8. Page of Us

1307 Words
"Kenapa Fai?" Suara Cik Jeslin mengalihkan Fai yang sedari tadi mengamati meja di depan. Keduanya sedang makan di restoran Korea yang cukup ramai. Pandangan Jeslin lantas ikut mengikuti sang adik ipar. Seketika dia tahu apa yang menjadikan adik iparnya terlihat kaget. "Mau pindah?" tawar Cik Jeslin. Namun Faiha menggeleng pelan. Keduanya lantas berjalan melewati meja yang sedari tadi mengalihkan pikiran Faiha. Empat orang yang duduk di meja persegi itu tampak tidak bisa menyembunyikan kekagetannya, terlebih wanita paruh baya dengan blouse kuning gading yang duduk memangku sang cucu. Mama Fandi Tadinya Fai memikirkan apakah dirinya harus menyapa atau tidak. Dirinya sudah sangat mengenal keluarga Fandi. Bagaimanapun mereka pernah hampir menjadi keluarga. Paling tidak dirinya punya sopan santun untuk menyapa. Namun niatan itu seketika hilang ketika melihat tatapan kakak perempuan Fandi, Reina padanya. Lebih tepat pada perutnya. Wanita yang dulu begitu dekat dengannya itu menatap perutnya tajam. Lalu beralih menatapnya dengan tatapan jijik yang tidak bisa disembunyikan. Seketika tatapan tersebut seperti hujaman pada jantungnya. Mama Fandi bahkan tak mau menatapnya lebih lama dan langsung mengalihkan pandangan. Seolah mereka tidak saling kenal. Fai tidak pernah tahu akan sampai seperti ini dirinya di mata keluarga Fandi. Keluarga yang dulu begitu menyayanginya. Karena kesalahan yang bahkan dirinya juga menjadi korban. Lengannya ditarik perlahan Jeslin. "Lantai dua aja Fai," bisik Cik Jeslin di telinga Faiha. Hari ini Fai cuma keluar bareng Cik Jeslin karena kakak iparnya itu ngidam makan gopchang. Sementara Farhan menemani Brandon berenang. Rencananya nanti mereka akan menyusul makan. Keduanya belum selesai memesan makanan saat tiba-tiba Radeka datang. "Sorry telat ya," ujar laki-laki berkaus biru itu. "Nggak, kita juga baru datang," balas Jeslin. Faiha mengamati interaksi keduanya dengan kening berkerut. "Apa kabar Cik?" tanya Radeka sembari mengulas senyum. Faiha masih mengamati pria yang duduk di depannya beberapa saat. Sebelum kemudian menjawab. "Baik" "Dari Jakarta jam berapa Ka? Jadinya nginep di rumah teman kamu itu. Kan aku udah bilang nggak papa nginep di rumah," kata Jeslin. "Semalam jam 11 Cik. Lain kali deh aku nginep. Sore ini harus balik Jakarta lagi." Faiha menangkap keduanya memang sudah berkomunikasi lebih jauh dari apa yang diperkirakannya. Sejak kapan keduanya sudah begitu akrab? "Cik Fai nggak ada ngidam-ngidam gitu?" Radeka kembali membuka pembicaraan padanya. Setelah sejak tadi diam, Fai akhirnya ikut bersuara. "Enggak, masih males makan karena sering mual. Mungkin bulan-bulan depan baru ngidam." Ketiganya lantas mengobrol lebih ringan. Tentu saja didominasi oleh Jeslin dan Radeka. Sementara Fai hanya menyahut beberapa kali. Dirinya tidak tahu jika adik iparnya itu cukup mudah membaur. Tidak ada kecanggungan saat berbicara dengannya atau dengan Jeslin. Bahkan beberapa kali melempar candaan. Getaran ponsel di meja menghentikan obrolan mereka. Sekilas Fai melihat nama Radian di layar ponsel Radeka. "Ya Bang?" sapa Radeka. Laki-laki itu meletakkan sumpitnya dan meneguk air minum. "Enggak, udah beres. Kita udah hubungin langsung kliennya. Udah selesai sih," kata Radeka. Fai tidak tahu apa yang diobrolkan kakak adik itu. Tapi entah kenapa mengetahui pria yang berstatus sebagai suaminya mengobrol lewat panggilan menjadikan rasa asing kembali hadir di dadanya. Rasa asing yang dia tidak tahu apa namanya. Rasa asing yang terus-terusan hadir saat ada Rad di dekatnya atau bahkan jika nama laki-laki itu dipanggil. "Belum selesai renovnya, yang lantai dua baru besok mulai dikerjain. Kemarin fokus lantai bawah dulu biar bisa cepat dipakai. Iya... nggak ada yang terganggu sih. Kemarin aku nginep sepulang kerja, ngobrol sama anak-anak pada nggak ada masalah." Fai meneguk minumannya yang tinggal separuh. Rasa asing semakin memenuhi dadanya. Dirinya bahkan tidak bisa mendengar suara Rad. "Lagi di Bogor, ini lagi makan sama Cik Fai sama Cik Jess" Faiha menundukkan pandangannya saat tahu Radeka menatapnya. Radeka tampak diam mendengar apa yang abangnya sampaikan di ujung telepon. Sebelum kemudian laki-laki itu menutup panggilan. "Enggak nanti sore balik. Iya… oke" "Kamu deket sama Rad ya Ka?" Pertanyaan Cik Jeslin membuat Faiha menoleh. Tidakkah kakak iparnya itu terlalu masuk ke masalah pribadi. Sejak terakhir kali bertemu keluarga Rad - di pernikahan - Fai tidak berharap akan bertemu lagi. Dirinya tidak ingin masuk terlalu jauh pada kehidupan lelaki itu. Namun sepertinya Radeka tidak begitu. Lelaki itu tampak santai menjawab. "Kita cuma dua bersaudara, mama papa pada sibuk jarang di rumah. Jadi dari dulu yang ngurusin aku apa-apa justru bang Rad. Masalah-masalah sekolah atau kalau aku perlu apa-apa gitu justru bilangnya sama bang Rad," cerita Radeka. Terlihat bagaimana pria itu begitu dekat dengan kakaknya. "Rad udah lama tinggal di Lombok?" tanya Jeslin lagi. "Udah lama, sembilan tahunan kayaknya. Kadang aku ke sana. Setengah tahun sekali atau kadang kalau lagi nggak sibuk ya tiga bulan sekali, main aja sekalian liburan." "Kalian beda berapa tahun sih?" "Enam, nggak kelihatan ya. Aku udah 27 tahun ini," kata Radeka sembari tersenyum lebar. "Udah tua juga ternyata, kapan nikah?" Pertanyaan Jeslin sontak membuat Radeka tergelak tawa. "Cik Jeslin ada sepupu cewek nggak? kenalin dong," canda Radeka. Keduanya lantas terlibat obrolan panjang yang seolah nggak pernah habis. Faiha hanya mengamati sembari melanjutkan makan. Rasa canggung tadi ketika Radeka bergabung perlahan menghindar. Interaksi Radeka dan Jeslin seolah mereka udah lama kenal alih-alih baru beberapa kali ketemu. Dentingan pelan menunjukkan notifikasi chat masuk di ponselnya. Faiha hanya melihat di widget dan tidak membuka w******p. Gimana keadaanmu? Pertanyaan pendek tersebut membuat rasa asing di dadanya kembali lebih kuat. Pertanyaan tersebut mungkin dimaksudkan Rad merujuk pada janinnya. Satu menit Fai hanya menatap chat tersebut tanpa membuka dan membalasnya. Hingga satu chat dari pengirim yang sama kembali masuk. Makan yang bener, jaga kesehatan ... Apel merah di tangannya belum terkupas sempurna saat ada panggilan masuk. Kening Fai berkerut saat menyadari siapa yang menelponnya. Ibu Anneke Kenapa mertuanya menghubunginya? Faiha menjawab sapaan dengan ragu. "Lagi ngapain Fai? mama ganggu nggak?" tanya wanita di ujung sambungan. "Enggak Ma, ada apa Ma?" tanya Faiha pelan. Sapaan Mama terdengar canggung saat keluar dari mulutnya. Terdengar suara langkah di seberang sebelum mama mertuanya menjawab. "Gimana keadaan kamu? maaf ya mama belum bisa jenguk. Dedeknya baik-baik saja kan?" Suara lembut dan hangat dari pertanyaan tersebut menghangatkan d**a Faiha. Dia tidak tahu jika akan ada banyak orang yang begitu peduli dengan janinnya. Ketika sebagian yang lain menatap jijik dan mungkin menyesali kehadiran janin tersebut. "Kamu baik-baik aja kan Fai?" Sekilas ingatan saat bertemu mama Fandi tadi siang melintas di pikirannya. Faiha mungkin kehilangan calon keluarga - keluarga Fandi- yang kini terlihat jelas begitu benci padanya. Namun satu sisi lain tanpa sadar Fai juga mendapatkan keluarga baru - keluarga Rad-. "Baik Ma," jawab Faiha kemudian. "Syukurlah kalo gitu. Jaga kesehatan ya Fai, jangan capek-capek, makan yang bergizi juga," pesan ibu Rad. Faiha kembali mengiyakan. Jeslin lantas turun dari tangga dan ikut bergabung di meja dapur bersamanya. "Kamu ketemu Radeka? Anak itu bilang katanya mau ke Bogor sekalian nengokin kamu." "Iya Ma, tadi siang kita ketemu makan siang bareng." Faiha memindahkan ponselnya dari telinga kanan ke telinga kiri. Jeslin yang baru turun ke dapur bertanya siapa yang menghubunginya. Faiha lantas menjawab tanpa suara. "Mama pengin ke Bogor nengokin kamu. Mungkin bulan depan ya Fai, nanti bareng Radeka," ujar Ibu Anneke. "Nggak papa Ma, Mama pasti juga sibuk sama kerjaan." Fai merasa tidak enak kalau harus merepotkan ibu Anneke. Walaupun kini sudah menjadi ibu mertuanya, namun rasa segan itu jelas masih ada. Bermimpi saja Fai tidak pernah jika dokter sekaligus jajaran petinggi di rumah sakit tempat bekerjanya dulu itu kini menjadi eyang dari calon anaknya. "Fai, Mama belum bilang ya sama kamu. Apapun yang terjadi sama kamu dan Rad, mama seneng banget kamu jadi menantu mama." Selaput bening melapisi mata Faiha. Rasa hangat kembali memenuhi dadanya. Menghapuskan luka atas perlakuan keluarga Fandi padanya tadi siang. ... Faiha turun ke dapur mencari makanan yang bisa mengganjal perut. Kelaparan tengah malam sepertinya menjadi rutinitasnya akhir-akhir ini. Dilihatnya ada kotak roti di meja. Ketika dibuka ada Cannoncini yang menjadi salah satu roti kesukaannya. Mungkin milik Brandon. Faiha mengambil piring kecil dan menaruh beberapa potong. Setelah itu dirinya membuka kulas mencari buah. "Kamu ngapain?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD