BAB 5

1173 Words
Nick dikejutkan dengan kehadiran tamu yang tak diundang dan tak diinginkannya di dalam flatnya. Wanita cantik dengan tubuh semampai dan rambut pirang keperakan bergelombang yang membingkai wajah ovalnya tersenyum semenarik mungkin. Tapi Nick, tidak berminat untuk membalas senyum wanita cantik di depannya itu. Paula Gardner. “Aku sudah membuat sandwich dan teh hitam untuk menemani sore kita, Nick.” katanya seraya kembali tersenyum lebar. Untuk sesaat Nick kehilangan kosa katanya. Dia tampak sedikit bingung untuk menolak teh dan sandwich yang sudah disajikan Paula. Nick memilih melangkah memasuki kamarnya tanpa mengomentari perkataan Paula. Dia sudah muak dengan wanita keras kepala di depannya itu. Berapa kali pun dia menolak, Paula tetap bersikukuh menjalin hubungan dengannya. Berapa kali pun Nick kencan dengan wanita lain hingga menciptakan berbagai macam skandal, Paula tetap memilih bersama Nick. Paula berdalih jika dia sangat mencintai Nick dan tidak ingin kehilangan Nick. Sebesar apa pun rasa sakit yang diterimanya dari Nick, dia akan tetap bertahan. Permasalahannya adalah Nick tidak mencintai Paula, bahkan semenjak pertama kali mereka berkencan. Dan entah bagaimana Anne bisa memengaruhi Nick hingga Nick menerima Paula sebagai kekasihnya. “Nick, kamu akan makan sandwich dan meminum tehnya, kan?” tanya Paula lembut. Nick menghentikan langkahnya sejenak dan mengangguk ragu lalu kembali melanjutkan langkahnya memasuki kamarnya. “Sudah saatnya aku berbicara serius denganmu, Nick. Tentang hubungan kita.” ucap Paula lembut setelah Nick memasuki kamarnya.                                                                       **        Nick duduk di ruang makan dengan ekspresi datar dan cenderung kaku. Dia memakai piama berwarna ungu tua. Dahi Paula mengernyit heran melihat Nick mengenakan piama di sore hari. Dua bola mata hijau cerahnya agak redup. Nick meraih cangkir dan menyesap tehnya yang sudah dingin. Dia menghela napas dalam dan mulai membuka dua daun bibirnya, “Aku sudah tidak bisa bersamamu lagi.” kata Nick. Paula menatap gusar. “Nick,” ucapnya dengan suara lirih, “Ini bukan kali pertama kamu mengatakan hal semacam itu. Dan lihat, sampai sekarang kita masih mampu mempertahankan hubungan kita.” Nick geli melihat Paula memberi penekanan pada setiap patah kata. “Aku tidak pernah mencintaimu, Paula. Apa yang kamu harapkan dari pria yang tidak pernah mencintaimu?” kata-kata Nick menciptakan warna merah padam pada wajah Paula. Paula sadar bahwa Nick memang tidak pernah mencintainya tapi mendengar langsung Nick berbicara begitu, sungguh menyakitkan! “Aku selalu percaya pada harapan, Nick. Harapan itu akan menjelma nyata kalau kamu mau belajar mencintaiku.” Kilatan emosi sesaat muncul di mata Nick sebelum padam dengan cepat. “Aku tidak bisa belajar mencintai wanita mana pun.” Tukas Nick dengan mata disipitkan. Selama sepersekian detik Paula tidak bisa bergerak. Dia membatu akibat pernyataan Nick yang selalu mematahkan harapannya. Meski begitu, dia tetap meyakini bahwa Nick akan jatuh cinta padanya. Jatuh padanya sejatuh-jatuhnya bahkan melebihi kadar cintanya saat ini. “Sampai kapan kamu menunggu hal yang sia-sia? Harapanmu itu tidak akan bisa menjadi kenyataan, bahkan sampai kamu minta pada Santa Claus agar aku mencintaimu sebagai kado natal, itu tidak akan berhasil.” Nick bangkit dari kursi, disusul Paula dengan air mata manipulatifnya. “Apa kamu mencintai wanita lain? Apa model-model sialan itu memikatmu? Apa keunggulannya sampai kamu memilih mereka dibanding aku, Nick?!” katanya dengan nada tinggi. “Bukan mereka.” Tandas Nick seraya meninggalkan ruang makan dan memasuki kamarnya dengan langkah cepat. “Bukan mereka? Lalu siapa?!” Saat itu juga demi memenuhi rasa penasarannya atas perkataan Nick, Paula mencari kontak seseorang di ponselnya dan menekan tombol panggil. “Halo Anne,” ** Keesokan harinya, Laras terpaku pada sosok wanita yang membawa tas Lous Vuitton asli berwarna cokelat. Ini kali kedua Laras melihat wanita bergaya khas kaum sosialita Inggris itu terlihat di kantor. Matanya menyipit curiga pada wanita yang cukup sering muncul di layar televisi khusus acara infotainment sebagai juru bicara Nick Willis. Dengan langkah besar Laras kembali ke ruangan Sabrina. Dia mengurungkan niatnya membuat kopi untuk Sabrina. “Sab,” seru Laras dengan mata menyala. “Ya,” Sabrina menoleh, menatap tangan kosong Laras dan berkata, “mana kopinya?” “Kamu tahu Anne Anderson yang pernah aku ceritakan, kan?” tanyanya alih-alih menjawab pertanyaan Sabrina. “Tidak,” jawab Sabrina seraya membuang muka dan kembali menatap layar komputernya. Laras menarik kursi ke samping Sabrina dengan ekspresi yang seakan-akan dia mempunyai suatu rahasia yang teramat penting dan wajib diberitahukan pada Sabrina. “Aku melihat Anne Anderson datang lagi,” katanya dengan memberi penekanan pada setiap patah kata. “Terus?” Sabrina bertanya dengan ekspresi tak peduli. “Ini aneh, Sab.” Sabrina menoleh dan Laras mengangguk, menyetujui ucapannya sendiri. “Anehnya?” dahi Sabrina mengernyit. “Ada dua kemungkinan kenapa Anne Anderson datang ke kantor kita. Pertama, kemungkinan dia menjalin cinta dengan Daniel. Kedua—“ sebelum melanjutkan kalimatnya, Megg berdeham membuat mata Sabrina dan Laras tertuju padanya. “Bukannya bekerja malah gosip.” nada suara Megg terdengar santai namun Sabrina dan Laras bisa meraba kesinisan yang terkandung di nada suara Megg. Dengan gaya sok cantik, Megg kembali membuka kedua daun bibirnya, “Daniel memanggilmu, Sabrina.” ujarnya dingin, sebelum melesat pergi Megg menatap Sabrina dengan tatapan meremehkan. Sabrina dan Laras saling bertatap untuk beberapa saat dan seolah mengerti arti tatapan Sabrina yang ditujukan kepadanya, Laras mengangkat kedua bahunya. Beberapa saat kemudian Sabrina sudah duduk di depan Daniel. Sekilas Daniel tersenyum pada Sabrina, Sabrina melihat lesung pipit Daniel yang membuatnya semakin manis di mata Sabrina. “Kamu tidak ingin bertanya kenapa aku memanggilmu?” tanya Daniel, matanya berbinar cerah. Ada sedikit binar jenaka di dalam matanya. Tapi Sabrina hanya menatap sang bos dengan tatapan serius. “Sepertinya tidak sopan kalau aku menanyakan hal semacam itu. Lebih baik aku menunggu sampai diberi tahu tentang tugas apa yang akan aku kerjakan.” jawabnya dengan nada serius. Daniel kembali tersenyum. Dahi Sabrina mengerut bingung dengan arti senyuman Daniel. Atmosfer yang menyergapnya terasa kaku namun tetap hangat. “Kamu yakin aku memanggilmu ke sini karena ada tugas?” tanya Daniel dengan nada santai. Sabrina tambah bingung dengan pertanyaan Daniel. “Kalau bukan karena tugas lalu apa?” Dia balik bertanya. Daniel membenarkan posisi kacamatanya sebelum menjawab pertanyaan Sabrina. “Ya, kalau ada pekerjaan baru yang saya berikan, kamu akan menerima pekerjaan itu, kan?” “Itu kewajiban yang harus dilakukan sebagai pekerja. Asal pekerjaan itu sesuai dengan bidang yang aku tangani.” Sabrina mengulas senyum. “Oh ya, dengar-dengar desain kamu untuk buku dongeng anak-anak sudah rampung?” “Sedikit lagi, untuk ilustrasi beberapa halaman terakhir.” “Ada seorang aktor yang cukup menyita perhatian publik Inggris karena skandal-skandalnya dengan para model papan atas.” Sabrina merasa jantungnya dipilin mendengar cerita Daniel yang semakin tidak dimengertinya akan topik pembicaraan Daniel. Apakah Daniel memanggilnya datang ke ruangannya hanya untuk bergosip? “Anne Anderson, manajer Nick Willis memintaku mencari seorang ghost writer untuk menulis sebuah buku tentang perjalanan karir Nick Willis sekaligus untuk memperbaiki citra Nick yang sudah dikenal sebagai bad boy. Dan aku menugaskanmu sebagai ghost writer untuk Nick Willis.” Sabrina merasa seluruh bagian organ tubuhnya dipilin. Dia berusaha membuka mulutnya tapi sesuatu menyekat tenggorokannya. Kedua bola mata hitamnya menatap resah Daniel seakan-akan dia tidak sanggup mengemban tugas barunya. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD