"Gara-gara lo gue digampar, rasain pembalasan gue," sahut Damar tersenyum menyeringai lalu melangkah meninggalkan Gwen dengan perasaan puas.
Gwen mengepalkan kedua tangannya dengan mata terpejam lalu kembali menatap Damar yang tengah berjalan meninggalkannya.
"Tunggu!" seru Gwen membuat Damar sontak menahan langkahnya lalu kembali memutar badan.
"Apa? Mau gue gampar lagi, hah?" tanya Damar sembari melayangkan telapak tangannya ke udara.
Gwen melangkah mendekat, memandang wajah Damar dengan tajam. "Minta maaf sama gue sekarang juga!" pintanya dengan lantang membuatnya menjadi pusat perhatian.
Damar tersenyum sinis balas memandang wajah Gwen. "Apa gue gak salah denger? Gue minta maaf sama lo? Hahahaha! Emangnya lo gak tau siapa bokap gue, hah?"
"Gue gak peduli lo anak siapa, mau anak menteri, kek. Presiden, kek. Anak kayak lo harus dikasih pelajaran. Lo gak punya tata krama, gak punya sopan santun, dan gak punya etika sama orang yang lebih tua!" bentak Gwen seraya menunjuk wajah Damar menggunakan jari telunjuknya sendiri.
Damar mendengus kesal. "Oh ... jadi lo pengen gue gampar lagi, ya?" tanyanya seraya melayangkan telapak tangannya ke udara. "Dasar pelayan gak tau di--"
Gwen menggenggam pergelangan tangan Damar, memutarnya dengan cepat, lalu mengangkat tubuhnya dan membantingnya ke lantai dengan keras. Suasana mendadak berubah menjadi riuh, diwarnai dengan tepukan tangan yang gemuruh. Semua orang yang menyaksikan adegan itu tidak bisa tidak bertepuk tangan, seolah-olah mengatakan bahwa anak kurang ajar seperti Damar memang pantas diberi pelajaran.
Damar meringis kesakitan seraya memegangi punggungnya yang sempat membentur lantai. Matanya membulat, memandang wajah Gwen penuh rasa dendam. Damar berdiri tegak seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Kurang ajar," decak Damar seraya melayangkan tinjunya, tapi Gwen segera meraih kepalan tangan itu, memutarnya ke arah belakang dan meletakan tangan Damar di punggungnya sendiri.
Damar kembali meringis. "Argh! Sakit, lepasin gue!" teriaknya dengan kesal.
"Minta maaf dulu sama gue, baru gue lepasin," jawab Gwen, kesabarannya sudah habis terkikis.
"Lo gak tau gue anak siapa, hah!"
"Gue 'kan udah bilang sama lo, gue gak peduli siapa Bapak lo, anak Dakjal!"
"What? A-anak Dakjal?" decak Damar dengan mata membulat. "Lo bakalan nyesel karena udah memperlakukan gue kayak gini."
Gwen memutar pergelangan tangan Damar lebih keras, membuatnya kembali berteriak kesakitan. "Argh! Ampun, lepasin gue. Sakit, b******k!"
"Gue bakalan lepasin lo kalau lo minta maaf sama gue."
Damar memejamkan kedua matanya. Tenyata Gwen bukanlah wanita sembarangan. Dibalik bodynya yang aduhai, Gwen memiliki keahlian bela diri yang tidak diketahui oleh semua orang.
"Oke, gue minta maaf," ucap Damar dengan sangat terpaksa.
Gwen melepaskan genggaman tangannya seraya mendorong Damar ke arah depan.
"Awas lo, gue bakalan bales perbuatan lo ini!" teriak Damar seraya menunjuk wajah Gwen menggunakan jari telunjuknya sendiri lalu berlari meninggalkan lobi.
"Dasar anak Dakjal," umpat Gwen seraya menghela napas panjang.
Tanpa ia sadari, Kenzo menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Bukannya marah melihat putranya diperlukan seperti itu, yang dirasakan oleh Kenzo adalah hal yang sebaliknya. Ia merasa bahwa Gwen telah melakukan hal yang benar. Damar memang harus diberi pelajaran mengingat apa yang dilakukannya sudah benar-benar keterlaluan.
Kenzo tersenyum tipis seraya memandang wajah Gwen dari kejauhan. "Kamu hebat, Gwen. Kamu bisa mengendalikan Damar. Hmmm! Dia emang butuh seorang Ibu kuat seperti kamu," batinnya lalu berbalik dan meninggalkan tempat itu.
***
Sore hari tepatnya pukul 17.00, Gwen baru saja tiba dikediamannya, kontrakan sempit yang ia bayar setiap bulan. Hari ini terasa berat baginya, pekerjaannya sebagai pelayan hotel sangat melelahkan, ditambah dirinya harus berurusan dengan anak kurang ajar. Namun, ia puas karena telah membuat anak itu bertekuk lutut dan meminta maaf. Ya, meskipun kata maaf yang keluar dari mulutnya tidak terdengar tulus.
"Semoga aja gue gak ketemu lagi sama tu anak Dakjal," gumamnya seraya menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
Mata Gwen terpejam, ingin beristirahat sejenak dan melenturkan otot-ototnya yang sempat menegang. Namun, gadis itu terpaksa kembali membuka matanya saat mendengar suara ketukan.
"Astaga, siapa sih yang dateng sore-sore begini? Gak tau apa gue lagi capek banget," gumamnya, mengabaikan suara ketukan.
"Gwen, ini saya. Buka pintunya!"
Gwen kembali membuka mata, suara itu terdengar tidak asing di telinga. Gadis itu terdiam seraya memeluk bantal guling.
"Gwen, saya tau kamu di dalem." Suara itu kembali terdengar.
Gwen sontak duduk tegak. "Om Kenzo? Mau ngapain di ke sini?" gumamnya lalu berdiri tegak dan melangkah ke arah pintu kemudian membukanya.
"Lama banget sih?" decak Kenzo melangkah memasuki kontrakan tanpa sungkan.
Gwen bergeming dengan kening mengerut, memandang wajah Kenzo dengan perasaan heran. "Om ngapain ke sini? Tau dari mana aku tinggal di sini?" tanyanya.
Bukannya menanggapi pertanyaan Gwen, yang dilakukan oleh Kenzo adalah menatap kontrakan sempit tersebut, jika dibandingkan bahkan lebih besar kamar mandi di kediamannya.
"Kamu tinggal di sini, Gwen? Sempit banget sih. Sama kamar mandi saya juga gedean kamar mandi di rumah saya," ejek Kenzo merasa tidak nyaman.
"Kalau Anda gak suka, kenapa Anda dateng ke sini, Om? Kontrakan aku emang sempit karena aku tinggal sendiri di sini," jawab Gwen lalu menutup pintu.
"Gak usah ditutup pintunya, engap tau. Mana gak ada AC lagi," pinta Kenzo membuat Gwen terpaksa kembali membuka pintu.
Kenzo memandang lekat wajah Gwen, wajahnya nampak pucat, rambutnya pun nampak berantakan begitu pula dengan kemeja putih yang membalut tubuhnya, tapi wanita itu tetap saja terlihat cantik ditambah dengan bodynya yang aduhai.
"Kenapa Om liatin aku kayak gitu?" tanya Gwen merasa tidak nyaman. "Eu ... aku lagi capek banget, Om. Jangan sekarang, ya."
Kenzo seketika tertawa nyaring. "Hah? Hahahaha! Apa saya semesum itu di mata kamu, Gwen? Kamu pikir kita akan melakukannya setiap kali ketemu, gitu?"
Gwen menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal. "Ya kali aja, Om. Kalau nggak pengen itu, buat apa Om jauh-jauh dateng ke tempat sempit ini?"
Kenzo menghela napas panjang lalu duduk di karpet yang tergerai di lantai. "Gwen ... Gwen, saya 'kan udah kasih kamu uang, kenapa kamu gak cari tempat yang labih layak buat kamu tinggali sih? Emangnya kamu gak engap tinggal di tempat sempit kayak gini?"
"Nggak, buat aku sih tempat ini udah pas banget buat aku. Aku 'kan tinggal sendiri," jawab Gwen santai, lalu duduk tepat di samping Kenzo.
"Apa kamu mau saya beliin rumah?"
Gwen terkejut. "Hah? Ng-nggak usah, Om. Emangnya aku siapa pake dibeliin rumah segala? Harga rumah di Jakarta 'kan mahal, Om."
"Kamu itu penghangat ranjang saya. Lupa?"
"Hanya sebatas penghangat ranjang. Aku cuma pemuas nafsu Anda aja, 'kan? Gak lebih dari itu, jadi Anda jangan berlebihan memperlakukan aku, Om. Aku gak mau salah paham nantinya," jawab Gwen tersenyum hambar seraya melayangkan tatapan kosong.
Ia tidak ingin berharap lebih kepada pria itu, dirinya akan berusaha untuk profesional, memenuhi kebutuhan biologis Kenzo dan hanya sebatas itu saja. Ia tidak ingin kecewa dan menuntut hal yang lebih. Ya, meskipun apa yang ia lakukan tidak ada bedanya dengan p*****r, tapi nasi sudah menjadi bubur dan ia sudah terlanjur nyemplung ke dalam gumangan lumpur.
"Kalau saya yang menuntut lebih sama kamu, gimana?"
Gwen terkejut. "Hah? Ma-maksud Om?"
"Apa kamu mau jadi Ibu sambung putra saya?"
Gwen seketika bergeming dengan perasaan bingung.
Bersambung ....