7. Husband

1179 Words
Fai telah berganti pakaian dengan terusan putih selutut saat pintu kamarnya diketuk pelan. Cik Jeslin bersama dengan Wanda dan Radeka berdiri di balik pintu.  "Barang-barang kamu ditaruh di kamar aja ya," ujar Cik Jess. Fai yang masih bingung hanya mampu menyingkir dan membiarkan Wanda juga Radeka membawa barang-barang masuk dan meletakkan di sudut kamarnya. Barang-barang yang dimaksud Cik Jeslin adalah kotak-kotak seserahan untuknya. Mulai dari mukena, kain, sepatu, tas, alat make up hingga mahar yang diberikan laki-laki itu.  Dirinya tidak pernah meminta apapun. Dia juga ingat jelas saat Cik Jeslin menanyakan list seserahan yang diinginkannya, dengan jelas Fai menolak. Namun keluarga laki-laki itu tetap membawanya. Rasanya Fai ingin meletakkan semua barang itu di gudang dan menguncinya di sana. Tak ingin dilihatnya. Radeka membawa barang terakhir yang merupakan buket bunga mawar merah muda. Alih-alih meletakkannya bersama barang lain, laki-laki yang berkemeja mocca tersebut justru memberikan langsung pada Faiha. Fai tidak tahu kenapa laki-laki yang kini menjadi adik iparnya tersebut suka sekali memberinya bunga. Fai sendiri memang sangat menyukai bunga. Dia memiliki kebun bunga kecil di rumahnya di Jakarta. Tak ada satupun orang rumah yang boleh menyentuh bunga-bunganya. Dia menanam dan merawat bunga-bunga itu sendiri. Namun kini sudah berminggu-minggu ditinggalkannya.  "Terima kasih."  Perkataan itu memecah lamunan Faiha. "Karena Cik Fai mau memilih keputusan ini. Aku tahu ini tidak akan mudah. Tapi aku akan tetap mengatakan terima kasih," lanjut Radeka sembari mengulurkan bunga di depan Faiha. Faiha menatapnya ragu namun kemudian menerimanya. Laki-laki di depannya itu tidak memiliki salah apapun padanya. Sangat tidak adil ikut membencinya atas kelakukan kakak pria itu. "Fai emang suka bunga Ka, tapi dia jauh lebih suka bunga yang bisa ditanam dan hidup lama. Dibanding bunga yang dipetik dan hanya bisa bertahan beberapa hari," kata Jeslin yang memecah kekakuan keduanya. "Oh iya? oke lain kali aku bawakan bunga yang masih dalam pot," ujar Radeka sembari tersenyum. Lain kali? Apa ada lain kali yang mengharuskannya bertemu dengan keluarga pria itu? "Ya udah aku balik ya. Cik Fai jaga kesehatan," pamit Radeka. "Kamu ikut balik ke Jakarta?" Samar Fai masih mendengar kakaknya yang bertanya ke Radeka. Sementara di kamar itu tinggal berdua dengan Fai dan Wanda. "Cantik banget ibu Anneke, baru lihat sedekat ini pertama kali," komentar Wanda. Wanita itu lantas melepaskan heelsnya dan bertelanjang kaki. Berjongkok mengamati deretan seserahan dari Radian. Pintu kamar Fai kembali dibuka oleh Jeslin. Wanita yang hamil lima bulan tersebut mengulurkan map kertas padanya.  "Dari Radian," ujarnya yang membuat Fai bingung. Ketika dibuka map itu, dia menemukan buku tabungan juga kartu atm di dalamnya. Tertulis atas namanya. Fai bahkan tak sempat menghitung berapa nominal yang tertera di buku. Namun sekilas dia melihat jumlah itu sama sekali tidak sedikit. "Balikin," ujarnya kembali mengulurkan pada Jeslin. "Balikin sendiri ke orangnya kalau kamu mau. Lagian siapa tahu Rad ngasih itu bukan buat kamu, tapi buat keperluan anaknya," kata Jeslin. Wanita itu menolak mengambilnya dan berjalan ke seserahan Radian. Duduk di lantai di samping Wanda. "Waktu Rad minta list seserahan aku bilang kamu nggak mau. Jangan salahkan aku dengan apa yang laki-laki itu kasih," ujar Jeslin tanpa menoleh pada Fai. "Dia kerja apa Cik?" tanya Wanda pelan seolah-olah agar Faiha tidak mendengar. Namun Jeslin hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. "Menurutmu apa kalau dia ngasih seserahan yang kalau dijual bisa buat tinggal setahun di Jepang begini?" tanya Jeslin balik. Faiha hanya terdiam mengamati obrolan keduanya. Alih-alih tersinggung atau tidak nyaman, obrolan kedua wanita yang sudah hampir mengenal seluruh dirinya itu menjadikannya lebih baik. Daripada terus menerus meratapi nasib di kamar sendirian. "Pengusaha batu bara? atau bos airlines?" tebak asal Wanda.  Faiha hanya membuka satu kotak yang tadi ikut diberikan Radeka saat memberinya bunga.  "Aku membenci laki-laki itu dengan apa yang dilakukannya pada Fai. Tapi melihat ketulusan ibu dan adiknya menjadikanku terlihat sangat jahat jika bersikap kasar ke mereka. Keluarganya sangat baik," komentar Jeslin. Faiha menemukan botol kaca parfum dengan merek yang lagi-lagi tak murah. Terselip kertas kecil dengan tulisan tangan di bawahnya. Aku tidak tahu seberapa berat yang dijalani Cik Fai saat ini. Tapi jangan pernah berpikir Cik Fai tak lagi punya jalan. Aku percaya suatu saat jalan indah akan tiba. Aku selalu berdoa untuk itu. Terlepas dari apapun yang terjadi, aku sangat senang Cik Fai menjadi kakak iparku. Terima kasih, Radeka. Rasa hangat perlahan menyusup di d**a Fai. Dari semua rasa sakit yang dialaminya. Ada secuil rasa hangat yang menyelinap. "Rad bilang penerbangannya besok sore. Dia nggak tinggal disini. Udah lama dia tinggal di Lombok" jelas Jeslin. ... Radian sedang duduk di taman belakang rumah Farhan ketika yang punya rumah menghampiri. Lalu ikut duduk di kursi taman dengan membawa secangkir kopi. Rad menghembuskan asap rokoknya pelan. Udara malam di Bogor menyapa kulitnya. "Udah bicara dengan Fai?" Pertanyaan itu membuat Rad menoleh. Lalu mengangguk sekilas. "Dia bilang mau tinggal di sini," kata Radian. Farhan menatap jauh ke depan. Mengamati langit malam yang gulita. Ikut merasakan jalan tak mudah yang dilalui adiknya. Namun membenci pria di sebelahnya juga tak menyelesaikan masalah. "Biarin aja dia tinggal di sini dulu. Kamu kapan balik?" tanyanya. "Besok sore penerbangannya." Setelah itu keduanya terdiam. Farhan menghela nafas pelan sebelum menarik satu batang rokok dari kotak rokok Radian yang tergeletak di meja. Dia bukan perokok. Jeslin bakal mengomel panjang lebar jika tahu dia kembali merokok. Namun malam ini lagi-lagi pengecualian. ... Radian mengamati kosong pada cincin yang melingkar di jarinya. Cincin yang mengikat mereka berdua. Kini dirinya sedang berada di boarding room. Menunggu pesawatnya yang akan take off setengah jam lagi. Ingatannya kembali melayang saat dirinya berangkat dari Bogor tadi. "Makan dulu Rad," ajak ibu mertuanya saat dirinya keluar kamar sudah dengan ransel hijau tua. Tidak banyak barang yang dibawanya. Akhirnya dia ikut duduk di meja makan. Makan bersama dengan keluarga barunya, minus dengan wanita yang sudah menjadi istrinya. Fai memilih mendekam di kamar tak keluar. Terakhir kali dia melihat wanita itu kemarin setelah akad. Semenjak itu Fai mengurung dirinya di kamar. "Kamu mau ketemu Fai dulu? ke atas aja," ujar Jeslin ketika dirinya berpamitan. Bertemu wanita itu? Untuk apa? Tak ada yang bisa mereka bicarakan. Fai bahkan tak mau berbasa-basi hanya untuk sekedar ikut turun makan. Rad menggeleng pelan. Memilih melanjutkan langkahnya membuka gerbang. "Minta tolong jaga dia," ujarnya pada Jeslin. Jeslin lantas mengangguk pelan. "Om Radian kapan pulang?" Suara Brandon yang berdiri di samping ibunya membuat Rad menoleh. "2 minggu lagi, nanti kita main lagi ya," ujar Rad sembari mengusap pelan kepala keponakannya. Satu-satunya orang di rumah yang tak canggung dengan kehadirannya. Tak mengerti dengan situasi sulit yang terjadi. "2 minggu lama Ma?" tanyanya pada sang ibu. "Enggak, Brandon dua kali libur sekolah habis itu Om Rad pulang," jelas Jess. Rad tersenyum simpul sebelum kemudian beralih masuk ke mobil.  "Hati-hati Rad," pesan ibu mertuanya. "Iya Ma," ujarnya pelan. Merasa canggung saat harus memanggil dengan sebutan mama. Namun wanita paruh baya itu memaksanya memanggil begitu. Radian menyalami kedua mertuanya sebelum masuk mobil. "Hati-hati," kata Farhan saat mobilnya keluar pagar. Rad lantas mengangguk singkat. .... Rad kembali menatap cincin yang dibeli mamanya tersebut. 2 minggu bukan waktu yang lama. Namun dirinya bahkan sudah bingung bagaimana harus bersikap di depan wanita itu saat dia pulang nanti. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD