Bab 6. Anak Dakjal itu Putraku Sendiri

1174 Words
"Om serius mau ngusir dia?" tanya Gwen memandang lekat wajah Kenzo. "Tadi Anda bilang kalau kita harus selalu bersikap ramah sama setiap tamu yang nginep di hotel ini, 'kan?" Kenzo menghela napas panjang seraya meletakan telapak tangannya di satu sisi Gwen seraya memandang wajahnya dengan tatapan sayu. "Meskipun dia tamu, tapi saya gak terima dia bersikap kurang ajar sama kamu, Gwen. Kamu milik saya, gak ada yang boleh menyentuh kamu, selain saya, paham?" Gwen bergeming memandang bola mata Kenzo, mencoba menyelami relung hatinya lewat tatapan mata, apakah pria itu tulus atau Kenzo hanya tidak ingin ada orang lain yang menyentuh barang miliknya? "Kenapa kamu malah liatin saya kayak gitu, Gwen? Cepet anterin saya ke kamar 129," titah Kenzo dengan tegas. "Ba-baik, Om," jawab Gwen dengan gugup, lalu melangkah bersamanya. Gwen memandang wajah Kenzo dari arah samping. Pria itu terlihat marah, rahangnya bahkan mengeras dengan telapak tangan mengepal. Jantung Gwen tiba-tiba berdetak kencang, seberharga itukah ia bagi Kenzo? Gwen menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang. "Jangan geer, Gwen? Om Kenzo cuma gak mau barangnya disentuh sama orang lain. Lo gak lebih dari sekedar penghangat ranjangnya doang. Please, jangan berharap lebih sama ni laki," batin Gwen berbicara kepada diri sendiri. Mereka akhirnya tiba di depan kamar nomor 129. Kenzo mengetuk pintu dengan kasar bahkan seperti ingin mendobraknya, sedangkan Gwen hanya berdiri tepat di samping pria itu, memandang wajahnya dari arah samping dengan jantung berdetak kencang. "Buka pintunya!" teriak Kenzo dengan kesal. "Tenang, Om. Gak perlu teriak-teriak kayak gini," pinta Gwen. "Ini hotel saya, Gwen. Suka-suka saya dong mau teriak atau mau ngelakuin apapun yang saya mau?'' bentak Kenzo membuat Gwen terdiam. Tidak lama kemudian, pintu pun dibuka dari dalam. Damar berdiri di belakang pintu membuat Kenzo seketika terkejut. Jadi, tamu kurang ajar yang dimaksud oleh Gwen adalah putranya sendiri? Wanita itu bahkan memanggil Damar dengan sebutan anak dakjal? Mata Kenzo membulat lalu menoleh dan menatap wajah Gwen lekat. "Sebenarnya apa yang udah dilakuin sama Damar hingga Gwen memanggil dia anak dakjal? Kalau dia anak dakjal, berarti saya bapak dakjal dong," batinnya merasa tidak habis pikir. "Biar saya selesaikan masalah ini, Gwen. Kamu kembali aja ke tempat kamu," pinta Kenzo kepada Gwen. Ia tidak ingin wanita itu tahu siapa Damar. Gwen mengangguk patuh. "Baik, Pak. Permisi," jawabnya lalu berbalik dan meninggalkan tempat itu dengan senyum. "Mampus lo, anak dakjal. Diusir 'kan lo," batin Gwen merasa puas. Setelah memastikan Gwen benar-benar meninggalkan tempat itu, Kenzo memasuki kamar dengan wajah datar. Sementara Damar hanya menghela napas panjang lalu mengikuti sang ayah dengan senyum menyeringai. "Jadi, si pelayan sialan itu beneran ngaduin aku sama Bos-nya," decak Damar, melangkah menuju ranjang lalu berbaring terlentang. "Hebat banget Anda, ya. Ada karyawan yang ngadu, Anda langsung turun tangan sendiri." Kenzo memandang lekat wajah Damar. Ingin rasanya ia memeluk anak itu, rasa rindunya begitu besar sebenarnya. Namun, ia tidak tahu cara mengekspresikan kasih sayangnya karena mereka sudah lari terlalu jauh menjalani kehidupan masing-masing. Bahkan untuk sekedar menanyakan kabar sang putra pun, Kenzo merasa canggung. "Mulai besok, pulanglah ke rumah Daddy, Damar. Lebih enak tinggal di rumah dari pada di hotel," ucap Kenzo seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Damar duduk tegak lalu menatap sinis wajah sang ayah. "Jadi, Anda beneran mengusirku dari sini?" tanyanya, tersenyum menyeringai. "Kamu udah bersikap kurang ajar sama karyawan Daddy, Damar. Jangan bikin malu Daddy dong." "Jadi, Anda lebih mihak sama karyawan Anda dari pada aku, putra Anda sendiri?" Kenzo memejamkan matanya sejenak seraya menghela napas panjang mencoba untuk menekan emosinya dalam-dalam. "Ini bukan soal Daddy memihak siapa, Damar, tapi kamu udah keterlaluan. Masa kamu colek bokongnya dia sih? Gak sopan, bikin malu Daddy tau!" "Oke, aku akan pulang ke rumah, tapi dengan satu syarat." "Katakan, apa syarat kamu?" "Pecat karyawan Anda yang tadi itu." Mata Kenzo membulat lalu menatap wajah Damar dengan kesal. "Kamu minta Daddy pecat karyawan Daddy sendiri?" "Kenapa? Kalau Anda gak mau, maka aku yang akan bikin dia pergi sendiri dari sini dan aku gak mau pulang sebelum karyawan sialan itu resign dari hotel ini." Kenzo menunjuk wajah Damar menggunakan jari telunjuknya sendiri. "Daddy ingatkan sama kamu, Damar. Jangan berani kamu sentuh Gwen, kalau kamu--" "Jadi namanya Gwen?" sela Damar, balas menatap wajah Kenzo seolah tengah menantang. "Aku curiga, jangan-jangan Anda punya hubungan spesial sama tu cewek, atau dia gundiknya Anda? Pemuas nafsu Anda, begitu?" Telapak tangan Kenzo seketika melayang ke udara lalu mendarat di wajah Damar keras dan bertenaga. "Siapa yang ngajarin kamu kurang ajar kayak gini, hah?" bentak Kenzo, sudah tidak dapat menahan emosinya lagi. "Kamu Daddy sekolahin di sekolah internasional biar kamu jadi anak baik, anak yang bisa Daddy banggakan dan menjadi penerus hotel ini, tapi apa? Ucapan kamu aja kayak orang yang gak berpendidikan!" Mata Damar memerah, mengusap satu sisi wajahnya yang terasa nyeri. Rasa panas seketika menjalar terasa membakar permukaan kulit wajahnya. Damar memandang wajah Kenzo penuh rasa dendam. "Anda ... Anda yang mengajarkan aku bersikap kayak gini! Anda meninggalkan aku dan Mommy, menelantarkan kami, bahkan Anda sendiri yang--" "Daddy gak pernah nelantarin kamu, Damar. Daddy selalu kirimin kamu uang tiap bulan, biayain sekolah kamu dan memenuhi semua kebutuhan kamu!" sela Kenzo penuh penekanan. "Bukan hanya uang yang aku butuhin!" bentak Damar. "Anda pikir uang bisa membeli segalanya, hah? Uang bisa membeli waktu yang terbuang, uang dapat menebus kasih sayang, uang dapat menggantikan rasa sakit yang aku rasain selama ini, hah? Tidak, Tuan Kenzo. Tidaak!" bentak Damar penuh emosi, lalu melangkah meninggalkan kamar dengan amarah. "Mau ke mana kamu, Damar? Daddy belum selesai ngomong," tanya Kenzo dengan suara lantang. Damar menghentikan langkahnya lalu menoleh. "Aku akan menggunakan uang yang Anda kasih untuk mencari kesenangan dan kasih sayang yang gak aku dapet dari Anda," jawabnya sinis, lalu melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan. Kenzo mengusap wajahnya kasar dengan mata terpejam. Apa yang harus ia lakukan agar Damar patuh dan mendengarkan ucapannya? Rasanya sulit sekali meraih hati putranya sendiri. Kenzo merasa gagal menjadi orang tua, bukan hanya rumah tangganya saja yang hancur, tapi hubungannya dengan putra semata wayangnya pun ikut lebur. "Ya Tuhan, apa yang harus saya lakuin sekarang? Gimana caranya agar saya bisa deket lagi sama Damar kayak dulu?" gumamnya merasa frustasi. *** Sementara itu, Damar berjalan di lobi hotel hendak meninggalkan tempat itu dan mencari kesenangannya sendiri. Namun, remaja berusia 17 tahun itu seketika menahan langkah kakinya saat melihat Gwen tengah berdiri di depan resepsionis dan tengah mengobrol dengan rekan kerjanya. Damar memandang sinis wajah Gwen seraya mengusap satu sisi wajahnya yang nyeri akibat tamparan sang ayah. Gara-gara wanita itu, Kenzo, ayahnya sendiri tega menamparnya seperti ini. "Gue harus kasih pelajaran sama pelayan sialan itu," gumamnya lalu melangkah menghampiri Gwen dengan rahang mengeras kesal. Gwen sontak menoleh dan menatap wajah Damar. "Akh! Sial, ketemu lagi sama si anak dakjal," batinnya dengan kesal. Hal tidak terduga pun terjadi, Damar tiba-tiba melayangkan telapak tangannya ke udara lalu mendarat di wajah Gwen persis seperti apa yang ia terima dari sang ayah. Hal tersebut bahkan disaksikan oleh karyawan lain dan para tamu hotel. "Argh!" Gwen memekik kesakitan, wajahnya bahkan terlempar ke arah samping. "Anda kenapa? Kenapa menampar saya seperti ini?" tanyanya lemah dan bergetar. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD