Sabrina memandangi berbagai makanan yang disajikan di atas meja restoran. Sedangkan Nick memfokuskan perhatiannya pada sosok wanita di depannya itu. Sabrina Jani. Tidak ada yang berubah dari raut wajah Sabrina. Semua masih sama seperti lima tahun lalu. Mata hitamnya yang kecil namun tidak terlalu sipit. Bibirnya yang ranum dengan bibir bagian atas yang lebih tebal dari bibir bawahnya. Hidungnya yang mancung. Dan kulitnya yang berwarna kuning langsat. Syal hijau melingkari leher Sabrina. Sweater hitam dan rok panjang motif shabby chic, membuatnya tampak anggun.
“Makanan itu harus dimakan bukan hanya ditatap dengan tatapan aneh seperti itu, Sab.”
Sabrina mendongak menatap Nick, sinar matahari yang menembus jendela dengan bebas menyinari sebagian wajah Nick yang membuatnya tampak bercahaya.
“Aku tidak mengerti Nick, pagi-pagi kamu datang ke flatku dan membawaku ke Restoran Madison yang masih sangat sepi. Coba kamu lihat, tidak ada siapa pun di sini selain karyawannya.” Sabrina menggerutu.
“Aku sengaja menyewa Restoran ini, kalau aku tidak menyewanya kamu bisa bayangkan semua pengunjung menatapku, lalu tiba-tiba ada yang meminta foto, menyentuh pipiku, mencubit pipiku, memelukku dan mencium bibirku. Semua wanita di London mengidolakanku, Sab.” ungkapnya bangga.
Sabrina tertawa hambar.
“Aku tidak.” katanya enteng.
“Kamu bisa makan terlebih dulu sebelum melanjutkan perbincangan kita.” tukas Nick.
“Aku bingung harus makan yang mana?”
“Pilih yang kamu suka.”
“Aku tidak suka semuanya.”
“Kenapa tadi tidak bilang kalau kamu tidak suka makanan yang aku pesankan?”
“Aku tidak berniat untuk makan.”
Nick tampak jengkel, ternyata sifat kekanak-kanakan Sabrina belum sepenuhnya hilang walau usianya sudah menginjak 25 tahun. Nick melambaikan tangan untuk memanggil seorang waitress dan menyuruh Sabrina untuk memesan makanan kesukaannya. Sabrina memesan makanan Fish and Chips.
“Makanan favoritmu memang tidak pernah berubah ya.” kata Nick setelah waitress itu pergi.
“Kesukaanku tidak pernah berubah.” ujarnya singkat, tapi Nick tahu kalau kalimat itu tidak hanya memiliki satu arti.
“Oh ya, Nick,” lanjutnya memberi jeda pada kalimatnya, “aku mau di dalam bukumu nanti tidak ada namaku. Maksudku—tidak perlu memintaku untuk menulis cerita tentang kita.”
“Hahaha,” Nick terbahak.
Sabrina menatap Nick dengan tatapan tajam sekaligus menegur.
“Kamu tahu, Sab, saat aku tahu bahwa kamu yang akan menulis bukuku, aku ingin tertawa sekeras-kerasnya karena—“ Nick menyetop kata-katanya ketika matanya menatap mata Sabrina.
“Karena itu artinya kamu menuliskan cerita kita.” Nick berkata dengan nada lembut yang serius, Sabrina menolak dan entah kenapa kata ‘kita’ yang meluncur dari bibir Nick terasa hangat di sudut hatinya.
“Aku membayangkan bagaimana kalau media tahu bahwa bukuku ditulis oleh mantan kekasihku sendiri.” Nick tidak bisa menahan tawanya.
“Nick!!” pekik Sabrina berhasil menghentikan tawa Nick dan menuai tatapan heran dari beberapa karyawan yang mendengar pekikan Sabrina. Sabrina menatap sekeliling dengan perasaan malu.
“Aku mau menjadi penulis untuk bukumu karena Daniel.” tukasnya.
“Daniel?” Nick menangkap beberapa arti dari ucapan Sabrina, dia menatap Sabrina curiga.
Sejenak Sabrina menghela napas panjang, mengumpulkan segenap kosa kata yang akan diluncurkan dari kedua daun bibirnya. “Dia bosku dan aku harus menuruti perintahnya.”
“Hanya itu?” tanya Nick memancing rasa penasarannya.
“Nick, mengertilah aku bekerja pada perusahaannya. Kalau Daniel tidak memaksaku, aku tidak akan mau bekerja sama denganmu, apalagi menulis buku yang mengupas kehidupan pribadimu dari semua sisi baikmu hanya untuk mengubah image negatifmu.”
“Itulah alasan kenapa dari dulu aku tidak suka dunia selebritas. Penuh kepalsuan dan kebohongan.” imbuhnya tajam.
Nick tersenyum menanggapi perkataan Sabrina. Dia malah merasa senang diceramahi oleh mantan kekasihnya itu. Setidaknya saat ini dia sudah mengetahui alasan Sabrina dulu melarangnya terjun ke dunia entertainment. Dan ya, memang begitulah adanya. Nick menemukan kepalsuan dan kebohongan yang selalu mengiringi langkahnya di dunia yang membesarkan namanya itu.
“Aku suka gayamu saat mengkritik sesuatu, Sab.” Pujinya.
Bukannya tersenyum mendengar pujian dari Nick, Sabrina malah cuek dan tetap memasang wajah dengan ekspresi sebal berharap Nick cepat mengakhiri pertemuan yang setiap detiknya adalah siksaan bagi Sabrina.
Nada dering ponsel Nick menginterupsi keheninangan di antara mereka. Nick mengangkat ponselnya, tertera nama di layar ‘Paula Gardner’, tangannya enggan menekan tombol yes dan memilih mematikan ponselnya.
Ketika matanya kembali terarah pada Sabrina, dia menangkap sepasang iris Sabrina yang sedang menatapnya. Refleks, Sabrina membuang muka.
Ya, Nick memang tampan dan Sabrina mengakui itu.
“Jadi... sampai sekarang kamu masih sendiri?”
Sabrina menoleh dengan tatapan terkejut. Dia tidak langsung menjawab. Sabrina membiarkan Nick kembali bersuara, tapi Nick memilih diam sampai Sabrina yang bersuara.
“Apa urusannya denganmu?” Alih-alih menjawab dia malah bertanya balik.
Kedatangan waitress yang menyajikan pesanan Sabrina di meja mencegah Nick kembali melontarkan suaranya. Dia mengatupkan bibirnya rapat sampai waitress itu pergi dari meja makan mereka.
Sabrina memilih memakan makanannya dibandingkan kembali melanjutkan topik pembicaraan mereka. Nick yang sudah menghabiskan makanannya memilih meminum wine yang sedari tadi dianggurkannya.
Nick memberi waktu Sabrina untuk menikmati makanannya. Tapi kedua bola matanya tidak bisa dialihkan, tetap fokus pada wajah wanita di depannya itu. Nick secara bebas memperhatikan cara Sabrina makan. Dari dulu Nick memang suka memperhatikan mantan kekasihnya itu makan. Nick melihat perbedaan dari cara makan Sabrina dengan wanita Inggris. Sabrina cenderung makan dengan cepat sedangkan wanita Inggris cenderung lambat dalam mengunyah makanan.
Sabrina tampak cuek dan hanya memfokuskan diri pada makanannya meski sebenarnya dia tidak berselera untuk makan. Entah bagaimana cara kerja otaknya yang setiap kali melihat Nick selera makannya hilang.
“Jadi benar, kan, kata Laras kalau kamu masih sendiri?” tanya Nick lagi.
Sabrina tersedak mendengar ucapan yang meluncur dari bibir tipis Nick. Dia buru-buru mengambil gelas dan menenggaknya. Nick memberikan tisu, tanpa pertimbangan Sabrina meraih tisu itu dan mengusapkannya secara perlahan pada mulutnya.
“Laras bilang apa?” Sabrina bertanya dengan raut wajah kesal bercampur tidak sabar.
“Dia bilang, kamu tidak pernah cerita tentang pria mana pun dan tidak pernah melihatmu kencan selama kalian tinggal bersama di flat.” jelas Nick dengan tenang, tapi siapa pun itu pasti bisa melihat binar cerah di matanya.
“Ah, anak itu memang tidak bisa menjaga mulut embernya!” umpat Sabrina dalam hati.
“Dan kamu percaya pada ucapan Laras? Ya ampun, kamu bodoh Nick kalau kamu percaya pada Laras.” katanya. Raut wajah Sabrina kini tampak lebih santai.
“Aku tidak punya alasan untuk tidak percaya pada sahabatmu itu, Sab.” Kedua sudut bibir Nick tertarik ke atas. Dia tersenyum menang sekaligus senang.
Sejenak Sabrina terdiam. Dia menatap dalam mata biru sebiru kedalaman samudera itu. Seakan menelusuri sesuatu yang disukainya. Sesuatu yang berhubungan dengannya juga Nick. Tapi, tiba-tiba kesadaran itu membuncah penelusurannya. Dan dia sadar bahwa mata biru itu bukan miliknya lagi sejak lima tahun lalu.
“Apa kamu tidak pernah menjalin hubungan lagi setelah berpisah denganku?” tanya Nick dengan tatapan mata dan nada suara serius.
Sabrina merasa dadanya berdebar-debar. Debaran yang nyaris mati selama lima tahun namun kini debaran itu hidup kembali. Detakkan jantungnya lebih cepat dari biasanya. Dia merasa tegang, ada sensasi aneh di perutnya. Sensasi seperti dipilin.
“Kalau kamu hanya ingin membicarakan masalah pribadi lebih baik aku pulang. Aku datang ke sini untuk mewawancaraimu Nick bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.”
“Apa susahnya menjawab pertanyaanku. Jawabannya hanya dua kan, ‘ya atau tidak’.” kata Nick dengan sikap arogannya.
“Kalau kamu hanya ingin membahas kerjaan, baiklah. Aku akan menjawab pertanyaannya. Silahkan bertanya.” mulut Nick tampak muram.
Sabrina meraih tasnya dan mengeluarkan selembar kertas yang berisi tulisan-tulisannya. dia menyodorkan selembar kertas itu pada Nick dan mengambil ponselnya di atas meja. Menekan tombol perekam dan kembali menyodorkannya pada Nick.
Nick menatap Sabrina dan ponsel yang disodorkan itu secara bergantian dengan tatapan heran.
“Baca pertanyaannya dan rekam jawabanmu di sini,” ujar Sabrina mengangkat ponselnya lebih dekat dengan mulut Nick.
“Hah?” Nick memasang tampang bingung.
“Iya, Nick. Baca pertanyaannya dan rekam jawabanmu di ponselku.” seru Sabrina dengan nada cukup tinggi.
“Ya,” sahut Nick meraih ponsel dari tangan Sabrina.
Tangan kanannya memegang ponsel yang didekatkan mulutnya sedangkan tangan kirinya memegang selembar kertas yang berisi pertanyaan-pertanyaan.
“Ceritakan masa kecilmu?” Nick mengangkat sebelah alisnya. “Bukannya aku pernah cerita tentang masa kecilku sewaktu kita masih bersama—maksudku—sewaktu masih kuliah.”
“Kenapa kamu memberikan aku pertanyaan yang sudah pernah aku jawaban sih!” gerutu Nick.
“Aku lupa.”
“Lupa? Ingatanmu itu payah sekali! Jangan-jangan kamu juga lupa kalau kita pernah berciuman di taman kampus.” Nick berkata dengan nada jail khasnya.
“Nick!!” pekik Sabrina yang kembali menuai tatapan heran dari beberapa karyawan yang sedang bekerja.
“Jangan protes! Jawab saja pertanyaan yang sudah kutulis.”
“Dasar pemarah,” gerutu Nick.
Sepanjang pagi itu hingga menjelang siang hari Nick menjawab semua pertanyaan dari selembar kertas milik Sabrina. Semua pertanyaan dijawab Nick, akan tetapi satu pertanyaan yang belum ditulis Sabrina ataupun tidak akan ditulis Sabrina adalah—tentang mantan kekasihnya bernama Sabrina. Sabrina berdalih kalau pertanyaan-pertanyaan itu hanya mencangkup kehidupan Nick dan belum mengarah ke pertanyaan yang membahas cinta.
“Setelah selesai mewawancaraimu, besok aku akan datang ke kantor manajemen untuk mewawancarai Anne Anderson.” tukas Sabrina seraya memasukkan ponsel dan selembar kertas itu ke dalam tasnya.
**