Sejak masa pemulihan yang membosankan, ruang gerakku jadi terbatas, buat makanpun kadang Mama mengantar ke kamar, takut aku kenapa-napa karena naik dan turun tangga, yang mengantar dan jemput Pica sekolah kadang supir, Abang Willy atau Papa kalau lagi sempat. Padahal sebenarnya kalau untuk sekadar melakukan aktivitas yang seperti itu aku masih bisa, merekanya saja yang terlalu berlebihan. "Tisha, ini makan siang kamu, abis ini Mama sama Papa mau kondangan," ujar Mama yang baru masuk kamarku dengan membawa nampan berisi makanan. "Siang banget kondangannya." "Iya, emang acaranya dari siang sampai malam." Aku mengangguk, kemudian aku teringat sesuatu. "Ma, aku jemput Pica ya, udah bosan di rumah terus, pengin keluar." Mama menggeleng. "Kamu kan masih sakit, Sha." "Nggak, Ma. Lagian kala

