3. Man

1189 Words
Pukul tujuh pagi, Radian menginjakkan kakinya di rumah besar dengan pintu tinggi warna cokelat kayu. Rumah yang tidak asing namun menguarkan ketidaknyamanan untuknya. Langkahnya terasa berat seiring mendekati ruang makan. Di meja kayu panjang duduk tiga orang yang menikmati sarapan. Di ujung meja, lelaki paruh baya dengan setelan jas hitam meneguk teh. Radian berdiri di tengah ruang makan tidak mendekat. Kembali menimang apakah sekarang saat yang tepat untuk bicara. Masih dengan kekalutan pikiran, sebuah suara menginterupsinya. "Rad" Ketika mendongakkan kepalanya, Radian melihat tiga orang di meja makan menatap lurus padanya. "Kenapa wajah kamu?" tanya seorang wanita dengan setelan cokelat tua. Mengernyit bingung dengan wajah anak tirinya yang penuh lebam. Dari ekor matanya Radian melihat pria paruh baya yang menyandang status sebagai ayahnya mendengus pelan sembari menjauhkan peralatan makan. Radian berjalan mendekat ketika pria tersebut beranjak pergi. "Ada yang ingin kubicarakan," tutur Radian akhirnya. Pria dengan rambut yang sebagian sudah memutih tersebut menatap datar padanya. "Masih ingat pulang?" tanya pria tersebut sembari tersenyum sarkas. "Kau pikir bisa pulang pergi semaumu. Bertingkah sesukamu," lanjutnya dengan suara tajam meski nada suaranya masih rendah. Pria tersebut lantas mengambil tas kerjanya dan beranjak meninggalkan meja makan. Radian menatap punggung ayahnya yang perlahan menjauh.  "Aku menghamili seseorang." Kalimat yang keluar dari bibirnya serta merta menghentikan suara langkah ayahnya. Ruangan besar itu senyap tanpa ada yang bicara pun bergerak. "Keluar!" Radian tahu teriakan itu tidak ditujukan untuk dirinya. Melainkan untuk ibu tiri dan Radeka yang masih duduk terpaku di meja makan. Hingga kemudian derap langkah terdengar sebelum perlahan menghilang. Lelaki paruh baya di depannya berjalan mendekat. Melepas jas hitam dan menggulung kemeja putih lengan panjangnya. Mendekat dengan kemarahan yang tidak lagi disembunyikan. Radian tidak mundur selangkah pun dari tempatnya berdiri. Ini bukan kali pertama dia berada di posisi yang sama. Rasa takut tidak lagi ada dalam dirinya. Terlebih kali ini dia tahu persis kesalahannya tidak bisa dimaafkan. Tubuh Radian terhuyung ke belakang saat satu pukulan keras menerpa wajahnya. "Cih... berada di pelatihan bertahun-tahun tidak ada gunanya untukmu. Kau memang tidak pantas disana!" "Buk!! Buk!! Buk!!" Pukulan bertubi-tubi dilayangkan tidak hanya di wajah namun juga perutnya. Darah segar kembali mengalir dari sudut bibirnya yang sobek. "Setelah berubah jadi pengecut kau menjadi ba***gan busuk!" Teriakan dan sumpah serapah dari ayahnya mengiringi pukulan bertubi-tubi lelaki itu. Radian tidak sekalipun membela diri. ... Dua jam berlalu sejak Radian duduk di kursi tunggu lorong rumah sakit. Kamar rawat berpintu putih di depannya tertutup rapat. Lalu lalang orang-orang sudah berkurang mengingat sekarang sudah hampir tengah malam.  Kedua tangannya saling bertaut. Kepalanya terasa pusing bukan hanya karena pukulan dari ayahnya dan kakak wanita itu. Namun lebih pada apa yang dialami wanita itu saat ini. Dia hamil. Wanita itu hamil. Tidak ada keraguan sedikitpun dalam dirinya siapa ayah dari bayi itu. Radian tahu benar dia laki-laki yang pertama. Sialan! Belum selesai keadaan telak mengejeknya. Sekarang satu fakta baru bahwa dia akan menjadi seorang ayah terus berputar di kepalanya. Orang kepercayaannya tadi pagi mengabarkan perempuan itu hamil. Saat ini dia sedang berada di kamar berjarak tiga meter di depannya. Radian ingat jelas saat tatapan membunuh kakak perempuan itu tadi melihatnya datang. Dirinya tidak mendekat, dia hanya minta duduk di luar. Hingga kemudian satu per satu anggota keluarga itu pulang, Radian tetap tidak mendekat. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat kembali melihat wanita itu, kembali menatap wajahnya. ... Radian membuka matanya perlahan sembari mulai merasakan hawa dingin di lengannya. Ini merupakan malam kedua dirinya berada di rumah sakit. Dan semenjak kemarin dia tidak cukup berani untuk melangkah masuk ke pintu putih sejauh tiga meter di depannya. Dia tidak cukup siap bertatap muka dengan wanita yang kini sedang hamil anaknya. Telinganya menangkap suara pecahan gelas. Pukul tiga pagi, lorong rumah sakit sepi tak ada aktivitas. Radian berdiri mendekat ke pintu darimana suara itu berasal. Lantas membuka kenop pelan sebelum mendorongnya terbuka.  Ruangan itu gelap karena lampu tak dinyalakan. Radian menyipitkan matanya memindai seluruh kamar saat melihat ranjang kosong. Kegelapan bukan hal asing untuknya. Dulu, dia telah dilatih untuk melihat tanpa ada cahaya. Telinganya menangkap suara perlahan. Sebelum kemudian Radian secepat kilat berlari dan menarik lengan seorang wanita yang duduk bersimpuh di sudut ruangan. "Apa yang kau lakukan?!" teriaknya sembari menarik lengan itu kasar. Radian menangkap kesiap kaget dari tubuh yang bergetar di depannya. Sebelum kemudian Faiha mulai berontak mendorong. Tangan kanan wanita itu menggenggam pecahan gelas erat. Yang sebelumnya ingin digoreskan di nadinya. Faiha menyembunyikan pecahan gelas di telapak tangannya, tidak peduli jika tetesan darah mulai keluar dari kulitnya. "Lepaskan!" kata Radian penuh penekanan. Sebelah tangannya menghalau tubuh Faiha yang berontak. Sementara tangannya yang lain mencoba merebut pecahan gelas di tangan wanita itu. Seiring Radian mencoba membuka telapak tangannya, Faiha semakin erat menggenggam tangannya.  Setetes air mata turun di pipi Faiha saat pecahan gelas itu merobek telapak tangannya. Diabaikannya goresan nyeri yang menyeruak. "Lepaskan aku. Ini semua gara-gara kamu! Kamu menghancurkan semuanya. Aku membencimu… aku membencimu!" Faiha terus berontak meski tubuhnya bergetar karena tangis. Radian meraih tangan Faiha dengan kedua tangannya. Memaksa telapak tangan itu terbuka. Ketika akhirnya telapak penuh darah itu terbuka, Radian meraih pecahan gelas. Sontak ganti telapak tangannya yang menggenggam pecahan gelas itu saat Faiha masih berusaha merebutnya.  "Berikan... Berikan padaku! Aku tidak ingin hidup lagi! Aku tidak ingin mengandung bayi ini. Aku membencimu!" ujar Faiha mencoba merebut pecahan gelas dari tangan Radian. Radian melemparnya ke sudut ruangan yang lain. Diraihnya kedua tangan wanita itu dengan satu cekalan tangannya. Sementara satu tangannya yang penuh darah karena pecahan gelas mengangkat wajah Faiha mendekat ke wajahnya. Ditekannya dagu wanita itu sembari mencari fokus matanya. "Cukup! Benci aku sesukamu, tapi jangan lakukan pada bayiku!" ujar Radian di depan wajah Faiha. Wajahnya mengeras menahan emosi dengan kelakuan bodoh wanita itu. Sementara itu, air mata semakin deras mengalir dari kedua mata sayu Faiha. Sebelum isakan lirih berubah menjadi tangis. Menjadikan tekanan tangan Radian yang keras di dagunya perlahan mengendur. Radian lantas berdiri setelah memastikan Faiha tidak lagi mengulang perbuatan tanpa akalnya. Ditekannya bel darurat di dekat ranjang, setelah menyalakan lampu. Ditatapnya wanita yang masih meringkuk menyembunyikan wajahnya itu. "Lakukan sekali lagi tindakan tololmu dan aku tidak akan berpikir dua kali untuk mengikat tanganmu," ujar Radian. Dua orang suster yang datang sontak menatap kaget dengan telapak tangan Faiha yang penuh darah. Namun tanpa kata lantas memberikan pertolongan. ... Darah di telapak tangannya mengalir bersama air dari wastafel. Radian menatapnya datar. Tak menghiraukan perih di telapak tangannya. Setelah tak ada lagi darah yang keluar, Radian mengusap kasar wajahnya dengan air yang masih mengalir. Dipejamkan matanya erat sembari menekan emosi yang tersulut karena wanita itu.  Radian menatap wajahnya yang keras menahan emosi dari pantulan kaca. Jantungnya masih berdetak cepat. Sekilas bayangan wanita yang ingin mengakhiri hidupnya kembali melintas di pikirannya. Sejauh ini?  Jadi sejauh ini hidup wanita yang telah dia rusak. Jika boleh memilih, Radian ingin dirinya yang menanggung semua. Dia akan menanggung apapun balasan dari perbuatannya itu. Jangan wanita itu, biarkan saja dirinya yang menanggung. Tapi kini, semua sudah terlambat. Tidak ada yang bisa disesalinya. Yang harus dia lakukan adalah mempertahankan janin dalam kandungan wanita itu. Dia akan melakukan apapun, bahkan jika harus mempertaruhkan hidupnya. Dia akan mempertahankan bayi itu. Satu-satunya bagian dirinya yang masih memiliki harapan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD