Janji Dalam Hati

1997 Words

Hafiz menutup wajahnya rapat-rapat. Biar saja kehabisan napas, yang jelas ia benar-benar merasa malu hingga rasanya ingin menghilang saja. "Menikahlah dengan saya, Adinda." Mengingat kalimat yang ia katakan sebelumnya membuatnya mendesah panjang. Bagaimana bisa mulutnya begitu ceroboh seperti itu? Bagaimana bisa kalimat itulah yang pertama kali ia ucapkan ketika gadis itu sudah sadar kembali? Bagaimana bisa ia mengatakan kalimat seperti itu ketika kedua orangtuanya dan juga Mahesa berada di ruangan yang sama dengannya? "Bodoh banget," cibirnya yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Apa yang ia lakukan tadi benar-benar memalukan. Sangking memalukannya, ia sampai melarikan diri dan tidak ingin wajahnya terlihat oleh orang-orang. "Yang tadi itu ... apa kamu serius?" Hafiz sontak melepaska

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD