BAB 8A

1433 Words
Vanya rasanya ingin mati saja. Masa depannya kini diambang batas kehancuran. Bagaimana tidak, Deka menggunakan kekuasaannya untuk bisa memakasnya menikah. Dia tak habis pikir kenapa laki-laki itu ngotot untuk menikah dengannya. Kalau dipikir-pikir banyak wanita yang akan dengan senang hati menikah dengan dirinya. Namun, kenapa dia selalu memaksa seorang Vanya. Belum lagi perusahaan keluarga Vanya saat ini dirundung kebrangkutan. Semua investor menarik semua saham mereka, belum lagi DK Corp yang paling besar menanam investasi malah mencabut kerja samanya secara sepihak. Bahkan mereka rela membayar denda yang sudah disepakati sejak awal, tapi semua denda itu tidak ada apa-apanya bagi Deka. Dan untuk kesekian kalinya Vanya ingin mengumpat kepada laki-laki licik itu. "Papa nggak bisa lakukan apa-apa lagi. Mungkin Papa akan segera menjual perusahaan kita. Satu-satunya yang kita bisa andalkan hanya kamu Vanya. Usaha butik dan designer kamu," kata Bowo dengan raut wajah sendu. Vanya memeluk sang Papa untuk menyalurkan rasa sedihnya. Bowo menaruh perhatian besar kepadanya dengan butik itu. Namun, mungkin usahanya akan sedikit ada kendala terlebih lagi karena acara yang ia impikan batal terlaksana. Vanya mengepalkan tangannya kuat, bahkan mukanya memerah yang menandakan dia menahan amarah yang besar. Deka. Satu nama itu yang ada dalam pikirannya saat ini. Vanya akan segera memberi pelajaran kepada laki-laki b******k yang mengganggu hidup dan keluarganya itu. "AAARRRGGGHH.'' "b******k!!!" Segala sumpah serapah ia keluarkan. Tidak, dia sudah tidak bisa menahan semuanya. Kesabaran yang ia lakukan selama ini ternyata tidak ada gunanya. Vanya segera menyambar ponselnya, mencari kontak Gladis dan segera menekan tombol berikon gagang telepon. "Ha –“ “Satu jam lagi kita ke perusahaan DK Corp.” Klik Gladis memandang ponselnya bingung. “Sial. Belum juga gue ngomong udah ditutup aja. Kebiasaan banget sih,” gerutunya yang tidak akan terdengar oleh Vanya. *** PLAK Satu tamparan mendarat mulus di pipi seorang Deka. Dia mengusap pipinya sambil meringis. Tamparan itu rasanya nyeri-nyeri panas. Deka memandang si pelaku, siapa lagi kalau bukan seorang Vanya Queenabel. Raut tak bersahabat dan muka dinginnya kembali terlihat. Deka tahu kenapa wanita ini datang ke kantornya, namun dia tidak menyangka kedatangannya akan secepat ini. Oh tidak, memang sudah seharusnya dia datang bukan? Setelah apa yang sudah Deka lakukan kepada keluarga perempuan itu. “Gak usah basa-basi. Kedatangan gue ke sini cuma minta sama lo buat balikin perusahaan orang tua gue,” ujar Vanya tanpa berniat untuk bertele-tele dalam urusannya. Cukup sudah dia bersabar dalam menghadapi laki-laki yang ada di depannya ini. Sekarang tidak lagi. “Ok. Tapi lo harus nikah sama gue dulu,” balas Deka dengan muka santainya. Dia tidak tahu saja jika tengah membangunkan singa betina yang tengah tidur. “Lo gila?! Udah gue bilang berulang kali kalau sampai kapan pun gue nggak akan mau nikah sama lo!” ucapnya berapi-api. “Ya sudah, gue nggak akan balikin perusahaan orang tua lo.” “LO!!”kesal Vanya sambil menunjuk Deka dan tak tahu lagi harus berkata apa. Lidahnya rasanya sudah lelah menyumpahi dan mengumpat laki-laki yang ada di depannya ini. “Semua keputusan ada sama lo. Kalau lo mau perusahaan itu balik lagi, lo harus siap kita menikah.” “Gue nggak habis pikir sama lo. Kenapa lo terus saja paksa gue. Kalau lo cuma mau tanggung jawab soal malam itu, nggak perlu. Bagi gue itu hanya kecelakaan dan anggap semuanya gak pernah terjadi. Lagi pula gue nggak sampai hamil. Nggak ada yang perlu dipertanggungjawabkan sekarang." “Ini permintaan keluarga gue. Kalau gue nggak nikahin lo, nama gue akan dihapus dari daftar keluarga dan warisan," jawab Deka yang membuat Vanya membola kaget. “Gila lo ya? Jadi laki mata duitan banget. Bilangin ke keluarga lo, gue nggak akan mau nikah. Kalau –“ “Lo bisa dapatin perusahaan Papa lo lagi kalau kita nikah," potong Deka cepat. “Lo maksa banget sih jadi orang. Sekali gue bilang nggak mau ya nggak mau!” Deka menghela napas berat, ia pikir mudah untuk membujuk Vanya namun nyatanya sulit. Lebih sulit dari yang dia bayangkan. Bahkan dia sudah melakukan hal kotor dengan bermain sedikit dengan perusahaan keluarga wanita itu. Namun, sejujurnya dia tidak mau melakukan itu tapi mau bagaimana lagi, itu adalah satu-satunya cara. Berbeda dengan Deka, Vanya saat ini frustasi bahkan dia tidak lagi memikirkan bagaimana wajah buruk yang dia tampilkan. Dia menangis, menangis karena orang tuanya harus terlibat dengan hal ini. “Dis.” Panggil Vanya kepada sahabatnya yang sejak tadi hanya menyaksikan pertengkaran antara Deka dan Vanya. Deka menunggu apa yang akan dilakukan perempuan itu. Ingatkan Deka bahwa Vanya adalah perempuan yang penuh dengan kejutan tak terduga. Gladis menghampiri Vanya yang hanya menangkupkan wajahnya. Ini adalah pilihan sulit bagi dirinya. Tentang masa depan dan keluarganya. Sialnya dia harus terjebak dengan laki-laki yang dulu ia puja waktu sekolah. Dia merutuki kebodohannya karena dulu sempat menyukai laki-laki b******k itu. “Berikan berkas yang lo bawa itu,” ucap Vanya sesekali menatap sendu. Sejak tadi Gladis memang diminta untuk memegang map yang entah apa isinya. Namun, dia segera menyerahkan map itu. Vanya segera menerimanya dan dia langsung melempar map yang entah apa isinya itu kepada Deka. “Gue mau nikah tapi lo harus tanda tangan surat perjanjian itu,” kata Vanya mewakili pertanyaan yang ada di kepala Deka. “What? Dis, lo serius?” Sambung Gladis yang tidak habis pikir dengan keputusan sahabatnya itu. Perempuan itu sepertinya cukup terkejut dengan tindakan sang sahabat yang tiba-tiba. Dan kenapa juga sebelumnya dia tidak mengecek apa isi dari map yang sejak tadi dia bawa. Sial. Vanya mengisyaratkan Gladis untuk diam. Saat ini dia ingin segera menyelesaikan permasalahan ini. Semua semakin runyam ketika melibatkan perusahaan keluarganya. Deka pun membuka map itu, membaca dengan seksama dan detail agar dia tidak salah mengambil langkah. Namun, dia mengerut bingung dengan beberapa persyaratan yang tertera. “Poin 3, pihak pertama dan pihak kedua dilarang untuk tidur satu kamar? Seriously?” tanya Deka. “Ya.” “Wait, biar gue perjelas. Mungkin lo nggak paham bagaimana kehidupan berkeluarga. Suami istri itu tidur di kasur yang sama asal lo tau aja," jelas Deka. “Itu jika ada cinta di antara keduanya. Sedangkan kita berdua tidak.” Deka menghela napas berat, sebegitu bencinya Vanya kepada dirinya. "Cinta nggak cinta, kita harus jalani itu." "Gue nggak mau." Deka pasrah saja. “Poin 4, pihak pertama dan kedua tidak boleh ikut campur urusan pribadi termasuk jika salah satunya dekat dengan orang lain. What? Lo gila? Kita suami istri dan batasannya kayak gini?” tanya Deka tidak terima. “Emang masalah buat lo? Menurut gue itu fine aja, secara kita nggak saling suka jadi gue punya hak untuk dekat dengan siapa pun. Lo pun begitu,” jelas Vanya. Gladis meringis menyaksikan perdebatan antara keduanya ditambah lagi perjanjian gila yang dibuat oleh Vanya. Nggak suka? Halah kamuflase, Gladis tahu betul jika sahabatnya itu menyukai Deka dan itu sudah berlangsung lama. Dia tak habis pikir dengan sahabatnya yang satu ini. “Lo mau nggak? Kalau nggak, gue nggak bakal mau lagi terima pernikahan ini," desak Vanya yang membuat Deka tidak punya pilihan. Vanya mau menikah dengannya itu adalah hal bagus, dan dia tidak akan diteror lagi oleh sang mama. Namun, perjanjian ini serasa memberatkan dirinya. Tidak, memberatkan batinnya maksudnya. “Gue mau tanda tangan surat perjanjian ini, tapi pernikahan kita harus dilaksanakan dua minggu lagi.” “WHAT?” “Kenapa? Protes? Lo bisa seenaknya membuat perjanjian gila ini, gue juga bisa membuat pernikahan ini segera dilaksanakan,” sergah Deka. “Ok fine! Lo menang Mister Egois,” kata Vanya jengah. Deka tersenyum senang. Akhirnya dia bisa menikah dengan Vanya. Wanita yang dulu sempat ia sukai. Ya, memang Deka dulu menyukai wanita, namun dia tak pernah berani untuk mendekatinya. Baginya, wanita itu memiliki wajah judes namun tetap cantik. Dia harus segera memberi kabar ini kepada keluarganya. Ini berita bagus dan buruk baginya. Bagus karena sang Mama tidak lagi memaksa apalagi menjodohkannya dengan wanita lain. Buruk karena perjanjian yang di luar nalar itu. Menyebalkan. Bagaimana bisa dia tidak menyentuh Vanya sebagai istri? Haruskah dia menahan hasratnya sebagai laki-laki? Ini akan menjadi perjalanan yang sulit. *** “Van, lo seriusan? Lo nggak lagi kepentok apa-apa, kan?” tanya Gladis bertubi-tubi ketika keduanya sedang menuju perjalanan pulang. “Gue nggak punya pilihan lain, Dis. Gue nggak mau Mama Papa sedih. Kasihan Papa sudah membangun perusahaan itu dan harus berakhir bangkrut. Gue nggak bisa bayangin betapa terpuruknya Papa nantinya,” lirihnya memandang pepohonan yang ada di setiap jalan yang mereka lewati. Gue nggak tau takdir apa yang Tuhan kasih ke lo, Van. Tapi, gue berharap lo bisa bahagia dengan semua ini, batin Gladis bermonolog. ☆☆☆ Q&A Q: Kalau sedang berada dalam keadaan terdesak, keputusan apa yang sering kalian ambil? Your answer: ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD