BAB 12

1572 Words
Malam hari ketika kedua mata Sabrina menatap langit dari balik jendela flatnya dan tak ada satu pun bintang yang muncul di langit gelap. Tanpa sadar Sabrina tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Nick. Tidak ada yang berubah dari pria itu, dia masih sama seperti lima tahun lalu. Hanya saja dia lebih terlihat menyebalkan dengan lirikan-lirikan nakalnya. Sabrina meraih ponselnya di atas tumpukan buku di meja riasnya. Tangannya membuka file yang berisi rekaman jawaban Nick atas pertanyaan yang ditulisnya. “Ceritakan masa kecilmu?” “Bukannya aku pernah cerita tentang masa kecilku sewaktu kita masih bersama—maksudku—sewaktu masih kuliah.” “Kenapa kamu memberikan aku pertanyaan yang sudah pernah aku jawaban sih!” “Aku lupa.” “Lupa? Ingatanmu itu payah sekali! Jangan-jangan kamu juga lupa kalau kita pernah berciuman di taman kampus.” “Nick!!” “Jangan protes! Jawab saja pertanyaan yang sudah kutulis.” “Dasar pemarah.” Pupil Sabrina melebar mendengar rekaman awal yang merekam perbincangan mereka tanpa disadarinya sama sekali. Namun, keterkejutan itu cepat teredam oleh keantusiasannya mendengarkan suara Nick. “Masa kecilku sama seperti masa kecil orang lain. Menyukai bola, mengidolakan pemain bola, mempunyai klub bola favorit. Saat kecil dulu aku tidak pernah bermimpi menjadi aktor. Tapi, jalan kehidupan membawaku ke dunia ini. Dunia yang—“ Dering ponsel menjeda suara Nick. Sebuah pesan masuk. Dan yang membuat Sabrina terkejut adalah pengirim pesan itu. Nick Willis. “Selamat malam, Hamsterku.” Kedua alis Sabrina saling bertaut, ‘hamsterku’ adalah panggilan kesayangan Nick saat mereka masih menjalin hubungan dulu dan Sabrina memanggil Nick dengan sebutan ‘monsterku’ sebagai panggilan kesayangannya. Jari-jarinya dengan lincah mengetik huruf demi huruf untuk membalas pesan Nick. “Selamat malam juga, monsterku.” “Astaga, kenapa aku mengetik kalimat seperti itu?” buru-buru Sabrina menghapus pesannya. “Ya ampun, apakah aku terjebak dalam masa laluku. Bangun Sabrina! Bangun!” Sabrina menepak kedua pipinya secara bersamaan seolah-olah menyadarkannya pada mimpi yang keliru. Sabrina meletakkan ponselnya di atas tumpukkan buku. Dia memilih untuk tidak membalas pesan Nick. Nick hanyalah masa lalunya, meski dia tidak menyangkal tentang rasa yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Sabrina menutupi kepalanya dengan bantal guling. Berusaha memejamkan matanya, tapi usahanya untuk tidur sia-sia. Matanya kembali terbuka, dipejamkan lagi dan kembali terbuka. Begitu seterusnya hingga Sabrina keluar dari kamarnya dan membuat kopi demi memenangkan pikiran dan hatinya. “Bikin apa, Ras?” tanya Sabrina ketika kedua bola matanya menangkap Laras yang sedang menuangkan air panas di dalam gelas. “Teh,” sahut Laras. “Kamu mau bikin kopi?” Sabrina mengangguk. Sabrina memasukkan kopi instan ke dalam mugnya. “Sab, tadi di kantor Daniel bolak-balik ke ruangan kamu. Wajahnya gelisah. Dia menyuruhku menelponmu, aku bilang saja sebenarnya kalau pagi-pagi Nick datang dan kalian berdua pergi, eh, wajahnya tambah gelisah. Aku curiga—“ Laras berjalan mendekati Sabrina dengan sebelah alisnya yang terangkat, “Jangan-jangan, dia—suka—kamu” ucap Laras dengan memberi jeda pada setiap kata yang diluncurkan kedua daun bibirnya. Sabrina tertawa hambar. “Malah tertawa!” “Itu benar,” ucap Sabrina yang membuat pupil Laras membulat. “Tapi Cuma ada di dunia imajinasi Laras.” Sabrina kembali tertawa. Laras mendecakkan lidahnya diakhiri dengan mulutnya yang mengerucut lucu. “Tadi Megg juga pakai rok mini dan kemeja yang kancing atasnya dibiarkan terbuka.” Cerita Laras lagi. “Terus?” tanya Sabrina tak berselera. “Saat berpapasan dengan Daniel aku melihatnya menonjolkan bagian dadanya.” Laras menunggu perubahan ekspresi datar Sabrina. Saat ekspresi datar Sabrina berubah tampak sedikit penasaran, Laras kembali melanjutkan ceritanya, “Anehnya,” lanjutnya dengan ekspresi menggebu-gebu, “Daniel biasa saja cenderung tidak peduli dengan kemolekan tubuh Megg!” kedua mata Laras tampak meyakinkan Sabrina. “Tidak mungkin seorang pria normal tidak melirik sedikit pun pada kemolekan tubuh Megg. Itu aneh, Sab. Aneh!” “Tadi kamu bilang kamu curiga Daniel menyukaiku. Barusan kamu bilang Daniel aneh karena tidak melirik kemolekan tubuh Megg. Apa maksud kamu, Daniel menyukaiku tapi dia gay, begitu?” Laras tampak bingung dengan pemikirannya sendiri. “Mungkin,” jawabnya ragu. “Aku tidak tahu.” Laras mengangkat bahu. ** Daniel membisu di ruangannya. Mempermainkan kursor laptopnya tanpa tujuan pasti. Air mukanya keruh. Tidak ada semburat senyum yang biasa terlihat dari wajahnya meski dia sedang sendiri. Meskipun pendiam, Daniel tipikal orang yang semangat. Baginya hidup adalah perjuangan dan perjuangan tidak bisa terlaksana tanpa adanya semangat. Tak jarang dia suka memberi semangat pada karyawannya tak terkecuali Sabrina. Daniel memiliki darah tionghoa yang diturunkan ibunya. Mata sipit yang menawan sekaligus misterius menjadi daya pikatnya ditambah lesung pipit yang makin membuatnya tambah manis. Dari awal kedatangan Megg di kantornya, wanita molek itu memang sudah jatuh hati pada Daniel ditambah sifat Daniel yang menganggap karyawan adalah sahabat sekaligus keluarga. Daniel bukanlah pria yang mudah jatuh cinta. Dinding hatinya keras melebihi baja. Sangat sulit baginya membuka hati untuk makhluk bernama wanita. Sama seperti Sabrina. bedanya Daniel tidak memikirkan mantan kekasih yang meninggalkannya. Tapi Sabrina, masih memikirkan mantan kekasih yang melepaskannya. Daniel berbeda dengan pria lain yang mudah terpikat pada wanita karena fisik. Dia akan jatuh cinta pada wanita seiring dengan kedekatannya dan pemikiran-pemikiran cerdas wanita itu. Megg tentu tidak masuk dalam dua kategori itu. Yang tanpa berkata pun Daniel sudah menjelaskan dia tidak bisa menyukai Megg apalagi jatuh cinta padanya. Namun ada seorang wanita yang kini berhasil menerobos dinding hatinya tanpa upaya yang berarti. Wanita itu selalu tampak datar dan seakan tidak peduli di sekelilingnya. Dan kedua bola mata hitamnya selalu menampakkan sesuatu yang sulit dideteksi. Pintu terbuka dengan gerakan mendesak, “Kamu memanggilku?” tanya Sabrina dengan gestur tubuh yang terburu-buru. Tanpa sadar kedua daun bibir Daniel terbuka. “Ya, masuklah.” Sabrina duduk di depan Daniel. Pagi ini dia tampak berantakan. Tidak ada polesan lipstik warna nude yang biasa menghiasi kedua daun bibirnya. Rambutnya tampak acak-acakan, tapi Sabrina tidak peduli seberapa kacau dirinya pagi ini. Semalam dia tidur jam empat pagi. Dia tidak sempat membuat kopi hitam kesukaannya. Daniel memperhatikan Sabrina yang tampak tidak rapi seperti biasanya, tapi dia tidak peduli dengan penampilan Sabrina karena baginya melihat Sabrina di pagi hari seperti menerima suntikan vitamin c hingga seribu miligram. “Apa yang kamu lakukan dengan Nick kemarin?” Sabrina terkesiap mendengar pertanyaan yang terdengar ganjil di telinganya. Apa yang kamu lakukan dengan Nick kemarin? “Aku hanya mewawancarai Nick,” jawab Sabrina lugas. “Hanya itu? Kamu yakin?” Daniel tampak begitu penasaran, jawaban Sabrina kurang memuaskannya. Sabrina tersenyum kikuk. “Ya, hanya itu. Kenapa pertanyaanmu seperti itu?” kali ini Sabrina yang bertanya dengan penasaran. “Tidak. Aku hanya khawatir Nick melakukan hal-hal tidak senonoh padamu. Kamu tahu dia pria macam apa, kan? Aku merasa aneh saat Laras bilang Nick pagi-pagi datang ke flatmu dan dia membawamu pergi entah kemana.” Sabrina menangkap ketulusan dari mata dan nada suara Daniel. Pria itu benar-benar mengkhawatirkannya. London adalah kota metropolis dimana masyarakatnya hedonis dan cenderung tidak peduli dengan kehidupan orang lain. “Aku kenal Nick kok. Dia tidak seperti yang diberitakan media. Aku percaya padanya.” Entah kenapa Sabrina mengatakannya dengan begitu percaya diri, tapi mendadak dia menyesali perkataannya yang—tentu akan mengundang kecurigaan Daniel. “Kamu sudah mengenal Nick?” tanyanya curiga. Kegugupan menyergap Sabrina sesaat sebelum akhirnya dia merubah ekspresinya dengan ceria. “Iya, waktu kita datang ke kantor manajemennya itu, lho. Dari situ aku tahu Nick tidak seperti yang media beritakan.” Jawaban Sabrina tidak memuaskannya. Pertemuan singkat dua hari bisa membuat Sabrina mengatakan hal yang berlainan dari media dengan yakin? “Bagaimana hasil wawancaranya?” tanya Daniel, wajahnya berubah muram. “Aku masih harus mendatanginya beberapa kali lagi dan hari ini aku akan pergi ke kantor manajemennya untuk mewawancari Anne Anderson.” Daniel mengalihkan pandangannya ke arah laptopnya, mengetik asal dan berkata, “Jangan lupa wawancara kekasih Nick juga. Namanya Paula Gardner.” Daniel kembali menatap Sabrina untuk melihat ekspresi Sabrina mendengar nama kekasih Nick. pandangannya menunduk dan mengangguk. Daniel menatap dalam Sabrina untuk menelusuri jejak-jejak kecurigaannya. “Tapi... aku tidak janji bisa mewawancarainya.” “Kenapa?” tanya Daniel dengan dahi mengernyit. “Tujuanku menulis buku Nick adalah untuk merubah image negatifnya sebagai bad boy. Kalau aku mewawancarai Paula Gardner yang jelas-jelas dalam hal ini, dia adalah wanita yang tersakiti, itu akan memperburuk image negatif Nick.” Tukas Sabrina serius. “Sebenarnya cara yang paling ampuh untuk membersihkan nama Nick adalah perubahan. Nick hanya memilih apakah dia akan bertahan dengan Paula dan meminta ma’af kepada publik karena telah menyakiti Paula. Atau meninggalkan Paula dengan catatan meminta ma’af pada publik dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama.” Daniel terhenyak mendengar perkataan Sabrina yang tidak terpikirkan oleh dirinya dan juga pihak manajemen. Pihak manajemen Nick hanya meminta dirinya membuat buku tentang Nick. Pilihannya menjatuhkan pekerjaan itu pada Sabrina memang tepat. “Keburukan seseorang yang sudah tercipta di benak banyak orang tidak akan hilang hanya dengan menampilkan sisi baik Nick. Hanya dengan permintaan ma’af tulus Nick kepada Paula dan publik. Mengakui segala kesalahannya dan tidak menggantungkan status Paula sebagai kekasihnya.” Sabrina tersenyum kalah sebelum melanjutkan ucapannya. “Itu bukan ranahku. Tugasku hanya menulis untuk Nick demi—“ Sabrina tidak melanjutkan kalimatnya. Wajahnya mendadak melankolis. Bayangan melankolis itu tertangkap jelas di mata Daniel. “Aku harus kembali ke ruangan, ada beberapa pekerjaan yang belum selesai.” ucapnya seraya bangkit dan pergi dengan wajah tertunduk. Daniel tidak mencegah Sabrina pergi. Daniel hanya diam, mencerna setiap ekspresi, gerak-gerik dan kalimat-kalimat yang meluncur dari kedua daun bibir Sabrina. Berbagai asumsi bergelayut di kepalanya. **  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD