BAB 9

1388 Words
Nicholas Willis. Nama yang tidak asing bagi gendang telinga Sabrina, bahkan sebelum dunia mengenal Nick Willis. Namanya terbingkai dalam sebentuk kenangan yang—sebenarnya masih menghantui Sabrina. Nick Willis pernah dijuluki Monster oleh Sabrina ketika mereka kuliah dulu. Nick yang tempramen dan suka mengamuk ketika memiliki pendapat yang berbeda dengan dirinya. Nick yang egoistis menginginkan semua berjalan sesuai dengan kehendaknya. Tapi cinta membawa mereka yang berlawanan arah menjadi satu arah. Seiring berjalannya waktu, pertahanan Nick yang keras mulai runtuh dan setuju dengan segala pendapat Sabrina. Cinta mereka diuji ketika Nick mendapatkan tawaran bermain film. Sabrina yang tidak suka dengan dunia selebritas meminta Nick untuk menolak tawaran bermain film. Nick tidak mengindahkan permintaan Sabrina dan cenderung memilih bermain film. Sabrina yang merasa dipinggirkan memilih pergi. Sesuai dengan dugaannya, Nick berubah! Berbagai skandal menyeret nama Nick Willis. Sabrina terluka. Selama lima tahun dia belum bisa membuka hati pada pria mana pun. Nama Nick Willis terlalu sulit untuk dihapus. “Aku bersumpah, aku tidak akan jatuh cinta pada siapa pun selain kamu.” “Akan kucatat sumpahmu di hatiku. Tapi jangan salahkan aku jika nanti kamu akan melihatku bersama pria lain yang menggenggam tanganku.” Sial! Kenangan buruk itu menyapa Sabrina. Kenangan yang seharusnya sudah terhapus oleh waktu. Kenangan yang harusnya tenggelam karena Nick sudah melanggar sumpahnya sendiri. Dan parahnya, belum ada pria lain yang menggenggam tangannya. Sabrina terduduk di bangku putih yang kosong. Sepi. Hanya bertemankan dengan pohon-pohon yang daunnya gugur. Angin mempermainkan anakan rambutnya. Beberapa daun yang berwarna kuning kecokelatan jatuh di bahunya. Sabrina menyentuh dadanya dan dia merasakkan jantungnya yang berdegup kencang. “Tidak ada pembelaan apa pun ketika aku mencercanya. Bukti bahwa makhluk bernama pria itu memang cepat lupa. Dan mungkin dia juga sudah melupakan sumpahnya,” gumam Sabrina. Rahangnya memang kuat sekaligus anggun. Sabrina selalu tampak bersikap wajar dan berkespresi datar. Akan tetapi, hati Sabrina sangat rapuh. Itu sebabnya dia selalu menghindari topik pembicaraan mengenai masalah percintaannya. Ponselnya berdering, membuyarkan hening yang sedang dinikmatinya. Karena malas melihat layar ponsel, Sabrina langsung mengangkat teleponnya dan menyahut datar, “ Ya, Sabrina Jani di sini.” katanya secara formal. Terdengar suara tawa di seberang sana, menciptakan kerutan di dahi Sabrina. “Juna, stop!” serunya dengan nada galak. “Sudah tahu yang nelpon adiknya, malah jawabnya begitu, hahaha,” Juna kembali terbahak. “Langsung saja deh, ada apa?” tanyanya tidak berselera. “Kalendernya sudah dibikin Kak, kapan transfer uangnya?” Juna bertanya alih-alih menjawab. “Berapa kali sih Kakak harus bilang, Kakak tidak butuh kelender, Jun.” semburnya. “Kakak payah! Minta uang buat kirim kalender gambar adiknya sendiri saja tidak dikasih.” Omel Juna. Hening sejenak.                          “Yasudah, nanti Kakak transfer uangnya.” kata Sabrina akhirnya setelah merenung sekian detik. Dia malas mendengarkan permohonan Juna. “Nah, begitu dong! Sekalian biaya pulsanya ya, Kak. Pasti pulsanya terkuras gara-gara telpon Kakak.” “Junaaaa!!” pekiknya. Seketika sambungan telepon terputus sepihak. Juna pasti mematikan teleponnya kalau Sabrina sudah memekik seperti itu layaknya pekikan seekor burung gagak. Sabrina menghela napas sebelum bangkit dan meninggalkan bangku itu bersama pohon-pohon yang daunnya berguguran. Sabrina memilih pulang menggunakan bus. Setelah berada di dalam bus, Sabrina memerhatikan keadaan di sekelilingnya. Sepi. Hanya ada beberapa orang di dalam bus. Seorang pria yang sedang membaca buku tentang bisnis dengan mimik wajah serius. Seorang gadis muda berambut panjang duduk manis sambil bermain ponsel. Seorang nenek yang sedang menatap hampa jalanan melalui kaca jendela. Dan Sabrina memilih melakukan hal yang sama dengan nenek yang duduk di samping kirinya itu. Dengan pikiran yang kusut menyerupai benang yang digulung-gulung tak keruan. ** Sesampainya dia di depan flat, dahinya mengernyit. Emily, tetangga flatnya berjongkok di depan pintu flat dengan membawa sebuah gitar. Rambut hitam lurus sempurna terlihat berantakan, kelopak matanya dihiasi eyeshadows berwarna hitam pekat, celak gelap menambah kehororan matanya. Emily mempermainkan senar gitarnya tanpa aturan. Kepalanya digeleng-gelengkan sesuai dengan bunyi senarnya. “Emily,” Sabrina memandang heran. Emily mendongak dan seketika wajahnya berbinar cerah. Sejurus kemudian dia berdiri dengan gerakan cepat. “Aku dengar Miss Sabrina mewawancarai Nick Willis?” tanyanya dengan wajah ekspresif. Nada suaranya terdengar ceria. “Nick Willis itu aktor kesayanganku, lho.” lanjutnya. “Nenekku bilang, Anda akan menulis buku tentangnya. Apa itu benar? Oh, aku ingin sekali bertemu dengannya. Nenekku juga sangat mengidolakan Nick Willis.” Sabrina menatap Emily dengan tenang. Sekarang dia sadar kalau penggemar Nick bukan hanya dari kalangan wanita dewasa, remaja berusia belasan tahun hingga nenek-nenek seperti nenek Emily pun menggemari sosok Nick Willis. “Emily, ma’afkan aku, tapi aku tidak mewawancarai Nick Willis. Lebih baik kamu pulang dan belajar.” Usirnya secara lembut. Seketika kedua mata Emily berubah mengerikan. “Anda bohong!” serunya sengit. “Laras sendiri yang bilang kalau hari ini Anda bertamu bertemu Nick Willis dan mewawancarainya.” Sabrina mendesah. Sahabatnya itu memang tidak bisa menjaga rahasia. Ya, walaupun bertemu Nick dan mewawancarainya bukanlah suatu rahasia yang besar, tapi nyatanya Sabrina tidak suka kalau orang-orang tahu hal itu. Sejenak Sabrina bingung. Emily masih menatapnya dengan tatapan menuntut kejujuran Sabrina. “Oke, begini saja, kalau aku mewawancarai Nick, aku akan memberitahumu.” katanya mencoba menenangkan Emily yang masih bertahan dengan tatapan menuntutnya itu. “Anda tidak mewawancarainya?” tanyanya sedikit melunak. “Dia seorang aktor besar Emily, waktu untuk bertemu dengannya sangat terbatas. Aku hanya baru bertemu dengannya dan belum mewawancarainya, itu pun hanya sebentar.” Terang Sabrina dengan ketenangan yang masih dipertahankannya. Emily menjulurkan kepalanya dan berkata setengah berbisik, “Apa Anda tidak bohong?” “Kamu bisa memegang ucapanku,” Sabrina mengulurkan tangannya, Emily menatap tangan Sabrina lalu meraihnya. “Aku pegang ucapan Anda,” balas Emily dengan seulas senyum misterius. Melepaskan jabatan tangannya pada Sabrina dan melesat pergi. Sabrina mendesah kesal dan melontarkan u*****n pada Laras seraya membuka kode flatnya. Sabrina melempar tasnya sembarangan dan duduk dengan posisi kepala di atas sandaran sofa. Hari ini terasa melelahkan padahal Sabrina tidak bekerja sekeras kuli bangunan. “Daripada aku membuang-buang waktu, lebih baik aku mencari informasi tentang Nick di internet sebagai bahan referensi buku nanti,” katanya pada diri sendiri. Mencari informasi tentang Nick di internet atau di mana pun adalah salah satu hal yang paling dihindari Sabrina, akan tetapi hari ini dan seterusnya dia akan sering menggali informasi tentang Nick. Entah sampai kapan dia menyiksa dirinya dengan mencari berita-berita tentang Nick, termasuk skandal pria itu. Sebelum Sabrina menyalakan komputernya, ponselnya berdering. Tertera nama di layar, Daniel. “Halo,” sahut suara di sana. “Ya,” jawab Sabrina singkat. “Anne mengabariku kalau kamu pulang sendirian dan tidak mau diantar, kenapa tidak menelponku, Sab?” “Aku bisa pulang sendiri kok.” “Kamu tidak ke kantor?” “Tidak, aku pulang saja. Aku mau mencari informasi Nick dari internet dulu sebagai referensi bukunya nanti.” Terdengar helaan napas di seberang sana. “Ya, lebih baik kamu di rumah. Lagian pekerjaan kamu sekarang cuma nulis tentang Nick Willis saja kok.” Hening sejenak. “Oh iya, Sab, menurutmu bagaimana Nick Willis?” Dahi Sabrina mengernyit, “Bagaimana apanya?” “Sifatnya? Apa dia menggodamu?” tanya Daniel hati-hati sekaligus khawatir. Sabrina tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa, sedikit hambar. “Kenapa tertawa?” tanya Daniel. “Tidak, Nick tidak menggodaku. Dia hanya membahas masa lalunya saja. Itu pun tidak banyak.” ujar Sabrina dengan wajah getir. “Oh ya? Masa lalu adalah hal yang paling menarik untuk didengarkan dan diperbincangkan. Apalagi kalau masa lalu itu milik Nick Willis.” Sabrina langsung mengalihkan topik pembicaraannya ke hal lain. Masa lalu Nick Willis adalah dirinya sendiri. Sabrina tidak ingin namanya diungkit dan dimasukkan ke dalam buku yang akan ditulisnya nanti. Dia berharap agar Nick juga setuju untuk menjaga privasinya yang tidak ingin diketahui publik karena bila publik tahu tentang Sabrina, bisa jadi dia akan menjadi salah satu wanita yang diincar paparazzi. “Kita harus bisa membuat buku itu menjadi buku best seller.” kata Daniel tegas sekaligus tulus. Kata ‘kita’ yang didengar Sabrina membuatnya merasa hangat sekaligus semangat. “Nama Nick akan  menjual buku itu melebihi buku-buku penulis tekenal.” “Iya, dan kamu akan mengalahkan penjualan buku-buku penulis terkenal” timpal Daniel yang menciptakan lengkungan senyum di bibir Sabrina. “Daripada aku terus-terusan mengkhayalkan hal semacam itu lebih baik aku segera memulai tulisannya.” “Iya, itu lebih baik. Selamat bekerja dan semangat!” “Oke,” jawabnya singkat lalu memutuskan sambungan teleponnya. **    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD