Bab 9. Kebohongan

1170 Words
Gwen segera kembali ke ruangan staff setelah melayani Kenzo sebentar. Ya, permainan mereka hanya sebentar karena keduanya melakukannya bukan di kamar pribadi Kenzo sendiri. Wanita itu melangkah dengan tergesa-gesa karena harus melanjutkan perkejaannya sebagai pelayan hotel. Namun, langkahnya seketika terhenti saat ponselnya bergetar. Gwen meraih lalu membaca pesan notifikasi yang baru saja masuk. "Waah, ini gak salah? Om Kenzo transfer uang 100juta, lagi?" decaknya dengan mata membulat. "Duit yang kemarin aja belum habis lho." Gwen seketika terkejut saat seseorang tiba-tiba merebut ponselnya dari belakang. "Waaah! Tarif lo lumayan gede juga, 100juta sekali genjot!" Gwen sontak memutar badan dengan kesal lalu menatap tajam wajah Damar. "b******k!" umpatnya menghela napas kasar. "Balikin hp gue, anak dakjal!" Gwen berusaha untuk merebut ponsel miliknya, tapi Damar mengangkat pergelangan tangannya ke atas hingga ponsel itu tak mampu diraih oleh Gwen. "Coba ambil kalau bisa, p*****r!" pinta Damar, tersenyum menyeringai. "Balikin hp gue, b******k!" pinta Gwen masih berusaha meraih ponsel miliknya. "Apa lo pengen gue laporin sama Bos gue, hah?" "Laporin aja kalau berani," tanya Damar lalu melemparkan ponsel tersebut hingga mendarat di telapak tangan Gwen. "Tunggu, gue punya hadiah buat lo." Gwen menggenggam ponsel canggih miliknya seraya menatap tajam wajah Damar penuh rasa dendam. Anak itu tiba-tiba memperlihatkan ponsel canggihnya miliknya, di mana videonya bersama Kenzo terlihat jelas lengkap dengan suaranya yang terdengar menjijikan bagi siapapun yang mendengarkan. Gwen memejamkan matanya sejenak dengan d**a naik turun lalu kembali memandang wajah Damar. "Gue minta lo hapus video itu sekarang juga, anak dakjal!" pintanya tegas, tapi dengan nada suara yang sedikit ditahan. Damar kembali memasukan ponsel miliknya ke dalam saku celana abu yang ia kenakan seraya tersenyum menyeringai. "Apa lo tau siapa pemilik hotel ini, hah?" tanyanya dengan suara lantang. Gwen terdiam dengan perasaan bingung. "Dia bokap gue, Gwen. Orang yang baru ngegenjot lo itu bokap gue!" Jantung Gwen seakan berhenti berdetak. Matanya membulat merasa terkejut, Gwen memundurkan langkahnya seraya menggelengkan kepala, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Damar. "Nggak, lo gak mungkin anaknya Pak Kenzo," ucap Gwen lemah dan bergetar. "Maksud lo, lo Damar?" Damar tersenyum sinis. "Jadi, Om Kenzo lo itu udah ceritain gue sama lo, hah? Ngomong apa aja dia sama lo?" Gwen terdiam, matanya memerah dan berair. Jadi, Kenzo memintanya untuk menjadi ibu sambung anak itu? Anak yang ia panggil dengan sebutan anak dakjal bahkan di depan Kenzo sendiri, ayahnya? Gwen menyeka buliran bening yang tiba-tiba berjatuhan dari pelupuk matanya. "Apa bokap gue tau, lo manggil gue anak dakjal?" Gwen masih terdiam terlalu syok, otaknya seakan membeku tak mampu berfikir. Pikirannya seolah tak dapat mencerna situasi yang tengah ia hadapi saat ini. Anak yang ia benci ternyata putra dari Kenzo, atasannya bahkan orang yang telah ia layani selama ini. Gwen terlalu syok membuat tubuhnya membeku begitupun dengan lidahnya yang terasa kelu tidak mampu berkata apalagi bergerak. "Kenapa lo diem aja, Gwen? Apa lo pikir, lo bakalan jadi Nyonya Kenzo dan jadi Ibu tiri gue, hah?" bentak Damar dengan mata membulat. "Jangan mimpi, Gwen. Jangan mimpi! Lo gak lebih dari sekedar pelacvr murahan yang jadi pelampiasan nafsu bejad bokap gue!" Dada Gwen bergemuruh hebat, rasa sesak terasa menghimpit dadanya. Air mata mengalir deras, ia bukan hanya syok, tapi begitu terpukul. Damar bukan hanya tidak memiliki tata krama, tapi sifatnya mendekati durhaka, menurutnya. Bagaimana mungkin ia menjadi ibu sambung dari anak sekasar dan sekurang ajar Damar? Gwen seketika berbalik lalu berlari meninggalkan Damar dengan perasaan hancur. Dirinya merasa ditelanjangi, aibnya seakan dikuliti dan harga dirinya di injak-injak. "Anda keterlaluan, Om Ken. Kenapa Anda gak bilang kalau anak Anda itu si anak dakjal, kenapa Anda diem aja, Om?" batin Gwen. Ia berlari menuju ruangan Kenzo dan segera membuka pintu ruangan tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Sayangnya, Kenzo tidak berada di ruangannya membuat Gwen terpaksa kembali menutup pintu dengan perasaan campur aduk. Gwen berdiri tepat di depan pintu, air matanya kembali bergulir deras. Erik, asisten pribadi Kenzo berjalan dari arah samping, menatap wajah Gwen dengan kening dikerutkan. "Kamu lagi ngapain di sini?" tanyanya. Gwen menyeka kedua matanya lalu menoleh dan menatap wajah Erik. "Maaf, Pak. Aku mau ketemu sama Pak Kenzo, tapi dia gak ada di ruangannya. Dia di mana, ya?" tanyanya mencoba untuk bersikap biasa saja. Erik menghela napas panjang menatap bola mata Gwen yang memerah, buliran air mata bahkan masih tersisa di sudut matanya. "Ada perlu apa karyawan kayak kamu mau ketemu sama Pak Kenzo?" Gwen tersenyum hambar seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Ya, ia hanya karyawan biasa. Rasanya sedikit ganjil jika ia bertemu secara pribadi dengan pemilik hotel. "Sial, kenapa gak aku telpon aja Om Kenzo? Kenapa harus jauh-jauh dateng ke ruangannya sih?" batin Gwen dengan mata terpejam. "Maaf, Pak. Saya permisi," pamit Gwen lalu melangkah hendak meninggalkan tempat itu. "Tunggu," pinta Erik, membuat Gwen sontak menahan langkahnya lalu kembali memutar badan. "Tunggu di ruangan Pak Kenzo, saya tau kamu karyawan spesial di sini. Biar saya telpon dia aja," pintanya. Gwen mengangguk dengan wajah murung lalu kembali melangkah mendekati pintu. Erik bahkan membukakan pintu untuk Gwen seraya tersenyum ramah. "Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan," ucap Gwen seraya melangkah memasuki ruangan. "Kamu tunggu di sini," pinta Erik dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Gwen. Erik kembali menutup pintu, sedangkan Gwen menatap sekeliling ruangan luas di mana kursi Presiden Direktur bertengger tepat di depan jendela. Sofa berwarna hitam nampak berada di tengah-tengah ruangan. Aroma khas tercium begitu menyegarkan, hawa dingin yang berasal dari AC terasa membasuh permukaan kulit. Gwen mengusap tengkuknya sendiri seraya melangkah menuju sofa dan hendak duduk, tapi suara pintu yang dibuka menghentikan gerakan tubuhnya dan secara refleks menoleh dan menatap ke arah pintu. "Gwen, ada apa kamu nyari saya ke sini? Bukannya kita baru aja ketemu, ya?" tanya Kenzo melangkah memasuki ruangan dengan senyuman. Mata Gwen kembali berair. Melihat wajah Kenzo membuatnya teringat kepada Damar dan apa yang anak itu ucapkan. Setiap kalimat yang ia dengar darinya, sangat-sangat menyakitkan. Kenzo memandang wajah Gwen lekat dengan kening yang dikerutkan. Telapak tangannya perlahan mulai bergerak naik, mengusap kedua sisi wajah Gwen yang mulai membanjir. "Hey, kamu kenapa? Ko nangis kayak gini?" tanya Kenzo dengan heran. Gwen menurunkan telapak tangan Kenzo dengan kasar. "Kenapa Om gak bilang kalau anak Om itu si anak dakjal?" tanya Gwen. Namun, wanita itu segera meralat ucapannya. "Maksud aku, kenapa Om gak bilang kalau anak Om itu si Damar?" "Memangnya kenapa? Apa dia nyakiti kamu lagi? Dia bersikap kurang ajar lagi sama kamu?" Bukannya menjawab pertanyaan Kenzo, yang dilakukan oleh Gwen adalah meraih ponsel canggih miliknya dari saku kemeja yang ia kenakan lalu menatap layarnya lekat. Dadanya terlihat naik turun karena isakan. Tidak lama kemudian, ponsel Kenzo pun berdering. Pria itu meraih ponsel dari saku jas hitam yang ia kenakan lalu menatap layarnya. "Ini apa, Gwen?" tanya Kenzo membaca pesan notifikas, di mana uang sejumlah 185juta baru saja mendarat di rekeningnya. "Aku kembaliin uang yang udah Om kasih sama aku. Sisanya akan aku balikin dalam waktu satu Minggu. Mulai hari ini, aku mengundurkan diri sebagai penghangat ranjang Anda, dan karyawan di hotel ini. Jangan pernah hubungi aku lagi, Om Kenzo," tegas Gwen lalu melangkah menuju pintu. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD