Radian melangkahkan kakinya cepat di sepanjang lorong rumah sakit setelah mendapatkan pesan singkat dari Radeka. Memberitahukan jika papa dan mamanya ada di sini. Dirinya melihat Farhan yang berdiri di luar kamar rawat.
Baru saja Rad akan bertanya pada Farhan, pintu kamar rawat telah lebih dulu terbuka. Papa, mama dan kedua orangtua Faiha keluar. Tatapan tajam papanya adalah hal pertama yang Rad tangkap. Dia mengumpat dalam hati saat baru menyadari jika rumah sakit ini tempat mamanya bekerja.
"Kita bicara di ruang kerja saya saja," ujar mama Radian pada orang tua Faiha.
Lantas membimbing mereka ke lantai tertinggi rumah sakit swasta terbaik di Jakarta itu. Rad menghembuskan nafasnya berat. Dia tidak tahu apa yang sudah dilakukan orangtuanya saat di kamar Faiha tadi.
Langkah papanya terhenti di depannya yang masih mematung.
"Nikahi dia kalau kamu masih laki-laki"
Radian balas menatap tatapan tajam papanya.
...
Ruangan dengan cat putih itu terasa lengang karena lima orang yang di dalamnya duduk tak nyaman.
"Saya akan menikahi Faiha," ujar Rad mengutarakan niatnya.
Kedua orangtua Faiha menatap Radian dalam. Sebelum pria berkacamata itu lantas buka suara.
"Faiha yang akan memutuskan apakah dia akan menikah atau tidak. Dia yang bisa memberi keputusan," ujar ayah Faiha.
Lamunan Radian terpecah saat suara langkah kaki mendekat hingga berhenti di sampingnya. Didongakkan kepalanya dan mendapati Farhan berdiri di depannya. Sebelum kemudian dengan tatapan datar dan tenang ikut duduk di kursi besi panjang di parkiran rumah sakit. Mengambil sebatang rokok milik Radian yang tergeletak di kursi di antara keduanya, lalu menyulutnya. Keduanya tak bersuara dengan pemikiran masing-masing untuk beberapa detik terlewat.
"Seharusnya aku menyeretmu ke penjara."
Kalimat pertama Farhan setelah berhari-hari mereka bertemu di rumah sakit tanpa bicara.
Rad menghisap rokoknya panjang. Membuat kepulan asap menyebar di depan wajahnya.
"Aku tidak akan berontak kalau kau menyeretku ke polisi sekarang," balas Radian.
Keduanya lantas kembali terdiam. Farhan kembali menghembuskan nafas kasar.
"Apa kau pernah menikah?"
Radian menoleh mendengar pertanyaan itu. Dirinya tak langsung menjawab. Mencari tahu apa maksud pertanyaan yang diajukan Farhan. Lalu ketika menyadari kemungkinan kakak Faiha itu sedang menginterogasi dirinya, Radian lantas menjawab.
"Tidak"
Farhan tampak belum selesai bertanya.
"Apa kau pernah punya anak?... Atau kemungkinan memiliki anak dari wanita lain yang tidak kau sadari?"
Pertanyaan itu diajukan dengan nada sinis. Seharusnya Radian tersinggung. Tapi dia paham, dirinya berhak mendapatkannya. Setelah apa yang dilakukan pada adik laki-laki itu.
"Tidak," jawabnya kemudian.
"Membawamu ke penjara tidak akan menyelesaikan masalah. Menyesali perbuatan kalian juga tidak akan menyelesaikan masalah. Cukup satu kali kau melakukan kesalahan. Selanjutnya, lakukan hal yang benar untuk menebus kesalahanmu," tutur Farhan.
...
Radian masuk ke ruang rawat Faiha tepat pukul sepuluh malam. Dirinya mendengar seseorang yang muntah dan mendapati pintu kamar mandi terbuka. Kakinya sontak segera melangkah ke sana. Dan mendapati Faiha jongkok di closet sembari memegangi perutnya.
Wanita itu segera menjauh saat Radian ikut berjongkok di sebelahnya.
Namun belum sempat Faiha menjauh, rasa mual kembali bergejolak di perutnya. Membuatnya kembali memuntahkan isi lambung. Faiha memejamkan matanya saat pening di kepalanya semakin menjadi. Keringat perlahan turun di pelipisnya. Dirinya bahkan tidak memiliki sisa tenaga untuk menghindar dari usapan pelan tangan Radian di punggungnya. Beberapa saat Faiha memejamkan mata sembari mengontrol perutnya agar tak lagi bergejolak.
Tanpa kata Radian lantas berdiri mengangsurkan tisu. Faiha menatapnya sebentar sebelum kemudian mengambilnya untuk menyeka mulut. Setelah mualnya mulai reda, Faiha lantas berdiri dan membasuh wajahnya di wastafel. Radian melangkah ke luar kamar mandi untuk memberikan waktu wanita itu membersihkan diri.
Di sofa abu-abu yang menempel di dinding, Radian mendudukkan dirinya. Matanya tak lepas saat Faiha berjalan pelan kembali ke ranjangnya.
