BAB 6

1111 Words
+6285675477××× Besok. Dark Cafe. 12 siang. Vanya mengerut bingung dengan pesan aneh yang entah dari siapa pengirimnya. Entahlah, dia hanya bermain-main dengan ponselnya dan berselancar di beberapa sosial media termasuk melihat lihat beberapa koleksi dari designer  terkenal lainnya. Dan tiba-tiba saja dia mendapat pesan misterius ini. "Woi, Van. Yaelah, lo denger gue ngomong, nggak?" tanya Gladis yang kesal karena sejak tadi dia tengah bercerita mengenai kesialannya hari ini, namun Vanya malah mengabaikannya. "Hehe sorry, gue bingung aja." "Bingung?" "Ada pesan di handphone gue dan gue gak tau siapa." "Emang isinya apaan?" Vanya pun memperlihatkan isi pesan itu. Tidak ada yang aneh bagi Gladis, itu hanya ajakan makan siang. "Yaudah sih datang aja. Pas banget sama jam makan siang kan, tuh." "Masalahnya gue gak tau ini siapa. Yakali gue tiba-tiba datang dan gak tau orangnya." "Hadeuh, gini nih kalau punya temen yang lemotnya parah abis. Vanya dengerin gue, itu orang palingan yang mau bisnis sama lo. Positif aja sih kali aja itu orang dari perusahaan apa gitu yang lagi butuh designer handal kayak lo. Wah, kesempatan bagus gak boleh ditolak. Lo pokoknya harus datang. Lumayan duit, Van, duit," jelas Gladis dengan bersemangat yang mendapat kekehan dari Vanya. Dia pikir kenapa sahabatnya bersemangat sekali untuk dia datang, eh nyatanya karena uang. Dasar mata duitan. "Heh? Yakin nih gue datang?" Gladis mengangguk. "Lagian gue yakin itu orang nggak bakal buat aneh. Secara dia ngajak di cafe yang bisa dikatakan tempat umum. Amanlah. Kalau ada apa-apa, lo bisa teriak dan semua orang pasti langsung gebukin itu orang," jelas Gladis lagi dan lagi dengan bersemangat meyakinkan sahabatnya bahwasannya Vanya tidak akan kenapa-kenapa. Dan Vanya pun setuju untuk datang besok. Lagi pun, dia tidak sedang sibuk. *** "WHAT? GILA SUMPAH." Teriakan Rio membuat Deka berdecak kesal saat keduanya menjadi tontonan beberapa karyawan yang tengah berada di kantin perusahaan Rio. Deka niat hati hanya ingin berkeluh kesah dengan sahabatnya, namun Rio malah mempermalukan dirinya. Di kantin  kantor pula, Deka tidak biasa makan di tempat seperti ini. Biasanya dia hanya makan di dalam ruangan atau keluar kantor. Berbeda dengan Rio, dia lebih suka berbaur dengan karyawannya sendiri. Dibanding Deka, Rio merupakan kebalikan dari laki-laki itu. Rio lebih bersahabat, banyak bicara, dan penuh humor. "Lo serius mau nikahin si Vanya?" Pertanyaan itu lagi yang selalu keluar dari mulut orang yang menjadi penyebab masalah datang dari hidupnya. Jika bukan karena sahabat dari dia kecil, sudah Deka bunuh Rio hidup-hidup. Kejam? Tentu saja. Lebih kejam Rio yang malah membuat hidup Deka akan terikat penuh dengan Vanya. "Hmmm." "Lo udah bicara sama Vanya?" tanya Rio lagi dan mendapat gelengan dari sahabatnya. "Guvluk! Ya buruan bicara. Gue tau keluarga lo kayak gimana, Ka. Dan gue bisa pastiin kalau Om Gerald nggak akan berpikir dua kali untuk nendang lo dari keluarga mereka." Perkataan Rio membuat Deka meringis. Melupakan kenyataan jika ucapan sang papa hanya angin berlalu merupakan kesalahan besar. Gerald tidak akan main-main dengan ucapannya. Segala keputusan yang keluar dari mulutnya adalah mutlak, apalagi ancaman untuk menghapus namanya dari kartu keluarga. "Tapi, Yo, lo pikir aja. Menurut gue ini masalah gak perlu dibesarin, kan? Lagi pula si Vanya nggak beneran hamil. Mama cuma salah paham doang waktu itu," ucap Deka yang merasa kalau ini hanyalah masalah kecil. Dengan berbicara sedikit dengan Vanya dan orang tuanya maka urusan akan cepat selesai. Rio menggeleng tidak setuju. "Bagi kita sebagai anak yang hidup di jaman ini memang bukan masalah. One night stand sering kali kita lakuin, gue nggak menampik itu. Tapi, bagi orang tua, jelas itu pandangan berbeda. Ada tata krama dan aturan yang udah mereka jaga sendiri dari dulu secara turun temurun. Bisa dibilang mereka menjaga betul anak-anak mereka agar tumbuh menjadi bibit unggul," jelas Rio dengan raut muka yang serius. Membuat Deka sedikit terkejut dengan ucapan sahabatnya yang tiba-tiba terdengar aneh. "Gila sih gue bijak banget kayaknya," puji Rio kepada dirinya sendiri, sedangkan Deka mendengkus kesal. Dia harus meralat jika sahabatnya tidak akan pernah berubah. "Lo harus bantu gue, Yo. Bagaimana pun juga ini salah lo. Kenapa nggak lo aja yang nikahin Vanya?'' Ide gila apa lagi yang akan laki-laki itu utarakan. Rio mendelik dengan ucapan yang terlontar dari mulut sahabatnya itu. "Lo gila? Nggak mau. Dengan seenaknya lo ngasih bekas lo ke gue? Ogah," tolak Rio mentah-mentah. "Bekas? Lo kira dia barang apa?!" Rio memandang sahabatnya penuh selidik. Terlihat marah hanya karena dirinya mengatakan hal itu mengenai Vanya? Aneh. "Tapi kalau dilihat-lihat Vanya cantik dan seksi, sih. Hmmm boleh aja dia jadi istri gue, its ok lah itu bekas lo. Lagi pun orang tua gue nggak bakal nolak kalau Vanya yang merupakan designer menjadi menantu mereka," kata Rio menerawang menatap dinding ruangannya. Deka mengumpat, harusnya dia tahu bagaimana tingkah laku sang sahabatnya ini. Dengan segera Deka mengetik sesuatu di telepon genggamnya. Sebuah pesan yang mungkin besok akan membuat seorang Vanya kembali semakin membenci dirinya. *** Bukkk "Aduh.'' Vanya terduduk di tanah dengan keadaan yang tidak mengenakkan. Dia tengah terburu-buru masuk ke dalam cafe. Terlambat setengah jam bukanlah hal bagus bagi orang-orang yang suka berbisnis. Dirinya masih mengingat pesan kemarin jika dirinya diminta datang jam 12 siang dan sekarang sudah hampir jam 1 siang. Bodoh. Dibanding memikirkan kebodohannya, dia lebih memilih untuk segera bangkit  dan menemui sang client. Bisa bahaya jika pundi-pundi uangnya kabur. Apalagi jika Gladis mendengar klien mereka kabur, bisa diceramahi habis-habisan Vanya oleh Gladis. "Maaf, Pak, saya terlambat,'' ucap Vanya bersalah sesekali merapikan penampilannya yang sedikit berantakan karena insiden terjatuh tadi. "Seorang Vanya, designer ternama terlambat?" Suara itu? Vanya mengenalnya, bahkan lebih kenal setelah insiden itu. "ELO?" delik Vanya tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Deka duduk dengan diam menatapnya intens. Setelan jas yang ia gunakan menambah kadar ketampanan laki-laki itu semakin bertambah. Vanya segera menyingkirkan pikirannya yang memuji laki-laki b******k yang merenggut masa depannya itu. Vanya mulai kembali dingin sama halnya Deka juga. "Ngapain lo ngajak gue ketemuan? Gue gak punya waktu. Sibuk. Cepat katakan yang ingin lo katakan,'' kata Vanya angkuh menatap Deka dengan pandangan sengit. Wanita yang menarik, batin Deka. "Saya hanya ingin bekerja sama dengan butik Anda,'' kata Deka terlihat formal. "Kerja sama?" "Ya. Kerja sama di bidang yang Anda geluti. Tenang saja, saya akan membuat perjanjian yang sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak,'' lanjut Deka dengan nada yang masih terlihat formal. Vanya memutar bola matanya malas. Kerja sama? Dengan laki-laki b******k ini? Hell? Berita buruk. Harusnya kemarin dia menolak usulan Gladis yang memintanya datang ke sini. Nasi sudah menjadi bubur, biarlah dia ikuti ucapan Deka. Mungkin saja Vanya mendapat keuntungan dari pertemuan ini. ''Kerja sama apa? Langsung to the point. Gue malas bertele-tele.'' Deka menyeringai. "Menikahlah denganku.'' ''APA??!!" ☆☆☆ Q&A Q: Kalau ada yang ngajak nikah, kalian mau atau nggak? Your answer: ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD