Kenzo meraih pergelangan tangan Gwen menahan kepergiannya. "Tunggu, Gwen. Kita bicarakan masalah ini baik-baik, ya," ucapnya.
Gwen menepis kasar telapak tangan Kenzo. "Gak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Bapak Kenzo yang terhormat. Aku akan mengundurkan diri dari hotel. Aku mohon jangan pernah hubungi aku lagi," ucap Gwen tegas dan penuh penekanan.
"Saya mohon jangan pergi!"
Gwen tersenyum menyeringai. "Kenapa aku gak boleh pergi? Masih banyak wanita lain yang bisa memuaskan Anda dan memberi Anda kehangatan, Pak Kenzo. Aku yakin, dengan uang yang Anda punya, wanita-wanita di luaran sana gak akan ada yang nolak buat tidur sama Anda."
Gwen hendak melangkah.
"Gweeen!" rengek Kenzo, entah mengapa ia merasa tidak rela Gwen meninggalkannya begitu saja. "Saya mohon jangan pergi, Gwen. Saya menahan kamu bukan karena saya--"
"Cukup!" bentak Gwen dengan mata membulat dan berair. "Aku mohon cukup, Pak Ken. Jangan bikin aku salah paham, aku gak mau berharap lebih sama Anda. Aku dan Anda gak lebih dari sekedar partner ranjang. Silahkan Anda cari wanita lain yang akan memuaskan Anda bahkan lebih hot dari aku. Kesalahan terbesar aku adalah menerima tawaran Anda!"
Gwen melanjutkan langkahnya dengan wajah berderai air mata. Dadanya terasa sesak, bukan hanya Kenzo saja yang berat mengakhiri hubungan ini, ia pun merasakan hal yang sama sebenarnya. Bukan karena uang yang diberikan olehnya, tapi juga setitik perhatian dan kebersamaan singkat mereka membekas di hati wanita berusia 24 tahun itu. Ya, meskipun ia melihat masa depannya yang suram, di mana ia hanya wanita kotor dan tidak mungkin ada laki-laki yang bersedia menerima apa adanya.
"Anda adalah kesalahan terbesar aku, Om. Seharusnya aku menolak jadi penghangat ranjang Anda," batin Gwen melangkah meninggalkan ruangan seraya menyeka kedua matanya yang membajir.
Sementara Kenzo terduduk lemas di atas sofa. Hatinya terasa sakit, jantungnya seakan berhenti berdetak, separuh jiwanya seolah hilang bersama Gwen yang baru saja meninggalkan bahkan mengembalikan uang yang sudah ia berikan. Kenzo terdiam mencoba memahami perasaan sendiri, wanita itu tidak lebih dari sekedar pelampiasan nafsunya semata, selama ini ia tidak pernah melibatkan perasaanya. Gwen bukan satu-satunya wanita yang pernah menjadi penghangat ranjangnya, tapi mengapa rasanya sakit ketika wanita itu memutuskan untuk pergi begitu saja? Kenzo memegangi d**a sebelah kirinya yang terasa sesak.
"Tenang, Ken. Masih banyak wanita lain yang lebih hot dari si Gwen. Kau punya segalanya, kau bisa membeli selusin wanita kayak dia," gumamnya kepada diri sendiri. "Semua ini gara-gara si Damar, sudah cukup saya diam. Saya harus beri dia pelajaran."
Kenzo seketika bangkit lalu melangkah ke arah pintu dan keluar dari dalam ruangan. Erik yang sedari tadi hanya menunggu di luar segera berdiri tegak saat melihat atasannya keluar.
Kenzo melangkah melintasi Erik seraya berucap, "Panggilin security, Erik. Suruh mereka ke kamar 129," pintanya dengan tegas.
"Baik, Pak," jawab Erik, patuh seraya merogoh saku jas hitam yang ia kenakan lalu meraih ponsel canggih miliknya dan segera menghubungi security yang bertugas di hotel.
***
Siang hari tepatnya pukul 13.30, Damar berjalan di koridor menuju kamar 129 Lumina Resort tempat di mana ia menginap selama ini. Karena dirinya putra dari pemilik hotel, maka ia bebas keluar masuk hotel tersebut tanpa memikirkan biaya permalamnya. Dengan mengenakan seragam putih abu lengkap dengan tas sekolah yang melingkar di bahu sebelah kirinya, Damar membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam sana.
Damar terdiam menatap sekeliling kamar yang terlihat rapi seperti baru ditinggalkan oleh pemiliknya. Barang-barang bahkan pakaian miliknya pun sudah tidak berada lagi di sana. Damar mendengus kesal dengan mata terpejam.
"Dasar b******k," umpatnya tersenyum menyeringai. "Jadi si p*****r itu beneran ngadu sama Daddy dan sekarang Daddy ngusir gue dari hotel ini? Hahahaha! Hebat banget ya si Gwen!"
Damar kembali menutup pintu lalu berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan Presiden Direktur di mana sang ayah berada dengan rahang mengeras kesal juga tangan mengepal. Ia tidak terima dirinya diusir dari sana hanya karena wanita bernama Gwen, ia bahkan tidak tahu di mana barang-barang pribadinya berada sekarang.
Damar membuka pintu ruangan tanpa mengetuknya terlebih dahulu sesaat setelah ia tiba di ruangan sang ayah. Kenzo yang tengah memeriksa berkas penting sontak menoleh dan menatap ke arah pintu. Pria itu menghela napas panjang lalu menyandarkan punggung berikut kepalanya di sandaran kursi.
"Kalau masuk ke ruangan orang itu ketuk pintu dulu dong, dasar gak sopan," decaknya, menatap wajah Damar seraya tersenyum simpul.
Damar berdiri tepat di depan meja, balas menatap wajah sang ayah dengan tatapan tajam. "Anda bawa ke mana barang-barangku di kamar, hah?" tanyanya dengan mata membulat. "Apa Anda mengusir aku, putra Anda sendiri dari hotel ini?"
Kenzo berdiri tegak seraya menghela napas panjang. "Putraku? Apa Daddy gak salah dengar?" ucapnya dengan santai. "Kalau kamu memang putra Daddy, coba panggil saya Daddy, sekali aja!"
Damar memalingkan wajahnya ke arah lain dengan wajah sinis. "Apa semua ini gara-gara si Gwen?"
"Gwen? Umur dia itu lebih tua dari kamu, Damar! Jadi, seperti ini Ibumu mendidik mu selama ini, hah?" bentak Kenzo. "Kamu bukan hanya tidak sopan, tapi sudah berani bersikap kurang ajar sama orang yang lebih tua dari kamu!"
"Anda sendiri yang ngajarin aku kayak gini. Anda yang--"
"Cukup!" bentak Kenzo dengan mata membulat, berdiri tepat di depan Damar. "Sekarang, kamu tanggung jawab Daddy, jadi kamu harus ikut aturan Daddy. Paham?"
Damar bergeming tanpa menimpali ucapan sang ayah.
"Sekarang pulanglah ke rumah Daddy, Daddy udah siapin kamar buat kamu."
"Kalau aku menolak, Anda mau apa? Mau memaksaku? Menyeret aku ke rumah Anda, begitu?"
Kenzo tersenyum menyeringai seraya menengadahkan telapak tangannya tepat di depan Damar. "Kalau kamu menolak, kamu harus balikin semua pasilitas yang udah Daddy berikan sama kamu, kunci mobil, ATM, dompet bahkan hp kamu, berikan semuanya sama Daddy."
Damar bergeming seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Mana mungkin ia bisa hidup tanpa pasilitas yang berikan oleh sang ayah? Sementara ibunya sendiri sudah berangkat ke Australia menetap bersama suami barunya di sana.
"Kenapa kamu diem aja, Damar? Emangnya kamu bisa hidup tanpa Daddy, hah? Tanpa duit Daddy, tanpa mobil yang Daddy berikan dan semuanya, hah?"
Damar masih bergeming seraya menggenggam erat ponsel canggih miliknya.
"Sekarang pulanglah, jangan berani melawan Daddy kalau kamu gak mau jadi gelandangan, paham?"
Damar mendengus kesal lalu berbalik dan melangkah ke arah pintu.
"Tunggu, Damar," pinta Kenzo membuat Damar sontak menghentikan langkahnya.
"Apa lagi, Bapak Kenzo yang terhormat?" tanya Damar dengan sinis.
"Minta maaflah sama Gwen, kamu udah membuat dia kehilangan pekerjaannya."
Damar tersenyum menyeringai. "Pekerjaan yang mana? Perkejaan sebagai pelayan hotel, atau sebagai pemuas nafsu Anda?"
"Anak kurang ajar!" Kenzo melangkah mendekat lalu melayangkan telapak tangannya ke udara kemudian mendarat di wajah Damar keras dan bertenaga. "Dia itu calon ibu tiri kamu, Damar. Hati-hati kamu kalau ngomong!" bentaknya penuh emosi.
Bersambung ....