“HAMIL? SIAPA YANG HAMIL?”
Deka memandang terkejut suara lain dalam ruangan itu. Deka merutuki Rio yang tidak menutup pintu dengan benar. Ini akan menjadi hari yang panjang. Bahkan paling panjang dalam hidupnya. Rio meringis tatkala kedatangan orang tersebut. “Selamat pagi, Tante,” sapanya.
“Pagi Rio. Sekarang bilang siapa yang hamil?” tanya Dona.
Dona merupakan mama dari Deka. Wanita paruh baya itu berniat untuk mengunjungi anak laki-laki semata wayangnya yang sudah berhari-hari tidak pulang ke rumah. Namun, apa yang ia dapat saat ini, kabar jika sang anak menghamili seorang perempuan? Astaga, dosa apa dia sampai anaknya melakukan tindakan yang dilarang agama seperti ini. Tanpa berpikir panjang, wanita itu segera memberundung sang anak perihal siapa perempuan itu.
“Deka, cepat jawab pertanyaan Mama. Siapa yang kamu hamili?” desak Dona meminta sebuah jawaban.
“Ha-mil? Gak ada kok, Ma,” jawab Deka mencoba menetralkan rasa gugupnya yang nyatanya menambah rasa kecurigaan Dona. Ingatkan Deka bahwa sudah 25 tahun lamanya ia hidup bersama dengan Dona, maka dengan sangat mudah wanita itu mengetahui jika anaknya tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
“Rio! Cepat katakan siapa yang udah Deka hamili?” tanya Dona beralih kepada Rio yang sama gugupnya. Rio memang tidak takut dengan Deka, namun jika berhadapan dengan orang tua, pemuda itu akan sedikit segan dan berhati-hati dalam menggunakan kata, seperti saat ini ketika dia dihadapkan dengan Dona yang merupakan mama dari sahabatnya. Deka dan Rio sudah bersahabat sejak lama, jadi pemuda itu sudah sangat kenal dengan keluarga sahabatnya.
“Anu ... Tan-te ... mmm itu ... Riokebeletpipis.” Pemuda itu pergi secepat kilat setelah menjawab pertanyaan Dona, meninggalkan dua manusia yang berbeda usia itu. Dona menatap anaknya dengan penuh tanda tanya, sedangkan Deka mencoba mengalihkan pandangannya untuk tidak bertemu pandang dengan sang mama. Sial, dia pasti akan dibantai habis-habisan.
***
“Udah, Van, jangan nangis terus. Gue bingung mau ngomong apa,” ungkap Gladis mencoba menenangkan Vanya yang terus saja menangis tanpa berhenti. Awalnya dia bingung kenapa sahabatnya ini pagi-pagi sekali datang ke rumahnya ditambah lagi dengan air mata yang terus membanjiri wajah cantiknya itu. Banyak pertanyaan yang ada di kepala perempuan itu. Hingga dia pun tahu akar permasalahan sahabatnya ini. Dan itu semua gara-gara pemuda yang mereka jumpai di acara reuni semalam.
Oh iya, untuk semalam, Gladis memang mencari keberadaan Vanya, namun perempuan itu tidak menunjukkan batang hidungnya. Karena itu lah Gladis sempat berpikir jika Vanya pulang duluan, namun sekarang kenyataannya tidak. Pagi-pagi begini dia sudah diberi pemandangan tak mengenakkan dari Vanya.
“Lo ... gak akan tau ... gimana jadi gue, Dis,” balas Vanya masih dengan isak tangisnya. Gladis meringis melihat Vanya menghapus ingusnya, menjijikkan. Gladis merutuki Deka yang memanfaatkan keadaan sahabatnya yang tidak sadar semalam. Gladis tidak habis pikir kenapa pemuda setampan Deka bisa melakukan hal tak senonoh seperti ini? Ya memang wajar karena pemuda itu bergelimang harta, tapi ini Vanya, sahabatnya. Dari pada memikirkan tindakan apa nantinya yang akan ambil untuk memberi pelajaran kepada Deka, Gladis lebih memilih mencoba menenangkan sahabatnya ini.
“Astaga, Van. Hal kayak gini lumrah kali. Gak usah dibesar-besarin. Malahan temen gue ada yang waktu SMP udah gak perawan," balas Gladis jujur karena memang hampir semua teman-temannya sudah tidak perawan sebelum menikah. Ya apalagi kalau bukan seks bebas. Gladis memang perempuan luar yang suka bergaul, namun untuk hal itu dia sangat menghindari. Alasannya karena dia tidak ingin mengidap penyakit menular, entah itu AIDS, HIV, atau lain sejenisnya.
Vanya melotot. “Untung gue bukan temen lo waktu itu. Masa, sih, SMP udah jebol aja?” tanya Vanya sedikit ingin tahu. Sepertinya perempuan itu sedikit lupa dengan kejadian semalam.
“Ya begitulah, namanya lingkungan, Van. Dan lagi pula sama-sama mau.”
Mengingat hal itu, Vanya kembali menangis. Sama-sama mau? Bagaimana dengan dia dan Deka? Itu hanya kecelakaan yang harusnya tidak terjadi dalam hidupnya.
“Astaga malah nangis lagi.”
“Gue bingung kalau Mama dan Papa tanya, Dis. Gue harus jawab apa?” tanya Vanya dengan raut muka melemah.
Gladis memegang kedua bahu sahabatnya itu. “Memang lo udah cerita ke orang tua lo?” tanyanya serius dan mendapat gelengan dari sang empunya.
“Nah! Berarti lo gak usah khawatir. Orang tua lo gak tau soal ini. Jadi, sekarang masih aman.”
Vanya menyeka dengan kasar air mata yang tadi membasahi pipinya. “Kalau mereka tau, gimana?”
“Ya jangan sampai tau, lah!” jawab Gladis cepat. Dan akhirnya Vanya hanya bisa patuh dengan ucapan Gladis seorang.
Berbeda dengan Vanya, di sebuah perumahan, lebih tepatnya salah satu rumah mewah yang menjadi penghuni komplek tersebut, terjadi keheningan dan aura menegangkan. Deka sejak tadi hanya diam mendengarkan segala aduan sang mama kepada kepala keluarga. Dan tentu saja sebagai anak, dia hanya bisa patuh, terlebih lagi sebelum Dona mengadu, wanita itu mewanti-wanti Deka untuk diam.
“Lihat, Pa! Dia ini sudah kurang ajar! Dia sudah menyakiti perempuan, Pa. Bagaimana nasib perempuan itu. Masa depannya hancur gara-gara anak kita sendiri. Mama gak bisa bayangin kalau hal itu terjadi kepada Risa.” Dan menangislah Dona dipelukan sang suami. Gerald mencoba menenangkan istrinya, namun matanya menajam menuju kepada si biang masalah. Sedikit demi sedikit Dona mulai tenang dan diarahkan oleh Gerald untuk duduk. Sembari memberinya segelas air, dia beralih kembali kepada sang anak.
“Sekarang, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Gerald mengeluarkan alpa tone-nya (werewolf kali ah )
“Tidak ada,” jawab Deka tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Tidak ada?!” Dan tentu saja Gerald menatap tidak percaya bagaimana keputusan anaknya, terlebih lagi Dona yang seakan kecewa kepada anaknya sendiri.
Deka hanya memandang Gerald malas. Kenapa semua keluarganya terlalu membesarkan masalah. Ini hanyalah masalah sepele. Lagi pun Vanya tidak mau bertemu dengan dirinya lagi. Lantas untuk apa diperpanjang?
“Nikahi dia,” kata Gerald tegas dan tak terbantahkan namun protes segera Deka ajukan.
“Me-ni-kah? Nggak, Pa,” balas Deka tak kalah tegasnya. Gerald tersulut emosi dengan penolakan anaknya. Lari dari masalah? Itu bukan prinsip dari keluarga ini.
"Pergi dari sini dan tinggalkan semua yang pernah Papa berikan kepada kamu, termasuk perusahaan DK Corp juga," imbuh Gerald tanpa melihat sang anak. Deka terkejut, Dona pun sama, namun dia tak berani membantah. Dan Gerald pun tidak percaya akan apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Dia hanya ingin mengajarkan kepada Deka tentang tanggung jawab.
"Dia sendiri yang bilang kalau aku nggak usah tanggung jawab. Dia sudah nggak mau ketemu aku lagi, Pa," balas Deka agar tidak disudutkan terus menerus oleh Gerald.
"Memang ada perempuan yang mau kembali bertemu dengan perusak masa depannya?" Gerald tersenyum sinis. "Tidak ada, bukan?" imbuhnya lagi.
"Pa, ini hanya masalah sepele."
"Sepele kamu bilang?! Keluarga kita tidak pernah mengajarkan tentang melecehkan seorang perempuan. Lingkungan kita tidak mengajarkan hal itu, Deka. Jadi, segeralah bertanggung jawab dan nikahi dia. Dalam waktu dekat kita akan ke rumah perempuan itu untuk membicarakan masalah pernikahan kalian." Gerald mengatakan itu semua dengan penuh emosi. Setelahnya dia meninggalkan anaknya berdua dengan sang istri.
Dona menatap Deka dengan raut wajah bersalah. Keputusan untuk mengatakan kepada sang suami memang betul adanya namun dia tidak menyangka jika sang suami akan mengancam anaknya seperti ini. Dona mendekati Deka yang sejak kepergian Gerald hanya diam membisu dengan pandangan kosong. Sepertinya anaknya tertekan.
"Deka, menjadi laki-laki itu mempunyai tanggung jawab yang besar. Entah bagi keluarga, pekerjaan, atau diri sendiri. Mama dan Papa kecewa sama kamu, kita selalu menjaga harkat dan martabat seorang perempuan. Terlebih Papa kamu yang selalu mengutamakan perempuan. Mama tau memang tindakan yang kamu lakukan itu lumrah saat ini, tapi itu adalah tindakan yang tidak baik, Deka. Kamu harus bertanggungjawab. Apalagi kamu mempunyai adik perempuan. Apa kamu mau jika Risa mengalami hal seperti yang perempuan itu dapat? Tidak mau, bukan?"
Deka terkejut. Perkataan sang Mama menyadarkannya tentang adanya sebuah karma. Risa? Dia adalah adik satu-satunya yang ia punyai. Dan dia tidak bisa membayangkan jika hal ini terjadi kepada sang adik. Jika sampai hal itu terjadi, maka Deka akan menyalahkan dirinya sendiri.
"Selamat malam semuanya.'' Suara melengking seorang gadis membuat keduanya mencoba menetralkan suasana. Dona segera menghapus jejak air matanya agar sang anak tidak curiga. Risa sudah pulang dan dia terkejut mendapati kehadiran Deka yang sudah lama tidak ia temui selama ini.
"KAKAKKK." Gadis itu pun langsung saja berhambur memeluk Deka dan untung saja pemuda itu dengan sigap membaca tindakan adiknya yang selalu terjadi secara tiba-tiba itu.
"Astaga Risa, kamu makin hari makin kayak anak kecil aja. Lihat umur," cibirnya mencoba menggoda sang adik.
Risa mencebik, "Ish, aku masih muda dan masih kiyut. Kakak kok lama banget sih gak pulang?" protes gadis itu.
"Kakak sibuk."
"Sok sibuk sih iya. Sampai lupa udah umur berapa. Kak Deka cepat cari istri gitu biar aku ada temennya. Bosen tau sendirian gak ada temen hangout."
"Loh? Kok gitu? Kamu gak suka ya kalau jalan sama Mama? Oh gitu ya, ok deh uang jajan Mama potong," sambung Dona yang sejak tadi hanya melihat interaksi kedua anaknya.
"Eh eh eh, Ma. Mama baperan. Maksud Risa bukan begitu, Ma. Nih kan kalau Kak Deka nikah, aku punya kakak ipar dan pasti umurnya gak beda jauh dari aku. Jadinya kan aku kalau mau shoping atau curhat jadi nyambung gitu. Kalau sama Mama sih gak bisa curhat hehe. Apalagi selera Mama kayak emak-emak hahaha."
"Dasar kamu ya."
Dan terjadilah perang antara ibu dan anak, Deka hanya bisa tersenyum menyaksikan keluarganya bahagia. Mengenai Vanya, dia mungkin akan berbicara dengan perempuan itu nanti. Dan semoga saja mudah untuk membujuk Vanya agar mau menikah dengannya.
☆☆☆
Q&A
Q: Bagaimana tanggapan kalian soal menikah? Atau ada di antara kalian yang sudah menikah?
Your answer: ...