“Ngomong-ngomong apa kamu punya pacar?” celetuk Anne pada Sabrina. Sabrina terhenyak mendapatkan pertanyaan seperti itu secara mendadak.
Sabrina mengalihkan pandangannya pada Daniel. Dia menatap Daniel seakan bertanya melalui tatapan matanya atas ketidakmengertiannya akan pertanyaan Anne. Tapi, agaknya Daniel juga meminta jawaban pertanyaan dari Anne pada Sabrina.
“Kenapa Anda menanyakan hal itu? Sepertinya itu urusan pribadi saya.” jawab Sabrina, tersenyum tipis.
“Oh, ma’af kalau kamu tidak suka saya menanyakan hal itu, Miss Sabrina.” kata Anne, yang tampak merasa tidak enak atas celetukannya tadi. “Maksudku—Nick itu pria paling diinginkan para wanita, menurut survei sebuah majalah dewasa. Ini menurut survei lho, ya, bukan menurutku. Aku hanya takut kalau kamu memiliki pacar, maka pacarmu itu bisa saja cemburu terhadap Nick. Kamu harus menjelaskan secara jelas pada kekasihmu. Bagaimana ya, kurasa banyak wanita yang tidak bisa menolak pesona Nick.”
“Aku bukan tipe wanita seperti itu, aku tahu bagaimana cara bekerja secara profesional, madam.” katanya datar, namun siapa pun itu pasti tahu ada nada kesinisan di dalam perkataan Sabrina.
Anne tersenyum menanggapi perkataan Sabrina, lalu dia menatap Daniel, “Aku suka dia!” ujarnya menunjuk ke arah Sabrina dengan lirikan mata. Daniel tersenyum.
Secara tiba-tiba, tanpa ketukan, tanpa permisi, pintu terbuka. Semua mata mengarah pada sosok jangkung dengan mata sebiru kedalaman samudera. Sabrina meyakini detik itu juga hatinya berhenti berdetak.
Mata biru itu fokus menatap Sabrina, begitu pun sebaliknya. Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Waktu seakan berjalan melambat. Sabrina merasa kalau dirinya saat ini sedang berada di dimensi lain, sama seperti dia bertemu dengan pria itu di Hyde Park.
Nick memakai kaos berwarna putih yang ketat. Memperlihatkan dadanya yang berbentuk, perut seperti roti sobek dan lengannya yang berotot. Dia berjalan pelan dengan mata tetap fokus pada satu titik, yaitu; Sabrina. Wanita berkulit kuning langsat yang berbeda dengan ciri khas wanita eropa.
“Akhirnya kamu datang juga, Nick!” seru Anne memecahkan keheningan yang sempat menyelimuti atmosfer di antara mereka berempat.
Nick mengalihkan pandangannya sekilas, lalu kembali menatap Sabrina yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Kenalkan Nick, ini Daniel dan ini Sabrina. Penulis bukumu nanti.” ujar Anne seraya berdiri dan menunjuk Daniel dan Sabrina secara bergantian.
Nick belum bersuara. Aneh! Anne merasa aneh pada Nick. Nick yang cerewet dan selalu tampak gembira mendadak pendiam dengan wajah pucat dan tatapan yang terus fokus pada wanita asing di depannya.
Daniel berdiri disusul Sabrina. Dia mengulurkan tangan, Nick menatap tangan yang terulur itu, dia menatap Daniel dari atas ke bawah dan ke atas lagi lalu menjabat tangan Daniel.
“Daniel Lee, pemilik penerbitan Moccfo.” ujarnya, tersenyum. Nick membalas senyum Daniel dengan senyum tipis.
Tatapannya kembali pada Sabrina. Sabrina mengulurkan tangannya dan dengan susah payah dia berkata, “Sabrina Jani.” pita suaranya bergetar samar.
Nick tidak langsung menjabat tangan Sabrina. Bola matanya bergerak dari atas ke bawah, menatap lekat-lekat sosok yang ada di hadapannya. Sabrina Jani. Nama yang tidak asing di gendang telinganya. Nama yang entah bagaimana masih menduduki posisi khusus di salah satu ruang hatinya.
Nick hanya diam menatap tangan yang terulur itu dengan tatapan yang tidak dimengerti Anne. “Nick,” seru Anne setengah berbisik. Nick menoleh. Anne menunjuk ke arah tangan Sabrina, mengintruksikan Nick untuk segera menjabat tangan Sabrina, tapi dengan tak acuh Nick kembali menatap lekat Sabrina.
Sabrina merasakan dadanya riuh bergemuruh. Tapi dengan ketenangan yang seimbang dia berhasil menutupi segala perasaannya yang tak keruan.
“Nick, telapak tangan Sabrina perlu dijabat bukan hanya ditatap seperti itu!” seru Anne jengkel melihat Nick hanya diam. Seketika Nick terkesiap seolah baru bangun dari mimpi. Dia langsung meraih tangan Sabrina. Refleks, Sabrina merasakan jutaan impuls listrik saat tangan Nick menyentuh tangannya. Jutaan impuls listrik itu menyebar ke pergelangan tangannya dan ke seluruh tubuhnya.
Nick mencengkeram tangan Sabrina perlahan, “Nicholas Willis.” ucapnya.
Untuk beberapa saat, Sabrina dan Nick masih saling bersitatap sedangkan Daniel dan Anne tampak bingung melihat dua orang yang saling bersitatap seakan memiliki rahasia masa lalu yang sulit untuk ditelusuri.
“Ayo duduk,” tukas Anne seraya mendudukkan pantatnya ke sofa.
Sabrina segera menarik tangannya dan duduk. Ekspresi tenangnya berhasil mengelabuhi orang-orang di sekitarnya untuk menunjukkan bahwa dia dan Nick memang tidak saling mengenal. Tapi tentu bagi Anne yang mengenal Nick lebih dari lima tahun paham akan keanehan Nick.
“Sabrina ini penulis novel, dia juga bekerja sebagai ilustrator di penerbitan Moccfo. Miss Sabrina akan menulis bukumu. Kamu hanya perlu menjawab semua pertanyaannya dan menghabiskan waktu bersamanya untuk beberapa waktu ke depan.”
Nick mengarahkan pandangannya kembali ke arah Sabrina. Sabrina menundukkan wajahnya dan mengangguk. Nick tampak tenang. Dia tidak berkomentar apa-apa, tapi dari raut wajahnya ada aura keceriaan yang bisa dibaca Anne.
Ponsel Daniel berdering, dia meraih ponselnya dan membaca pesan yang masuk. “Aku ada urusan, ma’af sekali aku harus pergi sekarang,” katanya dengan tatapan menyesal setelah membaca pesan di ponselnya.
“Ya, tidak apa-apa. Nick yang akan mengantarkan Sabrina ke kantor kalau mereka sudah berbincang.” ujar Anne enteng.
“Ah, tidak. Lebih baik aku pergi dengan Daniel saja.” sela Sabrina dengan wajah panik yang menuai pandangan protes dari Daniel.
“Tidak, Sab. Kamu harus tetap di sini. Kalau kamu sudah selesai berbincang dengan Daniel, kamu bisa menelponku. Aku akan menjemputmu.”
“Hei, aku sudah membatalkan kontrak kerja untuk hari ini demi menemuimu dan kamu mau pergi dengan Daniel karena urusan lain?” kata Nick dengan bahasa informal. Tatapan mata Nick serius tapi Sabrina dapat melihat kejailan dari tatapan mata Nick.
“Nick benar. Kurasa kamu lebih baik di sini, Sab.” Daniel berkata seraya meraih tasnya dan bergegas pergi dengan meninggalkan senyum yang seakan berkata, “Tidak apa-apa.”
“Hati-hati, Daniel.” Anne melempar senyum khasnya, Daniel membalas senyum Anne sekadarnya.
Selepas kepergian Daniel, keheningan menyeruak untuk beberapa saat. Anne sibuk dengan ponselnya. Nick mengetuk-ngetuk meja kaca dengan tatapan yang terus mengarah pada Sabrina. Tatapan mengintimidasi. Sabrina kikuk.
“Sabrina, silakan memulai perbincangan dengan Nick, aku ada keperluan sebentar.” katanya lalu menatap Nick, “Nick, Jangan nakal pada Sabrina. Dia tidak akan tertarik pada pria semacam dirimu.” tukas Anne sebelum melesat pergi.
Nick kembali menatap Sabrina setelah Anne menutup pintu. Dia menempelkan punggungnya pada sandaran sofa, mengangkat sebelah alisnya dengan lagaknya yang sok dan menyilangkan tangannya di depan d**a. Sabrina tidak menyukai posisi duduk Nick yang seperti itu. Posisi duduk itu persis seperti pertama kali dia bertemu dengan Nick di rapat organisasi dulu.
“Jadi, kamu yang akan menulis bukuku?” katanya dengan nada sinis. Sabrina membenci pertanyaan semacam itu, apalagi ada nada kesinisan di dalam pertanyaannya.
“Tanpa kujawab, kamu sudah tahu.” jawabnya singkat dan ketus.
Nick mengangguk-ngangguk, “Ngomong-ngomong aktingmu tadi lumayan juga. Tapi, percayalah Anne dan temanmu itu pasti mencurigai kita. Sebentar lagi mereka pasti akan tahu siapa kamu sebenarnya di masa laluku.” Nick nyengir.
“Kuharap kamu bisa menjaga rahasia. Jangan katakan pada siapa pun tentang masa lalu kita. Aku tidak akan mema’afkanmu kalau ada yang tahu tentang itu Nick.” kata Sabrina dengan memberi penegasan pada suaranya.
Nick tertawa hambar. Dia mencondongkan kepalanya, mendekat pada wajah Sabrina seraya berbisik, “Kamu menulis buku tentangku, pasti ada namamu karena kamu adalah salah satu mantan kekasihku, Sabrina.” nada suara Nick membuat Sabrina merasa terbakar. Wajahnya memerah. Dia menatap tajam Nick.
“Kamu masih seperti dulu, pemarah, penyendiri, sensitif dan sangat menakutkan seperti raja hutan.” sambarnya lalu terkekeh.
“Kalau kamu jadi istriku, aku akan mengajakmu bulan madu di hutan Amazon.” celetuk Nick. “Tempat yang cocok untukmu.” imbuhnya.
“Oh ya? Sayangnya, itu tidak akan terjadi, aku tidak akan pernah jadi istrimu, Nick.” balas Sabrina dengan salah satu sudut bibir terangkat ke atas.
“Setelah menjadi aktor seleramu tentulah bukan wanita sepertiku. Seleramu itu adalah wanita-wanita yang tidak suka berpikir berat, wanita yang waktunya sering dihabiskan untuk berfoya-foya, pesta dan bar.” seloroh Sabrina yang membuat Nick tergelak.
“Kamu selalu berpikir buruk tentangku, Sabrina. Tapi kamu harus ingat kalau dulu kamu pernah mencintai lelaki yang memiliki selera wanita rendahan seperti itu.”
“Ya, sebelum kamu menjadi aktor dan memiliki hobi bermain-main dengan para wanita.” tandas Sabrina yang berhasil membungkam Nick untuk beberapa saat. Bayangan melankolis yang aneh terlukis di senyum Nick.
Sabrina merasa dadanya nyeri karena perkataannya yang baru saja terlontar, tetapi dia juga merasa puas melihat Nick yang tediam seakan sedang mencerna kata-katanya yang sebenarnya sangat menohok Nick hingga ke palung hatinya.
Sejenak keheningan yang canggung menyelimuti mereka berdua yang masih membisu satu sama lain.
“Kamu kalah Nick, kamu melanggar sumpahmu sendiri.”
“Ya, aku kalah. Asal kamu tahu bahwa selama—“
“Aku datang...” suara Anne datang bersamaan dengan suara pintu yang terbuka, memotong kalimat Nick yang belum terselesaikan.
“Katakan padaku apa yang kalian bicarakan selama aku tidak ada?” pinta Anne dengan wajah gembira. Sabrina heran dengan Anne yang selalu tampak gembira dan seakan tidak memiliki beban apa pun.
Anne tersenyum lebar, “Nick tidak menakalimu, kan?” tanyanya dengan raut wajah jenaka. Sabrina menggeleng. Isyarat gerakkan kepalanya memiliki arti ganda.
“Aku merasa lega,” Anne menatap Nick. “Aku senang melihat kalian berdua bersama.” Anne duduk dengan sebelah kaki diangkat ke atas.
“Jadi, apa saja yang kamu bicarakan dengan Nick, Sabrina?” Anne kembali bertanya, dia menatap Sabrina dengan tatapan penasaran.
“Aku rasa pertemuanku kali ini dengan Nick cukup.” Sabrina melirik Nick, “Dia, orang yang menyenangkan. Terima kasih atas waktumu, Nicholas Willis.” Lalu Sabrina berdiri seraya meraih sling bag berbahan kulit sapi asli, produk handmade dari Indonesia yang dibelinya secara online.
“Terima kasih,” katanya pada Anne.
“Kamu mau pergi?” tanya Anne cepat.
“Ya, aku dan Nick bisa melanjutkan perbincangan nanti sekalian wawancara.” jawab Sabrina sembari tersenyum yang memiliki arti dan hanya Sabrina sendiri yang tahu arti dari senyumannya itu.
“Nick akan mengantarkanmu,” cegah Anne ketika Sabrina melangkah, Sabrina terpaksa berbalik.
“Aku bisa pergi sendiri. Nick itu aktor besar, dia pasti sangat sibuk dengan para wanitanya.” sindirnya, Sabrina berbalik dan meninggalkan Nick yang menatapnya dengan hampa. Anne masih terlihat bingung. Dia menatap Nick dengan tatapan menyelidik, curiga.
“Apa kalian berdua pernah berseteru?” tanya Anne dengan sebelah alis terangkat.
**