang baik dari Alvira yang seakan tahu maksudku. Dan kali ini aku akan menambah pujianku sebagai partner yang baik, mudah tanggap.
Setelah Alvira selesai berpamitan, Akupun melakukan hal yang sama. kemudaian tanpa suara lagi aku langsung melangkah keluar. aku tahu Alvira pasti akan mengikuti langkahku.
Selama perjalanan kami tidak ada yang membuka suara. begitupun setelah sampai di hotel tempat acara. Akupun dengan langkah ringan masuk. karena sekali lagi Alvira pasti akan berjalan mengimbangi langkahku. Hingga saat aku sudah masuk dalam Ballroom hotel lokasi acara, ada seorang penerima tamu yang menghentikanku. kemudian bertanya tentang seorang perempuan apakah ia datang bersamaku. Akupun memastikan, setelah aku menoleh dan tahu bahwa Alvira dilarang masuk karena tidak membawa undangan. Akupun memganggukkan kepala. Setelah memastikan Alvira di bolehkan masuk akupun kembali berjalan pelan sambil menunggu ia mampu mensejajarkan langkahnya bersamaku.
Merasa lama Alvira tidak mensejajarkan dirinya denganku. akupun menoleh kembali, namun batang hidungnya tidak kelihatan. kemana dia?. Akupun mengedarkan mata keseluruh ruangan namun aku masih belum menemukan dimana sosoknya.
"Andika.." Suara perempuan yang familiar memanggilku. Aku menoleh keasal suara. Shitt.. itu Meisya. Pacar pertamaku saat di putih abu-abu. Aku yang masih shock. Tidak menyangka akan bertemu dengannya disini.
"Hai Dika. gimana kabar kamu?" Tanya Meisya sambil mencium pipi kanan dan kiriku.
Aku masih belum sadar dari shockku bertemu dengannya, sekarang atas tindakannya yang mencium pipiku. Memang ini hal yang biasa dalam dunia bisnis. Terlebih lagi setelah kami putus, kami memilih untuk menjadi teman. Bukankah hal biasa dalam pertemanan mencium sebatas pipi?. Tapi sialnya aku datang kesini bersama Alvira. Dia bukan dari kalangan bisnis. Pasti dia tidak tahu bagaimana cara kami berinteraksi. Apalagi dia perempuan yang menjaga hijab. Aku akan yakin ia hitam putih dalam interaksi seperti ini.
"Hei.. kamu ketemu teman lama, tidak ada kata sambutan apa?" Ucap Meisya dengan pukulan yang dilenganku membawa aku kealam nyata kembali.
"Eh iya, Meis, sorry. Kamu apa kabar?" gelagap ku.
"Aku baik, kamu datang sendiri?"
"Aku.."
"Eh itu Tn. Dianggara Marcello. Kamu ikut aku yuk temenin untuk ngucapin selamat."Potong Meisya ketika aku mau mengatakan aku kesini sama istriku. Tidak sendirian. Seenaknya sendiri dia memotong pembicaraan dan sekarang malah memeluk lengan kiriku serta menyeretku menghampiri Angga.
"Hei... bro.. makasih ya lo sudah mau datang. Eh lo datang sama siapa?" Sambut Angga dari kejauhan dua meter ketika dirinya melihatku datang bersama Meisya.
Setelah Angga memelukku. Dia melihat wanita disampingku. "Meisya Fabiola?" seru Angga melihat Meisya dan aku bergantian. Sepertinya ia meminta penjelasan.
"Wow... lo udah move on dari kakak gue?" Dan sekarang sudah menggaet putri sulung dan kesayangan dari Alex Fabio.?" Antusias Angga membuatku hanya menggelengkan kepala. reaksinya sungguh berlebihan seperti dia barusan memenangkan tender milyaran. Padahal dia hanya terbawa spekulasinya yang tak beralasan.
"Hello, nona Meisya Fabiola. Selamat datang datang dan menikmati pestanya. Semoga anda suka" Angga kembali bersuara dengan mode profesionalnya terhadap Meisya.
"Terima Kasih Tn. Dianggara Marcello. Selamat atas pembukaan hotel barunya. semoga terus berkembang pesat." Dialog keduanya sedangkan aku masih berusaha mengedarkan mata mencari sosok Alvira. Mungkinkah dia tidak masuk?. Bukankah dia tadi sudah dipersilahkan masuk
"Shitt... si kunyuk, gak salah dia bawa pasangan?. Gila cewek pakai hijab masih muda pula" u*****n Angga membuatku menoleh padanya dan menjitak kepalanya.
"Lo itu diacara seperti ini masih saja mengumpat."
"Sakit Dika" ringis Angga sambil memegang kepalanya. Meisya yang melihat interaksi kami pun cekikian.
"Habisnya, jaga itu mulut. Jangan asal mengumpat"
"Siapa yang gak akan ngumpat. Tuh sepupu gue lagi sama perempuan berhijab. Apa mau kiamat ya?" dengan gerak mata Angga seolah memberitahu apa yang membuatnya mengumpat.
Saat aku melihat ke lokasi yang di tunjukkan Angga. Ternyata yang dimaksud Angga cewek berhijab itu Alvira yang sedang duduk berhadapan dengan laki-laki. terlihat usianya yang tak jauh berbeda denganku.
"Siapa laki-laki itu?" Desis ku datar menaham geram. Dari tadi aku mencari Alvira dimana dan yang di cari sedang asyik berdua dengan orang lain. Belum lagi bagaimana jika nanti ada yang tahu dia istriku dan datang kesini bersamaku. Apa kata orang nantinya. Dan ini dia bisa menjatuhkan harga diriku.
"Lo tanya laki-laki yang mana?"
"Laki-laki yang duduk satu meja dengan perempuan memakai hijab biru"
"Maksud kamu Steven?" Suara Meisya yang ikut menjawab.
"Iya, Dia anak salah satu relasi bisnis papa"
"Kenapa Dika lo penasaran sama Steven? Gue sih penasaran sama cewek yang duduk sama dia. Secara Steven itu sepupu gue dari pihak ayah. Lo tahu sendiri kalau keluarga bokap gue itu masih non muslim. maksudnya apa coba Steven yang non muslim sekarang bersama cewek berhijab." Sambung Angga setelah Meisya menyelasaikan ucapannya.
Bagaikan ada magnet dalam interaksi Alvira dan laki-laki yang bernama steven kami melihat gerak –gerik mereka berdua. Disana Aku lihat Alvira menampilkan berbagai ekspresi mulai dari tersenyum simpul, cekikikan hingga tertawa. terkadang wajah serius menghiasi interaksi mereka. Hingga saat laki-laki yang bernama steven itu meminum Ia secara tidak sengaja melihat kami. Dan mengangkat tanganya menyapa Angga. Tingkahnya juga membuat Alvira ikut menoleh kearah kami. Hingga aku dan Alvira kami saling berkontak mata. Hingga Alvira yang terlebih dahulu menghentikan kontak mata kami berdua.
Tak lama laki-laki yang bernama Stev berdiri meninggalkan Alvira sendiri. Ia mendekat kearah kami bertiga.
"Hei.. Bro selamat. Makin sukses nih dengan pembukaan hotel barunya" Ucap laki-laki yang bernama steven sambil menjabat tangan dan memeluk Angga.
Setelah melepas pelukannya dengan Angga Steven mengulurkan tangannya kepadaku. "Steven"
Aku membalas uluran tangannya. "Rafif Andika Herlambang"
"Ouw.. Mantan kak Anastasya?" Aku hanya menaikkan salah satu alisku. "Opps sorry"
"Hello Nona Meisya. sorry kalau kata-kata saya menyinggung Anda. saya hanya spontan saja. Faktanya sekarang anda pasangannya Tuan Andika. Anastasya hanya masa lalu saja" Dengan nada yang merasa bersalah dan merasa tak enak membuat situasi agak canggung. Padahal yang membuatku menaikkan alis darimana ia tahu tentang hubunganku dan Anastasya. Tapi tunggu dia mengira Meisya pasanganku. Berarti tidak menutup kemungkinan Alvira akan menganggap hal yang sama.
"Tidak apa-apa Tuan Steven. Tidak usah merasa bersalah. saya sama Andika hanya sebatas teman" Jelas Meisya.
"Stev, Sial lo apa lo gak kurang muda cari pasangan. Berjilbab pula." Tegur Angga mengalihkan pembicaraan yang membuat situasi saling canggung diisi dengan gaya sok keakraban Angga.
"Jangan tertipu sama wajah Baby facenya. Dia itu teman satu angkatan gue waktu SMA, bukan pasangan gue" Jawab Ringan Steven.
"Saya kira dia pasangan Anda kesini tuan Steven. Anda berdua kelihatan pasangan yang serasi" Timpal Meisya. dan itu membuat aku geram.
"Anda bisa saja nona Meisya. Sayangnya untuk menjadi pasangan perempuan bersama saya tadi, harus melewati seleksi dua bodyguard yang selalu melindungi dia. Belum ada syarat yang harus lebih baik dari segala aspek jika dibandingkan mantannya. Itu langsung dinilai oleh mantan yang sekarang merangkap menjadi sahabat dan kakak".
"Oh, ya kemana perempuan yang bersama anda tadi. Dia tidak ada di tempat duduknya" Tanya Meisya membuat kami sama-sama menoleh ketempat yang di duduki Alvira. Kami semua sama-sama mengedarkan padangan keseluruh area Ballroom mencari sosok Alvira.
"Sorry, gue ke kamar mandi dulu" Alibiku untuk bisa meninggalkan mereka bertiga tanpa ditanya panjang lebar. lansung aku mencari sosok Alvira dalam pesta ini. Karena aku tak mau kehilangan jejaknya lagi. Hampir setiap sudut Ballrom ini sudah aku jelajahi. namun aku masih belum menemukan sosoknya. Aku memutuskan untuk menghubungi Keizia dan meminta no Alvira. Bodohnya aku yang tidak mempunyai nomer istri sendiri.
Baru ketika mengambil ponselku dari saku, aku melihat ada pesan dari nomor yang tidak aku kenal. Dan itu menarik Attensiku.
081xxxxxxxxx
kalau acara sudah selesai, aku tunggu kamu di parkiran.
-Alvira-.