Wanita itu membaringkan diri memunggungi Radian. Ruangan rawat itu hanya disinari lampu temaram kuning.
"Kita akan menikah," kata Radian memecah keheningan.
Dirinya melihat punggung Faiha yang menegang meski wanita itu tak bicara.
"Dua hari lagi kamu boleh pulang. Kita akan menikah di rumahmu."
Setelahnya ruangan itu kembali senyap. Tapi Radian tahu Faiha mendengarnya. Tak peduli wanita itu setuju atau tidak, dia akan tetap menikahinya.
"Setelah bayi ini lahir ceraikan aku. Dan kalian jangan pernah muncul lagi di hadapanku."
Perkataan itu dilontarkan Faiha saat Radian membuka pintu dan akan melangkah ke luar. Membuat Radian mematung beberapa saat. Lantas melanjutkan langkah keluar. Mengabaikan sesak yang seketika muncul di dadanya.
Menurutmu apa yang akan dia lakukan, menerima dengan terbuka?
Pertanyaan itu mengejek Radian dari dalam.
Dia tahu segala yang dia miliki tak lagi utuh. Namun dia hanya ingin satu bagian dari dirinya di dalam wanita itu memiliki harapan untuk hidup lebih baik darinya.
...
Faiha menatap kosong pada pergelangan tangannya yang membekas sayatan. Kenapa hidup mempermainkannya sedemikian mudah. Dia dan tunangannya akan menikah tahun depan setelah 4 tahun berpacaran. Keluarga mereka juga sudah saling bertemu. Mereka bahkan akan melakukan pre-wedding bulan depan. Tapi rencana-rencana itu hancur dalam satu malam.
Satu malam yang membuat hidupnya sedemikian hancur. Dia bahkan masih tak percaya dengan yang kini terjadi. Ditambah ada nyawa baru yang kini menjadi bagian dari dirinya.
Bagaimana bisa dia menjalani hidupnya setelah ini?
Bagaimana bisa dia melahirkan anak dari lelaki tidak dikenal yang telah menghancurkan hidupnya?
Bagaimana bisa dia bertemu dengan teman-temannya lagi setelah ini?
Kenapa hidupnya hancur dengan begitu mudah, rencana pernikahan, kariernya?
Ribuan pertanyaan menyesaki pikirannya tanpa mau berhenti.
Dia tidak bisa menjalani hidupnya lagi.
Masih teringat jelas bagaimana raut Fandi-tunangannya- saat Faiha menceritakan kejadian naas yang menimpanya malam itu. Laki-laki yang bertahun-tahun mengenalnya itu menatapnya seolah orang asing yang menjijikkan. Dia bahkan tidak peduli saat Faiha menangis dan mengucapkan maaf berkali-kali.
"Aku tidak bisa bersamamu lagi."
Kalimat itu tidak akan pernah hilang dari ingatannya. Hanya butuh satu kalimat itu untuk mengakhiri hubungan 4 tahun mereka. Hanya dengan kalimat itu semua rencana masa depan mereka dihapus.
Dia tahu Fandi marah dan kecewa. Tapi kejadian ini juga bukan keinginannya.
"Keluargaku tidak akan bisa menerimanya," ujar Fandi saat itu.
Faiha tahu keluarga Fandi sangat kuat memegang tata krama pergaulan. Mereka tidak akan pernah menerima dirinya yang sudah kotor.
Saat itu Faiha bahkan belum tahu dirinya hamil.
Fandi lantas pergi dan tidak lagi menoleh bahkan saat Faiha memohon untuk tinggal. Sampai sekarang laki-laki itu tidak pernah menghubunginya.
Dirinya sendiri sudah tidak lagi memegang ponsel setelah mengajukan resign dari rumah sakit tempatnya bekerja. Dia tidak tahu bagaimana menanggapi rentetan pertanyaan teman-temannya dengan keputusannya berhenti bekerja. Juga tidak tahu bagaimana menjelaskan alasan pertunangannya yang berakhir.
Sebutir air mata kembali jatuh dari sudut matanya saat teringat bagaimana dia mencoba mengakhiri hidup. Sempat terlintas di pikirannya untuk menghilangkan janin yang tidak diinginkannya. Namun dia tidak pernah tega melakukannya. Dia tidak bisa membunuh nyawa yang tak bersalah.
Bagaimana mungkin dia bisa melanjutkan hidup setelah membunuh janin di perutnya?
Hingga kemudian terlintas di pikirannya untuk mengakhiri hidup bersama dengan janin yang dikandungnya.
"Benci aku sesukamu, tapi jangan lakukan pada anakku."
Suara itu kembali tergiang di kepalanya.
Dia membenci laki-laki itu.
Dia sangat membencinya.
Laki-laki yang menghancurkan hidupnya dalam satu malam.
Laki-laki yang menjadi ayah dari janin di perutnya.
Laki-laki yang akan menikahinya.
Dia tidak ingin menikah dengan laki-laki itu.
Tapi apa dirinya punya pilihan lain?
Setetes air mata Faiha kembali jatuh.
Menyusul air mata lain yang lagi-lagi gagal dia tahan. Memanifestasikan sakit yang dia rasakan.
***