Sembari ditemani lagu Adele berjudul Some one like you yang diputarnya dari ponsel, Sabrina mulai mencari informasi tentang Nick Willis di komputer tuanya. Ada perih yang merayapi sudut hatinya kala melihat beberapa foto Nick dengan seorang model cantik asal Brazil. Foto itu memperlihatkan Nick yang sedang tertidur pulas dengan bertelanjang d**a dan si wanita memeluk Nick dalam satu selimut.
Sabrina ingin mematikan komputernya saat itu juga, karena membaca artikel yang membahas skandal Nick sama saja dengan membiarkan perih itu menjalari seluruh bagian hatinya. Sabrina memilih terus membaca artikel itu sampai selesai. Kemudian kembali membaca artikel-artikel lainnya tentang Nick dari artikel yang membahas skandal, karir dan hubungan asmaranya.
Kekasih Nick Willis adalah seorang pengusaha kaya raya sekaligus model berdarah Meksiko. Mereka sudah merajut asmara selama dua tahun. Meski Nick memiliki banyak skandal dengan wanita lain, Paula tetap bertahan padanya. “Nick mencintaiku dan aku pun mencintainya. Aku tahu skandal yang beredar adalah bagian dari hiburan sama seperti pria-pria lain pada umumnya. Aku selalu percaya dihati Nick hanya ada aku.”
Mendadak d**a Sabrina sesak setelah membaca penjelasan Paula Gardner. Sabrina merasakan apa yang Paula rasakan sebagai seorang wanita.
“Untuk apa mempertahankan pria semacam Nick?!”
Kenangan-kenangan masa lalunya bersama Nick tiba-tiba muncul berlompatan di otaknya. Dulu Nick bukan seorang bad boy, playboy dan semacamnya yang suka memainkan wanita mana saja. Pria itu dulu cuek cenderung dingin terhadap wanita. Dan setahu Sabrina, Nick memiliki selera yang tinggi terhadap wanita sehingga dia tidak akan mudah mengucapkan kata cinta. Nick pernah bercerita bahwa dia hanya memiliki dua mantan kekasih setelah dia resmi menjadi kekasih Sabrina. Sabrina adalah mantannya yang ketiga. Dan entahlah, Sabrina tidak mengerti. Apa mungkin selera Nick kini berubah? Apa murni karena dia terpesona akan kecantikan wanita-wanita yang dekat dengannya?
Sabrina menggigit ujung kukunya sembari memandang foto Nick di layar komputernya. Ya, jika dibandingkan dengan wanita-wanita di sekeliling Nick, Sabrina memang tidak layak disandingkan dengan mereka. Mereka memiliki postur tubuh yang tinggi semampai dengan pinggang berbentuk layaknya gitar spanyol. Berhidung mancung, berbibir tebal yang seksi, selalu mengenakan baju yang berbelahan rendah, dan modis.
“Kenapa aku malah memikirkan hal-hal aneh, sih!” serunya dengan nada kesal.
“Itu, kan, urusan Nick. Dia berhak menyukai siapa pun, aku tidak boleh mengomentari seleranya.”
Sabrina meraih ponselnya dan mematikan musik yang sedang diputarnya. Matanya tampak resah, entah keresahan macam apa yang terlihat jelas di kedua matanya itu. Namun, satu hal yang Sabrina tahu bahwa Nick sekarang berbeda dengan Nick lima tahun lalu. Nama Sabrina mungkin hanya sebagai rangkaian huruf yang tak berarti di hati Nick.
Untuk menghilangkan keresahannya saat ini, Sabrina memilih mematikan komputernya dan melangkah menuju kamarnya. Melemparkan tubuhnya begitu saja di atas ranjang dan memejamkan mata dengan damai.
**
Esoknya, sebelum mandi Sabrina menyesap kopi hitamnya. Dia memakai piama bergambar bunga tulip.
“Tadi malam, kamu kemana, Ras?” tanya Sabrina mengawali percakapan di pagi hari.
Laras pulang sekitar pukul tiga pagi. Sabrina khawatir dan menghubungi Laras lewat ponsel, tapi nomornya tidak aktif.
“Di rumah Devon.” jawabnya riang.
Sebelah alis Sabrina melengkung, “Di rumah Devon?” tanyanya tajam.
Laras mengangguk. “Pulang dari kantor, Devon menjemputku, Sab. Dia bilang mau mengajakku kencan. Eh, aku kelelahan di rumahnya dan ketiduran, deh.”
“Kencannya jadi?”
“Jadi, hehe.”
“Setidaknya kamu kasih tahu aku dulu, kan, bisa, Ras.”
“Ma’af Sab, aku ketiduran. Ponselnya juga mati.” dalihnya.
“Kali ini, aku ma’afkan. Tapi lain kali aku tidak menjamin akan mema’afkanmu.” Sabrina kembali menyesap kopinya.
Laras mengangkat kedua tangannya yang menggenggam muffin, “Ini, muffin untukmu sebagai permintaan ma’afku,” Laras berkata dengan nada serius namun ekspresinya tampak konyol.
Sabrina tidak bisa menahan senyumnya yang lepas begitu saja karena tingkah sahabatnya itu. “Sejak kapan aku suka muffin, Ras?”
Laras menepak jidatnya keras, “Ya ampun, aku lupa kalau kamu tidak suka muffin ckck.”
“Oh, ya? Jadi hari ini kamu akan bertemu dengan Nick Willis lagi, kan?” tanya Laras mengalihkan topik pembicaraan seketika raut wajah Sabrina berubah.
Sabrina menanggapi pertanyaan Laras dengan mengangkat bahu, “Aku tidak tahu.”
Laras mendengus, kemudian memakan muffin-nya.
Bel flat berbunyi. Kedua pasang mata Sabrina dan Laras memandang ke arah pintu flat secara bersamaan. Lalu mereka saling memandang, Sabrina mengangkat bahu.
“Siapa ya?” tanya Laras.
“Devon kali,” sahut Sabrina asal.
“Oke, aku saja yang membuka pintunya. Semoga saja Devon.” Laras bangkit dari tempat duduknya, wajahnya bersinar cerah seakan-akan yang datang memang Devon.
Sepersekian detik Laras terpaku dengan ekspresi wajahnya yang tidak percaya akan apa yang dilihatnya setelah pintu flatnya terbuka. Laras terperangah hebat.
“Siapa, Ras?” teriak Sabrina.
Laras tidak menjawab. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa yang dilihatnya itu adalah sosok nyata Nick Willis.
Nick menjulurkan kepalanya seraya tersenyum, “Boleh aku masuk?”
Laras mengangguk cepat.
Sabrina mendengar derap langkah, dia menoleh dan ekspresinya sama terkejutnya dengan ekspresi Laras. Pupilnya melebar. Seakan mimpi kalau Nick datang ke flatnya pagi ini. Nick tersenyum lebar, bukan hanya bibirnya yang tersenyum, matanya pun ikut tersenyum. Nick membenamkan kedua tangannya pada saku celana jeansnya.
Nick mengenakan turtleneck sweater biru tua, celana jeans dan sepatu keds. Rambutnya diolesi pomade sehingga terlihat rapih, klimis, mengkilap dan menawan.
“Sab, coba siapa yang datang ke flat kita?” Laras berbisik di telinga Sabrina.
“Nick Willis...” jawab Sabrina datar seraya menoleh. Semua keterkejutannya teredam cepat.
“Aku masih belum percaya kalau yang datang ke flat kita adalah Nick Willis yang asli.”
“Jadi, menurutmu yang datang itu Nick Willis kw?” tanya Sabrina setengah bercanda.
“Daripada kita terus berbisik, lebih baik kamu mempersilakan Nick duduk di sofa ruang tamu bukan mengajaknya ke dapur.” perintah Sabrina halus.
“Tidak, tidak. Aku mau duduk di sini bersama kalian.” kata Nick ramah. Tanpa disuruh dia duduk di sebelah Sabrina.
Sabrina menatap tidak suka pada Nick yang duduk di depannya. Nick mengangkat dagunya seakan berkata, “Apa?” pada Sabrina. Sabrina mengernyit heran.
Laras tampak semringah. Kedatangan Nick Willis secara tiba-tiba dan mengejutkan membuatnya merasakan suntikan energi baru. Laras masih belum mampu berkata-kata pada seorang aktor kenamaan yang bertamu di flatnya sepagi ini.
Nick Willis lebih tampan dari pada di foto. Batin Laras.
“Tidak ada kopi untuk tamu pagi ini?” tanya Nick menatap Laras dan Sabrina secara bergantian.
“Akan kubuatkan!” seru Laras dengan mata menyala.
Nick tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke arah Sabrina.
“Tamu menyuruh tuan rumah itu termasuk sikap yang tidak sopan.” Celetuk Sabrina menyindir. Nick yang merasa tersindir membalas celetukan Sabrina.
“Tuan rumah yang tidak memberi tamunya minum juga tidak sopan.” balasnya tenang.
Nick mengulurkan kepalanya dan mendekati daun telinga Sabrina, “Coba lihat temanmu itu, dia begitu terpesona dengan ketampananku.” Sabrina melihat Nick tersenyum sombong, lalu pandangannya tertuju pada Laras yang sedang mengaduk kopi dengan mata yang mengarah pada Nick. Sabrina bergidik ngeri.
“Dia itu penggemarmu, jadi wajar, kan, kalau dia terpesona beda halnya denganku, Tuan Nick Willis.” kata Sabrina memberi penekanan pada nama ‘Nick Willis’.
“Kopinya, Nick.” kata Laras, meletakkan kopi di atas meja seraya tersenyum secantik mungkin.
“Terima kasih,” Nick menatap Sabrina, “Nah, lebih baik kamu mandi karena hari ini kamu mulai bekerja menulis bukuku.”
“Apa?” tanya Sabrina dengan dahi mengernyit.
“Mandi Miss Sabrina, aku memerintahmu untuk mandi. Apa perlu aku yang memandikanmu?” tanyanya dengan tatapan mata menggoda yang jenaka.
Laras tercengang mendengar pertanyaan Nick, meskipun di dalam nada bicaranya terdapat unsur keisengan, akan tetapi jika Laras yang ditawari Nick seperti itu dia tidak akan berpikir dua kali untuk menjawab ‘ya’.
Sabrina merasa darahnya naik mendengar pertanyaan Nick. Tapi dia berusaha setenang dan sedatar mungkin agar tidak mengundang kecurigaan Laras. Sabrina tidak pernah menceritakan mantan kekasihnya itu pada siapa pun termasuk Laras.
“Aku bukan bayi yang perlu dimandikan. Aku bisa mandi sendiri.” balas Sabrina dingin.
Laras mendengus, Sabrina benar-benar tidak memiliki sisi romantis sama sekali.
“Kamu masih sama seperti du—“
“Nick!” katanya tajam dengan tatapan mata menegur.
“Oke, aku tidak akan berkomentar.” jawab Nick.
“Aku akan mandi, dan tolong jaga mulutmu itu.” katanya dengan nada mengancam seraya berdiri.
“Iya, aku akan menjaga mulutku demi kamu. Aku tidak akan mencium wanita mana pun kalau kamu menginginkannya,” Nick menjawab sambil tersenyum jail.
Sabrina menatap tajam sekaligus tidak suka pada Nick sebelum melesat pergi ke kamar mandi sedangkan Laras menatap bingung kedua orang itu secara bergantian.
Bukankah mereka baru bertemu kemarin, tapi kenapa Nick dan Sabrina seperti sudah lama kenal satu sama lain. Ekspresi Nick ketika menatap Sabrina dan ocehan-ocehan anehnya. Sabrina tidak canggung dan cenderung dapat mengendalikan diri meladeni ocehan Nick. gumam Laras dalam hati.
**