6. Our Day

1255 Words
Bayangan di cermin itu seperti bukan dirinya. Wanita dengan gaun pernikahan putih itu bukan dirinya. Faiha tidak bisa menolak saat sang mama bersama seorang wanita yang lantas diketahuinya sebagai MUA mengetuk pintu kamarnya. Mendudukannya di depan kaca, mengulaskan make up di wajahnya, mengatur tatanan rambutnya. Faiha tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak tadi. Tepukan perlahan di pundak memecah lamunannya. "Fai," ujar Wanda pelan. Selama ini hanya Wanda sahabatnya yang datang. Wanita itu yang mengetahui bagaimana kisahnya. Kini wanita itu tersenyum tipis sembari mengulurkan seikat bunga baby breath padanya. Meski senyum itu terukir manis di wajah Wanda, namun mata yang berkaca-kaca itu tak bisa dibohongi. Faiha ingat kali pertama Wanda datang setelah malam itu. Bagaimana wanita itu berlutut di depannya, meminta maaf sembari menangis. Lantaran mengajaknya malam itu. Namun seberapa banyak tangisan dan penyesalan tak akan mengubah apapun. Jika saja ingin menyalahkan, tentu saja Wanda bukan orangnya. Dirinya tidak bisa marah dengan wanita itu. Kemarahannya tidak akan memutarkan waktu kembali. Jangan dipaksakan Fai Jalani pelan-pelan Faiha mengukir senyum tipis. Berharap senyum itu tidak terlihat mengerikan di wajahnya. "Kamu cantik banget," ujar Wanda sembari memeluk Faiha. "Ada apa?" tanya Faiha mendapati raut penuh pertanyaan dari sahabatnya. "Tadi aku lihat... emm ... ibu Anneke di bawah. Apa..." Faiha memahami maksud dari pertanyaan Wanda yang tak selesai. Anneke Narwesharani Pertama kali Faiha bertatap muka dengan perempuan paruh baya tersebut dirinya sangat terkejut. Bagaimana bisa petinggi di rumah sakit tempatnya dulu bekerja datang ke rawat inapnya. Namun wanita dengan keanggunan kuat di umur yang tak lagi muda tersebut mengenalkan dirinya sebagai ibu laki-laki itu. Anneke Narwesharani yang biasanya hanya akan dilihatnya sekilas karena acara-acara penting rumah sakit. Dia adalah eyang dari calon bayinya. Seolah belum cukup mengejutkan baginya. Wanita paruh baya tersebut datang bersama pria paruh baya yang memiliki ketegasan yang kuat terlihat dari raut dan perkataannya. "Saya mohon lahirkan cucu saya," ujar ayah laki-laki itu. Baru selepas Farhan menemuinya, Faiha baru tahu jika pria paruh baya tersebut memiliki gelar jendral di depan namanya. Faiha tahu jelas kedua orangtuanya  bukan orang yang silau dengan jabatan dan gelar. Dia ingat ketika papa dan mamanya bilang akan menerima apapun keputusannya, bahkan jika Faiha menolak menikah dengan laki-laki itu. Namun latar belakang keluarga laki-laki itu sontak membuatnya bertanya. Siapa sebenarnya laki-laki yang menjadi ayah dari bayinya ini? Faiha mengangguk menjawab pertanyaan Wanda. Raut kaget sontak terpancar dari wajah Wanda. "Kata cik Jeslin tadi, ayahnya petinggi di Kepolisian?" tanya Wanda menuntaskan rasa penasarannya. Lagi-lagi Faiha hanya mengangguk. Yang menjadikan Wanda menghembuskan nafas panjang. "Dia... laki-laki itu..." "Aku nggak tahu apapun tentangnya," potong Faiha. Dia memang tidak tahu apaun tentang pria itu. "Fai... ayo turun" Jeslin muncul di balik pintu kamarnya. Perkataan kakak iparnya tersebut membuat jantungnya berdegup kencang. ... Dia tidak tahu siapa pria itu. Dia tidak tahu apapun tentang pria berkemeja putih dengan celana abu-abu itu. Pria yang akan menikahinya. Pria yang menjadi ayah bagi janin dalam perutnya. Ketika suara berat itu melantunkan pelan kalimat akad yang mengikat mereka, Faiha memejamkan matanya menahan air matanya luruh. Demi orangtuanya ... demi orangtuanya… Ulangnya dalam hati. Hingga kemudian perlahan cincin pernikahan tersemat di jari manisnya. Jari-jari Faiha bergetar saat bergantian menyematkan cincin di jari laki-laki itu. Faiha meraba hatinya lebih jauh. Apa yang dirasakannya? Kini dia sudah berstatus sebagai istri. Namun semakin lama dia mencoba mencari tahu, rasanya semakin membingungkan. Faiha menoleh ke arah sang mama yang mengusap pelan sudut matanya. Ketika Faiha melangkah mendekat, sang mama lantas memeluknya hangat. Sebelum kemudian air mata Faiha yang coba ditahannya sejak tadi ikut luruh. Setelah itu Faiha berganti memeluk sang papa yang balas memeluknya hangat. Juga Jeslin dan Farhan. Faiha mengusap air matanya ketika mengurai pelukan. Sampai kemudian ibu Anneke berjalan mendekat ke arahnya. Wanita paruh baya tersebut tersenyum lembut dan menariknya dalam pelukan. "Terima kasih Fai" ... Faiha menghembuskan nafas panjang saat acara selesai. Kedua orangtuanya mengantar petugas KUA ke depan. Sementara di taman masih tersisa keluarga laki-laki itu. Mereka berbincang dengan Farhan dan Jeslin sembari makan. Faiha memilih masuk ke dalam rumah dan berniat mendekam di kamar. Dia ingin melepaskan baju dan menghapus make up di wajahnya. Namun langkahnya terhenti saat menemukan pria itu di dapur. Sontak pandangan mereka beradu. Saling tatap untuk pertama kalinya. Iris hitam jernih milik Faiha beradu dengan iris milik Radian. Entah berapa lama mereka hanya saling tatap di tempat masing-masing. Sebelum Faiha yang lebih dulu mengalihkan pandangan lantas berjalan ke tangga. Namun langkahnya kembali terhenti oleh suara laki-laki itu. "Ada yang ingin kubicarakan," ujar Radian. Faiha bisa saja mengabaikan pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Pergi dan mendekam di kamar. Namun dia merasa sangat kekanakan dengan bersifat seperti itu. Cukup dengan hari-hari kemarin dia mengurung diri dalam penyesalan tanpa akhir. Usianya yang sudah 29 tahun seharusnya bisa menjadikannya bersikap rasional. Jadi dia melangkah ke sofa di ruang keluarga dan duduk di sana. Radian mengikutinya dari belakang. Fai memilih duduk sejauh mungkin dan mengarahkan pandangannya ke mana saja asal tidak ke lelaki itu. "Bagaimana keadaanmu?" Pertanyaan pertama laki-laki itu membuatnya sontak menoleh. Fai tidak menduga jika pertanyaan itu yang pertama akan keluar dari Radian. Namun kemudian dia sadar jika yang ditanyakan keadaan janin di perutnya. "Baik," ujarnya singkat. Keduanya lantas kembali terdiam. Suasana canggung dan membingungkan melingkupi keduanya. "Untuk tempat tinggal..." "Aku akan tinggal di sini," potong Faiha. Dia tidak akan pindah kemanapun. Dia tidak mau tinggal berdua bersama lelaki itu atau tinggal bersama keluarga lelaki itu. Rad mengangguk sekilas. "Untuk sementara ini yang terbaik. Aku tidak bisa tinggal di sini. Mungkin dua minggu sekali aku akan ke sini," ujarnya. Fai bahkan ingin pria itu tidak lagi datang. Dia ingin pria itu datang hanya saat mengambil bayinya. Setelah itu jangan pernah muncul lagi di hadapannya. "Jangan ikut campur dengan kehidupanku dan aku juga tidak akan ikut campur dengan kehidupanmu," kata Fai. Rahang Radian mengeras mendengar penuturan dari wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu. Namun tidak ada yang bisa dilakukannya. "Penuhi janjimu untuk menjaga bayi itu." Tanpa sadar Faiha menoleh mendengar perkataan tersebut. Menatap pada iris yang menatap tajam padanya. Setelah merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Fai lantas berdiri. Melangkah pelan ke tangga. Namun sebelum kakinya menginjak anak tangga yang pertama dia kembali berbalik. "Satu lagi... kita tidak akan tidur satu kamar," ujarnya sebelum kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Rad yang masih duduk di sofa dengan pandangan tak lepas dari istrinya hingga wanita itu masuk ke kamarnya. Tubuh Faiha luruh selepas menutup pintu kamar. Dirinya bersandar di belakang pintu. Hatinya masih terasa sakit. Dia mencoba menjalani semuanya tapi kenapa rasanya begitu berat. Ingatannya kembali melayang pada apa yang dilakukannya semalam. Kali pertama dia kembali mengaktifkan ponsel setelah hampir berminggu-minggu dia matikan. Deratan chat masuk tidak ada yang dibacanya. Dari widget dia melihat teman-temannya memberondong pesan menanyakan kenapa dia keluar dari tempat kerjanya. Juga menanyakan perihal pertunangannya dengan Fandi yang batal. Tak ada satupun pertanyaan yang dibalasnya. Sampai kemudian tangannya bergulir ke aplikasi i********:. Merasakan remasan di dadanya saat melihat i********: Fandi nihil potret mereka berdua. Tak hanya itu, laki-laki yang bersamanya bertahun-tahun itu bahkan berhenti mengikutinya. Semudah itu hubungan mereka berakhir. Lalu dengan air mata dan rasa sakit hati yang dicoba ditahannya, Fai menghapus satu per satu potret kebersamaan mereka di Instagramnya. Tidak banyak karena dia bukan orang yang suka mengunggah foto ke sosial media. Ketika jarinya akan menekan unfollow, separuh hatinya melarang. Bagaimanapun juga Fandi adalah lelaki yang baik. Tak ada salah bagi laki-laki itu dalam berakhirnya hubungan mereka. Meski dia menyesalkan bagaimana sikap laki-laki itu dalam mengakhiri hubungan mereka dengan begitu mudahnya. Setetes air mata kembali mengalir di pipi Faiha. Kenapa semua ini terjadi pada dirinya? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD