Vanya masih kesal dengan kejadian beberapa jam yang lalu. Bahkan aura yang terpancar dari sekitarnya pun terasa tidak bersahabat. Perkataan Deka seakan menjadi ancaman bagi dirinya. Memikirkan semua hasil jerih payahnya yang akan menjadi sia-sia membuat dirinya ingin menangis, tapi sebelum itu ia ingin menenggelamkan laki-laki b******k yang berani-berani mengusik hidupnya itu. Oh ya, pasti Ratu Pantai Selatan sangat senang mendapat tumbal seorang laki-laki tampan dan arogan seperti dia. Laki-laki iblis. Iblis tampan maksudnya.
Gladis yang melihat sahabatnya pun tampak meringis. Sudah dipastikan jika Vanya akan sedih atau bahkan depresi jika acara yang ia lakukan terancam batal apalagi gagal. Ini adalah pencapaian dari segala kerja keras perempuan itu. Dan malangnya, semua akan gagal hanya karena seorang laki-laki yang dulu sempat ia sukai.
"AAARRGGHHH." Vanya frustasi bahkan dia sudah menangis sesenggukan. Gladis mencoba menenangkannya dan memberi semangat bahwa hidupnya harus terus berjalan serta tidak boleh ada kata menyerah.
"Sabar, Van, Sabar."
"Bagaimana gue bisa sabar, Dis. Laki-laki b******k itu mau hancurin kerja keras gue selama ini. Lo tau sendiri kan gue sangat menantikan hari itu. Hari di saat semua puncak cita-cita gue terwujud," kata Vanya berurai air mata. Sekarang dia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Menerima Deka? Mustahil.
"Van, gue tau lo kesal, tapi saat ini bukan itu yang harus lo pikirin. Hidup itu terus berjalan lurus. Lo mau gini-gini aja? Lo harus bangkit. Nggak boleh nyerah kayak gini. Vanya yang gue kenal itu tangguh dan pantang menyerah."
"Gue ... gue rasanya mau mati aja. Tapi gue mau bawa itu laki-laki b******k mati bareng gue," ucap Vanya dengan mata berkilat penuh amarah.
"Hush! Nggak boleh ngomong mati-mati. Lo nggak kasihan lihat Mama dan Papa sedih?" Vanya menggeleng, dia melupakan jika masih ada orang-orang yang harus dia bahagiakan. Seperti kedua orang tuanya misalnya.
***
''Kerja sama apa? Langsung to the point. Gue malas bertele-tele.''
Deka menyeringai. "Menikahlah denganku.''
''APA??!!" sentak Vanya."LO GILA?!" tambah Vanya dengan raut muka terkejut sekaligus marah. Untung saja cafe ini sedikit pengunjung, jadi suara Vanya tak mengganggu. Namun, beberapa pelayan sempat menengok untuk sekadar melihat jika terjadi keributan.
Deka masih mempertahankan raut wajah dinginnya. "Ya, saya gila karena Anda," jawabnya.
"Gak! Gue nggak akan pernah mau nikah sama lo," kata Vanya dengan muka angkuh dan ketidaksukaannya kepada Deka.
Deka hanya tersenyum tipis, menarik sekali untuk bermain-main dengan perempuan ini.
"Anda pasti mau. Seperti yang saya bilang tadi. Ini kerja sama yang saling menguntungkan."
"Menguntungkan? Menguntungkan bagi lo yang bisa seenaknya ngatur hidup gue, gitu?"
Deka hanya menggeleng, perempuan ini sungguh terlalu berpikir negatif tentang dirinya, ya meskipun salah satu alasannya memang itu. "Saya mendengar bahwasannya Anda sebentar lagi akan mengadakan acara fashion show di sebuah hotel dengan menampilkan karya-karya Anda selama beberapa tahun ini. Right?"
Vanya memincing curiga, untuk apa laki-laki di depannya ini mengatakan perihal acara yang akan dia lakukan? Apa jangan-jangan ...
"Dan pastinya Anda tau jika semua sponsor sekaligus hotel tempat Anda mengadakan acara itu adalah milik saya."
Vanya sudah tau mengarah ke mana pembicaraan ini. Namun, sebisa mungkin dia menetralkan semua emosi yang ada pada dirinya.
"Kita buat kesepakatan. Anda menikah dengan saya. Acara Anda akan berjalan dengan semestinya. Bukan itu saja, saya bisa mendatangkan media untuk meliput acara itu dan bisa dipastikan jika nama Anda akan terekspos dalam berita. Itu sungguh menguntungkan, bukan?" ujar Deka masih menyatakan usulan kerja sama itu.
Begitulah kejelasan dan kesepakatan yang Deka utarakan. Vanya mengambil gelas berisi air putih dan menyiramkan air itu ke wajah Deka dengan muka kesal.
"Jangan harap gue bakal terima! Sekali b******k tetap b******k!" umpat Vanya dan beralih menyambar tasnya.
"Dalam seminggu saya pastikan Anda akan menerima penawaran itu," kata Deka percaya diri sambil sesekali membersihkan air yang Vanya siram kepada dirinya. Tangan Vanya mengepal kuat, dia segera meninggalkan tempat itu dengan penuh amarah.
***
"Wah, gila lo, Ka. Ancaman lo bagus juga," kata Rio sambil menyesap minuman yang dihidangkan oleh OB di kantornya.
Deka hanya tersenyum singkat. Bagi seorang Deka, hal seperti ini paling mudah dalam hidupnya. Semua orang memang sama aja, hanya dengan sedikit ancaman, semua hal akan beres. Cukup mudah.
"Tapi, memang lo yakin dia bakal terima?" tanya Rio penasaran.
"Yakin. Dia nggak punya pilihan. Semua yang kerja sama dengan dia, itu gue yang pegang. Dalam waktu seminggu mencari sponsor dan hotel? Itu sulit, dia gak akan bisa."
"Keren. Lo bisa sampai mikir ke situ. Btw, kasihan juga, sih, Ka. Secara itu acara pasti penting buat dia," sanggah Rio. Ya Deka memang pada awalnya kasihan, tapi nasib hidupnya lebih kasihan lagi, apalagi jika harus dikeluarkan dari kartu keluarga.
"Gue nggak peduli. Dalam beberapa hari gue lelah untuk bicara baik-baik yang ujungnya nggak akan ada keputusan. Ini adalah langkah yang bagus untuk gue ambil. Lagi pun itu sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak," jawab Deka enteng. Rio hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya ini yang dari dulu tidak berubah.
"Lantas kalau yang ini dia tolak, apa yang bakal lo lakuin. Gue yakin lo punya rencana B dalam setiap hal yang lo kerjakan. Benar, bukan?"
Tebakan Rio nyatanya benar, dan Deka tertawa senang karena sahabatnya itu paling mengerti akan dirinya. Rencana satu gagal, dia mempunya 1000 rencana lainnya yang akan membuat Vanya mengatakan 'ya'. Senyum penuh arti ia tampilkan. Hidup memang kejam, penuh pilihan, dan banyak tantangan. Seorang Vanya harus dihadapakan dengan hal-hal baru yang dibawa oleh laki-laki yang paling ia benci. Akankah Vanya bisa melewatinya? Atau dia akan terjebak?
***
Hari pengadaan fashion show itu tinggal tiga hari lagi. Dan sampai sekarang Vanya belum menemukan hotel yang bisa ia tempati. Semua hotel sudah penuh dengan acara. Entah itu party ataupun wedding. Dan untuk kesekian kalinya perempuan itu kesal kepada Deka. Apakah Vanya akan menyerah? Tentu saja tidak.
"Van, tiga hotel yang lo suruh datangi sudah penuh semua pas tanggal itu," kata Gladis.
Vanya menghembuskan napasnya lelah, ditambah lagi kepanya pusing. Perempuan itu memandang langit-langit kantornya. "Lo ada cara lain selain nyewa hotel, nggak?" tanyanya.
"Ada sih, Van. Tapi ini nggak mungkin terwujud. Gue berpikir buat adain acaranya di kantor kita ini, tapi itu mustahil. Ini itu butik sekaligus kantor, dan tempatnya pun kecil."
Vanya membenarkan perkataan Gladis. "Kalau mau booking tempat saat mepet-mepet gini memang susah. Biasanya itu sebulan sebelum acara, kita susdah booking," jelas Gladis lagi.
"Dan juga, Van. Di undangan yang sudah dicetak, kan tertera nama hotel punya Deka itu. Jadi, kalau lo mau pindah tempat, otomatis undangannya diganti juga dong," imbuh Gladis lagi. Benar juga kata Gladis. Vanya akan rugi besar tentunya. Segalanya telah ia siapkan, tapi berakhir gagal.
"Terus gue harus gimana?" lirih Vanya yang sudah tidak tahu lag harus berbuat apa. "Gue terima aja kerja sama dia yang gila itu?" lanjutnya.
"Astaga! Lo sudah terkontaminasi sama pikiran dia," kesal Gladis. Perempuan itu mendekati Vanya, mengambil tempat di sebelah sahabatnya. "Van, pernikahan itu bukan hal untuk main-main. Pernikahan itu menyatukan dua jiwa menjadi satu. Dan lo tau sendiri jiwa yang bersifat berbeda akan sangat sulit untuk disatukan. Apalagi sedari awal lo udah nggak mau, lantas untuk apa lo jalani?"
Vanya menimang betul perkataan Gladis. Betul juga kata sahabatnya itu. Pernikahan bukanlah hal yang bisa dijadikan untuk main-main. "Dan juga lo harus bicara dulu sama orang tua. Dan pasti mereka bertanya-tanya kenapa tiba-tiba lo mau nikah sama Deka. Secara sepanjang lo hidup, mereka belum pernah melihat kalian bersama, bukan? Itu malah akan menjadi hal aneh bagi mereka, terutama publik," jelas Gladis yang mengundang kernyitan bingung di dahi Vanya.
"Publik?"
Gladis mengangguk. "Deka itu pemilik perusahaan yang dikenal di mana-mana. Publik pasti bertanya-tanya kenapa tiba-tiba ada berita dia akan menikah. Nama dan muka lo ada di semua media. Dan nanti kehidupan pribadi lo bakalan diungkap oleh mereka secara terang-terangan. Dan berita buruknya lagi, lo bakalana diisuin hamil duluan," jawab Gladis yang mendapat respon pelototan dari Vanya. Sepertinya perempuan itu tidak pernah berpikir hingga ke sana saat dia dan Deka memutuskan menikah.
"Gila! Hamil? Dunia memang gila," cerca Vanya.
"Dunia memang gila. Sekarang itu bukan mulut yang berbicara, tapi jari. Jari-jari di sosial media itu lebih pedas dari pada mulut-mulut nyinyir. So, kalau lo terima kerja sama dari Deka itu, mau nggak mau lo harus siap dengan segala konsekuensinya," jelas Gladis secara padat. Sepertinta perempuan itu menjaga betul sang sahabat dengan memberi wejangan-wejangan agar Vanya tidak salah melangkah.
Pernikahan itu adalah akhir dari segala hubungan. Kalau dua pasangan ini bisa menekan ego masing-masing, besar kemungkinan pernikahan yang mereka jalani akan berjalan lancar.
***
"Kapan kamu akan bawa perempuan itu menemui kami?" tanya Gerald secara terang-terangan mendesak sang anak. Deka dan keluarga sedang melakukan makan malam. Dan ajaibnya Deka pulang ke rumah hari ini. Sepertinya pilihannya untuk pulang adalah sebuah kesalahan. Contohnya seperti saat ini, sang papa tidak berhenti untuk terus mendesaknya.
Deka berhenti mengunyah, meletakkan sendok dan garpu serta tidak lupa menegak air putih agar tenggorokannya tidak sakit. "Secepatnya, Pa," jawab laki-laki itu akhirnya.
"Papa harap kata secepatnya yang kamu bilang adalah beberapa waktu ini," balas Geral yang sama sekali tidak menurunkan nada intimadasinya kepada sang anak.
Dona yang sejak tadi melihat interaksi keduanya pun mencoba mencairkan suasana. Sayang sekali wanita paruh baya itu harus terjebak dengan dua laki-laki dingin di sekitarnya. Risa sedang tidak berada di rumah karena sedang menghadiri birthday party salah satu temannya.
"Nama perempuan itu siapa, Ka?" tanya wanita itu lembut. Deka beralih kepada mamanya dan satu nama pun ia sebutkan. "Vanya. Vanya Queenabel."
Dona seperti familiar dengan nama itu. Wanita yang merangkap menjadi mama Deka pun mencoba mengingat-ingat, tapi tampaknya dia lupa. "Nama yany cantik. Pasti orang cantik, kan?"
"Cantik," jawab Deka spontan, kemudian dia tersadar dari ucapannya. "Maksud Deka, semua perempuan itu memang cantik, kan, Ma," sanggahnya cepat dan Dona hanya mengulum senyumnya. Sepertinya sang anak memiliki something dengan perempuan bernama Vanya ini.
"Pekerjaan dia apa?" tanya Dona mencoba mengorek-ngorek informasi mengenai calon mantunya.
"Designer."
"Vanya yang designer sekaligus pemilik butik itu?" tanya Dona memastikan jika ingatannya benar. Deka yang mendapat pertanyaan itu pun mengernyit bingung namun dia tetap mengangguk membenarkan pertanyaan Dona.
"Astaga! Dia masih muda banget, Pa," kata Dona beralih kepada suaminya, Gerald yang sejak tadi menyimak percakapan antara ibu dan anak ini. "Waktu itu, Mama, kan lagi jalan sama teman, terus Mama inget kalau Mama mau beli baju yang pernah direkomendasiin sama teman Mama. Terus entah bagaimana, Mama malah dibawa ke butik gitu, dan kebetulan sekali namanya Vanya sama seperti yang kamu sebutkan tadi. Mama nggak tahu ini Vanya yang sama atau tidak. Yang jelas dia anak yang baik, ramah, murah senyum, dan pastinya dia cantik," ujar Dona sambil menekan kata terakhir di kalimatnya dan Deka malah tersedak sendiri.
☆☆☆
Q&A
Q: Seberap ribetnya mempersiapkan sebuah pernikahan menurut kalian?
Your answer: ...