Jangan Pergi

2535 Words
Sudah lebih dari lima kali Hafiz melirik jam tangannya. Ia resah karena sudah hampir jam 8, tapi ia masih belum juga sampai di kantor. Jangankan sampai, mendekati saja tidak. Jalanan pagi ini entah mengapa jauh lebih padat dibandingkan hari biasanya. Hafiz hanya bisa menghela napas panjang sambil memijit pelipisnya yang seketika merasa pusing melihat kemacetan di depan mobilnya yang sama sekali tidak bergerak. Jemari Hafiz hanya bisa mengetuk resah stir kemudinya tanpa bisa berbuat apa-apa. Namanya juga Jakarta, kalau sudah macet ya hanya bisa pasrah sampai berhasil menuju tempat tujuan. Tanpa sadar Hafiz membuka kaca jendelanya karena bosan. Ia bisa membayangkan bagaimana Bos besar akan memarahinya nanti jika ia sampai ketahuan telat datang ke kantor. "Heh, Mbak!! Kalau jalan tuh pake mata, jangan pake dengkul!!" Hafiz sontak menoleh ke kanan saat mendengar suara seorang pria berteriak. Di dua mobil di depan di samping kanannya, ada seorang perempuan yang sedang dimarahi oleh pemilik mobil tersebut. Hafiz tak mengerti masalahnya, tapi yang jelas suara pria itu jelas terdengar sampai ke telinga Hafiz. "Heh, Pak!! Bapak yang kalau punya mata dipake! Lagi macet begini wajar kalau pejalan kaki mau lewat! Punya mobil butut gini aja belagu banget!!" perempuan tersebut balas teriak. Hafiz yang mendengar teriakan perempuan itu bahkan sampai bergidik ngeri, apalagi saat kaki perempuan itu menendang badan depan mobil tanpa takut. "Dasar perempuan kurang ajar!!!" teriak pria tersebut. Bertepatan saat pemilik mobil tersebut ingin keluar dari mobilnya untuk memberi pelajaran pada perempuan tersebut, perempuan tersebut sudah berlari setelah memeletkan lidahnya pada pemilik mobil. Rambutnya yang panjang bergelombang ikut bergoyang karena larinya. "Loh, itu ... " Hafiz mengerutkan keningnya tipis. Kepalanya sampai menoleh mengikuti kepergian perempuan tersebut yang tadi berlari melewati mobilnya. "Itu kan ... " Hafiz berusaha mengulas ingatannya akhir-akhir ini. "Cincinnya bagus, kenapa kamu buang?" "Kamu ... siapa?" "Aku? Kenalin, namaku Adinda Giska Larasati, kamu bisa panggil aku Dinda." perempuan bernama Dinda itu langsung mengulurkan tangannya pada Alhafiz. "Nikah yuk sama aku?" "Aku tahu, kamu lagi patah hati, kan? Makanya nikah aja sama aku." "Mulai malam ini aku sah jadi calon istri kamu, jadi cincin ini juga sah milik aku." "Cewek aneh itu?" tanya Hafiz pada dirinya sendiri. "Dia beneran cewek yang waktu itu kan? Yang ngambil cincin milik Kinara?" Hafiz terus bertanya pada dirinya sendiri. Tin! Tin! Belum selesai berpikir, mobil di belakangnya sudah menyembunyikan klakson. Saat Hafiz menghadap ke depan, rupanya sudah saatnya ia melajukan mobil. Tanpa berlama-lama lagi, Hafiz terpaksa harus melajukan mobilnya dan menghentikan pandangannya yang sempat memperhatikan kepergian perempuan aneh tadi. Tebakan Hafiz benar, ia datang terlambat ke kantor. Dengan langkahnya yang terburu-buru Hafiz langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai sembilan. "Hafiz!" seruan tertahan itu membuat Hafiz menoleh cepat. Kinara berdiri tepat di belakang tubuhnya. "Kamu telat pagi ini?" Hafiz langsung mengalihkan pandangannya cepat. "Hem," dehamnya sebagai jawaban. Kinara langsung memasang wajah cemberut karena Hafiz yang memberikannya respon acuh pagi ini. Tak seperti Hafiz yang biasanya selalu memberikan senyum tipis. "Kamu belum sarapan ya? Pagi-pagi gini udah ditekuk mukanya." Hafiz hanya diam tak menjawab. Ia duduk di kursinya setelah menaruh tas kerjanya. "Hafiz kalau aku ngomong itu dijawab dong, masa didiemin gitu sih?" Kinara langsung nyengir begitu Hafiz menatapnya. "Aku sibuk, banyak kerjaan. Lagian nggak enak nanti kalau dilihat sama Pak Eshan," ujar Hafiz dengan suara pelan. "Ih kok kamu gitu? Pak Eshan juga tahu kok kalau kamu sahabat baik aku." "Nar, boleh minta tolong?" "Boleh, ngomong aja. Apa yang bisa aku bantu?" "Duduk di kursi kamu dan jangan ganggu aku." Bukan hanya bibirnya Kinara yang mengerucut maju tetapi juga seluruh wajahnya yang cemberut mendengar cara Hafiz mengusir secara halus. "Ih kamu beneran ngeselin banget sih hari ini!" dengan hentakan satu kakinya, Kinara langsung pergi dari hadapan Hafiz dan menuju meja kerjanya sendiri. Hafiz menghela napas panjang. Berat untuknya berusaha mengabaikan kehadiran Kinara di dekatnya. Tapi mau bagaimana lagi, Kinara yang sekarang bukanlah lagi perempuan yang masih dengan bebasnya berteman dengannya. Hafiz merasa jika Kinara dilindungi oleh dinding yang tinggi saat ini, sehingga membuatnya harus terus berjaga jarak. *** Adinda celingak-celinguk di atas trotoar pinggir jalan. Pelipisnya sudah bercucuran keringat, tapi ia masih belum juga menemukan kafe tempatnya melamar pekerjaan. Saat Dinda dipecat dari pekerjaannya 2 hari yang lalu, Adinda tidak pernah berhenti untuk mencari pekerjaan yang baru. Setiap kali ia menemukan flyer dicari karyawan, maka Adinda dengan cepatnya langsung menghubungi nomor yang tertera. Adinda harus segera mencari pekerjaan baru jika ia masih ingin bertahan hidup. Jika hari ini ia belum juga menemukan pekerjaan, mungkin Adinda akan mati. Mati dihabisi oleh orang yang selama ini selalu menyakitinya. Adinda menghela napas panjang. Ia menyeka keringatnya dengan punggung tangan. Walau sudah lelah kakinya, Dinda terus berusaha bertanya pada orang-orang yang ada di sekitarnya. "Oh, kafenya ada di ujung jalan sana Mbak. Mbak lurus aja terus, nanti kafenya ada di jalan kanan." Adinda mempercepat langkahnya. Ia sudah telat dua puluh menit dari waktu interview yang telah dijadwalkan. Begitu melihat nama plang 'Starlight Cafe' di ujung jalan sana, Adinda mempercepat langkahnya. Pintu kafe berdenting begitu ia masuk ke dalamnya. Aroma manis dan khas dari kafe itu langsung menggelitik indra penciumannya. Matanya melirik ke sekitarnya, terlihat para karyawan yang sedang sibuk. Ini adalah tempat ketiga yang Adinda kunjungi sejak ia menjadi pengangguran. "Permisi, Mas ..." Adinda mencoba menghampiri salah satu lelaki yang dari pakaiannya terlihat paling berbeda dibandingkan dengan yang lainnya. "Saya yang mau interview kerja jadi pelayan di sini." Lelaki tersebut menatap lekat tubuh Adinda dari puncak kepala hingga ujung kaki. "Apa kamu tahu sekarang sudah jam berapa?" tanyanya setelah melirik jam yang terpajang di dinding kafe. "Maaf, Mas. Tadi saya udah coba cari kafe ini tapi nggak ketemu-ketemu. Maaf ya, Mas ..." Adinda menunduk merasa menyesal. Harusnya ia bisa lebih berhati-hati. Bagaimanapun juga ia sangat membutuhkan pekerjaan baru untuk menyambung hidupnya ke depan. "Maaf kamu bilang?! Waktu saya itu berharga! Gara-gara nungguin calon karyawan yang nggak disiplin seperti kamu, waktu saya jadi banyak yang kebuang!" "Saya minta maaf banget, Mas. Tapi saya mohon beri saya kesempatan sekali lagi. Saya janji, kalau saya diterima kerja di sini saya tidak akan pernah datang terlambat lagi." "Tidak perlu repot-repot, karena saya sudah punya jawabannya sekarang." Adinda sontak mengangkat pandangannya. Bibirnya menahan senyum, sepertinya harapannya akan bersinar sebentar lagi. "Tanpa perlu melakukan proses seleksi, kamu tidak saya terima kerja di sini." Mulut Adinda perlahan terbuka karena terkejut. "Ap ... Apa maksud-" belum sempat Adinda melanjutkan kata-katanya, pemilik kafe tersebut sudah menyelanya. "Kamu tidak dengar ucapan saya tadi? Saya bilang kamu tidak diterima untuk bekerja di sini." Bahu Adinda merosot lemas. Harapan kecilnya kembali kandas. Mencari pekerjaan bagi orang yang tidak berpendidikan memang sangat sulit. Adinda hanya lulus SMA, tidak memiliki apapun dalam hidupnya yang bisa menolong dirinya. *** Sudah lewat dari jam 12 siang, Adinda masih duduk di bangku halte. Tatapannya kosong ke depan. Rambut panjangnya sesekali menutupi wajahnya yang berkibar karena angin kencang. Tidak punya uang, tidak punya pekerjaan, bagaimana bisa Adinda pulang ke rumah? Adinda menghela napas panjang. Tatapannya berhenti pada sekolompok anak remaja yang tampak bercanda ria melewati dirinya. Adinda jadi mengingat-ingat, kapan terakhir kali ia bisa tertawa lepas seperti itu. Bersama teman-teman, tertawa bersama, bercanda, dan membicarakan hal-hal yang menyenangkan. "Pasti menyenangkan punya masa remaja yang indah seperti mereka," Adinda tertawa getir seorang diri. Setelah kembali menghela napas panjang, Adinda bangkit berdiri. Ia memutuskan untuk pergi ke tempat yang akan dikunjungi para gadis remaja di depannya. Adinda ingat, dulu masa SMA justru menjadi titik paling hitam di dalam hidupnya. Kehilangan masa depan, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan jati diri, semuanya Adinda rasakan sekaligus pada masa SMA. Masa remaja yang seharusnya bisa ia nikmati dengan buncahan rasa bahagia. Mall, rupanya menjadi tujuan para gadis remaja tersebut. Adinda ikut melangkah masuk ke dalam mall. Dinginnya sangat Adinda suka, karena di luar sana cuaca siang ini terasa sangat panas. Adinda berdecak pelan. Ia merogoh dompet hitamnya dari dalam tas. Melihat uang yang ada di dalam dompetnya membuat Adinda tertawa sendiri. "Ngapain kamu ke sini kalau kamu nggak punya uang?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Bodo amat deh, habisin aja semua sisa uang sialan ini. Kita senang-senang hari ini Adinda!!!" Adinda berteriak, membuat orang-orang yang ada di sekitarnya menatapnya heran. Tapi seorang Adinda tidak pernah peduli dengan bisikan-bisikan atau segala hal apapun yang orang lain katakan padanya. Baginya, orang-orang yang hanya bisa bicara tanpa memberikan solusi hanyalah sampah yang ucapannya tidak akan pernah masuk ke telinganya. Berjalan di mall seorang diri, Adinda sudah cukup merasa bahagia. Ia membeli baju, makan ice cream dan melihat-lihat banyak koleksi make up yang membuatnya tergiur ingin membeli. "Lo tunggu di sini aja ya, gue ke toilet sebentar. Mumpung yang cewek juga lagi pada ke toilet." Adinda menoleh singkat saat mendengar suara beberapa lelaki yang tengah diskusi di depan jalan masuk antara toilet dan musholla, sedangkan Adinda masih berdiri di depan toko boneka. Kepalanya kembali menatap boneka monyet besar yang ada di dalam sana. "Segede gitu pasti mahal banget harganya. Kamu nggak punya uang Adinda." "Eh, tapi ... " seakan mengingat sesuatu, Adinda kembali menolehkan kepalanya ke arah lelaki yang tadi berdiri di depan jalan masuk ke toilet dan musholla. "Itu kan ... " Adinda berpikir dengan cermat untuk beberapa saat. Matanya memicing, kakinya melangkah maju mendekat untuk memastikan ia tidak salah dengar. "Calon Suami!!!" pekik Adinda tiba-tiba. Bukan hanya lelaki yang Adinda maksudkan, tetapi kini Adinda menjadi tatapan bagi banyak orang. Suaranya yang kencang menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. "Kamu!!" Adinda tersenyum dengan lebar hingga jajaran giginya terlihat. Kini di hadapan Adinda berdiri Alhafiz Keanu Abrisam yang sedang menatapnya dengan tatapan membulat tak percaya. "Adinda, inget kan? Calon suami apa kabar? 2 hari nggak ketemu, kamu kangen aku nggak?" "Apa?" Alhafiz refleks mundur beberapa langkah ke belakang. Sepertinya berhadapan dengan seorang gadis bernama Adinda ini bukanlah sesuatu yang baik. Hafiz selalu merasakan ada hawa-hawa yang membuat dirinya sendiri merasa takut berhadapan dengan gadis yang sifatnya bar-bar seperti Adinda. Ini pertama kalinya Hafiz bertemu dengan gadis yang memiliki karakter unik seperti Adinda. "Aku Adinda loh, calon istri kamu yang waktu itu ketemu di depan danau. Inget kan?" "Mana cincin saya?" seakan ingat insiden aneh malam itu, Hafiz mengulurkan kembali tangannya yang terbuka. "Kembalikan cincin saya," ujar Hafiz dengan tatapan yang sedikit menuntut. "Oohh cincin itu?" "Iya cincin saya yang kamu ambil malam itu. Kembalikan ke saya sekarang." "Kamu kenapa sih selalu nyalahin orang lain dengan kesalahan kamu itu?" "Apa maksud kamu?" "Yang niat mau buang cincin itu kamu, dan yang pergi duluan malam itu juga kamu. Kenapa kamu jadi mau ambil cincin itu lagi? Aku pikir kamu emang udah relain cincin kamu itu." Hafiz menggeleng tak percaya mendengar rentetan kalimat yang diucapkan gadis di hadapannya. Dengan helaan napas panjang, Hafiz berbalik badan. Rasanya ia memang harus merelakan cincinnya. Dari pada bicara tak ada ujungnya dengan Adinda, lebih baik ia pergi dari sana. "Eh, kamu mau ke mana?" Adinda langsung memegang lengan Hafiz yang ingin berlalu pergi. "Lepas, saya mau pergi. Saya harus kembali ke kantor lagi." "Tadi katanya mau cincin. Jadi beneran nggak mau nih?" "Sebenernya cincin saya itu masih ada atau nggak?" tanya Hafiz gemas. Alih-alih menjawab, Adinda justru nyengir kembali dengan lebar. "Ikut aku yuk?" "Nggak bisa, saya sibuk. Banyak urusan." "Ih, masa Calon Suami gitu sih? Ini serius loh, menyangkut cincin kesayangan kamu itu." Hafiz berdecak kesal. "Sejak kapan saya jadi calon suami kamu?" "Sejak takdir mempertemukan kita," jawab Adinda dengan mudahnya. Hafiz menghela napas panjang. Seorang Adinda memang bukan tandingannya yang bisa ia ajak untuk berdebat. "Pulanglah, saya harus pergi." Adinda mengerucut sebal sembari menggeleng. "Ayo, kamu harus ikut!" dengan mengerahkan tenaganya, Adinda langsung menarik lengan Hafiz dan membawa lelaki itu berlari dari posisi mereka. *** "Beliin, Caon Suami." Hafiz merotasikan bola matanya. Ia masih menahan amarahnya dan masih mencoba bersabar dengan sikap menyebalkan gadis bernama Adinda yang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan memohon. "Saya sudah bilang berkali-kali sama kamu, kalau saya bukan calon suami kamu." "Pelit banget sih. Kamu kan punya banyak uang, masa beli boneka monyet aja nggak sanggup?" Hafiz ikut melototkan matanya untuk membalas tatapan Adinda yang tadi juga melototinya. "Boneka itu besar banget. Mukanya serem dan pasti juga repot bawa pulangnya." "Itu nggak besar, Calon Suami. Boneka itu juga nggak serem, tapi lucu pake banget." "Apa kamu bisa berhenti panggil saya dengan sebutan 'Calon Suami'?" Adinda nyengir, "Nggak bisa. Udah nempel di kepala gitu panggilannya," katanya sambil tertawa. "Pokoknya beliin ya? Plisss, aku nggak punya uang soalnya buat beli boneka itu." "Kalau nggak punya uang kenapa tetep mau beli?" "Kan ada Calon Suami," jawab Adinda yang membuat kepala Hafiz terasa ingin pecah. "Kamu bener-bener perempuan aneh." Adinda malah tertawa mendengar Hafiz yang mengatainya. Melihat ekspresi wajah Hafiz yang selalu kesal ketika bicara dengannya membuat Adinda merasa senang. Setelah perdebatan dan kalimat rayuan yang Adinda keluarkan, akhirnya gadis itu mendapatkan boneka monyet yang diinginkannya. Dengan merogoh uang pribadinya, Hafiz membelikan boneka monyet yang diinginkan Adinda. Bukan apa-apa, hanya saja Adinda tadi mengatakan jika gadis itu akan mengembalikan cincinnya ketika ia mau membelikannya boneka monyet untuk Adinda. "Makasih ya Calon Suami," ucap Adinda dengan senyum lebarnya yang mengembang. Boneka monyetnya akan dikirimkan langsung ke rumah Adinda oleh karyawan toko atas permintaan Hafiz. "Sekarang mana cincin saya?" "Kita jual aja yuk, gimana?" "Apa?!" pekik Hafiz tak percaya. Adinda nyengir. Tanpa menunggu jawaban dari Hafiz, Adinda langsung menarik lengan lelaki itu. Berdiri tepat di depan toko perhiasan, Hafiz benar-benar tidak mengerti apa yang ada di kepala gadis di sampingnya itu. Hafiz bahkan tidak tahu apakah gadis di sampingnya itu benar-benar waras atau tidak. "Kamu itu benar-benar ya ... " "Kalau kita jual cincinnya, aku akan bagi dua sama Calon Suami." "Saya tidak mau cincin itu dijual. Lagi pula kalau cincin itu dijual seharusnya semuanya jadi punya saya karena itu cincin punya saya." Mengabaikan ucapan Hafiz, Adinda maju mendekati etalase toko perhiasan. "Siang Mbak, ada yang bisa kami bantu?" karyawan toko yang menggunakan setelah jas rapih itu tersenyum sambil mengatupkan kedua tangannya di depan d**a menyambut kedatangan Adinda. "Siang Mas," Adinda balas tersenyum manis. "Saya ke sini mau jual cincin saya." Bertepatan saat Adinda ingin mengambil kotak cincin milik Hafiz yang ada di dalam tas kecilnya, Hafiz langsung menarik lengan gadis itu mundur tanpa sadar. "Adinda, jangan bercanda. Ini sama sekali nggak lucu." Mata Adinda membulat sempurna. Ia menatap Hafiz tak percaya, namun kemudian tersenyum dengan begitu lebarnya. "Oh, Calon Suami barusan panggil nama Adinda? Serius? Ih, gemesin banget sih." Sabar Hafiz. Sabar. Kamu pasti bisa. Hafiz memejamkan matanya, mengatur pernapasannya agar bisa meredam kepalanya yang sudah terasa semakin panas. "Kembalikan cin-" belum sempat melanjutkan kalimatnya, suara seseorang yang memanggil namanya langsung membuat Hafiz berhenti dan langsung menoleh.  "Hafiz!!" "Lo kita cariin dari tadi loh, Fiz." Lima orang rekan kerjanya, berdiri di depan toko perhiasan dengan menatap Hafiz bingung. "Lo ke mana aja sih?" "Hafiz, kenapa kamu bisa ada di sini? Kamu lagi ngapain di sini?" kini tatapan Hafiz berhenti pada Kinara, yang kini juga sedang menatapnya dalam bingung. Hafiz membisu, begitu pula Adinda yang tidak tahu harus bersikap bagaimana. Yang Adinda lakukan saat ini hanyalah diam sambil memperhatikan. Begitu Adinda melirik Hafiz, ia menemukan lelaki itu sedang menatap seorang perempuan berhijab yang tadi juga mengajukan pertanyaan pada Hafiz. "Oh, sorry. Tadi lagi pengen lihat-lihat aja, nggak sadar kalau malah nyampe ke sini." Teman Hafiz kompak tertawa. "Ciiee, kayaknya udah kepengen ngelamar cewek nih ya?" Mendengar candaan itu, Hafiz sontak kembali melirik Kinara. Kini Kinara bukan lagi sahabatnya, melainkan calon istri orang lain. Hafiz harus sadar posisinya saat ini. "Udah yuk, balik kantor. Nanti kalau telat bisa kena ocehan Bos besar." Rupanya rekan kerja Hafiz belum ada yang menyadari kehadiran Adinda yang bersembunyi di belakang tubuh Hafiz. Hafiz mengangguk. Saat ia ingin melangkah maju, ia sempat terkejut saat mendengar bisikan pelan dari belakangnya. Ia juga bisa merasakan Adinda yang menarik ujung kemejanya. "Jangan pergi," ucap Adinda dengan suara yang teramat pelan. "Hafiz!" panggil Kinara sekali lagi karena Hafiz yang belum beranjak dari posisinya. "Iya," sebelum benar-benar pergi, Hafiz menoleh dua detik untuk menatap Adinda yang masih hanya diam di posisinya. Hafiz langsung pergi bersama rekan kerjanya, meninggalkan Adinda yang kini menatap kepergiannya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Sesuatu yang membuatnya senang memang selalu berakhir dengan cepat. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD