Bab 4. Hampir Ketahuan

1114 Words
"Kenapa? Sebenarnya kamu nyembunyiin apa di dalem, hah?" teriak Beni dengan mata membulat. "Jangan-jangan, kamu abis ngelayani Om-om idung belang, Gwen." Gwen menggelengkan kepala memandang wajah sang manager dengan bola mata memerah. Ia tidak ingin rahasianya terbongkar, harga dirinya pasti benar-benar hancur dan akan dianggap sebagai w************n. Ya, meskipun gelar w************n memang pantas ia sandang karena memang seperti itulah kenyataannya sekarang. "Ng-ngak, Pak Ben. A-aku gak nyembunyiin apa-apa ko," jawab Gwen terbata-bata dengan mata berkaca-kaca. "Aku mohon jangan masuk ke dalem, aku mohon banget, Pak Ben." Beni menghempaskan tubuh Gwen hingga wanita itu terjatuh ke lantai. Gwen memekik kesakitan, sementara Beni hendak membuka pintu kamar benar-benar merasa penasaran. Namun, belum sempat Beni memutar kenop, pintu tersebut sudah terlebih dahulu terbuka dari dalam. Mata Beni membulat terkejut saat melihat Kenzo yang merupakan pemilik hotel berdiri di belakang pintu. "Pa-pak Ken?" gumamnya terbata-bata. "Pak Kenzo habis ngapain berduaan sama si Gwen? Jangan-jangan mereka?" batin Beni mulai curiga. "Ngapain kalian ribut-ribut di depan kamar saya, hah?" bentak Kenzo, memandang wajah Beni dan Gwen secara bergantian. Gwen segera bangkit lalu berdiri tegak seraya mengusap bokongnya yang nyeri karena sempat membentur lantai. Ia menundukkan kepala dengan perasaan malu. Habis sudah riwayatnya, Beni akhirnya tahu bahwa ia berduaan bersama Kenzo di kamar. "Eu ... maaf, Pak. Saya cuma--" ucapan Beni terpotong karena Kenzo menyela seraya melangkah keluar. "Ikut ke ruangan saya," pinta Kenzo kepada Beni, sementara Gwen hanya berdiri di tempatnya masih dengan kepala menunduk. "Ba-baik, Pak," jawab Beni, melangkah mengikuti Kenzo. Gwen menghela napas kasar seraya menatap kepergian mereka berdua. "Mampus gue, Pak Beni bakalan tau apa yang udah gue lakuin sama Om Kenzo," batinnya merasa frustasi. *** Setibanya di ruangan Presiden Direktur, Kenzo memasuki ruangan tersebut diikuti oleh Beni, Manager yang bekerja di hotel miliknya. Ia duduk di kursi kebesarannya, sementara Beni hanya berdiri tepat di depan meja. "Lupain apa yang kamu liat tadi, Beni," titah Kenzo, memandang tajam wajah Beni. "Baik, Pak," jawab Beni patuh, ia paham betul apa maksud dari perkataan sang Presdir. "Kalau sampai masalah ini tersebar, kamu akan saya pecat. Bukan hanya itu saja, saya juga akan menuntut kamu atas tuduhan pencemaran nama baik dan kamu akan saya jebloskan ke penjara," ancam Kenzo. "Kamu tau siapa saya, Ben. Saya gak pernah main-main sama ucapan saya." Tubuh Beni gemetar, keningnya pun berkeringat. Membayangkan mendekap di balik jeruji besi membuatnya ketakutan. Ia menyesalkan, mengapa dirinya harus memergoki Gwen keluar dari kamar itu? Jika gosip tentang mereka benar-benar menyerbar, maka dirinya yang harus bertanggung jawab meski pun bukan ia yang menyebarkan. "Kenapa kamu diem aja, Beni? Kamu denger nggak saya ngomong apa?" bentak Kenzo, sembari memukul meja keras dan bertenaga. Beni terperanjat. "I-iya, Pak. Saya denger," jawabnya tergagap. "Apa kamu perlu uang tutup mulut?" "Hah?" "Sebutkan nomor rekening kamu, Beni." Beni menggaruk kepalanya sendiri seraya tersenyum cengengesan. Ia tidak meminta uang tutup mulut, masih diizinkan bekerja saja ia sudah sangat bersyukur. Namun, jika Kenzo menawarkan uang, manusia mana yang akan menolak? Beni menyebutkan nomor rekening pribadinya. Tidak berselang lama, pesan notifikasi pun masuk ke ponselnya. Beni merogoh saku jas hitam yang ia kenakan lalu meraih ponsel canggihnya dari dalam sana. Mata Beni membulat merasa terkejut saat melihat nominal uang yang baru saja ditransfer oleh Kenzo. "Apa Anda gak salah, Pak? Anda ngasih uang 10juta sama saya?" tanya Beni menatap layar ponsel lalu kembali memandang wajah Kenzo. "Kenapa? Apa jumlahnya kurang?" tanya Kenzo, meletakan ponsel canggih miliknya di atas meja. "Ng-nggak, Pak Ken. Ini kebanyakan malah." "Ya udah, balikin separuhnya kalau gitu." "Hah?" Beni tersenyum cengengesan. "Eu ... jangan dong, Pak. Masa dibalikin lagi." "Tadi katanya kebanyakan." "Nggak ko, ini jumlahnya pas. Pas banget," jawab Beni seraya tersenyum lebar. "Ingat, Ben. Cuma kamu yang tau rahasia saya sama Gwen. Kalau karyawan lain sampe ada yang tahu, maka kamu yang akan jadi kambing hitamnya. Paham?" Beni menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan kata lain, ia harus mampu meredam gosip miring apapun yang mungkin saja timbul di masa depan. Jika ada karyawan yang mencurigai Gwen, maka dirinya harus segera meluruskan sebisa mungkin dan menutupinya. Namun, ada satu hal yang membuatnya bingung. Jika mereka berdua memang memiliki hubungan spesial, mengapa Kenzo harus mati-matian menyembunyikan hubungan mereka? Batin Beni, penuh tanda tanya. "Astaga, malah bengong lagi. Kamu paham nggak apa yang saya bilang barusan?" bentak Kenzo. "I-iya, Pak. Saya paham. Anda tenang aja, rahasia Anda aman di tangan saya," jawab Beni meyakinkan. "Oke, sekarang keluar dari ruangan saya," titah Kenzo. "Baik, Pak. Saya permisi," jawab Beni membungkuk memberi hormat, lalu berbalik dan hendak melangkah. "Tunggu, Beni," pinta Kenzo membuat Beni sontak menahan langkahnya lalu kembali memutar badan. "Iya, Pak?" tanyanya. "Jangan ganggu Gwen, anggap aja kamu gak tau apa-apa, oke?" Beni mengangguk dengan senyum. "Baik, Pak," jawabnya lalu kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan. *** Sementara itu, Gwen kembali ke ruangan staf dengan perasaan campur aduk. Banyak hal yang harus ia pikirkan, salah satunya adalah, bagaimana jika Beni benar-benar mengetahui tentang apa yang ia lakukan bersama Kenzo? Hal terburuk yang membuatnya takut adalah, bagaimana jika seluruh karyawan tahu tentang hal itu dan gosip tentangnya menyebar? Gwen menghela napas panjang seraya menyandarkan punggung berikut kepalanya di tembok. "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakuin sekarang?" gumamnya dengan mata terpejam. "Apa aku resign aja dari sini, ya? Toh Om Kenzo akan menanggung biaya hidup aku." Gwen menatap lurus ke depan, membayangkan masa depannya yang suram. "Gwen," seru Beni berjalan menghampiri. Gwen sontak memperbaiki posisi tubuhnya lalu menoleh dan menatap wajah Beni dengan gugup. "I-iya, Pak. Eu ... saya minta maaf soal yang tadi, Pak," ucapnya lalu menunduk dengan perasaan malu. "Udah, gak usah dibahas. Sekarang anterin makanan ke kamar 129, dia tamu VVIP. Ingat, tamu VVIP. Jadi, kamu harus sopan sama dia, paham?" titah Beni bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. "Pak Beni ko gak marahin aku? Apa jangan-jangan, dia udah disogok sama Om Kenzo," batin Gwen merasa heran. "Astaga, malah bengong lagi. Kamu denger nggak saya ngomong apa?" bentak Beni dengan mata membulat. "I-iya, Pak. Saya denger, saya permisi sekarang, ya," jawab Gwen, terbata-bata lalu segera melakukan apa yang diperintahkan. *** 20 menit kemudian, Gwen berdiri di depan pintu nomor 129 seraya membawa nampan berisi makanan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Beni sang manager. Gwen mengetuk pintu pelan dan beraturan. "Permisi, saya membawakan makanan untuk Anda, Tuan," seru Gwen dengan lembut. Tidak berselang lama, pintu pun dibuka dari dalam. Damar berdiri di belakang pintu, memandang wajah Gwen dengan tatapan tidak suka. "Lo lagi, lo lagi!" decaknya dengan kesal. Gwen bergeming balas menatap wajah Damar. "Jadi, tamu VIP yang dimaksud Pak Beni itu anak ini? Astaga, sial banget sih idup gue! Kenapa gue harus ketemu sama anak dakjal ini lagi sih?" batin Gwen seraya tersenyum dipaksakan. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD