BAB 5

1834 Words
Menikah bukan perihal mudah bagi kebanyakan orang. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan sematang mungkin. Terutama calon pengantin. Deka selama beberapa hari ini tengah bingung merencanakan cara agar Vanya mau bertemu dengannya. Terhitung sudah dua hari berlalu kejadian di mana Gerald memintanya untuk menikah. Dan selama itu juga dirinya belum bergerak ataupun berusaha untuk menemui seorang Vanya Queenabel. Sulit? Tidak. Bagi seorang Deka menemukan Vanya adalah hal yang mudah, dilihat dari koneksi dan kekuasaan yang ia punya. Dia tahu di mana Vanya tinggal, bahkan kantor perempuan itu pun juga dia tahu. Yang menjadi permasalahannya adalah, dia belum bisa bertemu dengan perempuan itu. Deka masih teringat dengan perkataan terakhir dari Vanya, bahwasannya dilarang bertemu apalagi menampakkan diri. Perempuan yang aneh. Bagaimana bisa seorang Deka menurut dengan yang diucapkan perempuannya? Impossible. Suara dering telepon mengembalikan Deka ke dunia nyata. Dilihatnya nama sang adik tertera di sana. Risa. Untuk apa gadis itu meneleponnya di jam kerja seperti ini? Tanpa menunggu lama, laki-laki itu segera mengangkatnya. "KAKAKKK HUWAAA." Suara memekikkan dari adiknya kembali terdengar dan membuat Deka sedikit meringis. Adiknya dari dulu memang tidak pernah berubah. "Ada apa, Risa? Kakak lagi kerja, kamu malah ganggu." "Ihh Kakak. Gak usah sok sibuk deh. Nanti jemput aku ya, Kak? Please," ucap gadis di seberang sana dengan nada memohon dan Deka pun memutar bola matanya malas. "He? Tumben? Minta supir aja jemput atau taksi online." "Gak mau ah. Aku minta jemput Kakak aja. Ya, ya, ya, please," tolak gadis itu lagi kembali memohon. dengan nada memelas. Deka sudah memastikan jika dirinya menolak maka adiknya akan terus menerornya. Dan jika dia terus saja menolak, maka Risa pasti akan mengadu kepada Dona. Dan sudah dipastikan jika sang mama pasti akan menyemprotnya dengan banyak kata. Sial. "Hmm." Tentu saja Deka tidak akan pernah menolak. "YEAY!! Love you, Kak. Nanti aku kirim alamatnya. DAHHH." Klik Memiliki adik yang masih bersifat kekanak-kanakan terkadang memang menyusahkan. Risa yang sudah dikatakan dewasa, tapi kelakukan masih seperti anak remaja ini sering kali membuat seluruh keluarganya pusing termasuk Deka sendiri. Adiknya ini sungguh ajaib. Padahal gadis itu sudah beurmur matang. Duduk di bangku perkulahan harusnya sudah membuatnya menjadi lebih dewasa. Tapi, rasa-rasanya tidak, entahlah, Deka susah untuk berkata-kata. *** "Vanya senyum, dong. Lo dua hari ini murung mulu. Gue gak suka muka lo kayak gitu. Jelek banget sumpah," cerocos Gladis yang langsung saja mendapat tatapan tajam dari seorang Vanya. "Hehehe, matanya berasa mau copot, Bu," celetuk Gladis lagi yang menambah pelototan dari sahabatnya. "Ok kita lupain permasalahan lo dulu. Kita fokus kerja sekarang. Inget, Van, hari ini adalah pemotretan sebelum acara inti lo dimulai. Pemotretan ini penting, apalagi lo sebagai designer-nya. Gue minta sekali lagi lo harus tetap profesional, oke?" cecar Gladis dengan nada serius. Beberapa minggu lagi akan diadakan fashion show yang menampilkan baju-baju karya dari Vanya, dna tentu saja perempuan itu sudah bekerja keras hingga sejauh ini. Dan Gladis sebagai sahabat sekaligus orang yang bekerja dengan perempuan itu pun tidak ingin acara sang sahabat berakhir dengan buruk. Tidak, acara itu adalah impian seorang Vanya dan di acara itu juga semua orang akan tahu di mana eksistensi seorang Vanya Queenabel. Vanya menatap Galdis jengah. "Gue tau kali, Dis. Gue profesional kalau urusan kerja." "Ok bagus. Sekarang kita temui Risa. Hari ini dia yang akan jadi modelnya," jelas Gladis. "Risa? Gadis manja itu lagi?" tanya Vanya dan diangguki oleh Gladis. "Meskipun itu anak banyak maunya, tapi cuma dia yang profesional dan paling bagus pas pengambilan gambar," jelas Gladis lagi yang sudah tau apa isi kepala Vanya jika menyangkut nama salah satu model mereka, Risa. "Ok. Kita lihat seberapa mahir dia di bidang ini," kata Vanya berlalu meninggalkan Gladis yang hanya mampu menggelengkan kepala. Risa saat ini tengah berada di ruang ganti. Make up sudah terpasang rapi di wajahnya, namun mimik mukanya malah terlihat tidak senang, terkesan kesal dan cemberut. Gladis dan Vanya yang baru sampai pun menanyakan ada hal apa dan kenapa mereka belum siap juga sampai sekarang. "Risa nggak mau pakai sepatu ini, katanya terlalu tinggi. Itu bisa membuat kakinya kelelahan bahkan membiru. Katanya begitu." "Pakai sepatu yang lain saja. Apa tidak ada?" usul Vanya tegas. "Nggak ada, Mbak. Sepatu yang senada dengan baju dia hanya ini," kata orang tersebut. Vanya menghampiri Risa yang tengah duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu. Dan gadis itu masih saja duduk cemberut. "Risa, jadi kamu maunya bagaimana? Nggak mau ikut pemotretan?" tanya Vanya yang mulai hapal sikap manja gadis ini. Risa menggeleng. "Aku mau pemotretan, Kak, tapi sepatunya terlalu tinggi. Aku pernah pakai itu dan berakhir kakiku nggak bisa berjalan keesokan harinya. Itu sakit banget," jawab Risa dengan mimik wajah kesakitan. "Dis, di mobil lo gak ada simpanan sepatu?" tanya Vanya dan mendapat gelengan dari sahabatnya itu. Lengkaplah sudah, ada-ada saja masalah yang terjadi dalam hidupnya beberapa hari ini. Vanya mengatur napasnya agar dia teteap sabar dalam menghadapi apa pun. "Kak, itu sepatu Kak Vanya warnanya sama kayak sepatu yang tadi. Aku pakai itu saja," celetuk Risa sambil menunjuk sepatu yang dipakai oleh Vanya. Gladis hanya cekikikan melihat tingkah Risa yang jeli dengan sekitar. Sedangkan Vanya hanya mendengkus kesal mendengar celetukan dari modelnya itu yang berarti mau tidak mau Vanya harus merelakan sepatunya dipakai oleh Risa. Dan akhirnya pemotretan bisa berjalan dengan lancar walaupun dengan insiden kecil yang harus Vanya dapat. Dia bertelanjang kaki hanya demi meminjamkan sepatunya kepada Risa. Ada banyak sepatu di ruangan itu, namun kebanyakan adalah heels yang tinggi, dia tidak akan mau memakainya. Alhasil Gladis hanya mampu menahan tawanya mendapati nasib buruk menimpa sahabatnya itu. Risa berpose layaknya model profesional. Polesan make up nyatanya mampu membuat gadis itu terlihat dewasa. Padahal umurnya masih sangat muda sekali. "Selesai!" Suara fotografer membuat hati semua orang bergemuruh lega. Suara riuh tepuk tangan menggema dalam ruangan itu. Semua orang tampak bahagia, termasuk Vanya tentunya. Ini adalah sesi terakhir pemotretan sebelum acara inti dimulai. Dan perempuan itu sudah tidak sabar menunggu hari di mana semua impiannya terwujud. "Kak Vanya, aku ganti baju dulu ya. Gerah," ucap Risa buru-buru dan berlalu meninggalkannya. "Eh-itu anak memang kurang ajar. Sepatu gue belum dibalikin main pergi aja," gerutu Vanya. "Udahlah, mending kita susulin dia." Dan pada akhirnya Gladis pun menyeret sahabatnya menuju ke ruang ganti lagi. Risa dibantu asisten membersihkan wajahnya kembali. Bagi gadis itu, mukanya harus tetap netral tanpa polesan make up tebal jika sudah di luar jam pemotretan. Apalagi jika sampai rumah, Dona bisa ceramah tujuh hari tujuh malam melihat anaknya yang bermuka seperti orang dewasa dengan make up tebal sekali. "Kakak buruan ke sini! Lama banget, sih. Aku capek! Mau cepat pulang!" Klik Gladis dan Vanya yang sejak tadi memperhatikan Risa pun saling bertatap bingung. Sungguh gadis yang ajaib. Yang ada dipikiran Vanya, kasihan sekali orang yang berada di seberang telepon sana. Pasti telinganya sudah mau pecah mendengar suara Risa. "Risa, sepatu Kak Vanya mana?" tanya Vanya mencoba sedikit bersabar. Risa mengisyaratkan jika sepatunya ada di dekat sofa. Vanya mendengkus kesal melihat seberapa mengesalkannya gadis itu. Sabar Van sabar, batin Vanya. "Terima kasih Risa." "Iya sama-sama, Kak," balas Risa yang masih fokus dengan ponsel yang ada di genggamannya. Hell? Dasar bocah gak tau diri, umpat Vanya dalam hati. Seharusnya gadis itulah yang berterima kasih karena dirinya karena sudah berbaik hati meminjamkan sepatu yang ia miliki saat ini. Ralat! Bukan meminjam, tapi memaksa. "Nggak mau! Kakak masuk aja. Barang bawaan Risa banyak." " .... " "Udah dibilang Risa capek! Pokoknya Kakak ke sini, kalau nggak, aku bakal aduin Mama." Klik Lagi dan lagi gadis itu marah-marah di telepon. Membuat orang sekitar menjadi meringis mendengarkan suara melengkingnya. "Kak Vanya, bisa bantuin Risa, nggak? Kakakku di bawah, dan dia nggak tau arah ke studio sini," ucap Risa memandang Vanya dengan raut muka memohon. "What? Aku? Ogah. Dis, lo aja deh sana yang susul. Gue malas ah," tolak Vanya kesal. Perasaan di sini yang jadi bosnya adalah dirinya, kenapa malah gadis ini suka memerintah dirinya? Wah, gak beres, nih. "Gue sibuk. Lo gak lihat gue ngapain?" kata Gladis yang ribet dengan baju-baju yang kebetulan tidak berada tempatnya. Vanya lagi dan lagi menyesal telah berada di pusaran orang-orang yang selalu membuat hidupnya penuh dengan kekesalan. Sabar, Vanya harus sabar. Kalau marah-marah maka mukanya akan cepat terlihat tua. "Pung, coba lo lihat ada kakaknya Risa, nggak?" tanya Vanya kepada salah satu pegawainya yang berada dekat pintu. "Cowok ya? Ada tuh depan pintu. Gue suruh masuk tapi kagak mau." "Ris, dengar, kan? Itu kakak kamu nggak mau masuk katanya," jelas Vanya kepada Risa yang sudah terlihat biasa tanpa polesan make up. Untuk kesekian kalinya, Vanya takjub dengan muka polos gadis itu tanpa riasan apapun tetapi tetap terlihat segar dan cantik. Kapan dia kan memiliki kulit seperti itu. Hush, meskipun begitu, gadis itu tetap cerewet dan mengesalkan di matanya. "Dasar tua bangka. Bikin repot aja," gerutu Risa sambil membawa barang-barangnya yang mungkin terlalu banyak. Karena tidak tega, Vanya berinisiatif membantu, dan Risa pun dengan senang hati menerima bantuan itu. "Kak Deka ribet banget sih! Udah disuruh masuk aja juga," omelnya kepada Deka yang sejak tadi hanya berdiri di depan pintu. Ha? Deka? Vanya yang memang baru saja sadar ketika RIsa menyebut nama laki-laki yang palng tidak ingin ia temui saat ini. Dan Vanya sekali lagi memandang datar pemandangan yang berada di depannya. Mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, membuat muka Vanya kembali memanas, antara benci, kesal, dan malu. Dia ingin marah, namun Vanya tahu jika sekarang bukan waktu yang tepat, ditambah lagi terlalu ada banyak orang di dalam sana. "Malah diam lagi. Kak Deka buruan ambil tas yang ada di tangan Kak Vanya. Aku capek tau," gerutu Risa yang membuat kedua orang itu tersadar. Deka dengan sekali angkat langsung membawa tas itu, ringan baginya karena beratnya tidak seberapa. Vanya melengos pergi setelah Deka mengambil tas itu. Bahkan dia tidak berniat untuk bertegur sapa. Bertegur sapa? What the hell? Impossible. Vanya semakin yakin, dengan kehadiran Risa di sekitarnya maka ini akan menambah masalah, terlebih lagi gadis itu adalah adik dari laki-laki b******k itu sendiri. Menyebalkan. Sungguh ini hari yang paling menyebalkan bagi dirinya. Gladis yang baru saja telah selesai dengan urusannya pun segera menghampiri sahabatnya. Dilihat dari jauh sepertinya Vanya tengah menahan sesuatu. Dan tentu saja tingkat keingintahuan Gladis lebih tinggi. "Kenapa lo?" tegurnya. Vanya hanya menatap Gladis malas. Mood-nya tiba-tiba turun setelah bertemu Deka barusan. "Yaelah malah diem mulu," cibir Gladis. "Ternyata dia kakaknya Risa," kata Vanya yang terdengar ambigu bagi Gladis. "Dia? Dia siapa?" Vanya memandang Gladis datar. Tahukah dia jika Vanya enggan menyebut nama laki-laki b******k itu, alias Deka. "Laki-laki yang sudah buat masa depan gue hancur," jelas Vanya dan tentu saja Gladis langsung paham siapa yang di maksud oleh Vanya. Deka? Kakak dari Risa? Kebetulan yang mengejutkan. "Lo tenang aja, Van. Selama dia nggak ngusik lo, coba lo bersikap abai aja. Untuk Risa, mending lo jangan kasih tau kejadian itu," usul Gladis. "Ya nggak lah. Ngapain juga gue kasih tau Risa. Nggak penting juga. Lagi pun perlahan-lahan gue coba ngelupain kejadian itu." Bagus, seenggaknya lo nggak kembali sakit hati lagi, Van, batin Gladis. ☆☆☆ Q&A Q: Kalian pernah merasakan sakit hati nggak? Your answer: ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD