Bab 11. Menyita Semua Pasilitas

1070 Words
Damar memejamkan mata, rasa panas seketika menjalar di permukaan kulit wajah diiringi dengan rasa nyeri di ujung bibirnya. Ini adalah tamparan kedua yang ia terima dari sang ayah dan penyebabnya masih sama yaitu, gara-gara wanita bernama Gwen. Damar kembali membuka kedua mata seraya menyeka ujung bibirnya yang mengeluarkan darah segar. "Maaf, Ibuku cuma satu. Cuma satu! Paham?" bentaknya lalu berbalik dan hendak melangkah. "Kalau kamu seperti ini terus, Daddy akan ambil semua pasilitas yang udah Daddy kasih sama kamu, Damar. Balikin semuanya sama Daddy sekarang juga, Daddy gak butuh anak durhaka seperti kamu!" sahut Kenzo, kesabarannya benar-benar habis terkikis. Damar harus diberi pelajaran, jika kekerasan tidak membuatnya sadar, maka ia akan benar-benar menyita semua pasilitas yang selama ini digunakan oleh anak semata wayangnya itu. Damar harus merasakan bagaimana menderitanya hidup tanpa harya pemberian sang ayah. "Kenapa kamu diem aja, Damar? Kamu udah berani ngelawan Daddy, itu artinya kamu udah siap hidup tanpa bantuan Daddy." Damar yang sudah terlanjur sakit hati dengan perlakukan ayahnya, segera mengeluarkan kunci mobil, dompet berisi uang dan kartu ATM miliknya lalu meletakan di telapak tangan Kenzo. "Ini, aku balikin semua pemberian Anda, Pak Kenzo. Aku bisa hidup tanpa Anda," ketus Damar lalu berbalik dan hendak melangkah. "Tunggu, Damar," seru Kenzo. Damar mendengus kesal lalu kembali memutar badan. "Apa lagi? Apa Anda mau aku melepaskan pakaianku juga, hah?" "Hp sama jam tangan kamu ketinggalan," ucap Kenzo seraya menatap arloji juga ponsel canggih yang masih digenggam oleh anak itu. Damar mendengus kesal, lalu membuka arloji yang ia pakai dan memberikannya kepada Kenzo begitu pun dengan ponsel canggih keluaran brand ternama yang menjadi benda kesayangannya. Apakah ia sanggup hidup tanpa ponsel di mana benda pipih itu adalah satu-satunya benda yang mampu mengobati kesepiannya selama ini? Tatapan mata Damar tertuju kepada ponsel itu seolah berat untuk melepaskan benda tersebut. Kenzo tersenyum puas seraya menggenggam benda-benda berharga milik sang putra. "Silahkan pergi dari sini, Damar. Kalau kamu mau ini semua balik lagi, kamu harus ikut aturan Daddy, tinggal di rumah Daddy dan nurut sama Daddy. Paham?" Damar tersenyum angkuh lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan bersama ego yang memenuhi jiwanya. Meskipun ia tidak tahu harus pergi ke mana, tapi dirinya yakin mampu hidup tanpa harta pemberian sang ayah. Rasa bencinya kepada Kenzo telah membutakan mata hati seorang Damar. Kenzo memandang kepergian putranya dengan mata berkaca-kaca. "Maafin Daddy, Nak. Daddy terpaksa keras sama kamu. Kamu udah lari terlalu jauh meninggalkan Daddy dan Daddy ingin kamu kembali menghampiri Daddy dan sadar bahwa seorang anak gak akan bisa hidup tanpa orang tuanya," batin Kenzo, berharap putranya akan sadar bahwa hanya ia satu-satunya orang tua yang dimilikinya saat ini. *** Tengah malam tepatnya pukul 22.30, Gwen berjalan di trotoar dengan perasaan galau, stelan hitam putih pun masih membalut tubuh wanita itu. Setelah memutuskan untuk resign dari Lumina Resort dan menjauhi Kenzo, perasaannya benar-benar dilanda dilema yang mendalam. Ia hanya seorang pengangguran, sementara masih ada dua adik yang harus ia sekolahkan di kampung. Jika sudah seperti ini, apa yang akan ia lakukan sekarang? Sementara tidak mudah mencari pekerjaan di kota Jakarta. Gwen mendengus kesal seraya menenteng tas miliknya. "Akh, sial! Kenapa gue pake resign segala sih? Ya Tuhan, ke mana lagi gue harus cari kerjaan? Seharusnya gak gue balikin semua tu duit," umpatnya seraya menendang kerikil yang berada di atas trotoar. Sialnya, kerikil yang ia tendang mengenai seorang remaja berseragam SMA yang tengah duduk di tepian jalan. Anak tersebut sontak berdiri tegak dengan perasaan kesal lalu menatap sekeliling membuat Gwen gelagapan. "Astaga, hari apes emang gak ada di kalender. Kenapa tu batu kena orang segala sih?" decak Gwen segera berbalik dan hendak berlari. "Woy, tunggu!" pinta orang tersebut melangkah menghampiri Gwen dengan tergesa-gesa. "Lo yang lempar gue pake batu, ya? Dasar sialan!" Gwen menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang terdengar tidak asing di telinganya. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan mencoba untuk mengingat, sementara langkah orang tersebut semakin terdengar mendekat. "Damar?" gumam Gwen tanpa sadar sebelum akhirnya memutar badan. "Ya elah, beneran dia," decak Gwen dengan mata terpejam. Damar mengerutkan kening seraya menunjuk wajah Gwen menggunakan jari telunjuknya sendiri. "Elo!" bentaknya dengan mata membulat. "Jadi lo yang lempar batu itu, hah? Lo sengaja, ya?" Gwen tersenyum sinis. "Sorry gue gak sengaja," jawabnya singkat lalu berbalik dan hendak melangkah. Damar meraih pergelangan tangan Gwen, tapi ia segera melepaskannya karena tidak ingin mendapatkan bogem mentah seperti waktu itu. "Apaan si, anak dakjal?" decak Gwen, beruntung Damar segera melepaskan tangannya, jika tidak ia akan benar-benar membanting tubuhnya untuk yang kedua kalinya. "Jangan panggil gue anak dakjal!" pinta Damar dengan kesal. "Kenapa? Emang lo anak dakjal ko. Lo itu bukan hanya kurang ajar, tapi juga tak punya tata krama!" "Lo mau gue sebarin video lo sama bokap gue, hah?" Gwen tersenyum menyeringai. "Sebarin aja, gue gak takut. Orang-orang gak tau siapa gue dan gak akan peduli, sementara bokap lo, pemilik Lumina Resort yang terkenal itu bakalan jadi bulan-bulanan media sosial, bahkan hotel bokap lo bisa aja bangkrut gara-gara lo." Damar memalingkan wajahnya ke arah lain dengan perasaan kesal. Gwen memandang tubuh Damar dari ujung kaki hingga ujung rambut. Anak itu masih mengenakan seragam sekolah di tengah malam, bahkan penampilannya terlihat berantakan. Padahal, Damar selalu terlihat rapi dengan penampilannya yang bad boy. "Ngomong-ngomong, lagi ngapain lo malem-malem di sini? Emangnya lo gak balik ke hotel? Atau jangan-jangan lo diusir sama bokap lo, ya?" tanya Gwen seraya tersenyum lebar. "Diem lo, semua ini gara-gara lo, Gwen," jawab Damar dengan sinis. "Terus, lo mau bales dendam? Mau duel sama gue, hah?" tanya Gwen seraya memasang kuda-kuda. Damar tersenyum menyeringai. "Gue udah gak punya tenaga buat berduel sama lo, Gwen. Gak ada kerjaan banget sih?" Mata Gwen membulat seraya tertawa nyaring juga berdiri tegak. "Hah? Hahahaha! Anak dakjal kayak lo udah gak punya tenaga? Hmm! Jadi lo beneran di usir sama bokap lo, ya?" ejek Gwen membuat Damar semakin merasa kesal. "Bagus deh. Anak kayak lo emang pantas digituin biar lo mikir, lo gak bakalan bisa hidup tanpa bokap lo. Meskipun lo benci sama dia, tapi dia tetap bokap lo. Sebejat-bejatnya bokap lo, dia tetap orang yang ngejamin hidup lo. Sekarang liat, lo gak bisa apa-apa 'kan tanpa bokap lo yang kaya raya itu. Mampus!" Damar mendelik kesal. "Udah ceramahnya?" Gwen hanya mengangkat kedua bahunya lalu berbalik dan hendak melangkah. "Tunggu, woy!" pinta Damar membuat Gwen sontak menahan langkahnya lalu kembali memutar badan. "Apa lagi, anak dakjal?" tanya Gwen dengan wajah datar. "Pinjemin gue duit, gue laper!" "Hah?" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD