BAB 3

1259 Words
Buliran kristal bening terus saja membasahi kedua pipi Vanya. Memandang kosong ke depan. Lebih tepatnya memikirkan masa depan apa yang akan ia hadapi, terutama menantikan bagaimana reaksi kedua orang tuanya terhadap dirinya selama ini. Dan kekecewaan yang besar pasti terlihat di wajah mereka. Lagi dan lagi tangisan itu kembali terdengar. Vanya seakan menjadi gadis paling bodoh di dunia ini. Dan lebih parahnya lagi, dia harus terjebak dengan Deka. Pemuda yang ia cintai secara diam-diam dulu. “Ngghh.” Pemandangan pertama yang Deka lihat adalah Vanya yang menelungkupkan wajah di lipatan kedua tangan gadis itu. Deka terkejut mendapati keadaan mereka yang satu ranjang. Kemudian dia mencoba mengulang memori semalam. Mereka berdua menghadiri acara reuni, kemudian Rio memberinya minuman, dan tiba-tiba saja Vanya merasakan tubuhnya panas. Deka kebingungan dan mereka ... “Astaga!” Seakan ingat dengan kejadian semalam. Deka memekik terkejut. Apa yang telah ia perbuat? Vanya menatap pemuda itu garang. Air mata masih saja meluncur di kelopak matanya tanpa henti. Tatapan membunuh dan penuh kebencian telah terpancar di wajahnya. “Van, gue –“ “CUKUP! Gue benci sama lo, Ka. GUE BENCI!” teriaknya sekuat tenaga, bahkan napasnya naik turun setelah berteriak kepada pemuda itu yang tengah menunjukkan rasa bersalah teramat besar. Namun di mata Vanya, Deka adalah orang yang paling ia benci saat ini. “Van, sorry, sumpah gue gak bermaksud –“ “Nidurin gue? Lo memang b******k, Ka. Seumur hidup, gue benci ketemu laki-laki b******k kayak lo. Lo dari dulu memang b******k! Dan selamanya tetap b******k! Gue kesal kenapa gue terlibat dengan laki-laki breng –“ “BERHENTI BILANG GUE b******k!” Sama halnya dengan Vanya, Deka juga marah. Apalagi ketika dirinya terus saja dihujani dengan kata 'b******k'. Terjadi keheningan beberapa saat yang hanya diisi dengan isak tangis gadis itu. Deka menhembuskan napasnya. Mencoba merangkai kata agar keadaan mereka tidak semakin runyam. “Asal lo tau, lo yang minta gue lakuin ini. Bukan gue yang minta. Jadi, berhenti bilang kalau gue b******k,” lanjut Deka dengan suara normal. Mata Vanya berkilat marah. “Lo gak usah ngarang cerita. Mana mungkin gue minta lo lakuin itu. Kalau b******k ya b******k aja, nggak usah membalikkan fakta,” balas Vanya tak kalah sengit. Cukup sudah masa depannya terenggut oleh pemuda itu dan dengan teganya dia menyalahkan dirinya yang menjadi korban dalam hal ini. Deka meremas rambutnya kesal. Untuk apa dia meminta orang lain melakukan hal yang tidak mereka inginkan? Jelas-jelas itu adalah permintaan Vanya sendiri. Sekuat apa pun dia menjelaskan, gadis ini tidak akan mempercayainya karena semalam dia terpengaruh oleh minuman itu. “Terus gue harus gimana? Kalau lo sendiri gak ngakuin, gue bisa apa? Lo udah terpengaruh sama minuman itu, dan lo pasti lupa apa yang udah lo bilang ke gue,” jelas Deka mencoba bersabar dengan sikap Vanya. Walau bagaimana pun, ini menyangkut masa depan gadis itu. Gadis? Dia bukan gadis lagi saat ini. “Gu-gue ... gue minta lo pergi. Jangan ganggu hidup gue lagi.” Permintaan Vanya cukup sederhana, namun ada rasa sesak dalam d**a Deka kala Vanya mengucapkan kata-kata itu. Apakah ini sebuah penolakan? “Van, gue akan tanggung jawab kalau lo mau," balas Deka. Perkataan Deka terdengar serius, tapi Vanya menulikan pendengarannya. Bahkan dia tidak lagi menatap pemuda yang sudah merenggut masa depannya itu. “Huft, ya sudah lo sekarang mandi, nanti gue antar pulang.” Putus Deka akhirnya yang tidak tega melihat keadaan Vanya saat ini. Terlihat berantakan sekali. “Gak usah! Gue bisa pulang sendiri," tolak Vanya mentah-mentah. Vanya melangkah tertatih menuju ke kamar mandi. Badannya serasa ingin remuk, dan bagian bawah tempat sensitifnya terasa sedikit perih. Apa seperti ini rasanya ketika mahkota yang sudah dijaga selama ini terenggut dengan sia-sia? Deka meringis kala melihat keadaan Vanya yang perlahan-lahan masuk pintu berwarna cokelat yang ia yakini adalah sebuah kamar mandi. Deka sempat berpikir apakah  semalam dia terlalu kasar? Ia ingin membantu Vanya menuju kamar mandi, tapi dia takut jika nantinya perempuan itu kembali menolak. Nasi sudah menjadi bubur. Mereka berdua terjebak dalam situasi yang sulit. Dan itu semua gara-gara Rio. Deka akan segera memberi pelajaran kepada sahabatnya itu. Penjebakan yang sungguh licik. Lihat saja nanti, Rio akan mendapatkan hadiah dari seorang Deka. *** Langit cerah, angin bertiup sedang, serta udara cukup segar di pagi hari. Rio melangkahkan kakinya ke DK Corp. Saat ini pukul sepuluh pagi, dan dia sudah memastikan Deka pasti berada di kantor. Bukan tanpa alasan dia ke sini, dia hanya ingin melihat penampilan sahabatnya itu setelah acara reuni semalam. Membayangkannya saja membuat Rio serasa ingin tertawa. Entah apa yang terjadi, yang jelas semoga dia mendapat berita baik hari ini. Satu pukulan mendarat di perut Rio yang mengakibatkan dia sedikit terhuyung ke belakang. Sambil menahan sakitnya, dia hendak protes. “Sialan! Gara-gara lo semua jadi hancur,” ucap Deka dingin dengan wajah yang sudah memerah menandakan dia tengah marah. Rio tersekat, apakah dia melakukan kesalahan? Oh tentu saja. “Ka, maksud lo apa?” tanya Rio mencoba menahan sedikit rasa nyeri di bagian perutnya. “Gara-gara lo si Vanya benci sama gue. Maksud lo apa hah!” “Weh sabar, Bro. Gue cuma bantu lo doang. Sebagai sahabat yang baik, gue mencoba membantu deketin lo ke si Vanya. Soal minuman itu –“ “Gara-gara minuman sialan lo itu, dia benci ke gue b******k!” “Gak sepenuhnya salah gue lah. Lo kan yang minum, harusnya lo bisa kendaliin diri.” Deka menatap Rio bengis, dan yang ditatap hanya cekikan. Sudah kubilang kan jika pemuda itu sama sekali tidak takut dengan Deka. Di saat semua orang menjauh, dia malah mendekat. Laki-laki aneh. “Gue udah tuker minumannya semalam.” “APA?!” Rio mencoba menetralkan rasa keterkejutannya dari kebodohan sahabatnya kali ini. “Minuman yang gue kasih ke elo itu ada obatnya, dan lo malah kasih ke Vanya? Gila sumpah,” jelasnya kemudian dan mendapat tatapan membunuh dari Deka. Deka sudah curiga jika Rio memasukkan sesuatu ke dalam minuman itu. Dan terbuki sekarang bukan? “Lo yang gila. Bisa-bisanya di tempat seperti itu lo malah masukin hal-hal yang gak guna seperti itu.” “Eitsss itu berguna. Berguna untuk kelangsungan hubungan lo, kan?” kata Rio menaik turunkan alisnya. “Btw, semalam gimana? So, si Vanya yang ganas dong? Gue berharapnya elo, eh taunya dia. Tapi, gak apa-apa, itu malah lebih bagus. Sekarang cerita gimana kelanjutan kalian,” kata Rio bertubi-tubi yang membuat Deka kembali jengah. Dua pemuda itu duduk di sofa yang kebetulan ada dalam ruangan tersebut. Rasa nyeri di bagian perut Rio sudah sedikit mereda. Dibanding memikirkan perutnya, dia lebih antusias mendengar cerita kelanjutan hubungan sahabatnya ini. “Yang jelas, dia gak mau ketemu gue, bahkan dia minta gue untuk jauh-jauh dari dia.” Terdengar seperti nada kekecewaan di sana. “Penolakan? Seorang Deka ditolak? Berita baru, nih," kekeh Rio mendengar nasib sahabatnya yang malang, tap sedetik kemudian dia teringat sesuatu. "Tunggu. Semalam ... lo gak keluarin di dalam, kan?” tanya Rio hati-hati. Deka mengernyit bingung. “Maksud lo?” “Ck, itu, Bro. Masa lo gak tau? Maksud gue, waktu lo ehem-ehem sama dia gak keluar di dalam, kan?” jawab Rio menggunakan bahasa isyarat. “Sayangnya di dalam," jawab Deka jujur apa adanya. Toh semalam dia tidak merencanakan kejadian itu. “ANJIR GILA, PARAH LO. KALAU SAMPAI ANAK ORANG HAMIL GIMANA?!” “HAMIL? SIAPA YANG HAMIL?” Deka memandang terkejut suara lain dalam ruangan itu. Deka merutuki Rio yang tidak menutup pintu dengan benar. Ini akan menjadi hari yang panjang. Bahkan paling panjang dalam hidupnya. ☆☆☆ Q&A Q: Hal b******k apa yang pernah kalian alami selama hidup? Your answer: ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD