Adinda Giska Larasati

1934 Words
Adinda Giska Larasati, perempuan itu terbangun saat matahari sudah mulai terbenam dan langit mulai menggelap. Ia membuka matanya perlahan dan bangkit duduk. Merentangkan tangannya dengan lebar dan menguap dengan puasnya. Adinda baru tidur dari jam 1 malam, sehingga ia memuaskan tubuhnya di atas kasur hingga malam kembali menjelang. Dengan gerakan lambat, Adinda bangkit dan berdiri dari tempat tidurnya untuk menuju kamar mandi. Adinda menatap pantulan wajahnya dari dalam cermin. Ia menyentuh bekas luka kecil akibat tamparan seseorang semalam yang berada di sudut bibirnya. Bagian pelipisnya juga terlihat memar. Tangannya turun memegang kedua pipinya yang terasa dingin. "Kamu kenapa nggak mati aja sekalian?" tanya Adinda pada sosok yang ia lihat dari dalam cermin, yaitu dirinya sendiri. "Kenapa masih bertahan kalau sulit?" "Kita lihat, berapa lama lagi kamu mampu bertahan di dunia ini," ucapnya dengan menatap tanpa ekspresi wajahnya yang ada di dalam cermin. Adinda masuk ke dalam kamar mandi. Ia membasahi seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki. Adinda memejamkan matanya rapat di bawah shower yang membasahi tubuhnya. Wajah dan tubuhnya terasa perih. Luka semalam rupanya belum kunjung sembuh pagi ini. Ah, rasanya sudah biasa. Adinda hanya perlu terpejam sedikit lebih lama dan membayangkan hal indah di luar sana sebagai penawar tiap lukanya. Setelah selesai mandi, Adinda bergerak menuju lemari pakaian. Ia mengambil skinny jeans, tanktop berwarna hitam dan segera memakai keduanya. "Gini aja apa?" tanya Adinda pada dirinya di cermin. Ia melihat betapa seksi tubuhnya jika hanya memakai jeans dan juga tanktop hitam. Adinda tertawa sendiri. "Untuk kali ini jangan cari perkara dulu deh. Cape juga dengerin omongan netijen yang suka julid." Akhirnya Adinda memutuskan untuk melengkapi penampilannya hari ini dengan kardigan bermotif daun berwarna hijau. Satu jam berlalu untuk Adinda menyiapkan dirinya pagi ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 malam, berarti Adinda harus segera berangkat kerja. Adinda sudah menebalkan bedak di bagian sisi wajahnya yang memar. Ia juga memakai lipstik berwarna merah terang untuk menyamarkan darah beku di sudut bibirnya. "Aish, kamu benar-benar merepotkan. Makanya mati aja, jadi nggak harus repot kayak gini kan?" Adinda menaruh lipstiknya asal. Tangannya merapihkan sedikit rambutnya yang sudah ia keringkan dan sudah ia luruskan dengan alat catok rambut. Tas selempangnya sudah siap di bahu kanannya, Adinda siap untuk berangkat kerja malam ini. Tepat saat tangan Adinda meraih gagang pintu, ia lupa memeriksa sesuatu. Adinda melirik jam tangan kecilnya. "Aman," katanya, kemudian meraih gagang pintu dan langsung membukanya tanpa ragu. "Adinda, hari ini pulang kerja jam berapa?" "Adinda, makin cantik aja sih malam ini." "Din, harga nanti malem berapa? Belum naik harga kan?" Adinda terus berjalan santai tanpa menoleh atau melirik sedikitpun. Ia merogoh earphone di dalam tas kecilnya lalu menyumpal kedua telinganya dengan earphone. "So disgusting," lirih Adinda santai. Ia terus melanjutkan langkahnya yang seakan tanpa beban. Bagi seorang Adinda Giska Larasati, bisa keluar dari rumahnya sudah cukup bagai surga untuknya. Bisa keluar dari rumah tanpa masalah sudah cukup, sehingga apapun yang terjadi di luar rumah, Dinda bisa menahan semuanya. Adinda turun dari taksi yang dinaikinya. Sebuah gedung berlantai 2 dengan nuansa hitam megah yang terlihat menawan dari posisinya berdiri. Tanpa membuang waktu, Adinda masuk ke dalam gedung tersebut dengan santai dan tatapan datarnya. Dentuman suara musik yang kencang langsung masuk ke dalam telinganya. Seketika Adinda tidak mampu mendengar apapun lagi selain meriahnya alunan musik. Dengan pencahayaan samar hanya dengan mengandalkan gemerlap lampu diskotik di tengah dance floor, Adinda terus masuk ke dalam. "Sayang, kita nari di bawah yuk?" "Cantik, mau ke mana sih? Mampir sini dong." "Sayang, minum dulu dong?" Adinda terus mengabaikan rayuan yang diuatarakan oleh para pria mabuk untuknya. Jangankan menghampiri, melirik saja Adinda malas "Lo telat lagi, Din?" tanya Abel saat melihat Dinda baru saja memasuki ruang ganti pakaian khusus staf. "Iya, gue baru bangun pas maghrib." "Solat maghrib nggak tuh?" Adinda tersenyum miring. Ia menolehkan kepalanya dan menatap Abel dengan mata memicing. "Sejak kapan lo ngingetin gue buat solat? Lagian Tuhan kayaknya juga udah nggak peduli sama gue." "Sadis amat lo ngomongnya." Adinda hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Abel sembari melepas kardigannya untuk mengganti pakaiannya dengan seragam yang disediakan oleh tempatnya bekerja. Dengan ikat rambut di pergelangan tangannya, Adinda menguncir rambutnya. Memperlihatkan leher jenjangnya yang putih menawan. Seragam berwarna hitam yang berleher rendah sudah sangat membuka bagian dadanya agar tereskpos. Rok mini hitam yang Adinda pakai juga hampir sejengkal lebih di atas lutut. Seragam kerja Adinda itu sudah serba pendek, ketat, dan terlalu memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Sesak sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Hanya ini yang bisa Adinda lakukan untuk menyambung hidupnya. "Dinda, tolong bawa minuman ini ke ruang VIP ya. Jangan buat masalah lagi, di sana ada aktor terkenal. Kamu harus bisa melayaninya dengan baik." Adinda hanya bisa mengangguk tanpa membantah. Adinda termasuk staf pelayan senior di tempatnya bekerja saat ini. Sudah seharusnya Dinda bisa menjadi panutan yang baik untuk juniornya. Dengan memegang nampan juga dua botol wine dan 3 buah gelas, Adinda mulai berjalan dengan perlahan dan anggun menuju ruang VIP. Tepat sebelum masuk ke ruang VIP, Adinda mencoba memasang senyum manis di wajahnya. Ruang VIP kini sudah terbuka. Bisa Adinda lihat ada sekitar 7 orang pria yang sedang minum-minum beserta pelayan wanitanya masing-masing 1. "Selamat malam, silahkan nikmati minumannya. Ini adalah minuman baru terbaik yang kami miliki, tentunya dengan kualitas wine yang sudah tidak diragukan lagi." Ujar Dinda mulai bercerita. Senyumnya mengembang. Tubuhnya menunduk untuk menuang minuman, membuat para lelaki di hadapannya bisa melihat belahan d**a Adinda yang terbuka dengan gratis. "Adinda?" Adinda kenal siapa pemilik suara berat itu. Damian, aktor yang saat ini sedang naik daun berkat film action yang dibintanginya. Damian cukup sering datang berkunjung. Sesekali sendiri, sesekali bersama teman-teman sesama aktor yang lain, Adinda sering berdecih jijik jika melihat Damian dan teman-temannya. Jika di depan kamera mereka akan berakting seperti pria pujaan para wanita, tapi di hadapannya saat ini, Damian dan teman-temannya tidaklah lebih dari sekedar sampah. "Wah, Adinda, lama kita nggak ketemu." Damian berkata dengan mata yang sudah tidak fokus akibat mabuk. Tangan Damian mengusir kasar pelayan perempuan yang saat ini sedang bergelayut manja di pelukannya. "Sini sayang, deket sama Abang." Adinda mendengus diam-diam. Ia melirik sekitarnya. Teman-teman Damian sudah hampir tidak ada yang sadar lagi karena pengaruh alkohol. Bahkan rekan kerja Adinda yang sesama pelayan hanya bergelayut manja seperti cicak sambil merogoh uang merah beberapa lembar dari dalam dompet pria-pria itu. Sudah biasa, itu bukan hal baru lagi. Memang begitulah jika ingin punya banyak uang. "Sini Adinda sayang, mendekatlah. Kita habiskan malam ini untuk bersenang-senang bersama." Satu sudut bibir Adinda tertarik sedikit. Tanpa ragu ia mendekat dan duduk tepat di samping Damian. Satu tangan Damian langsung melingkar di pundak Adinda dan merangkul gadis itu. Adinda diam, begitu juga saat tangan Damian bisa ia rasakan mulai mendekati bagian dadanya. Adinda berdeham pelan. Ia menolehkan kepalanya kepada Damian dengan senyum menawannya sambil perlahan menggeser tubuhnya sedikit, walaupun pada akhirnya Damian malah merapatkan tubuh padanya. "Damian, kamu harus coba minuman baru ini. Aku yakin kamu tidak akan menyesal." Adinda hanya menggunakan triknya. "Kiss me, baby." Damian meminta dengan suara rendahnya. "Damian, aku rasa-" "Kenapa? Kamu mau menolakku lagi seperti waktu itu?" "Lepas, Damian. Kamu mabuk, biar aku antar kamu ke kemar." Damian tertawa, membuat Adinda menahan hidungnya yang tertusuk aroma alkohol dari mulut Damian yang menguar. "Kamu tahu jika kamu mengantarku ke kamar, kamu justru nggak akan pernah lagi bisa keluar. Atau kamu sudah nggak tahan untuk bersenang-senang malam ini?" Adinda balas tertawa garing. "Ayolah Damian, jangan seperti ini. Kamu tahu masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan di sini." "Ayolah Adinda, jangan seperti ini. Bukankah kamu sudah banyak dipakai oleh pria-pria di luar sana? Harusnya kamu tidak perlu tegang lagi, rileks saja." Adinda tersenyum dengan menahan kepalan tangannya agar tidak menghantam wajah tampan Damian. Tidak ingin masalah panjang, Adinda memilih berdiri. Menyesal ia sudah mengiyakan permintaan bosnya yang menyuruhnya melayani Damian dan teman-temannya. Dengan cepat Damian menarik tangan Adinda hingga gadis itu menolehkan kepalanya. "Kenapa perempuan bayaran seperti kamu masih berlagak punya harga diri? Bukankah kamu juga dilahirkan dari rahim perempuan bayaran?" "Apa?" "Aku yakin, kamu lahir juga karena perempuan yang dihamili oleh p****************g di luar sana. Mungkin kamu juga ditakdirkan seperti perempuan itu." Bugh!! Tangan Adinda yang sudah terkepal erat sejak tadi langsung meninju pipi Damian dengan kencang hingga sepercik darah keluar dari sudut bibirnya. "b******k gila," cibir Adinda. Gadis itu langsung pergi keluar dari ruang VIP sialan itu. Mengabaikan teriakan Damian yang memintanya kembali dan menyuruhnya minta maaf. *** Adinda menghela napas panjang. Rasanya ia akan gila sebentar lagi. "Marlboro-nya 1. Koreknya jangan lupa," pinta Adinda pada pelayan kasir minimarket di hadapannya. Adinda berjongkok di samping minimarket. Kepalanya menunduk dan ia jatuhkan di atas kedua lututnya yang tertekuk. Helaan napas kembali terdengar. Ia mendongak kembali dan menepis air mata yang tadi sempat membasahi pipinya. Mengeluarkan sebatang rokok yang sudah ia beli, Adinda mulai menyulutnya dengan api. Untuk beberapa detik, Adinda menatap ujung rokok tersebut yang kian lama terkikis karena api. "Kali ini kamu keterlaluan Dinda. Damian itu pelanggan VIP kita. Memang apa salahnya sih melayani Damian seperti yang dia inginkan? Dan kenapa harus kamu tonjok mukanya sampai berdarah begitu?!" "Kamu saya pecat! Mulai besok tidak perlu datang ke sini lagi!" Adinda tersenyum miris. Matanya mendongak menatap gelapnya langit. Ada apa dengan hari-harinya saat ini? Kenapa sejak kemarin selalu ada saja masalah yang menghampiri? "Kan aku udah pernah bilang, kalau kamu mati, kamu nggak perlu repot mikirin besok mau makan apa. Kalau kamu mati, kamu nggak perlu mikirin mau cari uang ke mana lagi. Kalau kamu mati, mungkin kamu akan terbebas dari dunia yang memuakkan ini." Adinda kembali bicara pada dirinya sendiri. Dinda selalu mengatakan hal itu, tapi Dinda juga tidak mengerti kenapa ia belum pernah bisa melakukan itu semua sampai dengan detik ini. Padahal, tidak ada siapapun di dunia ini yang bisa Dinda jadikan sandaran. Keluarga? Dinda bahkan tidak tahu apa arti keluarga. Teman? Semua orang mendekatinya hanya karena ingin memanfaatkan apa yang ada di diri Dinda. Dinda tidak pernah memiliki seseorang yang memang berniat untuk berteman dengannya. Jemarinya yang menjepit sebatang rokok mulai didekatkan ke mulutnya. Saat Dinda menghisapnya kuat, Dinda langsung terbatuk-batuk. Dinda melempar rokok tersebut ke sembarang arah. Ia menepuk dadanya pelan-pelan dan meminum sedikit air mineral yang sudah ia beli. "Dasar cupu, ngisep rokok aja kamu nggak bisa. Nggak ada yang bisa kamu lakuin di dunia ini selain menghibur para b******k di luar sana dengan senyum palsu yang kamu punya." "Mungkin kata Damian benar, kamu memang ditakdirkan untuk jadi perempuan rendah yang nggak punya harga diri." Adinda bangkit berdiri. Ia membuang sebungkus rokok beserta koreknya ke sembarang arah. Sepertinya Adinda memang tidak ada bakat untuk merokok. Adinda memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman yang ada di depan jalan sana. Ia membiarkan wajah dan tubuhnya menghirup udara bebas malam ini. Lagi pula mulai malam ini Dinda sudah jadi pengangguran. Ia memiliki banyak waktu bebas yang bisa ia lakukan untuk apapun. Brak! Dinda sedikit terkejut dengan suara pintu mobil yang dibanting barusan. Dinda menghentikan langkahnya dan memperhatikan seorang lelaki yang baru saja keluar dari dalam mobilnya dengan wajah tertekuk. "Mobilnya bagus, pasti orang kaya." Gumam Dinda sambil menatap mobil hitam mengilap milik lelaki yang kini sedang ia perhatikan. Tiba-tiba senyum Adinda merekah lebar. Ia mengikuti langkah kaki lelaki tersebut. Saat lelaki tersebut duduk di bangku panjang tepi danau, Adinda ikut duduk di bangku panjang lainnya. Matanya tak henti menatap lekat lelaki yang kini memakai jaket hitam tersebut. Untuk sekilas, dari jarak bangku mereka yang berkisar 10 meter, bisa Dinda lihat bahwa lelaki tersebut tampan dan tinggi. Adinda bisa melihat hawa eksekutif muda pada diri lelaki tersebut. Mata Adinda semakin memicing saat lelaki tersebut mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah. Benda berkilauan terlihat ada di dalam kotak tersebut. "Kayaknya dia mau ngelamar cewek. Tampan dan kaya begitu, pasti banyak yang mau sama dia." Adinda tiba-tiba tertawa sendiri. Otaknya malah berhalusi jika memiliki hubungan spesial dengan lelaki itu. "Mungkin kamu bisa bahagia Din, kalau sama cowok itu. Mungkin ..." "Eh .... " Dinda sontak berdiri saat melihat lelaki itu kini mengangkat benda berkilau tersebut ke atas. "Dia nggak akan—" belum selesai melanjutkan kalimatnya, seolah tahu apa yang akan dilakukan lelaki itu, Dinda langsung berlari ke arah lelaki tersebut dengan kencang. Dinda tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya. Yang jelas, ia hanya mengikuti instingnya yang sedang mencari cara untuk keluar dari hidupnya yang kelam. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD