Bab 5. Anak Dakjal

1047 Words
Damar berbalik lalu melangkah memasuki kamar dengan wajah datar. Gwen mengikuti anak itu lalu meletakan nampan berisi makanan di atas meja. Ia mencoba bersikap ramah meskipun hatinya masih kesal dengan sikap kurang ajar anak berusia 16 tahun itu. "Saya permisi, Tuan," pamit Gwen membungkuk hormat dan hendak melangkah. Damar yang tengah berdiri dengan bersandar tembok tiba-tiba mencolek b****g Gwen dengan sengaja. Gwen menghentikan langkahnya dengan mata membulat. "Kurang ajar," gumamnya dengan kesal lalu memutar badan. "Anda berani colek-colek saya?" "Kenapa? Kalau gak suka, sana aduin sama Bos lo," jawab Damar dengan senyum sinis. Mata Gwen kembali terpejam mencoba menahan emosinya dalam-dalam. Tangannya pun mengepal, ingin rasanya ia menghadiahi anak itu dengan bogem mentah karena sudah berani bersikap kurang ajar. Padahal, usianya masih remaja. Apa orang tuanya tidak mengajarkan anak itu tata krama? Batin Gwen seraya menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. "Oke, saya akan mengadukan sikap kurang ajar kamu sama bos saya biar kamu diusir sekalian. Heran deh, emangnya orang tau kamu gak pernah ngajarin sopan santun apa?" tanya Gwen memandang tajam wajah Damar. "Gue gak punya orang tua, makannya gak ada yang ngajarin gue. Puas?" jawab Damar ketus. "Udah sana pergi, ngerusak mood aja sih!" Gwen mendelik kesal lalu melangkah menuju pintu. "Tunggu," pinta Damar membuat langkah Gwen terhenti. "Astaga, apaan lagi sih, anak dakjal?" batin Gwen dengan kesal. Gwen memutar badan terpaksa bersikap ramah. "Apa lagi, Tuan?" "Bawain gue whisky," perintah Damar dengan wajah datar. Kening Gwen mengkerut. "Whisky?" tanyanya. "Lo budeg, ya? Cepet bawain gue whisky!" Gwen menghela napas panjang. "Mohon maaf, Tuan Muda. Whisky hanya diperuntukan bagi orang yang sudah dewasa, Anda masih anak-anak. Jadi, mohon maaf sekali lagi, saya gak bisa memberikan apa yang Anda minta, permisi!" jawab Gwen dengan senyum ramah lalu melanjutkan langkahnya dengan cepat. Damar mendengus kesal. "Dasar pelayan sialan," decaknya dengan mata terpejam. Damar adalah anak broken home, perceraian kedua orang tuanya berdampak serius untuk psikologisnya. Terlebih, pola asuh ibunya yang selalu memberikan pasilitas mewah dan uang jajan yang lebih dari cukup, tapi tidak melengkapinya dengan kasih sayang dan perhatian sehingga Damar mencari kesenengan dan kepuasan dengan caranya sendiri. *** Sementara itu, Gwen meninggalkan kamar dengan perasaan kesal. Mulutnya nampak menggerutu tiada henti. Wajahnya pun memerah menahan amarah. Ia benar-benar merasa tidak habis pikir, bagaimana bisa anak seusia Damar sudah berani bersikap kurang ajar bahkan sudah berani meminum minuman beralkohol. "Dasar anak dakjal," decaknya berjalan di koridor hendak kembali ke ruangan staf. "Siapa yang anak dakjal?" Suara yang familiar tiba-tiba terdengar. Gwen menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah sumber suara. Kenzo yang baru saja keluar dari salah salah satu ruangan nampak mengerutkan kening, memandang wajah Gwen dengan perasaan heran. "Om Kenzo," sapa Gwen, tapi wanita itu segera meralat ucapannya dengan ramah dan sopan dan sedikit membungkukkan tubuhnya. "Selamat siang, Pak Kenzo." "Kamu kenapa, Gwen? Kenapa misuh-misuh sendiri?" tanya Kenzo dengan senyum. "Anu, Pak. Tadi ada tamu VVIP yang menyebalkan dan kurang ajar, makannya saya panggil dia anak dakjal," jawab Gwen, seraya menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal. Kenzo menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. "Ikut ke ruangan saya," titahnya lalu berjalan melintasi Gwen begitu saja. Gwen mengikuti pria itu dari belakang. "Tunggu, Pak. Mau ngapain kita ke ruangan Anda?" tanyanya dengan heran. Kenzo tidak menggapai pertanyaan wanita itu. Ia bahkan mempercepat langkahnya membuat Gwen terpaksa berlari agar tidak tertinggal jauh. Gwen menatap punggung lebar Kenzo, membayangkan hal yang tidak masuk akal. Rasanya pasti nyaman apabila ia menyandarkan kepalanya manja di pundak Kenzo. Namun, hal tersebut mustahil ia rasa karena hubungannya dengan Kenzo hanya sebatas pemuas nafsu semata. Ia pun tidak boleh memakai perasaannya karena Kenzo tetaplah Kenzo, akan sulit untuknya meraih pria itu. "Nggak, jangan bodoh, Gwen. Lo gak boleh jatuh cinta sama laki-laki maniak seks ini," batin Gwen dengan kepala menggeleng. Kenzo membuka pintu ruangan Presiden Direktur lalu melangkah masuk ke dalam sana. Hal yang sama pun dilakukan oleh Gwen. Kenzo melanjutkan langkahnya lalu duduk di kursi kebesarannya sementara Gwen hanya berdiri di depan meja. "Eu ... kita mau ngapain ya, Om?" tanya Gwen dengan gugup. Kenzo tersenyum menyeringai seraya memandang lekat wajah Gwen. "Apa kamu pikir saya memanggil kamu ke sini buat ngelakuin itu, Gwen?" tanyanya. Gwen menggaruk kepalanya sendiri lalu mengangguk seraya tersenyum cengengesan. "Astaga, Gwen!" decak Kenzo tersenyum lebar. "Apa kamu pikir saya ini maniak seks, hah? Setiap saya manggil kamu, saya akan minta dipuaskan, gitu?" Gwen hanya tersenyum cengengesan dalam menanggapi ucapan Kenzo. Pria itu membuka laci meja lalu meraih beberapa pil dan memberikannya kepada Gwen. "Ambil ini dan minum sehari satu pil," ucapnya dengan santai. Gwen mengerutkan kening seraya menerima apa yang diberikan oleh Kenzo. "Ini apa, Om?" "Itu pil pencegah kehamilan, kamu gak mau 'kan kalau sampe hamil di luar nikah? Saya juga belum siap punya anak lagi." Gwen memandang pil berukuran kecil itu seraya mengangguk-anggukan kepala. Ia pun belum siap jika harus hamil apalagi tanpa suami. Wanita itu memasukan pil tersebut ke dalam saku celana hitam yang ia kenakan. "Jangan lupa diminum, Gwen. Sehari satu butir, ingat ... jangan sampe lupa. Kalau kamu lupa gak minum sehari saja, kemungkinan besar kamu bakalan hamil, paham?" tegas Kenzo penuh penekanan. "Baik, Om," jawab Gwen dengan kepala mengangguk. "O iya, tadi kamu kenapa misuh-misuh sendiri? Kamu kesel sama siapa, Gwen?" tanya Kenzo, berdiri tegak lalu melangkah mendekat. "Itu, Om. Tamu di kamar 129 kurang ajar banget. Kesel deh, padahal masih remaja lho," decak Gwen seraya mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa. Kenzo berdiri tepat di samping Gwen, menyandarkan bokongnya di ujung meja. "Kamu harus sabar, tamu yang menginap di sini itu memiliki beragam sifat yang berbeda-beda. Sebagai pelayan hotel, kamu harus tetap bersikap ramah kepada setiap tamu. Kalau nggak, mereka bakalan kabur dan rugi deh saya." "Ya, tapi aku kesel, Om. Masa dia colek-colek b****g aku? Emangnya aku sabun colek apa seenaknya di colek-colek." Mata Kenzo seketika membulat merasa terkejut. "Apa? b****g kamu dicolek-colek?" tanyanya merasa tidak terima. Tubuh Gwen miliknya, tidak ada orang lain yang boleh menyentuh wanita itu selain dirinya. "Makannya aku marah, Om," rengek Gwen dengan kepala menunduk. "Kita ke sana sekarang," pinta Kenzo hendak melangkah dengan wajah memerah. "Ke sana ke mana, Om?" "Ke mana lagi, ya ke kamar 129. Orang itu harus dikasih pelajaran, dia udah bersikap kurang ajar sama kamu, Gwen. Saya gak terima! Pokoknya, saya akan usir orang itu sekarang juga. Paham?" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD