Emil membuang puntung rokoknya begitu sampai ia melihat pintu rumahnya yang terbuka dengan lebar. Langkahnya yang cepat dan terburu-buru langsung menuju rumah untuk melihat kamar adiknya. "Sial! Kabur ke mana anak itu, hah?!" bentaknya dengan menendang kencang pintu lemari. Tangannya terulur menyentuh kunci lemari yang rusak dan menggores pinggiran daun lemari. "Kalau lemari ini gue kunci dari luar, gimana caranya dia kabur?" bingungnya. "Dan ini―" kalimat Emil mengambang saat ia melihat gagang pintu kamar Adinda juga juga rusak. "Semuanya dirusak dari luar, apa ada yang nyelamatin dia di sini?" lanjutnya mencoba menebak. "Aishh! Siapa juga yang berani bawa kabur anak itu?" Dengen tergesa ia merogoh ponselnya dan langsung menghubungi nomor ayahnya. Tetapi belum sempat ia menghubungi no

