2. That Mornin

1392 Words
Piece 1. Radian mengamati ponsel hitamnya yang tergeletak di atas meja. Sudah sejak 15 menit lalu pesannya belum dibalas Radeka -pria yang lahir dari wanita yang juga melahirkannya, terpaut 6 tahun lebih muda darinya-. Sejak itu pikirannya enggan diajak untuk konsentrasi kerja. Hingga denting pelan suara chat masuk membuatnya seketika mengambil gawainya. Bang, Cik Fai di rumah sakit. Satu pesan itu memutuskan ketidaksabarannya dan menggantinya dengan kekalutan. Sudah sejak tiga minggu ini dia tidak pulang ke Jakarta. Dia merasa takut dan tidak punya alasan. Dua hal itu lagi-lagi membuatnya menjadi pengecut. Namun satu pesan yang baru saja masuk, membuat kakinya seolah ingin segera berlari ke rumah sakit tempat wanita itu berada. "Iya Pak?” ketukan singkat di pintu ruangannya memutus lamunan. Bersamaan dengan sosok Nita yang muncul di baliknya. "Booking tiket ke Jakarta flight paling cepat." Wanita muda berusia 28 tahun itu terdiam sebentar, berusaha keras menyembunyikan rasa penasaran. Lantas berlalu pergi setelah mengiyakan perintah sang atasan. Radian menatap jari manisnya yang sejak sebulan lalu berhias cincin. Menjadikan statusnya di umur 33 tahun dari lajang berubah jadi suami. Dan di luar sana, seorang wanita yang berstatus sebagai istrinya sedang berada di rumah sakit. ... Sudah sejak setengah jam lalu Radian mendekam di mobilnya. Pikirannya bimbang apakah harus mengetuk pintu rumah bercat biru muda itu atau justru kembali melajukan mobilnya dan berbalik pergi. Seperti yang dilakukannya entah sudah berapa kali beberapa hari terakhir. Sudah seminggu ini wanita itu tidak terlihat di tempat kerjanya. Yang biasanya Radian kunjungi dan lihat dari jauh tanpa berani mendekat. Dia tahu dia ba***gan paling b******k dan pengecut. Pagi itu, setelah dia bangun dari malam yang takkan pernah bisa dilupakan, wanita itu sudah pergi dari apartemennya. Hingga seminggu kemudian orang kepercayaannya berhasil menyodorkan identitas wanita itu. Dia bekerja sebagai dokter kandungan di salah satu rumah sakit swasta terbaik di Jakarta. Hingga satu fakta telak memukulnya keras. Dari informasi yang didapatnya, bersama dengan pengunduran dirinya di rumah sakit, pertunangan wanita itu juga telah batal. Alasan itulah yang membuatnya nekat terbang kembali ke Jakarta dan langsung menyetir bak orang gila ke Bogor saat itu juga. Yang diketahuinya ini merupakan rumah dari kakak lelakinya yang sudah berkeluarga dan tinggal disini. Hari ini tepat sebulan dari kejadian di malam itu. Radian membuka pintu mobil di sampingnya. Melangkahkan kakinya lebar-lebar sebelum jiwa pengecutnya kembali muncul. Dia akan terima apa saja yang akibat dari perbuatan tololnya malam itu. Perasaannya tak menentu saat tangan kanannya menekan bel rumah. Hingga detik-detik yang terlewat membuat detak jantungnya berkejaran. Pintu putih di depannya terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya. "Cari siapa ya Mas?” tanya wanita paruh baya itu terlihat bingung. Radian terdiam sebentar, sekilas tidak tahu harus mengatakan apa. Namun kemudian dia menyebut nama wanita itu untuk pertama kalinya. "Ohh iya, Cik Fai ada. Mari silahkan masuk." Ragu Radian melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Namun belum sempat dirinya duduk di sofa, sebuah suara berat terdengar. "Siapa Bik tamunya?" Radian menoleh dan mendapati seorang pria dengan kaus biru menatap lekat ke arahnya. "Cari cik Fai, Ko." Suara bibi tidak memutus kedua laki-laki itu untuk saling menatap lekat. Radian tahu tatapan laki-laki yang kemungkinan kakak wanita itu berubah tajam. Keduanya saling menatap lama. Hingga suara pecah gelas membuat mereka menoleh.  Wanita yang dicarinya itu berdiri di tengah tangga. Gelas yang dipegangnya terlepas dan menghantam lantai. Menimbulkan pecahan gelas ke lantai marmer. Sementara wajah wanita itu seketika memucat.  ... "Ba***gan" Desis penuh kemarahan diiringi langkah-langkah lebar tanpa kesabaran. Radian mematung di tempatnya berdiri. Hingga satu pukulan keras mengarah ke wajahnya. Berikut jerit wanita paruh baya yang tadi membukakan pintu untuknya. Belum sempat dirinya berkata-kata pukulan demi pukulan disarangkan ke wajahnya. Tubuh Radian ambruk ke lantai dengan lelaki yang membabi buta memukuli wajahnya diiringi sumpah serapah dan makian kotor. "Ba***gan sialan! Sampah!" makian dan pukulan bertubi-tubi dilayangkan Farhan ke tubuh Radian yang telah ambruk di lantai. Radian merasakan darah dan sudut bibirnya yang robek. Namun tidak sekalipun dia mencoba melawan. "Farhan cukup!!" bentak seorang lelaki paruh baya yang diikuti tarikan seorang lelaki lagi untuk menjauhkan tubuh Farhan. "Biarkan aku membunuh ba***gan itu Pa!" teriak Farhan. Setelah tubuh Farhan berhasil dijauhkan, Radian mencoba bangkit meski tubuhnya terasa remuk. Dia bertumpu di lututnya sembari mengusap pelipisnya yang berdarah. Radian masih mendengar suara ribut makian Farhan dan Jeslin yang mencoba menenangkannya. Namun samar terdengar suara isak tangis. Di tengah pandangannya yang kabur Radian menangkap wanita itu meringkuk di ujung tangga. Tubuhnya gemetar dan suara tangisnya memilukan. Radian menyandarkan punggungnya ke dinding terdekat, mengamati lekat wanita yang meringkuk itu dengan tatapan nanar. Wanita yang dihancurkan hidupnya karena kelakuan ba***gannya. ... "Kita seret saja b******n itu ke penjara Pa!" teriak Farhan. Radian menundukkan dirinya yang sudah duduk di single sofa. Di depannya ada orang tua Faiha. Sementara itu, Farhan masih dipenuhi amarah berdiri tidak jauh di pintu antara ruang tamu dan dapur. Berdiri si sebelahnya, Jeslin yang sedari tadi menenangkan suaminya. Faiha telah kembali ke kamar. "Jeslin, bawa Farhan ke dalam," ujar pria paruh baya berkacamata itu. Suaranya pelan dan tenang namun ada penekanan yang kental di setiap kata yang diucapkannya. Farhan terlihat enggan namun akhirnya mengikuti istrinya ke dalam setelah melayangkan tatapan tajam ke Radian. Seketika suara ruang tamu lenggang. Tiga orang disana bungkam dengan pikiran masing-masing. "Apa maumu kesini?" Radian mendongak menatap laki-laki paruh baya di depannya. Bibirnya terasa nyeri saat digerakkan. Dia tidak tahu seberapa parah dan remuk wajahnya sekarang. Namun dari denyutan nyeri yang dirasakannya, pastilah sangat buruk. Radian meneguk ludahnya kelu. Menatap tepat di mata pria paruh baya itu. "Saya minta maaf," ucapnya seolah ada batu besar di tenggorokannya. Wajah keras pria paruh baya di depannya tidak sedikitpun luruh. Di sampingnya Radian melihat wanita paruh baya beberapa kali mengusap sudut matanya yang berair. "Kau tahu apa yang sudah kau lakukan?" Pertanyaan pahit itu kembali dilontarkan. "Kau tahu sudah merusak hidup anak kami seberapa jauh?!" Radian menundukkan wajahnya dalam-dalam. Lidahnya kelu. Dia tahu persis seperti apa dampak perbuatan tololnya itu. Tadi ketika melihat wanita itu begitu terpuruk, dadanya terasa sesak. "Saya akan bertanggung jawab" Radian tak tahu darimana kata-kata itu muncul. Dia tidak berpikir jelas apa yang harus dilakukannya. Apa arti tanggung jawab yang baru saja dia lakukan. Tapi dia akan melakukannya. Apapun akan dia lakukan. Bertanggung jawab. Untuk semua yang telah dilakukannya. Hening beberapa saat kembali mengisi ruang tamu itu. Hingga satu suara dari pria di depannya membuat Radian mendongak. "Bawa orangtuamu" Melibatkan orang tua adalah pilihan terakhir yang akan dilakukannya. Selama setengah umurnya dia tak lagi melibatkan orangtua di setiap keputusan yang diambilnya. "Saya akan mempertanggungjawabkan tindakan saya sendiri. Saya terima apapun yang anda minta saya lakukan," ujar Radian. "Kalau kamu mau sungguh-sungguh ingin bertanggung jawab, bawa orangtuamu," tegas laki-laki di depannya. ... Sejak lima belas menit keluar dari rumah tersebut, Radian tidak juga menyalakan mesin mobilnya. Kepalanya pening tidak hanya karena pukulan pukulan yang dilayangkan padanya namun juga masalahnya yang makin kusut. Sebuah ketukan kecil di kaca mobil membuyarkan pikirannya. Wanita paruh baya yang tadi membukakan pintu berdiri di luar dengan payung besar abu-abu. Hujan memang masih mengguyur deras sejak satu jam lalu. Radian menurukan kaca mobilnya. "Mas, ini obat. Kata ibu suruh obatin lukanya" Radian menerima kotak P3K yang disodorkan padanya. Wanita paruh baya itu lantas pergi setelah dia mengucapkan terima kasih. Dia menatap pintu besar yang tertutup itu untuk beberapa saat. Hingga kemudian kembali menutup kaca jendela mobilnya. Semenjak bicara tadi, ibu wanita yang telah dihancurkan masa depannya itu tidak bicara sepatah katapun. Wanita paruh baya yang memiliki paras lembut itu hanya sesekali mengusap air matanya. Radian tidak tega untuk sekedar menatapnya. Dia sama sekali tidak menyangka dengan sikap wanita paruh baya yang kentara berdarah chinese itu. Kini kotak putih kecil itu adalah titipan darinya. Ada betadine, pembersih luka, kapas hingga plester. Radian mengeluarkan ponsel lalu menekan tombol 2 dan terhubung ke sebuah panggilan. "Iya Bang?" sapa suara di seberang. Radian meringis kecil ketika merasakan nyeri saat dia menghirup nafas panjang. Dia berharap tidak ada tulang wajahnya yang retak. "Papa... di rumah?" Tanyanya tidak langsung dijawab. Radian membiarkan sang adik mencerna pertanyaannya. Pasalnya menanyakan pria yang mengalirkan darah di tubuhnya adalah hal yang sangat jarang, ralat, teramat jarang dilakukannya. Namun ketika suara Radeka tidak juga terdengar, Radian mengulang pertanyaannya. "Eh… iyaa… ada. Papa di rumah," jawab Radeka terbata. Radian lantas menutup panggilannya setelah mengatakan besok pagi akan ke rumah. Rumah yang dijejaknya entah kapan terakhir kali. Rumah yang dipilih untuk ditinggalkannya bersama masa lalunya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD