5. Brother

1059 Words
Pintu kamar rawat Faiha terbuka perlahan menyusul pria jangkung berkacamata yang berdiri canggung di baliknya. "Hai," ujarnya menyapa. Faiha mengernyit saat laki-laki tak dikenal tersebut berjalan masuk. Refleks dia memundurkan posisi duduknya hingga sampai ke dinding di belakangnya. Melihat antipasi Faiha, laki-laki tersebut lantas berhenti dua meter dari ranjang. "Eh, aku bukan orang jahat. Tadi habis nganter mama jadi sekalian mau jenguk." Faiha masih menatap bingung hingga kemudian perkenalan selanjutnya dari laki-laki itu membuatnya membeku. "Aku Radeka, adiknya Bang Radian," ujarnya. Faiha terdiam beberapa saat. Untuk apa adik pria itu kemari. Faiha berharap ada ibu atau kakaknya yang segera masuk. "Sorry kalau buat Ci Fai nggak nyaman," ujar Radeka selanjutnya. Radeka kemudian mengangsurkan tulip merah muda. Ketika Faiha tidak juga menerimanya, Radeka lantas meletakkan di meja. Dengan senyum canggung, Radeka kemudian menarik kursi di dekat ranjang Faiha agak menjauh untuk kemudian didudukinya. Tahu jika calon kakak iparnya tersebut tidak terlalu nyaman berdekatan dengannya. Sehingga dia memilih duduk dengan memberi jarak. "Aku dengar cerita dari mama, Ci Fai sakit. Tadi pas bilang mau mampir ke sini Bang Rad sempat larang. Jadi sebetulnya aku ke sini atas inisiatif sendiri dan bukan suruhan Bang Rad," tutur Radeka. Faiha menatap kedua tangannya yang bertaut. Memainkan jari-jarinya untuk mengalihkan perhatian dari menatap Radeka. Namun ucapan selanjutnya dari pria itu membuatnya berhenti memainkan jari tangan. "Bang Rad bukan orang jahat" Faiha menatap pria berkemeja flanel tersebut. "Dia mungkin telah melakukan kesalahan pada Ci Fai. Yang mungkin juga nggak termaafkan. Tapi Bang Rad bukan pria jahat," ujar Radeka. Kali ini giliran laki-laki itu yang menghindari tatapan Faiha. "Aku minta maaf sama Ci Fai karena perlakuan Bang Rad. Tapi aku mohon tolong jaga keponakan aku. Aku pastikan anak itu nantinya akan penuh kasih sayang dariku, Bang Rad dan juga keluarga kami. Aku mohon Ci Fai untuk menjaganya sampai dia lahir" Tenggorokan Faiha tercekat dengar penuturan Radeka. Kilasan saat dirinya mencoba bunuh diri membayang di pikirannya. Membuat matanya perih dan berkabut. Radeka kemudian meletakkan sebuah kartu nama kecil di meja.  "Kalau Ci Fai perlu apa-apa jangan sungkan menghubungiku. Aku pasti lakukan apapun permintaan Ci Fai," ujarnya. Radeka lantas berdiri dan kembali mengulas senyum kecil. "Kalau gitu aku pamit dulu Ci. Sampai ketemu lagi," ujarnya sebelum berlalu. Selama itu pula Faiha tidak mengeluarkan sepatah katapun. Kemarin, orang tua laki-laki itu juga mengatakan hal yang hampir sama. Meminta padanya bahkan sembari memohon agar dia mempertahankan bayi yang tak diinginkannya itu. Haruskah dia mempertahankannya? Haruskah dia mempertahankan janin yang tak diinginkannya? Haruskah dia mempertahankan darah daging dari laki-laki yang sudah merusak hidupnya? ... Sudah dua hari sejak kepulangannya dari rumah sakit. Sejak itu pula Faiha kembali tinggal di rumah kakaknya di Bogor alih-alih tinggal di rumah orangtuanya di Jakarta. Faiha menatap datar pada layar televisi yang menampilkan tayangan film animasi untuk ditonton Brandon, keponakannya yang baru berusia 5 tahun. Sementara itu ibu Brandon, Jeslin sibuk dengan tabnya sejak tadi. "Fai..." panggil kakak iparnya pelan. Terlihat sungkan untuk mengatakan sesuatu. "Em... gaun pernikahannya... kamu nggak mau fitting dulu? takutnya nanti nggak pas" ujar Jeslin perlahan. Tak mau menyinggung perasaan Faiha. Namun apapun pembahasan soal pernikahannya selalu membuat Fai terlanjur tak nyaman. Dirinya sudah pernah bilang tidak peduli dengan pernikahan itu. Dia bahkan tidak mau datang dan duduk bersama laki-laki itu. Satu-satunya yang diinginkannya adalah waktu yang cepat berlalu sampai di hari dia melahirkan bayi di perutnya. Setelah itu dia ingin bebas dari tali yang menjeratnya ini. Namun Faiha juga tidak mau membuat orangtuanya malu. Dia tidak mau menambah beban untuk orangtuanya atas apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Dia kembali teringat perkataan mamanya kemarin saat mengantar ke sini. "Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi ke depan Fai. Tidak ada orangtua yang berharap anaknya menikah hanya untuk bercerai. Tidak peduli dengan dasar pernikahan itu sendiri," ujar mamanya sembari menangis. Mendengar kata-kata itu, hatinya terasa sakit. Maka dari itu satu-satunya hal yang bisa dilakukannya hanyalah mengikuti apa yang orangtuanya minta. Yakni dengan menggelar pernikahan sederhana yang hanya dihadiri keluarga inti. Pernikahan itu akan digelar hari Jumat, dua hari lagi di Bogor, di rumah Farhan. Hanya akan dihadiri kedua orang tuanya dan orangtua laki-laki itu. Faiha menolak untuk terlibat apapun dengan persiapan pernikahan. May, sepupunya yang memang memiliki bisnis wedding organizer datang kemari tadi pagi. Menanyakan persiapan pernikahan pada Jeslin, entah apa yang Faiha sendiri tidak tahu. Dia tidak mau tahu. Dia tidak mau ada tamu lain, tidak akan ada pesta pernikahan hingga tidak ada pernak-pernik apapun khas pernikahan pada umumnya. Dia hanya akan duduk mendengarkan pria itu mengucapkan akad, tanda tangan buku nikah dan selesai. Lalu dia akan menunggu sembilan bulan untuk kembali memulai hidup baru. .... Namun pilihan tidak mau tahu tentang pernikahannya sepertinya suatu kesalahan. Harusnya sejak awal dirinya tegas mengatakan hanya akan melakukan pencatatan di KUA. Apa yang dibayangkannya sama sekali tak terjadi. Kamis sore ketika Faiha turun dari kamar dirinya begitu bingung dengan perubahan taman samping rumah kakaknya. Beberapa orang berlalu lalang. Ketika Faiha melangkahkan kakinya ke pintu samping dia melihat sekitar 15 kursi kayu dengan selendang warna putih senada berjejer di taman. Sementara itu meja persegi yang menjadi fokus utama di taman itu membuatnya tercengang. Beberapa bunga tulip, baby breath dan mawar diletakkan sedemikian rupa untuk menjadikan taman tersebut menguarkan hawa sakral. Di sudut lain, meja panjang yang masih kosong kemungkinan akan diisi makanan. Faiha melihat Farhan dan papanya berbincang dengan seorang lelaki yang merupakan staf dari WO May. Lalu ada mamanya dan Jeslin yang duduk di dekat kolam renang, sedang sibuk dengan tab. Tiba-tiba rasa sakit perlahan muncul di dadanya. Jika saja ini pernikahan yang diinginkannya. Jika saja dia menikah dengan pria yang dicintainya. Semuanya pasti akan berbeda. Melihat bagaimana orangtuanya tetap sibuk mempersiapkan pernikahannya. Melihat bagaimana raut wajah mereka, membuat matanya berkaca. Perlahan Faiha menatap perutnya yang masih datar. Menatap nanar pada janin yang tumbuh di sana. Andai saja... "Fai" Faiha menoleh dan menatap ke arah sang mama yang berjalan ke arahnya. Namun air matanya sudah terlanjur gagal disembunyikan. Air mata yang setiap malam hadir ketika dirinya sendirian di dalam kamar. Air mata dari rasa sakit hatinya yang tak sedikitpun berkurang. Sang mama lantas berjalan mendekat dan memeluk sang anak. Mengusap punggunya lembut. "Jangan dipaksakan Fai. Jangan dipaksakan untuk melupakan dan terus menyesali. Pelan-pelan saja nak, diterima pelan-pelan saja. Ini sudah jalan dari Tuhan, pelan-pelan saja menerimanya," bisikan itu terdengar perlahan di telinga Faiha. Faiha balas memeluk sang mama erat. Menumpahkan tangisnya. Jangan dipaksakan... ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD