Bab 8. Ibu Sambung

1024 Words
Gwen seketika terkejut. "Hah? Ma-maksud Om apa?" tanyanya dengan bingung. "Saya meminta kamu jadi Ibu sambung buat anak saya, Gwen. Kamu gak mau?" Kenzo mengulangi pertanyaannya. Gwen menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal. "Menjadi Ibu sambung buat anak Om? Tunggu, aku gak ngerti! Maksud Om, aku nikah sama Om, gitu?" "Ya begitulah kira-kira," jawab Kenzo dengan santai. Gwen tiba-tiba tertawa nyaring, permintaan Kenzo bukan hanya tidak masuk akal, tapi juga terdengar sangat-sangat lucu. Pernikahan bukanlah sesuatu yang dilakukan karena kita ingin, membina rumah tangga rumah pun tidak dapat dijalani tanpa dilandasi dua hal yaitu, cinta dan ketulusan. Mana mungkin Kenzo memintanya menjadi ibu sambung untuk putranya dan menikahinya sementara mereka tidak memiliki kedua hal itu. Baginya, Kenzo tidak lebih dari atasan dan partnernya di atas ranjang. "Kenapa malah ketawa sih? Emangnya saya lucu apa?" decak Kenzo dengan kesal. "Ya luculah, masa Om tiba-tiba memintaku jadi Ibu sambung anak Om dan aku harus menikah sama Om, gitu? Astaga, mimpi apa aku semalem," decak Gwen seraya tertawa nyaring. "Gak lucu sama sekali, Gwen, dan saya serius." Kenzo berusaha meyakinkan. "Cuma kamu yang bisa naklukin anak saya. Namanya Damar, umur dia 17 tahun dan saya sama dia gak deket. Dia selalu membantah dan melawan saya." "Jadi maksud Om, aku jadi baby sister buat anak umur 17 tahun? Lebih lucu lagi, astaga! Hahahaha!" Gwen kembali tertawa nyaring. Kenzo menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan dengan mata terpejam. Bagaimana caranya agar Gwen bersedia menjadi ibu sambung Damar karena hanya wanita itu yang dapat meluluhkan hati putranya yang sekeras batu? Ia tidak peduli meskipun harus menikahi Gwen karena baginya, ikatan pernikahan tidak lebih dari status yang tiada artinya. "Gweeen!" lirih Kenzo. "Nggak, aku gak mau," tolak Gwen dengan tegas. Kenzo mendengus kesal. "Ya udah, kalau kamu gak mau, kamu saya pecat dan harus mengembalikan uang yang udah saya kasih sama kamu!" ancamnya. "Ya nggak bisa dong, uang itu 'kan udah Om kasih ke aku, masa diminta lagi. Gimana sih?" jawab Gwen dengan kesal. Kenzo tiba-tiba meraih telapak tangan Gwen lalu menggenggam jemarinya erat juga memandang wajahnya lekat. Gwen terdiam, balas menatap wajah Kenzo dengan wajah datar. "Saya mohon, Gwen. Tolong terima tawaran saya, cuma kamu yang pantas menjadi Ibu sambungnya Damar," lemah Kenzo memohon dengan sangat. "Dari mana Om tau kalau aku pantas menjadi Ibu sambungnya dia? Umur aku baru 24 tahun, Om. Akan belum siap menikah apalagi jadi Ibu sambung buat anak yang usianya cuma beda beberapa tahun dari aku," tolak Gwen. "Kamu pasti bisa, Gwen. Saya yakin kamu bisa," bujuk Kenzo. Gwen melepaskan genggaman tangan Kenzo. "Om Ken, pernikahan itu ikatan yang sakral. Aku hanya ingin menikah sama laki-laki yang tulus mencintai aku dan mau menerimaku apa adanya." "Emangnya ada laki-laki yang akan nerima kamu? Kamu, 'kan--" Kenzo menahan ucapannya dengan mata terpejam. Ia sadar bahwa ucapannya sudah menyinggung perasaan Gwen. Gwen tersenyum hambar. "Iya, aku sadar kalau aku cuma wanita kotor. Aku bahkan menjual tubuhku sama Om," ucapnya seraya memalingkan wajahnya ke arah lain, apa yang Kenzo ucapkan sudah melukai hatinya. "Kalau gak ada lagi yang mau Om bicarakan, lebih baik Om pulang. Maaf, bukan maksud aku ngusir Om dari sini, tapi--" "Maafin saya kalau ucapan saya menyakiti kamu, Gwen. Saya gak bermaksud, sungguh!" lemah Kenzo dengan menyesal. "Kenapa Om harus minta maaf segala? Yang Om bilang tadi bener ko. Gak akan ada laki-laki yang mau nerima wanita kotor kayak aku. Jadi, aku akan melajang seumur hidupku, paham?" Kenzo terdiam memandang lekat wajah Gwen yang terlihat sedih. Anehnya, ia merasa terusik dengan kesedihan yang diperlihatkan oleh Gwen. Ia menyesalkan, mengapa dirinya harus mengatakan hal yang menyakiti hati wanita itu? "Baiklah, saya pulang sekarang, Gwen. Sekali lagi saya minta maaf kalau ucapan saya menyakiti perasaan kamu," ucap Kenzo seraya berdiri tegak lalu melangkah meninggalkan kontrakan. Gwen mengusap wajahnya kasar. Andai saja Kenzo melamarnya dengan layak, memintanya menjadi istrinya bukan memintanya menjadi ibu sambung putranya, mungkin dirinya akan meninjau permintaan itu. Andai saja Kenzo tidak mengatakan hal yang melukai perasaannya, mungkin ia tidak akan menganggap serius permintaan yang tidak masuk akal itu. "Andai aja Om meminta aku jadi istri Om, mungkin aku akan terima permintaan Om. Siapa sih yang bakalan nolak cowok sempurna kayak dia, tapi Om minta aku jadi Ibu sambungnya anak Om? Kenapa Om gak nikahin aja aku sama anak Om itu? Dasar!" decak Gwen dengan kesal. *** Keesokan harinya, pukul 10.00, Gwen tengah merapihkan kamar yang baru saja ditinggalkan oleh tamu. Wanita itu mengganti sprei juga selimut berwarna putih yang membalut ranjang berukuran besar. Gwen seketika dibuat terkejut saat seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Matanya membulat, sontak menyikut perut orang tersebut keras lalu mengurai jarak. "Argh!" ringis orang tersebut seraya memegangi perutnya. Gwen memutar badan, matanya kembali membulat terkejut. "Pak Ken?" serunya lalu mengusap perut Kenzo dengan menyesal. "Astaga, maafin saya, Pak. Saya pikir bukan Anda." "Sakit, Gwen. Sakit banget, saya tau kamu masih marah sama saya, tapi gak perlu sampe kayak gini," ucap Kenzo, seraya meringis kesakitan. "Sekali lagi aku minta maaf, Pak Ken. Aku beneran gak tau kalau yang meluk aku itu Anda. Aku pikir si anak dakjal itu yang kurang ajar," sahut Gwen seraya menggaruk kepalanya sendiri seraya tersenyum cengengesan. Kenzo menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan mencoba untuk menahan rasa sakit di ulu hatinya. Pukulan Gwen benar-benar tepat sasaran. Wanita itu memiliki keahlian bela diri yang tidak ia ketahui. "Sebagai hukuman, kamu harus kasih saya servis yang memuaskan, sekarang juga," ucap Kenzo memandang tubuh Gwen dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Sekarang, di sini?" tanya Gwen dengan canggung. "Ya di sini, di mana lagi?" "Kalau nanti ada yang liat, gimana?" "Ya tutup dulu pintunya. Astaga!" decak Kenzo. Gwen menghela napas kasar lalu melangkah ke arah pintu. Ia tidak dapat menolak permintaan Kenzo, dirinya harus siap memberikan kehangatan di manapun dan kapan pun pria itu minta. Gwen menutup pintu lalu menguncinya. Tanpa ia sadari, seseorang baru saja beranjak dari depan pintu, menyaksikan bahkan mendengarkan percakapan mereka dan segera bersembunyi di belakang pilar besar saat Gwen melangkah menuju pintu. Orang tersebut tersenyum menyeringai seraya memandang ponsel canggih miliknya. Ia berhasil mengabadikan kebersamaan Kenzo dengan karyawannya sendiri. "Mampus kalian berdua, sekali mendayung, dua pulau terlampaui," decaknya dengan senyum lebar. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD