Sabrina mengumpat dirinya sendiri atas kecerobohan dan kebodohannya membiarkan mulutnya bergerak bebas mengeluarkan pendapat-pendapat yang tidak seharusnya. Sabrina tidak punya kuasa apa pun untuk memberikan saran. Tapi toh, pendapatnya hanya didengar Daniel bukan Nick ataupun pihak manajemen.
Ketika membuka pintu ruangannya, matanya terbelalak lebar. Terperangah melihat kedatangan seseorang yang tidak terduga. Sabrina hanya meninggalkan ruangannya sebentar tidak sampai 20 menit tapi Nick muncul tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kebiasaan yang sering dilakukan Nick sejak mereka masih menjalin hubungan dulu.
Nick duduk di kursi Sabrina dan mengangkat sebelah tangannya dengan senyuman lebar. “Selamat pagi, Hamster?” sapanya hangat.
“Nick, apa yang kamu lakukan di sini?” Sabrina menutup pintu pelan, lalu mendekat.
“Mengajakmu ke kantor manajemenku. Kamu bilang akan mewawancarai Anne, kan?”
“Aku bisa pergi sendiri.”
“Tidak boleh! Hari ini aku akan mengantarkanmu ke sana.” Nick bangkit dan mendekati wanita yang menatapnya penuh kejengkelan.
Batang hidung Sabrina mengernyit. “Aku tidak mau pergi denganmu, Nick.”
“Kenapa?” Nick menangkupkan telapak tangan di pipinya seperti anak kecil.
“Aku tidak mau saja.” Sabrina membuang muka.
“Tidak mau terus, kapan maunya?” Refleks, Sabrina kembali mengarahkan tatapannya pada Nick. Pria itu menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
Nick mengangkat tangannya dan mengetuk-ngetuk dahi Sabrina dengan buku jarinya secara perlahan dan terkesan lembut. Sabrina menangkis ketukan Nick. Menatapnya penuh amarah.
“Kekeras kepalaanmu masih sama seperti dulu. Belum berkurang rupanya.” Nick meraup rambutnya yang masih rapi dan klimis dengan satu tangan.
Pria itu masih sama seperti dulu. Suka melakukan hal-hal yang tak terduga.
Mereka berdua masih sama. Tidak ada yang berubah kecuali... status Nick sekarang.
Sabrina meraih tasnya dan pergi dengan langkah besar tanpa berkata apa pun. Nick dengan cepat menyusulnya. Orang yang melintasi koridor kantor menatap heran Sabrina dan Nick. Seperti sebuah film drama romantis, di mana sang pria mengejar si wanita yang sedang marah dan mencoba menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
Mata Megg menyipit tajam melihat Sabrina dikejar-kejar Nick Willis. “Aku rasa ada sesuatu di antara mereka,” gumamnya yang tanpa sadar didengar orang lain.
“Kupikir juga begitu.” sahut suara Laras yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Megg melirik tajam dengan sebelah alis terangkat pada Laras. Laras membuang muka, tampak tak acuh pada Megg dan melangkah maju, pergi menuju ruangannya dengan berkas-berkas yang baru didapatnya, kiriman dari para penulis.
Sabrina berhenti sejenak melihat hujan yang menyambutnya di luar saat dia sampai di lantai satu. Hujan itu tidak menyurutkan niatnya untuk pergi ke kantor manajemen Nick.
“Hujan, Sab.” kata Nick menegur.
“Kamu takut hujan?” tanyanya tajam.
“Tidak, tapi hujan akan membuatmu sakit.”
Mengabaikan Nick, Sabrina melangkah dengan mantap.
“Dasar keras kepala,” gerutu Nick.
Nick melepas jaketnya dan mengikuti langkah Sabrina. Dia mengangkat jaketnya ke atas kepala Sabrina. Sabrina menghentikan langkah, menatap Nick dengan tatapan yang melunak. Mata biru itu balik menatapnya. Mereka berdua berada di bawah hujan yang masih setia menemani mereka.
Tanpa disadari Sabrina dan Nick, Daniel melihat adegan yang tak biasa itu. Daniel mengerjap dari balik kacamatanya untuk memastikan bahwa dua orang di depannya itu Sabrina dan Nick. Tidak ada yang berubah. Bahu Daniel terkulai lemas kala Sabrina dan Nick kembali meneruskan perjalanan mereka dengan jaket kulit yang diangkat ke atas, memayungi Sabrina.
**
Sabrina melunak karena sikap Nick. Meskipun tidak mengiyakan ajakan Nick yang ingin mengantarnya bertemu Anne, tapi saat ini Sabrina sudah duduk di Van merah kuno Nick. Sembari menyetir, sesekali Nick mengangkat matanya melihat spion atas. Memerhatikan Sabrina yang diam. Tapi Nick tahu melalui mata Sabrina bahwa wanita itu sebenarnya sedang berpikir keras. Entah apa yang dipikirkannya.
Nick kembali mengingat masa lalunya. Kembali mengingat Sabrina Jani. Wanita keras kepala, berhati dingin dan cenderung tertutup. Introvert. Entah berapa kadar keintrovertan Sabrina. Nick masih sangat hapal wajah satu-satunya teman Sabrina.
Nick juga ingat betapa sulitnya meyakinkan Sabrina kalau dia benar-benar mencintai wanita itu, dan menyesali betapa mudahnya dia melepaskan Sabrina hanya karena tawaran bermain film. Tapi toh, dia percaya bahwa takdir mempunyai alasan mempertemukannya kembali dengan Sabrina.
Hujan berhenti meninggalkan jejak basah di jalan yang dilalui Nick.
Sepasang iris Sabrina menangkap Nick sedang menatapnya. Nick membuang wajah dan kembali memandang jalanan yang setiap sisinya dihiasi pohon-pohon yang daunnya berguguran. Dan basah.
“Di Indonesia, kamu suka musim hujan, kan?” Nick memulai perbincangan mereka. Sekilas dia menatap Sabrina.
“Siapa yang bilang?” tanya Sabrina alih-alih menjawab. Sabrina menatap tajam bercampur hangat dan ada sedikit keinginatahuan.
Nick mengangkat salah satu sudut bibirnya ke atas, “Itu ucapanmu lima tahun lalu.” jawab Nick hangat. Dia menatap kilat Sabrina. “Katamu musim hujan itu musim yang romantis. Dan kamu paling suka buku tentang hujan. Sayang, Inggris curah hujannya rendah dan kalaupun hujan hanya sebentar.”
Sudut hati Sabrina menghangat. Dia terpaku beberapa saat mencerna penjelasan Nick. Nick masih mengingat perkataannya lima tahun lalu. Perkataan sepele yang—dia pun tidak ingat pernah mengatakan itu. Tentang hujan. Tentang kesukaannya pada hujan.
Sabrina membasahi bibirnya, “Sekarang aku tidak suka hujan. Baik di Indonesia ataupun di Inggris.”
“Oh ya? Wah, padahal aku mulai suka hujan, lho.”
Sabrina tersenyum ironis, “Sejak kapan? Setahuku kamu tidak suka hujan.” sindirnya tajam.
“Sejak kamu pergi dari kehidupanku,” jawaban Nick mengundang rasa penasaran Sabrina. namun sebelum dia membuka mulutnya, Sabrina melihat seseorang yang memotret dari belakang kaca spionnya.
“Sial!” umpat Nick kesal.
Paparazzi.
**
Paula Gardner mengetuk-ngetukkan buku jarinya pada meja dengan tidak sabar.
“Bukan mereka, Paula Gardner.” ucapan Nick itu berdengung-dengung di kepalanya secara konstan. Dia teramat penasaran dengan maksud ucapan Nick. Benarkah ada wanita lain selain dirinya? Selain model-model itu?
“Mungkin saat itu Nick hanya bicara asal.” Anne tampak santai dengan balutan dress vintage berwarna tosca.
Paula menggeleng. “Nick bukan pria yang suka asal bicara,” sanggahnya.
“Setahuku—“ Anne sempat menutup kembali mulutnya, tapi tatapan mata Paula yang menuntut membuatnya kembali meneruskan kalimatnya. “Nick memiliki kekasih saat dia kuliah dulu.”
“Dulu?” Paula mengangkat sebelah alisnya seraya memiringkan kepalanya.
“Iya, tapi aku juga tidak tahu apa yang dimaksud Nick mantan kekasihnya itu atau bukan. Aku juga merasa kalau Nick masih belum bisa melupakan seseorang. Entah siapa, aku tidak tahu.” Nick tidak menceritakan apa-apa, tapi Anne bisa membaca hati seorang pria. Dan menurut asumsinya Nick belum bisa melupakan seseorang. Entah siapa seseorang itu.
“Kamu tidak bisa berlama-lama di sini, Nick akan marah kalau tahu aku membolehkanmu masuk dan bertemu denganku.”
Paula hendak membuka mulut sebelum dering ponsel Anne mengintervensinya. Anne menatap layar ponsel dengan alis berkerut.
“Nick kembali membuat masalah.” ujar Anne mengangkat kepala, menatap Paula.
**