Megg nyaris terlonjak dari tempatnya berdiri ketika Sabrina membuka pintu, mereka berdua sama terkejutnya. Namun dengan cepat ekspresi Megg berubah kembali angkuh sekaligus judes.
“Aku heran kenapa Daniel memercayakan pekerjaan sebagai ghost writer untuk aktor sekelas Nick Willis padamu? Padahal dua novelmu itu tidak laku di pasaran. Penjualannya anjlok. Aku benar-benar tidak mengerti!” serunya jengkel.
Untuk kali pertama Megg menangkap kilatan emosi Sabrina yang wajahnya terbiasa dengan ekspresi datar.
“Kalau kamu mau menjadi ghost writer,” katanya seraya tersenyum samar, “aku serahkan pekerjaanku padamu, Megg.”
Sesaat Megg tampak bingung dengan apa yang Sabrina katakan.
“Tidak.” Sahut Daniel yang muncul di belakang Sabrina. Megg dan Sabrina kembali terkejut.
“Aku percaya pada Sabrina. Aku ingin dia yang menulis buku tentang Nick Willis.” Tukasnya yang menuai pandangan sengit dari Megg. Megg melesat pergi.
“Kita perlu bicara lagi, nanti malam aku akan datang ke flatmu. ” ujar Daniel sebelum meninggalkan Sabrina yang masih terdiam, tak mengerti.
**
“Bagus, Sab! Kamu akan menjadi penulis best seller dunia.” komentar Laras setelah mendengar cerita Sabrina.
Sabrina menyesap kopi hitamnya dengan ekspresi datar.
“Apa yang terjadi denganmu adalah kemungkinan yang kedua.”
“Kemungkinan kedua?” Sabrina mengangkat sebelah alisnya.
“Ya, seperti yang aku bilang, kedatangan Anne Anderson adalah kalau bukan karena dia menjalin cinta dengan Daniel, berarti sesuai dengan kemungkinan kedua yang belum sempat aku bicarakan karena Megg datang. Aku sudah menduga kalau kedatangan Anne Anderson berhubungan dengan Nick Willis.” ujar Laras bangga.
Sabrina kembali menyesap kopi hitamnya. Di dalam hatinya, Sabrina tidak menginginkan menjadi seorang ghost writer. Mengisahkan hidup orang lain sesuai dengan kehidupan nyatanya adalah hal yang tidak disukainya. Dia suka menulis tapi bukan menjadi ghost writer. Dan anehnya, Daniel memberikan tugas itu padanya yang jelas-jelas dua novelnya gagal di pasaran.
“Kamu harus bersyukur, Sab. Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan Nick Willis. Melihatnya secara langsung, mendengar suaranya, menatap matanya, mewawancarainya...” kedua mata Laras berbinar-binar, pipinya merona membayangkan kebahagiaan imajiner yang membuat Sabrina merasa kalau Laras sedang melucu. Sabrina tersenyum geli pada sahabatnya itu namun di kedalaman hatinya, dia merasa gusar dan waswas.
**
Berbagai dugaan hilir mudik di kepala Laras setelah tahu kalau Daniel akan datang ke flat mereka malam ini juga. “Kenapa Daniel datang ke flat kalau hanya ingin berbicara masalah pekerjaan, di kantor juga bisa, kan?” pertanyaannya mengandung unsur kecurigaan.
Sabrina menanggapi pertanyaan Laras dengan mengangkat bahu. Lalu pandangannya kembali tertuju di luar jendela yang gordennya sengaja ditarik menepi. Cahaya lampu yang saling bertabrakan terlihat indah dari balik jendela. Kendaraan berlalu lalang dalam damai. Tidak ada kemacetan. Salah satu hal yang disukai Sabrina dari jalanan Kota London.
Bukan kali pertama Daniel datang ke flat. Dulu, dia pernah berkunjung ke flat yang ditempati Sabrina dan Laras. Sifatnya yang humble, menganggap semua karyawannya adalah keluarga dan kebaikan hatinya juga sifat empatinya membuat nyaris seluruh karyawan yang bekerja di kantor penerbitannya betah dan enggan berpindah dari pekerjaan mereka walau diiming-imingi gaji dua kali lipat lebih besar dari gaji yang diterima.
“Bagaimana hubunganmu dengan Harry dan si Devon?” tanya Sabrina seraya berjalan ke sofa dan duduk di samping Laras.
Laras mendesah, menatap Sabrina dengan tatapan layu. “Aku ingin putus dengan Harry.”
“Kenapa? Gara-gara si Devon?” terka Sabrina. Laras mengangguk.
“Apa kamu yakin kalau Devon itu pria baik, maksudku lebih baik dari Harry? Kamu dan Devon belum bertemu sama sekali, kan?” Sabrina menghujani Laras dengan berbagai pertanyaan.
“Aku tidak tahu,” jawabnya skeptis, “tapi aku percaya kalau aku mencintai Devon dan Devon pun memiliki perasaan yang sama sepertiku.” lanjutnya.
“Itu namanya asumsi tanpa bukti yang mendasar, Ras.”
“Ada buktinya kok, setiap hari Devon mengirim kabar tentang semua aktivitasnya. Dan tentang kenangan-kenangan kita dulu.” Tanpa sadar sudut-sudut bibir Laras tertarik membentuk kurva senyuman.
Sabrina menggeleng, “Itu bukan bukti, Ras. Kenapa kamu malah seperti remaja yang baru jatuh cinta, mudah dibohongi. Kamu itu sudah dewasa, Ras, berpikirlah layaknya wanita dewasa. Bukannya ibumu ingin kamu cepat menikah.” Kritikan tajam dari Sabrina disambut dengan ekspresi gusar Laras.
“Aku tidak tahu, Sab. Mungkin ini seperti lagu Raisa; Terjebak Nostalgia.” ucapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan: kesedihan, kebahagiaan, kebimbangan.
“Dan bagaimana dengan kamu sendiri? Sudah berapa tahun kita bersahabat dan aku tidak pernah melihatmu membicarakan masalah cinta. Mau sampai kapan kamu bertahan dengan kesendirian, Sab?” balas Laras yang membuat Sabrina tercengang.
Sabrina terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Laras. Baginya cinta adalah topik yang sensitif untuk dibahas. Topik yang selalu dia hindari. Dia tidak ingin membicarakan masalah cintanya, kesendiriannya, ataupun mantan kekasihnya. Membicarakan mantan kekasih sama saja dengan mengangkat kembali luka lama.
Bel flat berbunyi. Kali ini Sabrina bisa lolos dari pertanyaan Laras. Sabrina memilih membuka pintu dan mempersilakan Daniel masuk. Dengan pakaian dan gaya santainya Daniel masuk ke dalam flat. Matanya menangkap Laras yang tampak galau.
Daniel duduk di samping Laras. Sabrina membuat kopi untuk Daniel. Cangkir kopi itu menguarkan asap tebal. Daniel menyeduh kopinya sebelum menyesapnya perlahan.
“Kamu ini pecinta kopi sejati ya? Setiap hari aku selalu melihat cangkir kopi di meja kerjamu, Sab.” kata Daniel memulai.
“Ya, Sabrina memang pecinta kopi. Sehari tanpa kopi itu seperti raga tanpa jiwa. Aku pernah melihatnya tidak minum kopi sehari, dia seperti zombie yang pucat pasi dan tidak memiliki gairah hidup.” Timpal Laras, lalu terkekeh disusul tawa kecil Daniel.
“Hidup Sabrina itu hanya dipenuhi tiga hal, Kopi, Laptop, dan buku. Dan dia pengaggum karya Jane Asuten.”
“Jane Austen?”
“Ya. Walaupun Sabrina sudah membaca novel Jane Austen berkali-kali, dia tidak pernah bosan. Kalau dihtung-hitung mungkin Sabrina sudah membaca novel Pride and Prejudice puluhan kali. Mungkin perkataanku terlalu hiperbola tapi memang itu adanya.”
Yang diceritakan hanya menatap datar Laras dan sesekali menatap Daniel untuk melihat ekspresi Daniel.
“Tapi, kenapa dua novelnya bergenre horor bukan romance?” tanya Daniel melirikkan ekor matanya pada Sabrina.
“Pengalaman cintaku tidak banyak. Menulis novel romance itu, kan, harus ada referensi perasaan bukan hanya referensi buku.” kata Sabrina yang kemudian menyesali perkataannya sendiri.
“Owh, jadi ilustrator kita ini pengalaman cintanya minim.” Daniel menatap Sabrina dengan ekspresi mengejek.
Laras terkekeh. “Aku bahkan sering meminta saran dari Sabrina. Padahal pengalamanku tentang cinta lebih banyak darinya.”
Laras dan Daniel sama-sama terkekeh. Sabrina hanya memandangi dua orang itu secara bergantian sembari tersenyum kecut.
“Kedewasaan pemikiran tidak ditentukan dari pengalaman cintanya.” Kalimat itu sukses menohok Laras yang seketika terdiam.
“Kalau kedatanganmu ke sini hanya untuk membicarakan dan mengejekku, lebih baik kamu pulang, Daniel Lee.” serunya terdengar ketus, tapi berhasil membungkam Daniel.
“Wah, sepertinya Sabrina marah,” ujar Daniel.
“Aku tidak ikutan ya. Itu urusan kalian, bye!” Laras beranjak dari sofa dan pergi meninggalkan Daniel dan Sabrina di ruangan.
Keheningan menyelimuti atmosfer di antara keduanya. Daniel menyesap kopi yang sudah tidak lagi berasap, begitu pun Sabrina. Dia memilih menenggak habis kopi hitam favoritnya dan berharap agar keheningan segera lenyap.
“Aku rasa, aku tidak ahli dalam menulis kisah orang lain. Bagaimana kalau buku tentang Nick Willis akan mendulang kerugian yang sama seperti halnya kedua novelku yang anjlok di pasaran.” kata Sabrina dengan nada serius. Daniel menatap Sabrina dengan tatapan yang tak kalah seriusnya.
“Nick Willis adalah aktor yang paling diburu saat ini. Kepopulerannya akan membawa bukumu dalam jajaran best seller. Aku jamin bukumu akan menjadi buku yang paling diburu orang-orang dan media karena di dalam bukumu nanti, Nick akan mengungkap sisi lain darinya yang belum pernah di publikasikan. Termasuk jajaran mantan kekasihnya.”
Sabrina merasa nyawanya tercabut dari tenggorokan mendengar penjelasan Daniel. Kedua daun bibirnya terbuka namun suaranya tercekat di tenggorokan.
“Kamu harus mau melakukan pekerjaan ini, Sab. Dua novelmu anjlok di pasaran dan aku berharap kamu akan menebus dosamu itu dengan menerima pekerjaan barumu. Ini saat yang tepat agar Inggris mengenalmu. Mengenal karyamu dan membanggakan Indonesia. Kamu akan menjadi salah satu penulis papan atas dari Indonesia yang namanya kekal di Inggris.” Daniel berusaha meyakinkan Sabrina dan menyemangatinya. Di satu sisi Sabrina tergiur akan perkataan Daniel tapi di sisi lain, dia enggan bertemu dan menulis kisah Nick Willis.
“Aku kan Cuma ghost writer, namaku tidak akan tercantum dalam buku.”
“Namamu akan dicantumkan. Namamu dan nama Nick.”
“Besok kita akan bertemu langsung dengan Nick Willis. Jangan menolak.” Tegas Daniel.
**