Gwen mendengus kesal seraya membalas pesan yang baru saja dikirimkan Kenzo.Aku lagi kerja, Om." Balas Gwen, berharap Kenzo akan mengerti posisinya sekarang.
"Kamu lupa saya ini siapa, hah? Saya pemilik hotel ini. Kalau kamu gak dateng dalam waktu 15 menit, maka kamu harus mengembalikan separuh uang yang udah saya berikan!"
Mata Gwen membulat membaca pesan balasan.
"Baik, Om. Aku ke sana sekarang juga." Gwen kembali membalas dengan perasaan kesal.
"Dasar kulkas dua pintu. Ko gampang banget ngomong kayak gitu. Hmmm! Mana anuku masih nyeri lagi," gerutu Gwen seraya memasukan ponsel canggih miliknya ke dalam saku lalu melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
***
15 menit kemudian, Gwen berdiri di depan pintu kamar 201 dengan perasaan berat. Kamar yang berada di lantai tiga dan terletak di ujung lorong di mana jarang sekali pegawai hotel yang melintasi tempat tersebut. Gwen menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum akhirnya mengetuk pintu.
"Masuk," perintah Kenzo, suaranya yang bass terdengar tegas membuat bulu kuduk Gwen seketika merinding.
Gwen membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar dengan wajah datar. Jantungnya berdetak kencang, aura kamar tersebut masih sama seperti pertama kali ia memasukinya malam tadi. Aroma kolonge kembali tercium menjadi ciri khas. Meskipun kamar tersebut nampak terang karena Kenzo sengaja membuka gorden membuat sinar matahari bisa dengan leluasa masuk dan menghangatkan. Namun, Gwen tetap saja merasa tidak nyaman berada di sana, apalagi ketika ia melihat ranjang yang menjadi saksi apa yang mereka lakukan semalam.
Gwen melangkah menghampiri Kenzo yang tengah berdiri memunggunginya di depan jendela. "Anda memanggil aku, Om," ucap Gwen dengan gemetar.
Gwen menghentikan langkahnya tepat di belakang tubuh Kenzo lalu membuka kancing kemeja putih yang ia kenakan ingin segera menyelesaikan tugasnya. Kenzo memutar badan lalu memandang gadis itu dengan kening yang dikerutkan.
"Kamu mau ngapain, Gwen?" tanyanya tersenyum sinis.
"Biar cepet selesai, langsung aja ya, Om. Aku masih banyak perkejaan soalnya," jawab Gwen, seraya membuka seluruh kancing, memperlihatkan bagian dalam tubuhnya yang padat dan menantang.
Kenzo tiba-tiba menahan gerakan tangan Gwen. "Siapa bilang saya memanggil kamu buat minta dilayani?" tanyanya dengan dingin.
Gwen terkejut. "Hah? Eu ... bukannya Om memanggil aku buat itu, ya? Sebenarnya anuku masih sakit, tapi mau gimana lagi. Aku harus profesinal, dari pada aku harus balikin duit yang udah Om kasih," jawabnya seraya mendongak, memandang wajah Kenzo yang memiliki tinggi sekitar 190cm, sementara tingginya tidak lebih dari 170cm.
Kenzo tersenyum tipis seraya memandang bongkahan padat yang tersembunyi di balik penutup tebal berwarna hitam. Gwen memiliki body yang aduhai, tidak gemuk dan tidak pula kurus. Tubuhnya yang ideal membuatnya ketagihan akan kehangatan yang disuguhkan oleh gadis itu, tapi sayangnya, ia tidak sedang ingin bercinta. Kenzo hanya membutuhkan seseorang yang akan mendengarkan keluh kesahnya.
"Nggak, Gwen. Saya memanggil kamu ke sini bukan untuk minta dilayani," jawab Kenzo, kembali mengaitkan kancing yang sempat dibuka oleh Gwen. "Saya butuh temen curhat."
Gwen mengerutkan kening. "Te-teman curhat?"
Kenzo menganggukkan kepala.
Wajah Gwen memerah merasa malu, meskipun begitu ia senang karena tidak perlu melayani pria itu di atas ranjang.
"Selamat-selamat, aku pikir Om Kenzo minta dilayani. Tenyata dia cuma butuh teman curhat, emangnya dia gak punya teman, gitu?" batin Gwen, memandang lekat wajah Kenzo.
Kenzo sengaja menyisakan dua kancing bagian atas kemeja yang dikenakan oleh Gwen menyajikan pemandangan indah, di mana bongkahan padat berbentuk hati terpampang di depan mata begitu indah dipandang. Ia menatap sejenak d**a Gwen lalu menarik telapak tangannya dan membawanya berjalan menuju sofa lalu duduk bersamanya. Wajah Gwen nampak datar dan canggung. Ia tidak pernah sedekat itu dengan atasannya selain melakukan hubungan di atas ranjang. Itu pun untuk yang pertama kali baginya.
Gwen memandang lekat wajah Kenzo. "Om mau cerita apa sama aku? Eu ... Aku siap ko jadi pendengar yang baik buat Om, tapi ngomong-ngomong, emangnya Om gak punya temen deket, ya? Kenapa harus aku?" tanyanya dengan polos.
"Dasar bodoh, saya udah ngebayar kamu mahal, Gwen. 100juta lho, masa udah dibayar semahal itu dianggurin gitu aja sih," decak Kenzo dengan wajah dingin.
"Oke, karena Om udah ngebayar aku mahal, sekarang Om bebas mempergunakan aku sesuka hati Om. Aku milik Om," jawab Gwen dengan wajah ceria.
Kenzo tersenyum tipis memandang lekat wajah Gwen. Gadis itu benar-benar memiliki aura yang positif, pembawaannya yang ceria mampu menghangatkan suasana, senyumannya yang manis di tambah dengan lesung di kedua sisi pipinya membuat wajah cantiknya tidak membosankan untuk dipandang.
Gwen balas menatap wajah Kenzo dengan senyum. "Senyum Om manis," decaknya tanpa sadar.
Kenzo tiba-tiba merasa gugup lalu menoyor kepala Gwen. "Jangan so ngerayu saya, ya. Kamu gak lebih dari sekedar penghangat ranjang saya, paham?"
"Sekaligus teman curhat," tambah Gwen masih dengan senyum ceria.
Kenzo menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan kemudian menyandarkan punggung berikut kepalanya di sandaran sofa. "Sebenarnya saya lagi pusing banget, Gwen," ucapnya seraya mengusap wajahnya kasar.
"Pusing kenapa, Om? Emangnya orang kayak Om bisa pusing juga, ya? Kalau orang kecil kayak aku sih, pusing mikirin cicilan, buat makan sehari-hari, pusing mikirin kontrakan dan masih banyak lagi. Nah ... Om banyak duit masih pusing juga?"
Kenzo mendengus kesal lalu menatap sinis wajah Gwen. "Bisa diem gak? Kamu cukup dengerin saya curhat, kenapa jadi kamu yang curhat? Kalau kamu ngomong lagi, kamu harus balikin duit saya 20%," tegasnya penuh penekanan.
Gwen sontak merapatkan bibirnya dengan wajah datar. Sedangkan Kenzo mulai menceritakan keresahan hatinya tentang hubungannya yang kurang baik dengan putra semata wayangnya, buah dari pernikahannya bersama Rita. Pria itu pun mengatakan bahwa ia senang Damar tinggal bersamanya, tapi ia tidak tahu bagaimana cara menunjukkan kasih sayangnya kepada sang putra.
Gwen sedikit syok mendengar cerita Kenzo, ia bahkan baru tahu bahwasanya pria itu seorang duda dengan seorang anak remaja. Gwen tidak menyangka bahwa, pria kaya raya seperti Kenzo memiliki masalah yang lebih berat dari sekedar cicilan yang harus dibayar setiap bulan.
"Saya harus gimana, Gwen? Saya seneng putra saya tinggal sama saya, saya pun turut bahagia karena mantan istri saya akhirnya menikah lagi setelah lima tahun hidup sendiri, tapi saya gak tau gimana caranya agar saya bisa dekat sama Damar. Kami sudah lari terlalu jauh, saya--" Kenzo tidak kuasa meneruskan ucapannya, dadanya terasa sesak.
"Boleh saya ngomong, Om?" tanya Gwen.
Kenzo menganggukkan kepala dengan wajah datar.
"Anak remaja seumuran anak Om itu pada umumnya masih labil, emosinya kadang berubah-ubah dalam waktu singkat, kadang baik, kadang marah-marah, kesinggung sedikit langsung mencak-mencak," jelas Gwen. "Tapi semua itu ada masanya, Om. Anak remaja baru bisa bersikap dewasa setelah usianya menginjak 18 tahun. Sekarang, coba deh Om lakukan pendekatan sama dia. Seorang anak itu tidak hanya membutuhkan pasilitas mewah dari orang tuanya, tapi juga kasih sayang."
Kenzo memandang kagum wajah Gwen, usianya masih terbilang cukup muda, tapi Gwen memiliki pemikiran matang seperti orang yang sudah merasakan bagaimana menjadi orang tua. Jantung Kenzo tiba-tiba berdetak kencang. Ia merasa seperti menemukan sosok ibu sambung untuk sang putra.
"Om jangan ngeliatin aku kayak gitu dong," decak Gwen kesal.
Kenzo melirik bagian atas tubuh Gwen seraya tersenyum tipis. Tanpa basa basi, ia tiba-tiba meraih pinggang Gwen lalu membawa ke dalam dekapannya.
Mata Gwen membulat terkejut. "Om mau ngapain?" tanyanya.
"Layani saya sebentar saja, Gwen," bisik Kenzo, telapak tangannya mulai menyentuh bongkahan padat milik Gwen.
"Tapi, Om. Tadi katanya--" ucapan Gwen terpotong karena Kenzo tiba-tiba mengecup bibirnya dengan buas membuat wanita itu kesulitan bernapas.
Mata Gwen terpejam, ia pasrah, benar-benar pasrah. Tubuhnya milik Kenzo, tanpa sadar ia telah menjual harga dirinya kepada pria itu dan harus siap kapan pun Kenzo meminta kehangatan darinya.
"Di sini aja, ya. Kamu belum pernah merasakan bercinta di kursi, 'kan?" bisik Kenzo, matanya kian sayu memandang wajah Gwen.
Gwen hanya mengangguk pelan.
***
30 menit kemudian, Gwen merapikan pakaian yang ia kenakan. Permainan mereka terbilang singkat, tapi ia cukup menikmati sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Kenzo hingga dirinya pun mendapatkan pelepasan yang membuat jiwanya melayang ke awang-awang. Sepertinya, bukan hanya Kenzo saja yang ketagihan, tapi Gwen pun mulai terbuai dengan nikmatnya surga dunia.
Gwen mengikat rambutnya dengan rapi lalu berdiri tegak. "Aku balik dulu ya, Om. Masih banyak perkejaan yang belum aku selesaikan," pamitnya hendak melangkah ke arah pintu.
"Makasih, Gwen," seru Kenzo membuat Gwen sontak menahan langkahnya lalu kembali memutar badan.
"Gak usah berterima kasih segala, Om. Aku udah ngejual tubuh dan harga diriku sama Om. Jadi, aku gak ada bedanya dengan b***k Om sekarang," jawab Gwen tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya.
Gwen membuka pintu kamar lalu keluar seraya menatap sekeliling berharap tidak ada satu orang pun yang melihatnya. Namun, suara seseorang tiba-tiba terdengar mengejutkan.
"Gwen!" teriak seorang laki-laki yang tengah berjalan di koridor.
Gwen terkejut dan segera menutup pintu. "Pak Beni," gumam Gwen dengan gugup.
"Habis ngapain kamu, Gwen? Kenapa kamu keluar dari kamar itu? Saya cari-cari kamu dari tadi lho," tanya Beni, manager hotel.
"Eu ... anu, Pak. Saya--" ucapan Gwen tercekal.
"Kamar ini 'kan kosong, habis ngapain kamu di dalem, hah?" tanya Beni dengan mata membulat lalu hendak membuka pintu kamar.
"Jangaan!" teriak Gwen, seraya merentangkan kedua tangannya tepat di depan pintu.
Bersambung ....